NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:101.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 21

"Nih, telur Bali di sini murah dan enak. Om pasti suka," kata selina sembari memberikan sebungkus makanan di tangan Aabid.

Raut wajah yang kini berbinar membuat Aabid bertanya-tanya. Tapi juga lega.

"Hei mau ke mana?" tanya Aabid begitu selina bangkit berdiri lagi.

"Sebentar, Om."

Selina berjalan menuju marbot kemudian memberikan satu bungkus untuk marbot tersebut dan berkata.

"Sarapan dulu, Pak. Terimakasih sudah jaga Om saya." Meski lirih namun Aabid bisa mendengar perkataan dengan bahasa dan gesture santun dari selina terhadap marbot masjid itu karena jarak mereka yang tak terlalu jauh.

Selina bergegas kembali setelah marbot itu mengucapkan terimakasih. Ia lalu duduk di sebelah Aabid membuka bungkusan yang tersisa di kantong kreseknya.

"Kok, belum dimakan, Om?" tanya selina menatap bungkusan yang tampak belum terjamah itu di tangan Aabid.

"Nungguin kamu."

Selina mengangguk paham.

"Selina," panggil Aabid pada gadis yang kini mulai memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut.

"Hem."

"Kamu udah nggak marah, kan sama Om? Maaf tadi Om nggak bermaksud menuduh selina." Meski sedikit ragu, namun akhirnya Aabid memberanikan diri untuk bertanya dan meminta maaf. Karena memang ia sempat berpikir demikian dan ia sadar kata-kata itu tak seharusnya keluar.

Ia sadar dirinya hanya tamu yang merepotkan keluarganya, maka tak seharusnya ikut campur dalam hal pribadi mereka.

"Tadi udah dibawa jalan-jalan, udah nggak marah. Selina cepet reda kalau marah."

"Tapi sering marah," celetuk Aabid tanpa sengaja.

Mulutnya seolah tak bisa mengontrol ucapan.

"Sama Dito maksud, Om." Aabid meralat ucapannya setelah tatapan tajam diberikan selina.

"Biasanya kalau perempuan marah musti dibujuk dan dikasih hadiah baru reda."

"Cewek Om maksudnya?" sindir selina balik dengan nada sinisnya.

Aabid mendengus begitu mendengar kalimat tersebut. Baginya tak ada perempuan lagi yang pantas untuk diberi hati.

"Udah, makan keburu dingin," perintah Aabid segera mengalihkan percakapan yang membuat hatinya kembali teremas.

"Hei, selina."

"Hem."

"Kamu bilang ini daerah Pak Harun kerja. Bukannya calon suami kamu kerja di tempat yang sama? Kamu nggak takut ketahuan kelayapan gini, sama saya lagi?" Pertanyaan yang sejak tadi disimpan akhirnya berani ia ungkapkan.

"Dia sedang ada rapat di tempat lain, nggak di kantor."

Aabid terdiam, lalu mengangguk paham.

"Rupanya selina sudah merancang sedemikian rupa. Pantas saja setenang ini," batin Aabid berujar.

***

Setelah menunggu cukup lama, selina membawa Aabid ke rumah sakit tepat di jam 9. Jam di mana rumah sakit memberitahu mereka untuk datang.

"selina kita dapat nomor 3, kan?" tanya Aabid di kursi tunggu.

"Iya," jawab selina tanpa menoleh ke arah Aabid, ia memilih untuk menyibukkan diri dengan membuka lowongan pekerjaaan di media sosial.

"selina, saya kebelet. Mau ke toilet dulu, ya."

Selina mendesah lelah kemudian perlahan menatap Aabid.

"Aduh, Om. Kenapa nggak di masjid tadi sekalian?" keluh selina.

"Ngaco kamu, emang ada kebelet janjian dulu."

Selina meniup ujung hijabnya, lelah.

"Ya udah, ayo." selina bangkit dari tempat duduknya.

"Hee ... mau ngapain kamu?"

"Nganter Om lah."

"Udah, nggak usah. Di sini aja. Saya bisa sendiri."

"Yakin?"

"Iya, kecuali kalau kamu mau pegangin gagangnya!" pungkas Aabid lalu bangkit dan melangkah pergi.

"Ish, tua-tua keladi!" gerutu selina menghempaskan diri kembali di kursi berbahan stainless.

Aabid mempercepat langkah yang sedikit pincang kala tahu sudah ada yang menunggunya di toilet rumah sakit.

Di sinilah ia membuat janji dengan Arga kemarin setelah selina memberitahukan perihal kontrol ke rumah sakit dan dia menggunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya, di mana orang suruhannya arga akan datang menemuinya di tempat yang sama.

"Pagi, Pak," sapanya pria berjaket Hoodie hitam dan bertopi begitu Aabid masuk ke dalam toilet sambil memberi hormat.

Meski sempat menajamkan penglihatan untuk mengenali Aabid yang berbeda tampilannya, namun kode yang diberikan Aabid mempermudah dia untuk mengenal.

