[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
badut
Di tengah ketegangan kelas yang mencekam karena tatapan membunuh Ariel dan tatapan sinis Yupi-Amu, tiba-tiba terdengar suara tawa kecil yang tertahan.
"Pfft... Hahaha!"
Seisi kelas menoleh serentak. Sumber suaranya adalah [y/n]. Gadis yang tadi dipojokkan oleh Velora itu kini sedang menutup mulutnya dengan tangan, bahunya terguncang-guncang menahan tawa puncaknya.
[y/n] hanya cekikikan karena gaya bicara murid baru itu yang aneh. Suara high-pitched yang dibuat-buat, pilihan kata yang sok imut, dan aroma parfum yang terlalu menyengat itu benar-benar terlihat seperti pertunjukan komedi yang buruk bagi [y/n].
"Eh? Kamu kenapa ketawa? Aku ngomong lucu ya?" tanya Velora, kebingungan. Dia mengerutkan keningnya, menatap [y/n] dengan tatapan tidak senang. "Duh, aneh banget sih cewek ini. Aku kan lagi serius ngenalin diri."
[y/n] berusaha meredakan tawanya, menyeka air mata kecil yang sudut matanya karena terlalu keras tertawa. "Maaf, maaf. Nggak apa-apa kok. Lanjutin aja ngenalin dirinya. Kamu unik banget."
Velora mendengus kesal, lalu kembali menatap Ariel dengan tatapan berbinar. "Duh, abaikan aja deh cewek aneh itu. Anyway, kamu siapa nama kamu? Kita kayaknya bakal cocok deh, soalnya aku easygoing banget sama bad boy."
Velora melangkah maju, hendak menghampiri meja Ariel tanpa memedulikan tatapan Bu Yeni yang sudah mulai jengah.
Tiba-tiba, Yupi berdiri dari bangkunya dengan suara keras.
"EHEM! Hellooo? Velora kan nama kamu?" potong Yupi dengan nada suara yang sengaja dibuat cempreng menirukan Velora. "Kalau mau ngenalin diri, ngenalin diri aja. Nggak usah pakai ngehina-hina [y/n]. Dan satu lagi, 'criminal sekolah' yang kamu panggil bad boy itu... dia udah ada yang punya. Jadi, mending kamu cari mangsa lain yang kelihatannya masih jomblo tragis di kelas ini."
Amu ikut berdiri di samping Yupi, melipat tangan di depan dada. "Iya. Mending kamu duduk di bangku kosong di pojok sana deh. Jangan keluyuran, ntar parfum kamu bikin satu kelas pingsan massal karena keracunan."
Velora tertegun, wajahnya memerah padam karena malu dilabrak di depan seisi kelas. Dia melirik ke arah Ariel, berharap cowok itu bakal membelanya. Tapi Ariel justru kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan, pura-pura tidur lagi sambil bergumam, "Berisik. mending tawuran daripada ini."
Bu Yeni akhirnya menggebrak meja guru dengan penggaris besi.
PRAK!
"Diam semuanya! Velora, duduk di bangku kosong di pojok kanan belakang. Yupi, Amu, duduk kembali ke bangku kalian! Jangan ada yang berisik lagi, atau Ibu jemur kalian di lapangan basket sampai istirahat!" gertak Bu Yeni tegas.
Velora cuma bisa mengentakkan kakinya kesal, lalu berjalan menuju bangku pojok belakang dengan wajah cemberut. Saat melewati meja [y/n], dia memberikan tatapan sinis setajam silet.
[y/n] hanya membalas tatapan itu dengan senyum tulus, lalu kembali menyesap susu stroberi pemberian Ariel.
...----------------...
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Teeeet... Teeeet... Teeeet...
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring, memecah ketegangan kelas 12D yang sejak tadi diselimuti aroma parfum Velora yang menyengat.
Seisi kelas langsung riuh. Murid-murid berhamburan keluar kelas, tapi ada satu orang yang gerakannya lebih cepat daripada kilat.
Ariel langsung berdiri dari bangkunya, menyambar jaket varsity-nya sendiri yang berwarna hitam, lalu berjalan cepat menuju meja [y/n]. Dia tidak memedulikan tatapan Yupi dan Amu yang sudah siap-siap melancarkan serangan "Cie-Cie" lagi.
Ariel berdiri tepat di depan meja [y/n]. Dia menatap gadis berambut biru itu dengan tatapan ketus, tapi ada nada cemas yang tersembunyi di sana.
"Ayo," ucap Ariel singkat, memberikan isyarat dagu ke arah pintu keluar. "Kita ke kantin. Gue nggak mau lu di sini terus-terusan kena parfum murahan si Pirang itu."
Ariel kemudian menoleh sedikit ke belakang, menatap Velora yang sedang asyik merapikan riasan wajahnya di depan cermin kecil. Ariel berdehem keras, mencoba menarik perhatian Velora.
Begitu Velora menoleh, Ariel langsung meluncurkan serangan verbal pertamanya. "Woi, Pirang. Kalau mau pick-me, pick-me aja sendiri. Nggak usah ajak-ajak [y/n]. Dan satu lagi, parfum lu... duh, bikin satu kelas pingsan. Lain kali pakai parfum yang harganya lebih mahal dari harga diri lu ya, biar nggak malu-maluin sekolah elit lu dulu."
Ariel tidak menunggu jawaban Velora. Dia langsung menarik tangan [y/n] yang masih memegang kotak susu stroberi, lalu berjalan cepat keluar kelas.
[y/n] cuma bisa mengerjapkan mata cokelatnya, bingung harus merespons apa pada tindakan tiba-tiba Ariel. Dia merasa tangan Ariel yang menggandeng tangannya terasa hangat dan... nyaman.
"Eh, Riel! Tungguin! Kita ikut!" teriak Yupi sambil berlari kecil menyusul mereka berdua, diikuti oleh Amu di belakangnya. "Kita mau liat kalian pacaran"
Di pojok kelas, Velora hanya bisa mengentakkan kakinya kesal, wajahnya memerah padam karena malu dilabrak di depan seisi kelas. Dia menatap punggung [y/n] dan Ariel yang menjauh dengan tatapan sinis .
"Awas aja lu," gumam Velora lirih. "Lu pikir lu siapa bisa menangin hati bad boy itu?"