Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Naila
Hai readers, hari ini othor baru mengajukan kontrak, semoga saja pengajuan kontrak nya di acc ya, sekali lagi othor minta do'a nya. Terima kasih ya reader. Love U All.
Karena perdebatan Zidan dan Naila yang ingin pergi ke pantai dan ke gunung. Keduanya tidak mau mengalah. Dari kemarin mereka terus saja berseteru agar pilihan masing masing dari mereka menjadi salah satu yang diselenggarakan pilih oleh mamahnya. Sehingga Rania memutuskan bahwa liburan mereka akan pergi ke kebun raya Bogor.
Karena di sana ada juga hutan kecil dan danau, setidaknya mewakili keinginan mereka berdua. Walaupun sebenarnya mereka tidak menyetujui nya.
"Mamah kenapa kita pelgi ke kebun laya? " tanya Naila manja.
"Zidan ndak mau ke kebun laya, maunya ke gunung. "
"Mamah tidak mau ambil pusing, sayang di kebun raya ada juga hutannya loh, ada juga danau nya jadi keduanya ada di sana. " Rania mencoba merayu keduanya.
"Tapi mamah..... " Keduanya kompak.
"Kalau kalian menolak lebih baik kalian minta saja sama kakek dan nenek. Zidan minta sama kakek untuk pergi ke gunung, sedangkan Naila minta sama nenek ke pantai. Bereskan. " Rania pusing jika meladeni keduanya.
"Oke mamah ila mau minta sama nenek pelgi ke pantai. Mana pinjam hp na. " Naila segera menelpon nenek nya.
"Idan juga mau telpon akek. ila pinjam hp na, mau telpon akek. "
"Cebental ila beyum telpon nenek. " Masalah ponsel pun masih membuat kembar harus bertengkar, keduanya tidak mau mengalah. Kebetulan bu Arini baru keluar dari kamarnya karena mendengar keributan kedua cucunya.
"Ada apa sih, nenek dengar dari kamar kalian ribut dari tadi. " Bu Arini duduk di sofa.
"Itu bu, anak anak ingin liburan, Naila maunya ke pantai. Sedangkan Zidan maunya ke gunung. Sedangkan Ran tidak bisa mengabulkan kedua di waktu yang bersamaan. Makanya Ran minta mereka untuk bilang kakek dan neneknya. " Jelas Rania.
"Lalu apa yang di ributkan lagi? " tanya bu Arini
"Sekarang mereka rebutan ponsel Ran, biar bisa telepon papah dan mamah. "
"Loh, hanya masalah ponsel, ini pake punya nenek biar ga rebutan lagi. " bu Arini meminjamkan ponselnya pada kembar.
Naila dengan sangat gembira mengambil ho yang fi pinjamkan neneknya. Kemudian mencari nama nenek Erlina dalam ko tak nenek Arini yang tidak terlalu banyak.
Setelah ketemu, Naila melakukan panggilan video call. Panggilan ke lima telpon di jawab nenek Erlina.
"Halo ada apa jeng Arini? " nyonya Erlina mengira kalau yang telpon adalah bu Arini.
"Nenek ini ila, bukan nenek Alini. " Naila berujar..
"Oh hai sayangnya nenek, apa kabar cantik, tumben telpon nenek pake telpon nenek Arini? "
"Nenek ila mau jalan jalan ke pantai tapi Xisan mau le gunung, mamah jadi bingung harus bagaimana. ' Naila berbicara tentang keresahan nya.
" Oh gitu, nanti deh nenek bicarain sama kakek, mungkin saja kakek punya solusi nya. Agar keduanya bisa jalan jalan sesuai keinginan masing masing. "
"Iya nenek, ila tunggu ya, tapi jangan lama lama. ila mau cepat cepat ke pantai. " jawab Naila dengan manjanya khas anak kecil.
"Ya udah nenek tutup dulu ya, biar cepat cepat bisa bicara sama kakek. "
"Ok nenek yang cantik. " Jawab Naila yang sekarang bicaranya sudah jelas.
