NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Mobil SUV itu membelah kesunyian jalan raya yang menghubungkan pinggiran kota dengan jantung Jakarta. Di dalam kabin yang kedap suara, hanya terdengar deru mesin yang halus dan isak tangis Sheila yang perlahan berubah menjadi napas yang berat dan tidak teratur. Kelelahan emosional yang luar biasa akhirnya meruntuhkan pertahanan gadis itu. Kepala Sheila terkulai lemas ke samping, bersandar pada dinginnya kaca jendela, sebelum akhirnya ia jatuh terlelap dalam kondisi yang sangat rapuh.

Jeremy melirik ke samping, hatinya mencelos melihat sisa-sisa air mata yang mengering di pipi asistennya. Namun, tidur Sheila tidaklah tenang.

"Malik... jangan... jangan pergi..." igau Sheila lirih. Tubuhnya tersentak kecil, jemarinya yang mungil meremas sabuk pengaman dengan kuat hingga buku-bukunya memutih. "Kenapa... kenapa kamu jahat banget, Malik..."

Jeremy mempererat genggamannya pada kemudi. Setiap igauan Sheila terasa seperti sembilu yang menyayat egonya. Ia ingin marah pada Malik karena telah menyerah, tapi ia juga membenci dirinya sendiri karena menjadi alasan di balik pengorbanan menyakitkan itu.

"Sstt, tenang, Shei. Aku di sini," bisik Jeremy pelan, seolah suaranya bisa menembus masuk ke dalam mimpi buruk gadis itu.

Jeremy memutuskan untuk tidak membawa Sheila pulang ke rumahnya. Ia tahu, dengan kondisi mental Sheila yang hancur dan mata yang bengkak, bertemu orang tua atau tetangga hanya akan menambah beban pikirannya. Tanpa ragu, Jeremy mengarahkan kemudi menuju apartemen penthouse-nya di kawasan SCBD. Tempat itu adalah benteng pribadinya, satu-satunya tempat di mana ia bisa memastikan Sheila aman dari gangguan siapa pun—termasuk ayahnya.

Sesampainya di lobi basemen yang sunyi, Jeremy mematikan mesin. Ia menatap Sheila sejenak. Gadis itu masih mengigau, keningnya berkerut seolah sedang menahan beban dunia di pundaknya. Jeremy turun, memutari mobil, dan membuka pintu penumpang dengan sangat hati-hati.

Sekali lagi, ia menyelipkan lengannya di bawah tubuh Sheila, mengangkatnya dengan gerakan yang sangat lembut agar tidak membangunkan sang asisten. Tubuh Sheila terasa ringan, namun bagi Jeremy, beban emosional yang dibawa gadis ini terasa begitu berat.

Saat lift privat meluncur naik menuju lantai paling atas, Sheila kembali meracau. "Jangan... Pak Jeremy... jangan paksa aku..."

Langkah Jeremy terhenti sejenak di dalam lift. Ia menatap wajah Sheila yang berada tepat di depan dadanya. "Aku nggak akan paksa kamu lagi, Shei. Nggak malam ini," gumamnya dengan nada yang sangat tulus, jauh dari sosok bos diktator yang biasanya ia perankan.

Pintu apartemen terbuka otomatis. Jeremy membawa Sheila masuk ke dalam kamar utama—kamar yang paling luas dengan pemandangan city light Jakarta yang berkilauan di balik dinding kaca. Ia membaringkan Sheila di atas tempat tidur berseprai sutra abu-abu miliknya.

Dengan gerakan yang sangat telaten, Jeremy melepas sandal rumah sakit yang masih dikenakan Sheila, lalu menyelimuti tubuh gadis itu hingga sebatas dada. Ia mengambil waslap hangat dari kamar mandi, lalu duduk di tepi ranjang. Dengan sangat perlahan, ia menghapus sisa-sisa maskara yang luntur di bawah mata Sheila, membersihkan wajah asistennya itu dengan penuh pengabdian.

Sheila melenguh pelan, merasakan sentuhan hangat di wajahnya. "Dingin... Malik, dingin..."

