NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Gadis cantik itu hanya datang untuk mengurus acara tahlilan untuk suaminya dan memastikan keadaan ibunya Afandi baik-baik saja.

Dian sudah berjanji pada diri sendiri untuk tetap menjadi bagian dari keluarga Afandi, menggantikan posisi Afandi sebagai tulang punggung keluarga. Dan merawat ibu Afandi yang beberapa hari belakangan ini mengalami sakit.

Mungkin karena terlalu kehilangan putra semata wayangnya yang selama ini selalu menjadi tulang punggung keluarganya setelah kepergian sang suami.

Ya, Afandi yang selama ini selalu bekerja keras mencari nafkah untuk menggantikan posisi almarhum ayahnya yang telah mewariskan satu mobil truk yang menjadi alat bantu dalam mencari nafkah.

Tapi belakangan jauh sebelum Afandi memutuskan untuk pergi ke luar negeri, mobil itu digadaikan untuk bekal Afandi dijalan dan juga untuk bekal ibu dan adiknya sebelum Afandi menerima gaji pertamanya.

Afandi bekerja di sebuah peternakan sapi di luar negeri sana, tapi sebuah insiden terjadi saat dia sedang libur kerja, dia tidak sengaja menabrak salah seorang dari orang terpenting di organisasi dunia bawah, dan tidak hanya itu, Afandi juga telah menyaksikan mereka saat membunuh orang penting di negara itu hingga akhirnya orang-orang itu tidak membiarkan Afandi pulang dalam keadaan baik-baik saja.

Mereka memaksa Afandi meminum racun yang tidak pernah bisa terdeteksi, dan racun itu membuat seluruh organ tubuh Afandi membusuk perlahan hingga Afandi akhirnya menemui ajalnya.

Kini hari ke empat puluh hari kepergian Afandi, Dian masih berada di samping mertuanya itu sambil melantunkan surah Yasin dengan tetes air mata yang masih setia mengalir deras di pipinya.

Dian masih tidak bisa melupakan semua kenangan indah nya bersama sahabat sekaligus suaminya itu.

Afandi yang selama ini selalu ada untuknya kini sudah tidak ada lagi disampingnya. Dian bahkan sudah tidak bisa lagi melihat senyum tulus di wajah pria tampan itu.

Afandi memang bukan orang kota yang berpenampilan rapi sempurna seperti Alex, tapi parasnya cukup tampan dibalik penampilan nya yang penuh dengan kesederhanaan.

Jika dibandingkan dengan Alex bahkan bentuk tubuh Afandi jauh lebih baik, dibanding Alex yang sempurna karena hasil pembentukan otot secara teratur. otot tubuh Afandi terbentuk secara alami karena dia pekerja keras.

Dian bahkan tidak pernah menyangka jika selama ini Afandi mencintai dirinya dalam diam. Pria itu lebih suka menunjukkan perhatian nya sebagai seorang sahabat di depan Dian mungkin karena tekanan dari ibunya yang selama ini selalu berfikir keliru tentang nya.

Berkat hasutan wanita jahat itu, bahkan semua orang berfikir bahwa Dian benar-benar gadis yang angkuh dibalik sikap nya yang sopan dan selalu rendah hati.

Mereka berfikir bahwa Dian hanya memberikan pencitraan sebagai gadis teraniaya, agar mendapatkan belas kasihan dan perhatian dari orang lain. Hingga akhirnya mereka sadar bahwa selama ini Dian selalu tampil apa adanya dan dia benar-benar korban dari kejahatan ibu tirinya yang menjelma sebagai dewi tersebut.

Kembali pada Dian, setelah tahlilan usai, gadis cantik itu pun pamit untuk kembali ke rumah dengan membawa serta foto terakhir Afandi yang sempat dia kirim pada adiknya itu.

Terlihat senyuman di wajah tampan itu, meskipun wajahnya tampak dipenuhi debu dan keringat. Adiknya bilang Afandi sebenarnya ingin memberikan foto itu pada Dian, tapi dia ragu untuk mengirimkan foto tersebut.

