Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Liburan akhir semester telah berakhir. Siswa dan siswi sekolah antariksa akhirnya kembali menjalani kegiatan mereka setelah liburan panjang. Setiap tahun ajaran baru, ada peraturan di mana setiap kelas akan diacak kembali.
"Sedih banget gue nggak bisa sekelas sama lo lagi, Kay," ujar Tamara begitu melihat daftar kelas nya tidak terdapat nama Kayla. " Bisa-bisanya lo masih sekelas sama Alvian, ada Marvin pula," protes Tamara tak habis pikir.
"Untungnya gue nggak sekelas sama lo."ujar Alvian sambil menjulurkan lidahnya ke arah Tamara.
"Lo sekelas sama gue, Tam," sahut Sarah yang muncul tiba-tiba dari arah belakang Tamara.
"Serius?" Tanya Tamara.
Sarah mengangguk, kemudian Tamara tersenyum lebar.
"Secepat itu ya Lo berubah?" Ucap Kayla tak habis pikir, ia menunjukkan wajah yang seolah kecewa. Tamara hanya tersenyum kecil kemudian memeluk sahabatnya itu.
Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Masing-masing dari mereka mulai kembali ke kelas masing-masing. Begitu memasuki kelasnya, Sarah langsung tersenyum lebar ketika melihat ada Fabian di ruang kelasnya.
"Lo masuk kelas ini juga?"tanya Sarah saat sudah berada di depan laki-laki itu.
Fabian tersenyum kemudian menganguk." Hai Sarah, iya gue sekelas sama Lo."
Sarah mengangguk mengerti." Kita duduk di sini aja yuk." Ajak Sarah menunjuk ke bangku yang berada di samping Fabian.
Tamara langsung mencegah tangan sara yang ingin meletakkan tasnya di samping meja Fabian." Gak, lebih baik kita duduk di belakang sana. Bangku yang ada di barisan ini itu cuma cocok buat orang-orang pintar aja, manusia kayak kita itu tempatnya cuma ada di belakang."
Sarah mengangguk paham, ia pun mengikuti Tamara berjalan ke bangku belakang. Namun belum sempat mereka meletakkan tas di sana, sebuah tangan lain lebih dulu meletakkan tas di sana.
"Daffa! Minggir lo sana!" Protes Tamara.
"Gak, siapa cepat dia dapat," Daffa duduk dengan menyadarkan punggungnya seakan-akan dia adalah pemilik bangku itu.
"Ih! Nyebelin banget sih lo, sana minggir, ngalah kek sama cewek!"
Sarah menghela napasnya." Udahlah Tamara, kalau lo mau duduk di sini ya udah nggak papa lo duduk bareng Daffa aja, biar gue duduk di depan,"ucap Sarah.
"Tapi, Sarah,,," Tamara mengerucutkan bibirnya, tidak rela jika Sarah tidak satu bangku dengannya. Tapi dia juga tidak mau duduk di barisan depan apalagi sudah banyak bangku yang mulai terisi.
"Udah nggak apa-apa kalau lu mau duduk di sini, lo juga bisa leluasa menyiksa dia kan?"ucap Sarah kemudian tersenyum, senyuman yang di dalamnya penuh makna.
Tamara lalu mengangguk paham, ia kemudian menetap tajam ke arah Daffa. Merasa ditatap Dafa pun menoleh ke arah Tamara, entahlah tiba-tiba perasaannya mulai tidak enak melihat tatapan Tamara kepadanya. Apa sebaiknya ia pindah tempat saja?
Sarah pun berjalan kembali ke bangku Fabian Dan meletakkan tasnya di samping laki-laki itu." Hai ketua kelas, gue satu bangku sama lo, nggak apa-apa kan?"
Fabian hanya terkekeh kemudian mengangguk dan mempersilahkan gadis itu duduk di sampingnya. Setelah duduk Sarah pun menghalang nafas panjang.
"Lo kenapa?" tanya Fabian.
Sarah hanya menatap lurus papan tulis di depannya." Nggak apa-apa, tapi,,," Sarah menjeda ucapannya." Akhir-akhir ini banyak banget plot twist dalam hidup gue. Kira-kira apa lo juga punya sesuatu hal yang mau disampaikan ke gue? Kali aja plot twist dalam hidup gue bertambah."
Fabian mengernyit." Tiba-tiba banget, emangnya se plot twist apa sih hidup lo?"
Ujung bibir Sarah sedikit terangkat."entahlah gue juga sampai tercengang sendiri sama hidup gue."
Fabian mengangguk paham lalu dia tertawa kecil.
Hening, hingga akhirnya kalimat yang diucapkan Fabian selanjutnya benar-benar membuat Sarah terdiam.
"Gue suka sama lo."
