Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Di Dalam Mobil
Aren melihat kekasihnya akan memasuki mobil, inisiatif dirinya akan keluar untuk membukakan pintu bagian depan sebelahnya namun ia mengurungkan niatnya karena sang kekasih memilih duduk di kursi penumpang bersama remaja lelaki tersebut.
"....." tatapan tajam menghunus tanpa mereka sadari.
"Sayang? Kenapa kamu tidak disini saja bersamaku?" tanya pria itu dengan lembut kini tatapannya menjadi ramah.
"Tidak, aku duduk disini bareng sepupuku" jawabnya Cellsyia tanpa melihat ke arah Aren.
Wanita itu mengabaikan kehadirannya, dan malah sibuk memandangi pergerakan sepupunya yang sedang memainkan jari jemari tangannya.
"Lucu banget sih jarinya Kak Cell" batin Aleix.
Mendengar jawaban sang kekasihnya seketika rahangnya mengeras.
"Sayang kemari dan pindah, kalau tidak aku akan melukai lenganku dengan belati ini" ancamnya Aren, entah dari mana belati kecil itu berasal dan sebentar lagi akan menyentuh lengan putihnya Aren.
Kini wanita itu melepaskan tangannya dari sepupunya, dirinya menoleh ke arah Aren dan betapa terkejutnya mendapati kekasihnya yang akan percobaan melukai dirinya menggunakan sebuah belati.
"BERHENTI!" Cellsyia berteriak keras.
"Iya, aku pindah duduknya ke depan" Cellsyia segera beranjak dari kursi penumpang, namun belati itu masih dipegang oleh Aren.
"Sayangku, tolong letakkan belatinya, ya? Sangat bahaya loh" wanita itu perlahan mengambil belatinya dan meletakkan ke dekat pintu mobil.
"Sayang, maafkan aku" wanita itu menangkup wajah tampan kekasihnya.
"Aku tidak akan memaafkanmu, sebelum aku menghukum dirimu, Sayang" ujar Aren tatapannya datar.
Gluk
Wanita itu menelan ludah dengan kasar.
"Baiklah, kamu boleh menghukumku tapi nanti ya setelah dari toko buku" kata Cellsyia.
"Hm" Aren pun menyalakan mesin dan mobil yang mereka naiki mulai berjalan.
"Dasar psikopat!" batinnya Aleix, sepupu Cellsyia.
Nyatanya Aren bukan psikopat, tapi Aleix menilai pria itu tampak duplikat seperti psikopat.
Remaja lelaki itu bersidekap dada, tatapannya tenang dan tanpa sengaja bertatapan dengan Aren lewat kaca yang berada di dalam mobil.
"Dasar bocah beraninya dia!" batin Aren, dirinya geram sekali dan bagaimana bisa kekasih hatinya menempel pada remaja lelaki itu selain dirinya.
"Apakah aku kurang tampan? Sehingga kekasihnya enggan menatap ke arahnya" pikirnya pria itu.
"Hah, ternyata kekasihnya Kak Cell menyeramkan, ya? Seperti mau melahapku hidup-hidup" batin Aleix.
***
Di perjalanan menuju toko buku, di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta tanpa bersuara.
"Ekhem..." Cellsyia berdehem, sontak kekasihnya melirik sekilas ke arahnya.
"Aku haus sekali, hm..." wanita itu bergumam pelan sambil memegangi lehernya.
"Sayang, apakah kamu mempunyai air minum?" tanya Cellsyia.
"Nih" tanpa pikir panjang Aren memberikan air botol pada sang kekasihnya.
"Wah, terima kasih, Sayang" wanita itu langsung mengambil dan mulai membuka tutup botolnya.
"Oh iya, air itu bekas aku tadi minum, lagian tidak apa-apa kan?" celetuk Aren secara tiba-tiba.
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut kekasihnya, Cellsyia membulatkan mata dan kemudian menyemburkan air yang tengah ia minum.
Byur
Wanita itu meletakkan air botol itu, lalu terbatuk-batuk.
Uhuk uhuk
"Kurang aja kau, Gula Aren!" batinnya wanita itu.
"....." sang pelaku disebelah dirinya menyeringai tipis.
"Astaga! Hahaha, lihatlah wajahnya Kak Cell begitu merahnya" batin Aleix dan berusaha untuk menahan tertawanya.
"Aleix, jika kau ingin tertawa silakan tertawa saja! Kau kira aku tak tahu hah jika kau sedang menahan tawa!"
"Pfftt, HAHAHAHA"