Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Minggu pagi di Jakarta Selatan selalu punya ritme yang lebih santai. Sinar matahari menembus jendela kaca besar sebuah coffee shop estetik yang menjadi tempat langganan Sheila dan keempat sahabatnya. Aroma biji kopi yang baru digiling bercampur dengan wangi croissant hangat menciptakan suasana yang sempurna untuk sesi curhat mingguan.
Nilam, Sari, Alena, dan Bila sudah duduk melingkar di sofa pojok yang paling nyaman. Mereka sedang asyik membedah drama di kantor masing-masing—mulai dari bos yang hobi revisi di jam pulang kerja, sampai rekan kerja yang hobi cari muka.
Sheila duduk dengan tenang, menyesap iced oat latte-nya. Ia mencoba bersikap senormal mungkin, meskipun di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah gelang emas putih pemberian Jeremy semalam. Gelang itu berkilau cantik setiap kali Sheila menggerakkan tangannya untuk mengambil camilan.
"Eh, sumpah ya, si Sari mah mending. Lah gue? Masa disuruh lembur cuma buat nungguin kurir paket pribadi bos gue? Kan nggak lucu!" keluh Bila sambil mencocol kentang goreng ke saus sambal.
"Sabar, Bil. Namanya juga budak korporat," timpal Alena sambil tertawa.
Saat suasana sedang seru-serunya, mata tajam Nilam—yang memang dikenal paling teliti soal urusan fashion dan perintilan—mendadak terpaku pada pergelangan tangan Sheila. Nilam meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menarik tangan Sheila tanpa aba-aba.
"Bentar, bentar... Shei, ini gelang baru ya? Kok gue baru lihat?" tanya Nilam dengan nada menyelidik.
Sheila tersentak, jantungnya seolah melompat ke tenggorokan. "Eh? Iya, baru beli kemarin... lucu kan?"
Nilam tidak langsung melepaskan tangan Sheila. Ia memutar pengait gelang itu dan matanya menyipit melihat ukiran halus di sana. "Loh, ini ada inisialnya? J & S. J siapa, Shei? S-nya pasti Sheila, lah J-nya?"
Seketika, meja yang tadinya bising itu mendadak hening. Sari, Alena, dan Bila langsung condong ke depan, ikut mengerumuni tangan Sheila seolah sedang melihat artefak kuno yang sangat langka.
"Wah, iya! J & S!" seru Sari heboh. "Jangan-jangan... lo sudah punya pengganti Malik ya? Inisial J... J... Joko? Jamal? Atau jangan-jangan J-nya itu Pak Jeremy?!"
Darah Sheila seolah berhenti mengalir. Wajahnya mendadak panas. Ia segera menarik tangannya kembali dan menyembunyikannya di bawah meja. "Apaan sih kalian! Ngaco banget!"
"Ya terus J-nya siapa kalau bukan Jeremy? Kan lo asisten pribadinya, nempel terus tiap hari," goda Bila sambil menyenggol bahu Sheila.
Sheila memutar otaknya secepat kilat. Ia tidak mungkin jujur, tapi ia juga tidak boleh terlihat panik. Dalam kondisi terdesak, hanya satu nama yang muncul di kepalanya—nama yang sering ia dengar dari keponakannya yang penggemar K-Pop.
"Emmm... i... itu J. Jaemin! Iya, Jaemin!" cetus Sheila dengan nada yang dibuat semantap mungkin.
"Jaemin??" keempat sahabatnya kompak mengernyitkan dahi, mengulang nama itu dengan nada sangsi.
"Iya! Jaemin NCT!" lanjut Sheila, kini suaranya lebih stabil. "Kalian kan tahu aku lagi halu tingkat tinggi sama dia. Kemarin aku jalan-jalan ke mall, terus lihat ada jasa grafir inisial gratis kalau beli gelang. Ya sudah, aku tulis saja J buat Jaemin dan S buat Sheila. Biar berasa jodoh gitu, haha!"
