Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Hujan Darah di Hutan Bambu
Langit sore itu tampak kelabu. Awan hitam menggantung rendah, menutup sebagian besar cahaya matahari. Angin berhembus kencang melewati celah-celah pegunungan, membawa aroma basah yang khas sebelum badai datang. Di kejauhan, suara petir samar-samar terdengar, menandakan hujan lebat akan segera turun.
Sekte Langit Biru, meski berdiri megah di punggung gunung, tidak pernah lepas dari ancaman dunia luar. Hutan bambu yang melingkari sisi timur sekte sering menjadi tempat persembunyian para bandit atau pengembara misterius. Tidak jarang murid-murid dikirim ke sana untuk melatih keberanian sekaligus menjaga wilayah sekte.
Hari itu, giliran kelompok Lin Feng untuk menjalankan tugas. Mereka ditugaskan melakukan patroli ringan di sekitar hutan bambu, memastikan tidak ada gangguan dari luar.
“Lin Feng, kau ikut bersama kelompok ini,” perintah salah satu senior. “Mungkin kau belum sembuh sepenuhnya, tapi inilah bagian dari latihan.”
Lin Feng menunduk hormat. Meski tubuhnya masih menyimpan luka, ia tidak menolak. Baginya, setiap kesempatan adalah jalan untuk menguatkan diri.
Namun ia tidak menyangka bahwa takdir sedang menyiapkan malam yang kelam untuknya.
Kelompok itu terdiri dari enam murid: Lin Feng, Mei Xue, Zhao Liang, serta tiga murid lain yang tidak terlalu dekat dengannya. Sejak awal, suasana di antara mereka terasa tidak seimbang. Zhao Liang, yang dikenal sebagai pengikut setia Liu Tian, beberapa kali melemparkan tatapan sinis pada Lin Feng.
“Jangan sampai kau memperlambat langkah kami, Lin Feng,” ucap Zhao Liang dengan nada mengejek. “Jika ada bandit, jangan sampai kau hanya jadi beban.”
Mei Xue melirik tajam ke arahnya. “Zhao Liang, berhentilah meremehkan. Kita datang ke sini sebagai satu kelompok.”
Zhao Liang hanya mendengus, tidak menjawab lagi. Tapi jelas, ia tidak akan berhenti mencari kesempatan untuk menjatuhkan Lin Feng.
Mereka memasuki hutan bambu saat senja mulai turun. Rerumpunan bambu yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang, membuat suasana semakin suram. Angin membuat batang-batang bambu bergesekan, menghasilkan suara “kreek… kreek…” yang terdengar seperti bisikan aneh.
Lin Feng berjalan di barisan belakang. Matanya waspada, setiap kali ada suara ranting patah atau bayangan bergerak, ia menajamkan pendengarannya. Entah mengapa, sejak memasuki hutan itu, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Tidak lama kemudian, suara-suara asing terdengar. Tawa kasar, langkah kaki bergegas, dan dentingan logam beradu. Para murid saling menoleh dengan wajah tegang.
“Bandit,” bisik salah seorang murid.
Dari balik batang bambu, belasan orang muncul. Wajah mereka garang, tubuh berotot, beberapa membawa pedang berkarat, yang lain memegang tombak atau kapak besar. Mereka bukan sekadar perampok biasa—tatapan mata mereka penuh haus darah.
“Lihatlah,” salah satu bandit besar dengan bekas luka panjang di pipinya tertawa keras. “Anak-anak sekte. Mudah sekali rezeki datang malam ini.”
Zhao Liang meludah ke tanah, mencoba menutupi rasa takut dengan sikap angkuh. “Kalian berani menghadang murid Sekte Langit Biru? Cepat pergi, atau kalian akan menyesal!”
Bandit-bandit itu hanya tertawa lebih keras. Pemimpin mereka, pria bertubuh tinggi dengan mantel kulit binatang, melangkah maju.
“Sekte Langit Biru memang terkenal, tapi muridnya hanyalah anak-anak. Darah kalian akan menjadi pupuk yang baik untuk hutan ini.”
Dengan teriakan, bandit-bandit itu menyerbu.
Pertarungan pecah di bawah cahaya bulan yang mulai muncul dari balik awan. Suara logam beradu dengan pedang, teriakan bercampur dengan deru angin. Hutan bambu yang semula sunyi kini dipenuhi jeritan dan dentuman senjata.
Lin Feng bergerak cepat, menahan serangan seorang bandit dengan pedangnya. Benturan keras membuat lengannya sakit, tetapi ia menggertakkan gigi, tidak membiarkan pedangnya terlepas. Ia menendang lawan itu hingga mundur beberapa langkah.
Di sisi lain, Mei Xue mengayunkan pedangnya dengan anggun, menebas bahu seorang bandit hingga roboh. Namun jumlah musuh terlalu banyak. Meski para murid berlatih setiap hari, ini adalah pertarungan nyata—darah, nyawa, dan ketakutan menyelimuti udara.
Zhao Liang, yang sebelumnya angkuh, mulai terdesak. Dua bandit mengepungnya sekaligus. “Sial!” teriaknya, keringat bercucuran di wajahnya. “Kenapa mereka begitu banyak?”