Telon pun di tutup, hal yang sama dilakukan Zidan yang sedang menelpon kakeknya. Keduanya menutup telpon menunggu keputusan kakek dan neneknya yang akan membawa mereka berdua jalan jalan dengan destinasi yang berbeda.
"Bagaimana, sudah telpon kakek dan nenek nya? " tanya bu Arini pada kedua cucunya.
"Sudah nenek, makasih ya hp nya. Nenek nanti kalau nenek Erlina telpon kasih tahu ila ya nek. " Naila bergelayut manja di tangan bu Arini.
"Iya sayang. " bu Arini mengusap halus punggung cucu perempuan nya.
"Mamah Idan juga, kalau kakek telpon kasih tahu Idan, biar Idan bisa siap siap naik gunung sama kakek. "
"Iya sayang, sekarang kalian tidur dulu, nanti kalau sudah ada telpon dari kakek nenek, mamah panggil ya. "
"Ya mamah. " jawab keduanya kompak.
Naila dan Zidan masuk ke kamarnya masing masing diikuti kedua pengasuhnya. Kalau untuk tidur siang, Rania membebaskan anaknya untuk tidur dikamar nya masing masing yang sudah disediakan untuk mereka berdua dengan karakter kartun kesukaan mereka berdua.
Sedangkan jika malam, Rania mengharuskan mereka tidur bersamanya karena jika siang Rania jadwalnya sangat padat sekali sehingga hanya sedikit waktu untuk bersama mereka, walau mereka terkadang protes pada mamahnya.
Waktu berganti, pagi hari ini kembar sedang sarapan, terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Bi, siapa ya, pagi pagi udah bertani, kembar aja baru bangun. " ujar Rania .
"Entahlah Ran, biar ibu buka pintu dulu agar tahu siapa yang sudah bertamu pagi pagi. " bu Arini yang sedang tadinya akan membukakan pintu, namun seorang art berjalan ke arah pintu.
"Buar saya saja yang buka pintu nya nyonya. "
Bu Arini yang sudah bersiap untuk berjalan, mengurungkan niatnya, kemudian duduk kembali menikmati makan pagi bersama kedua cucunya serta anaknya.
Art yang tadi membuka kan pintu kembali ke ruang makan memberitahu kan siapa tamunya. "Maaf nyonya di depan ada tuan dan nyonya Aditama. " ujar art.
"Suruh masuk saja, bawa kemari biar sekalian sarapan, bi tolong siapkan piring dua lagi untuk tuan Aditama dan istri nya. "
"Baik nyonya, saya ke depan dulu. "
Beberapa saat kemudian, tuan dan nyonya Aditama datang menghampiri bu Arini dan juga Rania yang sedang sarapan pagi bersama kembar.
"Kakek nenek..... " teriak kembar bersama an.
"Hai cucu kakek . " balas tuan Aditama.
"Cucu nenek yang cantik dan tampan, lagi makan apa sayang? " tanya nyonya Erlina.
"Pagi sarapan pagi nek jawab Naila yang mulut nya penuh dengan makanan.
" Habiskan dulu makanannya, baru berbicara. " Kata tuan Aditama.
"Silakan duduk jeng, aa kabar? " tanya bu Arini basa basi.
"Alhamdulillah baik Jeng. Bagaimana sebaiknya?
" Alhamdulillah sehat, ayo jeng kita sarapan bareng. "ajaib bu Arini.
" Iya mah, pah, kalian berdua belum sarapan kan? "
Nyonya Erlina dan tuan hanya tertawa pelan karena tebakan mereka benar. Akhirnya keduanya ikut bergabung sarapan pagi bersama. Kembar yang sedari tadi berceloteh membuat suasana pagi itu terasa lebih hangat.
Setelah sarapan bersama, semuanya pindah ke ruang tengah sambil minum kopi dan beberapa camilan Sementara bekas makan mereka di bereskan oleh art.
"Begini Ran, katanya kembar punya keinginan jalan jalan tapi berbeda tempat, apa benar? "
"Iya pah, Ran tidak bisa melakukannya secara bersamaan karena Ran tidak bisa menemani mereka berdua jika keduanya ingin kw tempat yang mereka inginkan."
"Begini saja, biar kembar pergi bersama kami saja. " ujar tuan Aditama.
"Tapi maaf sebelumnya, apakah Rania mengijinkan jika kembar pergi hanya bersama kami saja, maksudnya bu Arini dan Rania tidak usah ikut. "
"Maksudnya? " Rania terkejut karena mereka tidak boleh ikut, pikiran buruk pun keluar.
"Maksudnya, kembar akan ikut kami ke pantai di Bali, sehari di sana, kemudian besoknya kita berangkat ke Bromo selama sehari. Sehingga kembar bisa menikmati jalan jalan sesuai keinginan mereka. "
"Tapi pah, Ran.... "
"Percayalah pada kami berdua, kami tidak akan menyakiti atau pun menculik kembar, semuanya murni karena kami ingin kembar bahagia. " jelas rt an Aditama.
"Iya pah, mungkin Rania ada ketakutan seperti itu, dan mamah anggap itu wajar. Karena hari seorang ibu. "
"Maaf mah pah, Ran keberatan. Ran tidak bisa melepas kembar begitu saja, walaupun kalian adalah kakek dan nenek kandung nya. " Rania tampak sedih.
"Percayalah, beti kami waktu satu minggu, kami akan segera mengembalikan mereka setelah mereka puas dengan keinginan mereka berdua. "
"Bu, bagaimana ini? " Rania bertanya pada ibunya.
Bu Arini melihat kesungguhan dari tuan Aditama dan istrinya, hatinya mengatakan kalau mereka benar benar hanya ingin membahagiakan kedua cucunya, dan akhirnya mereka kembar di ijinkan untuk pergi bersama kakek dan neneknya.
"Itulah makanya kami datang kemari pagi pagi sekali agar kami bisa langsung terbang ke Bali, pesawat sudah siap untuk terbang. " jelas tuan Aditama.
"Kami akan mengabarii kamu setiap harinya. "
Dengan berat hati akhirnya Rania dan bu Arini mengijinkan kembar untuk ikut bersama mereka.
"Hore hore kita main ke pantai. " sorak Naila.
Rania terharu melihat putrinya begitu bahagia akan pergi ke pantai bersama dengan kakek dan neneknya. Dirinya a hanya bisa berdo'a semoga mereka kembali ke pelukan nya.
"Mamah, Idan nanti ke gunung sama kakek, kita buat api unggun. " ujar Zidan dengan wajah yang bersinar.
"Iya sayang, mamah minta kalian berhati hati di sana, Zidan bisa menghafal nomer telpon mamah kan, jika ada sesuatu yang mendesak segera telpon mamah ya sayang. "
"Ok mah. "
"Setelah selesai ganti pakaian, kembar segera turun menghampiri kakek dan neneknya yang ada di ruang tengah sedang berbicara dengan bu Arini.
" Barang nya tidak terlalu banyak kan, nanti kita bisa beli di sana. " ucap nyonya Erlina.
"Iya may, mereka membawa pakaian ganti dan keperluan pribadi mereka saja. " jawab Rania.
Setelah semuanya siap, mereka berkat berangkat menuju bandara karena akan segera terbang ke Bali. Kembar tampak berbicara dengan semangat.
Sampai di bandara, mereka naik pesawat pribadi yang sudah disiapkan dari subuh tadi. "Kakek, kita sekarang naik pesawat punya kakek? "
"Iya, Idan suka kan dengan pesawat nya? "
"Suka sekali, pesawat nya besar sekali. " ujar Naila.
Satu setengah jam kemudian, mereka mendarat di bandara Ngurah Rai Bali. Semuanya naik mobil jemputan yang sudah berada di san menuju hotel untuk menginap selama dua hari.
"Anak anak kalian lapar tidak, kalau lapar kita ke restoran dulu sebelum nanti sore kita ke pantai. " Ucapin nyonya Erlina setelah mereka sampai di dalam kamar hotel.
"Iya nek, ila lapar, mau makan. perut ila berbunyi kruk kruk gitu. "
"Oh ila lapar, ayo kita makan dulu, pah mau ikut kita ke restoran ga? " tanya nyonya Erlina pada suaminya.