Nilam menatap Sheila curiga, matanya memicing seolah sedang memindai kebohongan di wajah asisten CEO itu. "Masa sih? Perasaan lo nggak pernah seheboh itu sama Jaemin. Bukannya lo sukanya Sehun sama Chanyeol?"
"Ya... kan manusia bisa berubah seleranya, Lam! Jaemin tuh manis banget, giginya rapi, senyumnya bikin adem. Makanya aku bikin gelang ini buat penyemangat kerja," Sheila memberikan alasan yang terdengar cukup masuk akal, meski di dalam hati ia meminta maaf pada Jaemin karena namanya dijadikan tumbal.
"Yah... kirain J-nya itu cowok beneran yang lagi deketin lo," desah Sari kecewa. "Gue sudah semangat mau denger cerita move on lo yang spektakuler."
"Tenang saja, kalau ada yang beneran pasti gue kasih tahu kok," ucap Sheila sambil menyedot lattenya hingga bunyi sreett, tanda gelasnya sudah kosong karena ia terlalu gugup.
Baru saja suasana sedikit mereda, ponsel Sheila yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar kunci.
Bapak CEO Sengklek: "Kamu di mana? Aku di depan coffee shop kamu. Aku lihat motor kamu, tapi nggak lihat kamu. Keluar sekarang, aku kangen."
Mata Alena yang paling dekat dengan ponsel Sheila sempat menangkap sekilas adanya pesan masuk, namun ia tidak sempat membaca isinya karena Sheila secepat kilat membalik ponselnya.
"Siapa lagi tuh? Jaemin juga?" sindir Alena sambil tertawa.
"Bukan! Ini... ini paket! Kurir paket nanya alamat rumah!" Sheila buru-buru berdiri, menyandang tasnya dengan gerakan panik. "Eh, guys, sori banget ya. Gue tiba-tiba ingat ada urusan mendadak di rumah. Mamah minta tolong dianterin belanja."
"Loh, baru juga satu jam, Shei!" keluh Nilam.
"Sori, sori! Minggu depan kita ganti jadwalnya ya! Gue cabut duluan!" Sheila melambai singkat dan setengah berlari keluar dari coffee shop.
Di luar, sebuah SUV hitam dengan kaca film sangat gelap sudah terparkir di pojok area parkir. Begitu Sheila mendekat, pintu penumpang depan terbuka sedikit. Sheila segera masuk dan membanting pintu dengan wajah merah padam.
"Jeremy! Kamu gila ya?!" bentak Sheila begitu ia duduk di samping Jeremy yang sedang santai menggunakan kacamata hitam.
"Loh, kenapa? Aku kangen, kan aku sudah bilang tadi di chat," jawab Jeremy santai, sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Hampir saja rahasia kita terbongkar gara-gara gelang ini! Teman-temanku nanya J itu siapa, dan aku terpaksa bilang itu Jaemin!"
Jeremy mengerem mobilnya mendadak, menoleh ke arah Sheila dengan dahi berkerut. "Jaemin? Siapa itu Jaemin? Saingan baru aku?"
"Itu idol Korea, Jer! Artis!"
Jeremy mendengus, rahangnya sedikit mengeras karena cemburu yang tidak pada tempatnya. "Ooh, jadi inisial J di gelang pemberianku itu sekarang jadi milik artis Korea itu? Berarti mulai sekarang panggil aku Jaemin saja kalau gitu, biar sesuai sama gelang kamu."
"Nggak usah mulai deh, Jer! Kamu tuh CEO, bukan boyband!" Sheila mencubit lengan Jeremy gemas.
Jeremy tertawa, ia meraih tangan Sheila yang memakai gelang itu dan menciumnya. "Terserah mau panggil Jaemin atau apa di depan teman-teman kamu. Yang penting, orang yang punya hak paten buat genggam tangan ini cuma aku. Sekarang, Jaemin KW super ini mau ajak kamu makan siang. Mau?"
Sheila hanya bisa geleng-geleng kepala, menahan senyum di balik wajah kesalnya. Bermain petak umpet dengan pria se-posesif Jeremy Nasution memang melelahkan, tapi entah kenapa, ia tidak ingin permainan ini berakhir.