Jeremy terdiam. Ia meletakkan waslap itu, lalu tanpa berpikir panjang, ia naik ke atas ranjang dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia menarik Sheila ke dalam dekapannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya yang bidang. Ia tidak melakukan apa pun selain memberikan kehangatan yang dibutuhkan Sheila.

"Aku bukan Malik, Shei. Tapi malam ini, biarkan aku yang jagain kamu," bisik Jeremy sambil mengusap rambut Sheila yang berantakan.

Dalam tidurnya, Sheila seolah merasakan kehangatan itu. Ia berhenti mengigau dan perlahan menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke arah Jeremy, mencari posisi paling nyaman di pelukan pria yang paling ia benci sekaligus ia butuhkan saat ini.

Jeremy menatap langit-langit kamar yang temaram. Ia tahu, besok pagi saat Sheila terbangun, perang akan kembali dimulai. Sheila akan marah, akan berteriak, dan mungkin akan mencoba melarikan diri lagi. Namun untuk malam ini, di tengah keheningan apartemen mewah itu, Jeremy merasa menang—bukan karena kontrak atau denda, tapi karena ia bisa menjadi sandaran bagi satu-satunya wanita yang berhasil meruntuhkan tembok keangkuhannya sebagai seorang Nasution.

"Tidur yang nyenyak, Sheila Maharani," gumam Jeremy sebelum ia sendiri ikut memejamkan mata, memeluk erat "aset" paling berharga yang pernah ia miliki.

***

Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden jendela penthouse yang menjulang tinggi menyapu wajah Sheila. Ia mengerjapkan mata, merasakan pening yang luar biasa menghantam kepalanya—efek dari tangisan histeris semalam. Namun, begitu indra penciumannya menangkap aroma kayu cendana yang maskulin dan ia menyadari tekstur seprai sutra yang asing di kulitnya, matanya langsung membelalak sempurna.

Sheila tersentak, badannya langsung menegak kaku. Jantungnya berpacu liar saat menyadari ia berada di sebuah kamar tidur mewah yang luasnya hampir seluas rumahnya sendiri.

"Aku... Kenapa aku bisa ada di sini?!" teriak Sheila, suaranya serak namun penuh kepanikan. Ia menoleh ke samping dan mendapati Jeremy sedang duduk di sofa tunggal di pojok kamar, masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam, hanya saja kancing atasnya terbuka dan lengan bajunya digulung. Jeremy tampak sedang menyesap kopi hitam dengan mata yang juga terlihat lelah.

"Kamu ngapain aku?! Kamu... kamu bawa aku ke mana, hah?!" Sheila menarik selimut hingga sebatas leher, menatap Jeremy dengan tatapan menuduh sekaligus takut.

Jeremy meletakkan cangkir kopinya perlahan. Wajahnya tetap tenang, meski ada gurat kekhawatiran yang ia sembunyikan. "Kamu pingsan—maksudku, kamu tertidur karena kelelahan di trotoar rumah sakit semalam. Aku nggak mungkin anter kamu pulang ke rumah dalam keadaan hancur begitu. Ini apartemenku."

"Gila! Kamu bener-bener gila, Jeremy!" Sheila menyibak selimutnya dengan kasar, mengabaikan rasa pening yang masih berdenyut di pelipisnya. Ia segera turun dari tempat tidur, mencari sandalnya yang ternyata sudah tertata rapi di lantai. "Nggak. Aku mau pulang. Aku nggak mau di sini!"

Sheila berjalan cepat ke arah pintu, langkahnya sedikit goyah namun tekadnya sudah bulat. Ia merasa seperti dijebak dalam sangkar emas yang dibangun oleh ego pria di depannya.

Jeremy segera berdiri, langkah panjangnya dengan mudah menyusul Sheila sebelum gadis itu berhasil menyentuh knop pintu. Ia mencegatnya, berdiri tegap menghalangi jalan keluar.