"Nggak usah pakai hormat." Aabid menurunkan tangan pria tersebut sembari melihat ke kanan dan ke kiri.

"Saya sudah pastikan toilet masih kosong, Pak."

"Tetap saja harus waspada. Mana barang yang saya minta," pinta Aabid tak mau di tempat itu lama-lama dan menimbulkan curiga.

Ingat kejadian malam di mana selina menyusul ke kamar mandi kala ia di sana lama-lama. Lelaki yang juga berprofesi sebagai polisi tersebut segara merogoh ponsel dan uang yang disimpan di dalam amplop berwarna coklat dari balik jaketnya lalu menyerahkannya pada Aabid.

"Pak Arga berpesan kalau baju yang bapak minta sudah dikirim melalui paket. Mungkin akan sampai hari ini dan paling lambat besok."

"Namanya?"

"Sesuai dengan nama yang bapak minta."

"Oke, terimakasih. Pergilah. Saya akan kembali ke tempat tadi. Jangan berkeliaran di sini."

"Siap, Pak."

Aabid kembali menemui selina setelah menyimpan uang dan ponsel di dalam jaketnya.

"Belum dipanggil? Udah nomor berapa?" tanya Aabid begitu ia mendudukkan diri di bangku sebelah selina.

"Nomor dua baru dipanggil masuk."

Aabid menganggukkan kepala. Ia lalu menyipitkan mata menajamkan penglihatan sembari melirik ke arah ponsel di genggaman selina.

"Jangan main hp terus. Nggak bagus buat kesehatan mata. Lagian lihat apa sih, kamu?" tanya Aabid pada akhirnya setelah tak bisa membaca ponsel yang ternyata dinyalakan menggunakan mode malam itu.

"Ini, berita tentang perwira polisi yang diselingkuhi istrinya lagi viral. Namanya sama kayak Om lo. Aabid."

Seketika Aabid terkesiap, duduknya yang bersandar kini menjadi tegak, ia lalu merampas ponsel dari tangan selina dan melihat beranda yang dibacanya.

"Kok, bisa diselingkuhi padahal lulusan terbaik akademi kepolisian katanya dan juga anak pengusaha kaya," lanjut selina yang membuat telinga Aabid semakin panas.

"Emang kamu tahu selina orangnya seperti apa?"

"Belum tahu, cuma dari berita disebutkan kalau dia tampan. Tapi kalau menurut selina kayaknya nggak mungkin kalau tampan, mapan, dan kaya diselingkuhi. Pasti ada satu yang salah."

"Maksudnya?"

"Kurang tampan alias tuwir. Perjaka tua dapat istri gadis cantik, ya jelas aja diselingkuhi, jadi cari yang muda dan tampan," ujar selina lalu terkikik.

"Hush. Nggak usah baca berita sampah seperti ini. Nggak penting." Aabid mengembalikan ponsel setelah mengeluarkan dan menghapus riwayat berita yang dibaca selina.

Beruntung berita tersebut tidak disertai gambar sehingga dia bisa lebih tenang.

"Baca yang bermutu. Ketularan cerai kualat kamu."

"Astaghfirullahaladhim, amit-amit," sahut selina memukul kepalanya tiga kali.

Lalu bergegas memasukkan ponsel ke dalam tas selempang miliknya.

"Ya makanya nggak usah baca yang begituan."

"Aabid." Nama Aabid akhirnya dipanggil, mereka pun menyudahi perdebatan dan bangkit menuju ruang periksa.

Berbagai pemeriksaan dilakukan, Aabid berbaring di atas ranjang periksa sementara selina memilih untuk menunggu dokter memeriksa dengan duduk di kursi depan meja dokter.

"Ini obatnya ditebus, ya."

"Apa kita perlu kontrol lagi, Dok?" tanya selina.

"Sepertinya tidak selina. Kamu bisa rawat di rumah. Ini sudah 75%."

Aabid sedikit terperangah, "rupanya dokter muda dan selina sudah saling kenal." batin Aabid.

"Ini calon suami kamu, selina?" tanyanya dokter yang di mejanya bertuliskan Dr. Rama Dinata itu pada selina.

"Bukan, dia Om saya." Cepat selina menjawab. Cepat pula Aabid melirik kesal.

"Oh, maaf."

"Kalau begitu saya permisi. Terimakasih, Dok." selina bangkit sembari membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Kemudian segera mengajak Aabid keluar.

1
Reni Anggraeni
up LG atuh🤭
aliyya
makin rame aj nich,ayu udh dorong selina ampe kebentur dinding,jgn sampai Aabid melihat nanti makin g bisa d bebas in bpak lo ayu,tp gpp sich jd g ad yg berani bikin keluarga harun sakit hati lg,biar mereka kapok ,,,🤭❤️❤️❤️
bude gemoy
ayo....lanjut tambah greget.....
double up Thor 🙏
bude gemoy
up lagi thor.....😍😍😍😍😍
aliyya
wallpaper nya foto spa y,,,?
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
Danny Muliawati
mksih Thor lumayan banyak update nya😄
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!