Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelapan...
Kembali ke sekarang Hana membuka matanya perlahan. Langit sudah hampir gelap. Ia menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa berat, seolah ada yang menekan.
“Nisa…”
Nama itu keluar pelan dari mulutnya. Bukan dengan nada penuh amarah, tetapi dengan nada yang lelah.
Ia menatap kosong ke depan. Kalau memang benar Nisa pelakunya sekarang…
Apa ini kebetulan? Atau— memang ia ditakdirkan untuk tidak mempunyai teman?
Dan pertanyaan yang lebih besar muncul di dalam benaknya, selama ini... Nisa anggap dia sebagai apa?
Hana menggenggam tangannya pelan. Perasaan tidak enak itu kembali. Lebih kuat dari sebelumnya. Tetapi bukan hanya soal lilin yang pecah. Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam— mulai menariknya.
Matanya masih terpaku ke arah koridor yang tiba-tiba menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Nafasnya tertahan sesaat, sebelum akhirnya keluar perlahan—tidak stabil.
Sunyi.
Tidak ada apa-apa. Namun, justru itu yang membuatnya sulit untuk percaya bahwa benar-benar tidak ada siapa pun di sana.
Perasaan diawasi itu… tidak kunjung hilang. Hana menggenggam tangannya lebih erat. Kukunya sedikit menekan kulit, cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia masih di sini. Masih nyata.
“…Siapa?” ulangnya, kali ini sedikit lebih tegas, meski suaranya tetap tidak besar.
Tidak ada jawaban. Hanya koridor panjang dengan sebagian lampu yang kini padam, menyisakan bayangan yang terasa lebih dalam dari biasanya.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada gerakan. Tidak ada suara. Perlahan, logika mulai mencoba mengambil alih. Mungkin cuma perasaan… Mungkin cuma capek…
Namun,
klik.
Suara itu terngiang lagi di kepalanya. Terlalu jelas untuk disebut imajinasi. Hana menelan ludah. Lampu di sekitarnya tiba-tiba padam. Langkahnya mundur satu kali. Hanya satu. Seolah tubuhnya sendiri yang mengambil keputusan sebelum pikirannya sempat menyusul.
Tatapannya tidak pernah lepas dari arah gelap itu. Ia menunggu. Satu detik. Dua detik. Tiga— Tidak ada apa pun. Tetapi justru itu yang membuat dadanya semakin sesak.
Kalau memang ada seseorang… kenapa tidak muncul? Kenapa hanya… diam?
Di saat yang sama, tidak jauh dari sana— seseorang memang berdiri. Tersembunyi di balik batas cahaya dan bayangan, di titik di mana mata manusia sulit membedakan bentuk dengan jelas.
Ia tidak bergerak. Bahkan sejak lampu itu padam. Seolah ia sudah tahu persis kapan harus menekan tombol itu… dan kapan harus berhenti.
Tatapannya tetap tertuju pada Hana. Tidak terhalang apa pun. Tidak goyah. Setiap gerakan kecil Hana—tarikan napasnya, langkah mundurnya, bahkan jeda dalam suaranya, semuanya diperhatikan.
Tangannya yang memegang ponsel tidak bergerak lagi sekarang. Layar sudah mati sejak tadi. Namun, benda itu tetap berada di sana, seolah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar alat.
Senyum tipis sempat muncul— lalu hilang lagi setelah sedetik.
“Takut… tapi belum sadar sepenuhnya,” gumamnya sangat pelan, hampir seperti napas.
Tidak ada emosi berlebih dalam suaranya. Hanya pengamatan seperti robot, yang cermat dan diperhitungkan.
Hana akhirnya mengalihkan pandangannya, meski dengan ragu. Ia tidak bisa terus berdiri di sana. Tidak bisa terus menunggu sesuatu yang tidak jelas.
Tangannya perlahan menyentuh pegangan tangga di sampingnya. Dingin logam itu membuatnya sedikit tersadar kembali.
Nyata.
Berbeda dengan semua yang barusan terjadi.
Ia menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya pelan. Dan akhirnya— melangkah turun satu anak tangga.
Tok.
Suara itu terdengar lebih keras dari seharusnya. Hana langsung menoleh ke belakang lagi.
Refleks. Kosong. Masih kosong. Namun, jantungnya tidak mau ikut tenang.
Ia menggenggam pegangan tangga lebih erat. Melangkah lagi. Tok. Satu lagi. Dan lagi. Setiap langkah terasa seperti menarik jarak… tapi juga tidak benar-benar menjauh.
Perasaan itu masih ada. Masih mengikuti. Masih… dekat.
Dari atas— sosok itu sedikit memiringkan kepalanya. Mengikuti pergerakan Hana yang mulai turun. Tidak mengejar. Tidak juga mendekat. Namun, ia tidak pernah kehilangan Hana.
Jaraknya selalu pas. Selalu cukup. Seolah memang sudah diatur sejak awal. Beberapa detik ia hanya diam, sebelum ia berbicara
“Pergi saja dulu…” bisiknya pelan.
“…biar kamu mikir.” Nada suaranya tetap datar.
Namun, ada sesuatu yang tersirat di sana. Sesuatu yang menunjukkan— ini bukanlah akhirnya, tetapi awalnya Hana akhirnya sampai di beberapa anak tangga bawah.
Langkahnya mulai sedikit lebih cepat sekarang, meski masih berhati-hati.
Ia tidak menoleh lagi. Bukan karena berani. Tapi karena… tidak ingin melihat sesuatu yang mungkin benar-benar ada di sana.
Tangannya masih dingin. Dadanya masih berat. Namun, satu hal kini terasa lebih jelas dibanding sebelumnya— Perasaan itu bukan sekadar takut. Bukan sekadar curiga. Tapi… keyakinan. Bahwa apa yang ia rasakan tadi nyata.
Seseorang benar-benar ada di belakangnya.
Tetapi orang itu tidak hanya sekadar melihat. Ia… menunggu.
Di atas, koridor kembali diam. Lampu yang padam masih belum menyala. Dan di titik di mana bayangan paling pekat, tidak ada lagi siapa pun yang terlihat. Namun, kesunyian di sana… tidak lagi terasa kosong.