"Kenapa tidak bilang padaku bahwa kamu sangat merindukan ku,"lirih Dian yang kini memeluk erat bingkai foto tersebut.

"Diandra,"ucap seseorang yang kini membuat Dian terdiam seketika.

Sampai saat Dian melirik kearah sumber suara, Dian akhirnya tersadar bahwa tidak ada siapapun disana.

"Fan, kamu datang... maafkan aku jika karena aku kamu tersiksa, pergilah fan aku ikhlas,"ucap Dian yang kini berbicara sendirian.

Tiba-tiba suara benda jatuh terdengar nyaring di belakang, Dian pun mengusap wajah Fandi yang ada di foto tersebut kemudian dia bangkit dan meletakkan foto tersebut di atas bantal.

Dian hendak bergegas keluar kamar, tapi ponselnya berdering, dan ia pun meraih ponselnya itu.

"Honey, aku besok akan pulang... apa kamu menginginkan sesuatu"ucap seseorang di sebrang sana.

"Anda rupanya, tidak saya tidak ingin apa-apa"ucap Dian dengan suara khas orang yang baru saja menangis.

"Honey kamu menangis, apa aku akan mendapatkan perhatian yang sama saat aku pergi nanti?"ujar Alex yang terdengar cemburu dari nada bicaranya.

"Tuan bisa tanyakan itu pada istri tuan"ucap Dian yang kini membuat Alex semakin marah.

"Istriku hanya kamu honey itulah kenapa aku bertanya padamu"ucap Alex.

"Tuan, saya masih istri orang, dan anda tidak bisa bertanya tentang itu pada saya"ucap Dian.

Tiba-tiba sambungan telefon terputus, Dian pun kembali melanjutkan langkahnya menuju sumber suara itu. Tapi tidak ada satupun benda jatuh di rumah nya itu.

Hari berganti malam, Dian pun kembali ke peraduan, sudah hampir empat puluh hari ini Dian tidak bekerja ataupun berdagang.

Gadis cantik itu lebih banyak mengurus semua tentang Afandi dan keluarga juga rumahnya. Sisa tabungan nya pun sudah menipis, mungkin akan dia gunakan untuk modal dagang hari esok.

Dian pun bangun dipagi hari, dan memasak sarapan pagi untuk nya dan ibu mertuanya juga adik iparnya yang mungkin masih belum bangun saat ini.

Dian pun memasak cukup banyak dari biasanya dan dia bagi dua, untuk nya seperempat bagian, sementara untuk keluarga Afandi tiga perempat bagian.

Dian masak nasi dan ayam goreng juga capcay dan sambal dan menyiapkan lalapan, itu semua untuk sarapan pagi dan juga makan siang nanti karena rencananya Dian akan berjualan hari ini untuk menyambung hidup hingga pekerjaan di ladang atau sawah ada lagi.

"Ah sudah siap"ucap Dian yang kini bergegas membawa bakul berisi nasi pulen dan juga rantang berisi lauk pauk yang telah ia masak menuju rumah Afandi yang hanya berjarak tiga rumah dari rumahnya itu. Tepat di pinggir jalan raya.

"Bu, apa ibu sudah bangun, Dian bawakan sarapan sekaligus untuk makan siang"ucap Dian yang kini mengetuk pintu rumah Afandi.

"Kak, kakak masuk saja pintu tidak dikunci, ibu sepertinya sedang tidak enak badan"ujar Afifah adik dari Afandi.

"Ibu sakit lagi?"ucap Dian yang kini buru-buru masuk kedalam rumah dan bergegas menyimpan makanan tersebut di atas meja makan di ruang makan.

"Afifah kamu hari ini sekolah?" tanya Dian.

"Ya kak, fifah bisa minta tolong gak kak, tolong jagain ibu karena aku ada ulangan hari ini"ucap gadis belia itu.

"Baiklah, kamu bersiaplah lalu sarapan pagi dulu, setelah itu tolong panggil ibu bidan bilang kakak yang minta untuk periksa ibu"ujar Dian yang kini memasuki kamar ibu mertuanya itu.

"Bu, apa yang dirasa saat ini, ayo Dian bantu bersih-bersih dulu"ucap Dian yang kini membantu ibu Afandi untuk bangkit.

"Nak kamu sudah repot pagi-pagi begini, biar ibu istirahat saja. Mungkin sebentar lagi juga baikan"ucap ibu Afandi yang kini berjalan di papah oleh Dian.

"Baikan bagaimana bu, badan ibu demam, Dian sudah panggil ibu bidan untuk pengobatan sementara. Jika nanti tidak ada perubahan kita periksa ke rumah sakit"ucap Dian dengan lembut.

" Ibu sudah tidak punya uang nak, mungkin ada tapi itu belum diambil dan suamimu bilang itu untuk biaya sekolah adik mu"ucap wanita paruh baya itu sambil membasuh muka dengan air hangat yang Dian bawa.

"Jangan pikirkan bu, untuk biaya pengobatan dan biaya hidup ibu dan Afifah Dian yang akan tanggung, doakan saja Dian tetap sehat agar bisa bekerja dan menghasilkan uang"ucap Dian.

"Tidak nak, kamu tidak seharusnya berada di posisi seperti ini, ibu malu seharusnya sejak dulu ibu merestui cinta kalian berdua bukan ,

"Bu apa ibu tau masa depan kita akan seperti apa hingga ibu bisa menyesali takdir? Semua orang pun tidak akan pernah mau berada di posisi seperti ini tapi kita tidak bisa memilih dan hanya harus menjalani semuanya dengan ikhlas.... Ayolah bu, Dian tau duka ini terlalu sulit untuk dijalani, tapi hidup tidak akan berhenti disini selama kita masih bernyawa. Fandi tau ibu sangat menyayangi dan mencintai nya. Tapi dia akan sedih jika melihat ibu terus bersedih hingga ibu tidak baik-baik saja seperti ini. Bangkitlah bu setidaknya ibu masih memiliki Afifah di dunia ini sementara Dian? Dian sudah tidak memiliki siapa-siapa bahkan suami Dian pun sudah pergi, tapi Dian tetap harus tegar karena hidup Dian tidak berhenti disini perjuangan Dian masih panjang itulah kenapa Dian saat ini masih berdiri dengan tegak.

"Dan mulai sekarang tanggung jawab Dian adalah menghidupi ibu dan Afifah sampai dia menikah nanti, jika ibu terus hanyut dalam kesedihan lalu siapa yang akan menyemangati Dian"ucap Dian yang kini membuat ibu Afandi mengangguk pelan.

Dia pun kembali berderai air mata sambil memeluk Dian yang kini ada untuk dirinya menggantikan posisi putranya yang telah tiada.

"Ibu duduk bersandar, Dian ambilkan sarapan pagi dulu untuk ibu sampai bu bidan tiba"ucap Dian yang kini membantu ibu Afandi bersandar pada head board dengan bantalan tinggi.

Dian buru-buru mengambil sarapan pagi untuk ibu mertuanya itu, dia pun kembali kedalam kamar itu sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.

Saat ini Dian begitu sibuk, mengurus ibu mertuanya dan juga rumah yang kini hanya ditempati oleh ibu Afandi dan adik perempuannya itu.

Dian bersih-bersih rumah mencuci baju dan piring, menjemur pakaian dan menyetrika hingga akhirnya ia tidak sempat lagi untuk berbelanja. Bahkan uang yang ada sudah digunakan untuk pengobatan meskipun hanya sebagian.

Dian pun menjaga ibu mertuanya itu hingga saat wanita itu sedikit membaik dan Afifah pulang sekolah, barulah Dian pamit untuk pulang terlebih dahulu karena harus mengurus pekerjaan rumah yang belum selesai seperti mengangkat jemuran miliknya dan merapihkan halaman, karena pagi tadi tidak sempat.