Mata Sarah berkedip beberapa kali, gadis itu mencoba mencerna kalimat yang baru saja disampaikan oleh laki-laki di samping itu. Ia kemudian menatap ke arah Fabian dengan tetapan terkejut.
Laki-laki itu hanya tersenyum." Gimana? Lo terkejut nggak?"
....
Bagi Fabian sosok Sarah yang ia tahu adalah sosok gadis tidak berperasaan yang selalu saja melakukan hal buruk demi menjadi pusat perhatian.
Siapa sih yang tidak mengenal Sarah?
Anak tunggal kaya raya yang menjadi donatur utama di sekolah bergengsi ini. Dia terkenal Karena kecantikannya tapi juga terkenal dengan sifat iblisnya yang suka melihat orang lain menderita. Tidak ada yang berani bermacam-macam dengan gadis itu, kecuali satu orang yang dengan berani menolak cintanya.
Marvin.
Sarah menjadi seperti gadis bodoh yang naif ketika berurusan dengan Marvin. Semua orang di sekolah tahu jika garis antagonis itu jatuh hati pada sosok Marvin yang terkenal karena paras dan otaknya yang pintar. Selain itu Marvin juga dikenal sebagai sosok yang dingin dan tidak tersentuh.
Di sekolah ini tidak ada yang berani berurusan dengan Marvin, selain karena laki-laki itu sulit untuk didekati, ada sosok Sarah yang kejam yang selalu berada di dekat laki-laki itu. Sarah tidak segan menyiksa setiap perempuan yang diketahui memiliki hubungan dengan Marvin dan perempuan yang selalu menjadi sasaran empuk Sarah adalah Kayla.
Ya, seperti itulah sosok Sarah yang Fabian kenal. Hingga di tahun kedua mereka bersekolah Fabian pun satu kelas dengan Sarah. Melihat secara langsung bagaimana sifat Sarah, ternyata memang persis seperti desas-desus yang sering dia dengar dulu. Tapi tiba-tiba entah karena apa Sarah berubah menjadi sosok yang berbeda.
Sejak saat itulah entah bagaimana ia menjadi cukup dekat dengan gadis yang dulu dikenal sebagai antagonis itu. Semakin lama Fabian semakin tahu bagaimana sifat asli gadis itu. Bahkan tanpa dia sadari sebuah perasaan mulai tumbuh pada dirinya untuk gadis itu.
Dan ya, Fabian memilih untuk menyatakan perasaannya itu pada Sarah, meskipun dia tahu jika gadis itu masih mencintai sosok lain.
....
Sarah dari tadi melirik ke arah Fabian yang terlihat fokus dengan materi yang baru saja diberikan oleh guru di depan.
Tadi begitu Fabian tiba-tiba menyatakan perasaannya kepadanya, ia tidak bisa berkata apapun hingga guru pun masuk ke dalam kelas. Karena itu Sarah masih kepikiran dengan ucapan itu sampai saat ini.
"Lo mau ngomong sesuatu sama gue?"tanya Fabian tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatiannya dari materi-materi yang sedang dia catat.
"Hah?" Sarah yang terkejut langsung menoleh dan ke arah Fabian." E-enggak."
Fabian lalu menoleh dan mendapati Sarah yang seperti sedang berbicara sendiri. Laki-laki itu tersenyum kecil, ia yakin jika garis itu sekarang sedang memikirkan ucapannya tadi. Meskipun begitu Fabian tidak berniat menarik ucapannya, biar saja gadis itu kebingungan sendiri dengan ucapannya.
Tidak lama bel pun berbunyi, terdengar suara helaan napas lega dari sebagian besar murid di ruangan itu.
"Fabian," panggil Sarah akhirnya.
Fabian menoleh." Kenapa?"
"Eum,,ucapan Lo yang tadi gak serius kan?" tanya Sarah ragu.
"Gue serius."
"Ta-tapi,, eum..."
Fabian tiba-tiba tertawa melihat Sarah yang kebingungan. Sarah menatap Fabian dengan wajah kesal, padahal tidak ada yang lucu tapi kenapa laki-laki itu malah tertawa.
"Ih, lagian lu kenapa sih tiba-tiba bilang kayak gitu?! Gue kan jadi kepikiran." Ujar Sarah sambil memukul lengan Fabian karena kesal.
"Sengaja," ucap Fabian lalu menangkap salah satu tangan Sarah yang memukulnya." Sengaja supaya lo mikirin gue terus."
Sarah lagi-lagi terdiam membisu dan mereka pun saling memandang, hingga sebuah suara menyadarkan mereka.
"Sarah buruan! Nanti kantin keburu penuh!" Teriak Tamara yang sudah berada di depan papan tulis menuju ke arah pintu keluar.
Sarah kemudian melepas tangan Fabian lalu pergi meninggalkan laki-laki itu yang masih tersenyum memandanginya.