"Sheila, tunggu dulu. Mau ke mana? Kamu baru bangun, muka kamu masih pucat," ucap Jeremy dengan nada rendah, mencoba menenangkan.

"Minggir, Jer! Aku mau ketemu Malik! Aku mau minta penjelasan sama dia langsung!" bentak Sheila, matanya kembali berkaca-kaca mengingat kalimat perpisahan Malik semalam. "Aku nggak percaya dia mutusin aku begitu saja. Pasti ada sesuatu yang salah. Pasti karena kamu bilang yang nggak-nggak sama dia! Kalau kamu nggak mau nganterin, aku bisa pergi sendiri naik taksi!"

Sheila mencoba mendorong dada Jeremy, tapi pria itu bergeming seperti tembok karang.

"Malik butuh istirahat, Sheila. Kamu ke sana sekarang cuma bakal bikin dia makin tertekan," Jeremy menatap mata Sheila dalam-dalam, mencoba memberikan pengertian.

"Kamu nggak berhak ngatur apa yang Malik butuhkan! Yang dia butuhkan itu aku, bukan instruksi dari kamu!" Sheila terus meronta, tenaganya yang tersisa ia curahkan untuk melepaskan diri. "Buka pintunya, Jeremy! Sekarang!"

Jeremy menghela napas panjang, ia melihat keras kepala Sheila yang tidak bisa dibendung lagi. Jika ia menahan gadis itu lebih lama, Sheila hanya akan semakin membencinya.

"Oke. Oke, aku anterin," ucap Jeremy akhirnya, mengalah. "Tapi kamu sarapan dulu. Sedikit saja. Kamu nggak makan dari kemarin siang, Shei. Aku nggak mau kamu pingsan di depan Malik dan malah nambah beban pikiran dia."

"Nggak mau! Apaan sih, nggak usah maksa deh!" Sheila menepis tangan Jeremy yang hendak memegang bahunya. "Aku nggak lapar! Aku cuma mau penjelasan! Sekarang anterin aku atau aku teriak di gedung ini kalau kamu nyulik aku!"

Jeremy menatap Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kesal, gemas, dan pedih karena asistennya itu lebih memilih mempertaruhkan kesehatannya demi pria lain yang baru saja membuangnya.

"Duduk, Sheila Maharani Nasution," perintah Jeremy, kali ini dengan nada CEO-nya yang otoriter namun tetap ada sisa kelembutan. "Sepuluh menit. Makan roti lapis yang sudah aku pesan di meja makan, lalu kita berangkat. Kalau nggak, kunci mobil ini nggak akan pernah menyentuh mesin pagi ini."

Sheila mendengus kasar, ia tahu Jeremy tidak main-main dengan ancamannya. Dengan hentakan kaki yang kesal, ia berjalan menuju ruang makan terbuka yang menyatu dengan pantry mewah itu. Di sana sudah tersedia roti lapis gandum dan segelas susu hangat.

Ia makan dengan terburu-buru, tanpa rasa, seolah hanya menjalankan kewajiban agar bisa segera pergi. Jeremy berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikannya dalam diam. Ia merasa seperti sedang melihat burung kecil yang sayapnya patah namun tetap bersikeras untuk terbang ke arah badai.

"Sudah! Ayo berangkat!" seru Sheila setelah menelan suapan terakhirnya dengan susah payah. Ia mengusap mulutnya dengan kasar dan berdiri.

Jeremy mengambil kunci mobilnya di atas meja granit. "Ayo. Tapi janji sama aku, apa pun yang Malik katakan nanti... jangan lari lagi ke jalanan sepi tengah malam. Hubungi aku."

Sheila tidak menjawab. Ia langsung melesat keluar pintu apartemen menuju lift privat. Pikirannya sudah terbang jauh ke kamar rawat Malik, menyusun seribu pertanyaan yang menuntut jawaban jujur. Ia tidak peduli pada Jeremy yang mengekor di belakangnya, ia hanya ingin tahu: apakah cinta mereka benar-benar semurah itu hingga bisa dilepaskan hanya karena sebuah kecelakaan?

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!