Setelah semua pekerjaan nya selesai, Dian pun duduk di bangku kayu yang ada di belakang rumahnya dimana disana terlihat pemandangan yang menyejukkan mata. Dari perbukitan ladang dan persawahan yang tidak jauh dari area rumah nya.

Tidak terasa air matanya menetes,lagi dan lagi Afandi yang membuat dia menangis karena di hamparan bukit dan ladang juga sawah yang tampak hijau itu kenangan mereka berdua ada disana.

"Semoga kamu tenang disana fan, jangan khawatir tentang ibu dan adik mu, aku akan menjaga mereka"ucap Dian yang kini berbicara lirih sendirian di keheningan dibalik angin sepoi-sepoi yang kini berhembus menambah kesedihan dari rasa sepinya itu.

"Woy, bengong aja ikut jalan yuk?"ujar Ari yang kini membuat Dian kaget setengah mati.

"Ari!!"teriak dian.

"Mas Dito bilang dia mau mancing ke desa sebelah, gimana mau ikut gak, ada Delon sama Tio Gesa juga ikut"ucap Ari.

"Ibu sedang sakit, aku juga pulang untuk sebentar,"ucap Dian.

"Sakit apa dia sudah baikan tadi sudah nongkrong di teras, biar saja lagipula ada Afifah kan?"ujar Ari.

"Baiklah kalau begitu,"ucap Dian yang juga merasa butuh hiburan.

Dian pun menyiapkan perbekalan, seperti biasa mereka akan berkemah di tepi sungai jika mancing sore-sore atau malam.

Dian pun membawa joran milik almarhum sang ayah, saat ini mereka pergi menggunakan mobil Dian si Optimus.

Keempat teman laki-laki Dian, berikut istri Dito Gesya pun ikut di mobil pick up yang kini dikemudikan oleh Dian menuju desa sebelah.

Saat mobil Dian berangkat setelah Dian pamit, mobil sport milik Alex pun tiba di halaman rumah Dian dan beberapa tetangga Dian menyambut kedatangan pria tampan itu, untuk bersalaman dan seperti biasa Alex selalu membagi mereka uang.

"Wah tuan Alex terlambat, Dian baru saja berangkat sama teman-teman nya. Mungkin mereka akan berkemah karena mereka bawa alat pancing"ucap salah seorang bapak-bapak yang kini bersalaman dengan Alex.

"Kemana mereka perginya"ucap Alex.

"Dengar-dengar desa sebelah"ucap pria itu lagi.

Alex pun langsung meraih ponselnya, dan menghubungi Dian, tapi handphonenya Dian tidak aktif.

"Bisa bantu saya tunjukkan jalan, saya akan bayar berapapun"ucap Alex yang kini meminta tolong.

"Tentu tuan, anda tidak perlu repot-repot membayar lagi pula anda sudah memberi kami lebih, mari mungkin belum jauh juga"ucap pria itu.

"Naik mobil saya saja, jalanan nya juga bagus bukan?"ujar Alex yang pernah pergi ke desa sebelah.

" Iya tuan"ucap nya lagi.

"Neng Dian beruntung ya, dicintai banyak pria tapi dia tidak pernah banyak tingkah"ucap salah seorang ibu-ibu yang kini membuat Alex terdiam sejenak.

"Ayo tuan keburu gelap"ucap pria paruh baya itu.

Alex pun langsung bergegas masuk kedalam mobil dan kembali tancap gas, pria yang saat ini menjadi penunjuk arah pun langsung berseru.

"Tuan, saya bilang juga apa itu mereka dengan mobilnya!"ujar pria yang kini melihat Dian dan rombongan sedang berhenti di sebuah warung.

Alex pun langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan mobil Dian yang kini keluar dari dalam warung tersebut.

"Tuan,

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!