NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana di Kantor

Sinar matahari pagi yang memantul di dinding kaca gedung pencakar langit pusat kota Jakarta seolah menegaskan dominasi Erlangga Mahendra Wijaya atas wilayah itu.

Begitu pintu otomatis terbuka, langkah tegap Langga yang dibalut setelan jas bernilai ratusan juta rupiah langsung menarik perhatian beberapa karyawan yang baru saja menempelkan kartu absen. Biasanya, mereka akan menunduk takut atau pura-pura sibuk. Namun hari ini, mata mereka justru terpaku pada satu objek asing yang bergelayut di tangan kanan sang CEO.

Di sana, di antara jari-jari yang biasa menandatangani cek miliaran rupiah, tergantung sebuah tote bag kain berbentuk kotak, sebuah tas bekal yang sangat kontras dengan kesan formalitas kantor itu.

“Pak CEO bawa bekel?” bisik seorang staf bagian pemasaran di balik meja resepsionis.

“Tumben banget… seumur-umur mana pernah dia bawa tentengan begitu,” sahut temannya dengan suara lirih.

“Jangan-jangan sudah punya pacar? Lihat deh, tasnya rapi banget. Fix, ini berita besar. Bursa saham bisa guncang kalau Pak Langga beneran punya pawang!” Berita itu akhirnya akan menjadi topik gosip terpanas di gedung itu.

Langga terus berjalan dengan wajah datar, menatap lurus ke depan seolah-olah ia tuli. Padahal, telinganya menangkap setiap desas-desus itu dengan jelas. Sudut bibirnya nyaris bergerak menahan kekesalan sekaligus rasa geli yang aneh. Ia mempercepat langkahnya menuju lift eksekutif sebelum gosip itu berubah menjadi konferensi pers dadakan.

Pintu ruangannya terbuka. Ia masuk ke dalam ruang kerja yang luas dan sunyi itu, lalu segera menaruh tas makan tersebut di atas sofa tamu yang ada di tengah ruangan. Sejenak, ia menatap tas itu, lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesaran di balik meja jati raksasanya. Laptop dibuka, tumpukan berkas menanti untuk dibantai.

Namun, belum sepuluh menit ia tenggelam dalam angka, pintu ruangannya diketuk dengan cara yang tidak sopan. Langga sudah tahu siapa itu.

“Masuk.”

Rian melangkah masuk dengan gaya flamboyan, membawa tablet dan map dokumen. Wajahnya sengaja dibuat formal, namun matanya berkilat jahil.

“Selamat pagi, Yang Mulia CEO yang katanya anti hubungan percintaan kantor dan pemegang rekor jomlo paling elite,” sapa Rian dengan nada sarkastis.

Langga mendongak datar, menatap sahabat sekaligus tangan kanannya itu tanpa ekspresi. “Kalau datang cuma untuk membicarakan hal sampah, keluar sekarang. Saya tidak sedang dalam mood untuk meladeni komedimu.”

Rian terkekeh, lalu duduk dengan santai di hadapan Langga. “Oke, oke, serius sekarang. Laporan soal perusahaan milik Mr. Dong.”

Wajah Langga seketika berubah. Matanya yang tadi sempat melunak karena teringat bekal, kini berubah menjadi sedingin es utara. “Lanjut.”

Rian membuka dokumen di tabletnya. “Setelah tekanan finansial yang kita lakukan secara terstruktur, saat ini saham mereka terjun bebas hingga tiga puluh tujuh persen. Investor panik dan menarik dana secara massal. Mereka tidak punya bantalan lagi.”

Langga mengangguk tipis, seolah-olah kehancuran orang itu adalah melodi yang indah di telinganya. “Bagus.”

“Kita sudah memborong saham mayoritas melalui perusahaan anak kita. Secara teknis, pagi ini seluruh aset strategis perusahaan logistik itu sudah berada dalam genggaman grup kita. Mr. Dong tidak punya kuasa lagi di perusahaannya sendiri,” lanjut Rian dengan senyum puas. “Dan berita yang lebih manis lagi, dia resmi ditangkap pagi tadi saat mencoba keluar dari bandara.”

Tatapan Langga menajam. “Atas tuduhan apa saja?”