"Iya mau, papah juga lapar. Idan lapar juga? " tanya tuan Aditama pada cucu laki lakinya.
Zidan hanya membalas dengan anggukan, karena bibir nya sedang makan camilan yang di sediakan pihak hotel yang merupakan milik tuan Aditama.
Di lobby hotel, tanpa kembar dan kakek neneknya tahu, Leon sudah ada di hotel yang sama untuk mengadakan meeting kerjasama perusahaan nya dengan seorang pengusaha asal Norwegia.
Kamar yang biasa Leon tempati bersebelahan dengan kamar yang biasa tuan Aditama tempati jika mereka ada urusan di Bali. Kamar presidential suite khusus pemilik hotel.
Saat akan keluar dari kamar hotel Naila lebih dulu keluar dari kamar, bersama an dengan Leon yang baru saja membuka pintu kamarnya. Naila yang memiliki mata yang jeli sangat jelas melihat papahnya masuk ke dalam kamar tersebut.
Dengan kelihaian yang di miliki Naila yang tidak di ketahui semua orang, Naila masuk ke dalam kamar Leon tanpa disadari pemilik kamar.
Leon meletakkan kopernya di dekat sofa, rasanya tubuhnya sangat lelah sekali karena sebelum berangkat ke Bali, Leon baru saja pulang dari Luar negeri.
Leon menyandarkan tubuhnya ke sofa setelah melepaskan jas nya dan meletakkan di sembarang tempat. Matanya terpejam. Namun telinga nya samar samar mendengar suara anak perempuan memanggilnya PAPAH.
Mata Leon yang sedang terpejam seketika terbuka, melihat sekeliling namun tidak melihat ada penampakan anak kecil.
"Ah mungkin karena aku terlalu lelah sehingga pikiran ku merasa ada anak perempuan yang memanggil ku. " ucapnya pada diri sendiri.
Leon memejamkan kembali matanya, namun baru saja matanya terpejam, kembali Leon mendengar suara yang memanggilnya.
Mata Leon kembali terbuka, dan betapa terkejut nya Leon melihat seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan duduk di sofa sebelah nya.
Leon sekan tidak percaya dengan penglihatan. Leon mengucek matanya seakan tidak percaya dengan penglihatan nya.
"Kamu siapa? " Tanya Leon dengan perlahan.
"Papah tidak mengenal wajah cantikku ini? " sambil berkedip Naila bertanya.
Leon melihat wajah cantik dan menggemaskan yang ada di hadapan nya. Pikiran nya mulai terbuka dan mulai mengingat wajah cantik tersebut.
"Kamu kamu..... " Leon tidak percaya.
"Iya papah... "
Sekan tidak percaya, anak kembarnya yang selalu di rindukannya ada di hadapannya memandang dirinya dengan senyuman yang sangat menggemaskan.
Perlahan Leon meraba wajah cantik putrinya, seakan tidak percaya tangannya bisa mengusap wajah darah dagingnya.
Leon menangis dan terharu, Tuhan begitu menyayangi dirinya hingga busa bertemu dengan buah hatinya. Kemudian Leon memeluk putrinya dengan perasaan yang sulit di artikan. Dadanya terasa membuncah, penuh dengan kebahagiaan.
"Sayangnya papah, kenapa kamu ada di sini, sedang apa dan sama siapa kamu di sini, siap namun sayangnya papah? " Leon tidak berhenti menangis.
"Namaku Naila papah, aku di sini sama kakek dan nenek juga kembaran ku namanya Zidan., aku mau main ke pantai, terus nenek membawa kami ke sini katanya mau tidur di hotel dua hari terus mau main ke gunung. "
"Kakek nenek kamu siapa namanya sayang? " Leon berharap cemas, semoga tebakannya salah.
"Kakekku namanya Aditama, nenek namanya Erlina." jawab Naila mengedipkan matanya sangat lucu.
"Papah mamah, kalian sudah berbohong dengan mengatakan tidak tahu keberadaan kedua anak anak ku. "