Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21"Napas Terakhir kanggo Clarissa"
.. Cahaya putih menyilaukan menjadi hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya benar-benar gelap. Dingin. Ruangan itu terasa sangat dingin, hingga aku tak lagi bisa merasakan genggaman tangan Clarissa yang hangat.
.. Di lorong rumah sakit yang sunyi, Clarissa Wijaya berdiri dengan baju yang masih ternoda darah Genta. Matanya sembab, namun tatapannya kini berubah menjadi tajam sekeras berlian. Ia bukan lagi CEO lembut yang tadi menangis di ambulans.
.. "Cari tahu siapa dalang di balik semua ini. Aku mau kepala mereka ada di hadapanku sebelum matahari terbit," ucap Clarissa dingin melalui ponselnya. Suaranya tidak bergetar sedikit pun, meski tangannya masih gemetar hebat menahan amarah.
.. Di dalam ruang ICU, layar monitor jantung berbunyi beeeeeeep panjang yang memekakkan telinga. Para dokter berlarian, berusaha memacu kembali detak jantung pria yang baru saja menaruh nyawanya sebagai tameng demi sang CEO Cantik.
.. Dunia luar mungkin mengira Genta Arjuna sudah menyerah. Namun, di dalam kegelapan batinnya, Genta mendengar sebuah suara yang sangat dalam dan berwibawa, seolah memanggilnya dari dimensi lain.
.. "Bangun, Arjuna... tugas sucimu belum selesai. Musuhmu jauh lebih dekat daripada yang kau kira selama ini!" suara itu menggema hebat, merobek kesunyian dalam alam bawah sadar Genta.
.. Perlahan, jemari tangan Genta yang kasar mulai bergerak sedikit. Sebuah rahasia besar tentang siapa sebenarnya sosok Genta Arjuna yang asli mulai tersingkap satu per satu seiring dengan detak jantungnya yang kembali berdenyut lemah namun pasti.
.. Dokter berlari keluar dengan wajah tegang, keringat membasahi dahinya meski suhu rumah sakit sangat dingin. "Keluarga Genta Arjuna? Pasien kehilangan banyak darah, detak jantungnya sangat lemah!"
.. Clarissa menyambar kerah baju dokter itu tanpa peduli lagi dengan citranya sebagai CEO yang terhormat. "Lakukan apa saja! Ambil darah saya kalau perlu, tapi pastikan dia kembali bernapas!"
.. Di balik pintu kaca ICU yang tertutup rapat, tubuh Genta terbaring kaku dikelilingi kabel-kabel mesin penopang hidup. Napasnya kini sepenuhnya bergantung pada tabung oksigen yang mendesis halus.
.. Namun, di alam bawah sadarnya, Genta tidak sedang berada di rumah sakit. Ia merasa berdiri di tengah padang rumput yang luas, menghadap sesosok pria tua berjubah putih yang menatapnya dengan tenang.
.. "Belum waktunya, Arjuna. Kamu masih punya janji yang belum ditepati pada ayahmu," suara kakek itu menggema, seolah datang dari segala arah sekaligus.
.. Genta mencoba bicara, namun tenggorokannya terasa tersumbat cairan hangat. Darah. Ia teringat senyum Clarissa di pinggir danau tadi sore, dan tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya.
.. Detak jantung di layar monitor itu tiba-tiba melonjak tajam, menciptakan suara beep-beep-beep yang sangat cepat. Para perawat berlarian masuk, sementara Clarissa hanya bisa terpaku melihat dari balik kaca kecil pintu ICU.
.. Di dalam alam bawah sadarnya, Genta merasa ditarik paksa dari padang rumput itu oleh kekuatan yang tak terlihat. Suara kakek berjubah putih itu memudar, digantikan oleh suara isak tangis Clarissa yang menyayat hati.
.. "Clarissa..." Genta mencoba memanggil dalam tidurnya, namun yang keluar hanyalah hembusan napas tipis di balik masker oksigen. Sebuah keringat dingin mulai membasahi dahinya yang pucat pasi.
.. Sementara itu, di parkiran rumah sakit yang gelap, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap perlahan meninggalkan area itu. Sopirnya menekan tombol send pada sebuah alat komunikasi canggih di telinganya.
.. "Target masih bertahan hidup. Langkah kedua harus segera dijalankan sekarang juga," ucap sopir itu dengan nada datar, seolah nyawa seseorang hanyalah sebuah angka dalam permainan bisnis.
.. Di markas besar Wijaya Tower, lampu ruangan keamanan yang tadi menyala merah kini mulai berkedip-kedip tak beraturan. Sistem keamanan tercanggih milik Clarissa baru saja disusupi oleh virus yang sangat mematikan.
.. Clarissa yang masih berdiri di depan ruang ICU tidak menyadari bahwa perusahaannya—warisan dari mendiang ayahnya—sedang berada di ujung tanduk saat ia sedang meratapi bodyguard-nya yang kritis.
.. Siapakah sebenarnya pria hitam yang memerintahkan serangan ini? Dan rahasia gelap apa yang disembunyikan Genta Arjuna di balik seragam bodyguard-nya yang berlumuran darah?
.. Badai yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, tak ada Genta yang berdiri tegak di depan Clarissa untuk melindunginya dari serangan yang datang dari dalam selimut.
.. Di tengah kekacauan di ruang ICU, sebuah bayangan hitam menyelinap melalui tangga darurat rumah sakit yang sepi. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tak terdengar oleh telinga manusia biasa.
.. Clarissa yang masih terpaku di depan pintu kaca tidak menyadari bahwa maut sedang berjalan perlahan di belakangnya. Sosok itu mengenakan seragam perawat, namun sorot matanya sedingin es kutub.
.. "Maaf, Ibu CEO... waktunya sudah habis," desis sosok itu dalam hati sambil merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan bening yang mematikan.
.. Namun, tepat saat tangan perawat palsu itu nyaris menyentuh bahu Clarissa, sebuah tangan yang sangat kuat mencengkeram pergelangan tangannya dari arah samping.
.. "Jangan sentuh dia... atau tanganmu akan patah sekarang juga," suara berat itu terdengar sangat rendah namun penuh ancaman yang mengerikan.
.. Clarissa tersentak dan menoleh cepat. Ia terbelalak melihat seorang pria tua dengan tato naga kecil di lehernya sedang menahan sang perawat palsu. Pria itu adalah orang kepercayaan ayah Clarissa yang sudah lama menghilang.
.. Sementara itu, di dalam ruang ICU, suara monitor jantung yang tadi beep-beep cepat tiba-tiba menjadi hening sejenak. Dokter dan perawat yang ada di dalam mendadak mematung melihat pemandangan di depan mereka.
.. Mata Genta Arjuna perlahan terbuka, namun warnanya bukan lagi hitam biasa. Ada kilatan cahaya keemasan yang muncul sesaat, seolah-olah roh lain baru saja masuk ke dalam raga sang bodyguard sengklek itu.
.. "Mbak Bos..." gumam Genta lirih, namun kali ini suaranya terdengar sangat berwibawa, jauh dari kesan konyol yang biasanya ia tunjukkan setiap hari.
.. Siapakah sebenarnya pria tua bertato naga itu? Dan benarkah Genta Arjuna yang baru saja bangun adalah Genta yang sama dengan yang menyelamatkan Clarissa tadi sore?
.. BERSAMBUNG