“Korupsi, pencucian uang, penggelapan pajak, penyuapan pejabat pelabuhan, plus beberapa tuduhan baru dari mantan partner bisnisnya yang ikut buka suara setelah melihat dia jatuh dan efek tekanan dari kita,” Rian menyandarkan tubuhnya, melipat tangan di dada. “Semua aset pribadinya dibekukan. Rumahnya disita. Rekeningnya ditahan. Orang itu benar-benar tamat, Lang.”

Ruangan itu hening selama beberapa detik. Langga berdiri, berjalan menuju jendela kaca raksasa dan menatap hiruk pikuk kota Jakarta di bawahnya dengan ekspresi dingin yang tak tersentuh.

“Pastikan dia tidak punya celah sedikit pun untuk bangkit kembali. Hubungi pengacara kita, pastikan tuntutannya maksimal,” perintah Langga tajam.

Rian mengangguk. “Sudah beres. Semua koneksi bisnisnya juga sudah kita tekan. Siapa pun yang berani membantu atau mencoba menjaminnya akan langsung masuk blacklist grup kita. Dia terisolasi sepenuhnya.”

Langga akhirnya menghela napas panjang dan kembali bersandar di kursinya. Rian menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sedikit lebih serius. “Lo serius banget soal ini, Lang. Benar-benar ingin menghancurkan dia sampai ke akar-akarnya.”

Langga tidak menjawab, namun rahangnya yang mengeras sudah menjadi jawaban yang cukup bagi Rian. Ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah bentuk keadilan pribadi atas malam yang telah menjungkirbalikkan hidupnya dan juga hidup seorang gadis yang kini berada dalam tanggung jawabnya.

Setelah pembahasan bisnis yang berat itu selesai, suasana di ruangan tersebut sedikit mencair. Mata Rian yang tajam mulai berkeliling, hingga akhirnya ia menangkap sebuah objek di sofa. Ia menyipitkan mata, lalu menyeringai lebar.

“Hmm?” Rian menopang dagu, menatap Langga yang kembali fokus pada layar laptop. “Apa itu?”

Langga tetap menatap layar, pura-pura tidak tahu. “Apa?”

Rian menunjuk ke arah tote bag bekal di sofa dengan dagunya. “Itu… yang di sofa. Sejak kapan ruangan ini jadi tempat penitipan bekal anak sekolah?”

“Lalu?” sahut Langga pendek.

Rian bangkit, berjalan mendekati sofa itu seperti seorang arkeolog yang menemukan artefak langka dari zaman purba. “Erlangga Mahendra Wijaya, sang CEO paling dingin, paling angkuh, dan paling gila kerja se-Asia Tenggara, bawa bekal?” ia menoleh secara dramatis. “Dunia kiamat besok pagi, ya?”

Langga menatapnya datar, tangannya meraba sebuah stapler berat di atas meja. “Duduk atau saya lempar benda ini ke kepalamu.”

Rian justru tertawa keras, suaranya menggema di ruangan mewah itu. “ANJIR! Jadi gosip karyawan tadi pagi itu beneran?! Tadi gue pikir mereka cuma halusinasi karena kurang kopi.”

“Gosip apa lagi?” desah Langga.

“Mereka bilang pagi tadi lihat lo bawa tas makan dengan wajah sumringah, meski sumringahnya lo itu tetap aja kayak orang mau ngajak berantem,” Rian menyipitkan mata penuh selidik. “Dari siapa, Lang? Lo pesan katering sehat atau apa?”

“Bukan urusanmu.”

“Pacar?”

“Tidak.”

“Tunang—”

“Tidak.”

“Cewek?”

Langga diam. Ia tidak membantah, ia hanya menatap layar laptopnya seolah-olah itu adalah hal paling menarik di dunia. Rian membelalak, mulutnya menganga lebar.

“OH MY GOD. Beneran cewek?! Langga, lo serius?!”

Langga melempar pulpen ke arah Rian dengan kecepatan tinggi. Rian menangkapnya dengan refleks sambil terus tertawa. “Bro… jadi ini dari wanita yang malam itu?”

Langga terdiam sejenak, tatapannya beralih ke arah tas bekal itu. Rian langsung tahu jawabannya hanya dari raut wajah Langga yang sedikit melembut. “Ohhh… jadi benar dia. Hebat juga dia bisa menaklukkan perut lo yang biasanya cuma mau diisi makanan restoran bintang lima.”

Langga menutup laptopnya perlahan, aura otoritasnya kembali. “Rian.”

“Hah?”

“Kalau kau tidak menyelesaikan pekerjaanmu hari ini sebelum jam tujuh malam, saya akan pastikan tumpukan berkas di mejamu bertambah dua kali lipat sampai kau menginap di sini sampai tengah malam.”

Rian langsung berdiri tegak, menyadari bahwa ia sudah berada di batas bahaya. “Baik, Bos! Siap dilaksanakan, Bos! Saya pergi sekarang juga, Bos. Semoga hubungan rumah tangganya harmonis dan penuh berkah ya, Bos!”

“RIAN!”

“Byee gue pergi! Selamat menikmati bekalnya!” seru Rian sambil lari keluar pintu.

Pintu tertutup rapat. Ruangan kembali sunyi. Langga menatap tote bag itu cukup lama, lalu tanpa ia sadari, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia berjalan menuju sofa, membuka sedikit resleting tas itu. Aroma tongseng yang lezat dari pagi tadi masih tercium samar, membangkitkan selera makannya.

Di dalam sakunya, ia merasakan lipatan kertas kecil. Ia mengeluarkannya sebentar, membaca ulang tulisan Zea yang jahil namun manis itu.

'Pak CEO manja dengan emoticon senyum di smalingnya'

Langga menggelengkan kepala pelan, menaruh kertas itu kembali dengan sangat hati-hati. “Ada-ada saja anak itu,” gumamnya.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja kerjanya bergetar. Layar menunjukkan sebuah nama yang selalu membuat Langga merasa seperti anak kecil kembali: Mamah. Ia menghela napas panjang sebelum mengangkat panggilan itu.

“Halo, Mah.”

“Anak durhaka akhirnya angkat telepon juga. Harus nunggu nabi turun dulu baru kamu mau jawab telepon Mama?” suara di seberang sana langsung terdengar ketus namun penuh sayang.

Langga memijat pelipisnya. “Ada apa, Mah?”

“Kamu sehat? Makan teratur? Tidur cukup?” rentetan pertanyaan itu meluncur cepat.

“Sehat, Mah. Makan teratur. Tidur juga cukup,” jawab Langga sabar.

“Jangan bohong. Mama tahu kamu cuma makan kalau ingat saja.”

Langga terkekeh kecil. “Ada perlu apa sebenarnya, Mah?”

Ibunya langsung masuk ke inti pembicaraan. “Kapan kamu pulang ke rumah? Sudah berapa lama kamu tidak mampir ke sini?”

Langga menatap tumpukan berkas yang seolah tak ada habisnya. “Mungkin akhir pekan ini, Mah.”

“Kamu biasanya juga ngomong begitu, tapi ujung-ujungnya kamu bilang ada rapat mendadak lah atau sibuk lah.”

“Kerjaan sedang banyak sekali, Mah. Ada proses akuisisi yang baru selesai.”

“Kerjaanmu selalu banyak, Langga. Kamu terlalu sering sendirian di apartemen itu,” suara ibunya mendesah sedih.

Langga terdiam. Tatapannya tanpa sadar kembali jatuh pada tote bag di sofa. Pada bekal buatan Zea yang menantinya untuk disantap. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, kata “sendirian” yang diucapkan ibunya tidak terasa sepenuhnya benar.

“Aku tidak sendirian, Mah. Aku baik-baik saja,” ucap Langga lirih.

“Kamu yakin?”

Langga tersenyum tipis. “Hanya sibuk sedikit. Tapi aku janji, akhir pekan ini aku pulang.”

“Janji?”

“Janji.”

“Nanti Mama masak makanan favoritmu.”

“Oke, Mah. Sampai ketemu nanti,” Langga menutup panggilan itu.

Ia meletakkan ponselnya, kembali menatap pemandangan kota di balik kaca. Namun kali ini, pikirannya bukan tentang saham, bukan tentang rapat, bukan pula tentang musuh-musuhnya. Pikirannya melayang pada seorang gadis cerewet yang tadi pagi memanggilnya CEO manja.

Gadis yang tanpa izin dan tanpa peringatan, perlahan mulai mengisi ruang kosong di hidupnya yang selama ini tak pernah ia sadari ada. Langga menarik napas dalam, merasakan aroma masakan rumahan itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa harinya di kantor akan menjadi jauh lebih baik dari biasanya.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!