Lin Feng melihatnya, lalu melangkah maju. Dengan cepat, ia menahan serangan tombak yang hampir menembus dada Zhao Liang. “Jangan lengah!” serunya.
Zhao Liang terkejut, tetapi bukannya berterima kasih, ia justru mendengus. “Aku tidak butuh bantuanmu!” katanya keras. Namun jelas, tanpa Lin Feng, ia sudah jatuh.
***
Hujan mulai turun, deras dan dingin. Rintik-rintik air mengenai daun bambu, menimbulkan suara riuh. Dalam sekejap, tanah menjadi licin, darah yang tercecer bercampur dengan air hujan, mengalir seperti sungai merah kecil.
Lin Feng mengayunkan pedangnya sekali lagi, menebas pergelangan tangan musuh hingga senjatanya terlepas. Darah menyembur, bercampur dengan hujan. Sesaat, ia merasa mual, tetapi ia menahan diri. Ini adalah dunia nyata—dunia di mana kelemahan berarti kematian.
Seorang bandit besar menyerangnya dari samping, ayunan kapaknya begitu kuat hingga hampir merobek udara. Lin Feng berguling di tanah basah, nyaris terlambat. Kapak itu menghantam batang bambu, membuat kayunya pecah.
Dengan cepat, Lin Feng bangkit, menusukkan pedangnya ke perut lawan. Pedang itu tidak setajam pedang pusaka tetapi dorongan penuh tekad membuatnya menembus daging. Bandit itu berteriak kesakitan, lalu roboh ke tanah.
Lin Feng berdiri terengah, darah bercampur hujan menetes di wajahnya. Pandangannya kabur sejenak, tetapi ia tetap menggenggam erat pedangnya.
Pertarungan berlangsung sengit. Beberapa murid berhasil melukai musuh, tetapi juga menderita luka serius. Mei Xue hampir terjatuh ketika pedangnya terpental, namun Lin Feng berlari menahan serangan yang mengarah padanya.
“Lin Feng!” seru Mei Xue, terkejut.
“Bertahanlah!” jawab Lin Feng, matanya tajam.
Di tengah kekacauan itu, pemimpin bandit maju dengan langkah berat. Mantel kulitnya basah oleh hujan, matanya merah menyala. Ia menghunus pedang besar, lalu menatap langsung ke arah murid-murid.
“Cukup bermain,” katanya dengan suara berat. “Sekarang, waktunya aku mengakhiri kalian.”
Ia menyerang dengan kekuatan luar biasa. Setiap ayunannya membuat tanah bergetar. Murid-murid terpental satu per satu, tidak sanggup menahan serangan brutal itu.
Lin Feng maju ke depan, berdiri di hadapan pemimpin bandit itu. Meski tubuhnya gemetar, ia mengangkat pedang kayunya tinggi-tinggi.
“Jika kau ingin melewati hutan ini,” katanya dengan suara parau, “kau harus melewati aku dulu.”
Pemimpin bandit tertawa keras. “Seorang anak dengan pedang kayu ingin menantangku? Baiklah, mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan!”
Pertarungan sengit pun dimulai. Lin Feng menahan serangan demi serangan, tubuhnya terhuyung-huyung, namun tekadnya tidak goyah. Hujan semakin deras, membuat darah di tanah bercampur jadi satu aliran pekat.
Setiap kali pedangnya hampir terlepas, ia mengingat kata-katanya sendiri: “Jika aku jatuh hari ini, aku akan bangkit lebih kuat esok.”
Dengan sisa tenaganya, ia menebas ke arah pemimpin bandit. Tebasan itu tidak mengenai langsung, tetapi cukup untuk membuat lawannya terkejut.
Kerumunan murid yang tersisa bersorak kecil, semangat mereka kembali muncul.
Namun pertarungan belum selesai. Pemimpin bandit meraung marah, lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Dan tepat saat pedang itu hampir menghantam Lin Feng, suara keras menggema dari balik hutan.
“Berhenti!”
Sebuah bayangan melesat cepat, menghantam pedang besar bandit itu hingga terpental. Suara dentuman membuat tanah bergetar.
Lin Feng menoleh, matanya terbelalak.
“Guru Yunhai…” bisiknya pelan.
Sosok Yunhai berdiri di sana, jubah birunya berkibar meski hujan deras mengguyur. Sorot matanya dingin, penuh kemarahan.
“Berani sekali kalian menumpahkan darah muridku di tanah ini,” ucapnya dengan suara menggema. “Hari ini, hutan bambu akan menjadi kuburan kalian.”
***
Hujan deras terus turun. Daun-daun bambu bergetar, tanah merah oleh darah. Malam itu, hutan bambu menjadi saksi—bahwa di dunia para kultivator, hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu tebasan.
Dan Lin Feng, dengan pedang kayu retaknya, untuk pertama kalinya merasakan apa artinya berdiri di antara hidup dan mati. Hatinya semakin kuat, meski tubuhnya hampir roboh.
Jurang yang memisahkan dirinya dan Liu Tian semakin dalam. Namun kini, di bawah hujan darah itu, ia mulai melangkah ke jalan yang tidak akan bisa ia tinggalkan lagi.
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa