Soques, merupakan negara yang tepat di mana sebuah Kerajaan berdiri megah.
Dengan kekuasaan yang dimiliki, Raja itu membuat semuanya seolah-olah sebagai permainan hidup. Memilih seorang gadis yang berasal dari Keluarga yang memiliki popularitas sebagai pendamping hidupnya.
Tidak ada rasa manis dalam setiap kehidupan, semua berubah seketika disaat melangkah di kehidupan yang baru.
~Satu Yang Terpisah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Earrings
"Mendung lagi." Gumam Queena. Hari hampir malam namun terlihat seperti tengah malam, Queena merasa Bahwa akan datang badai besar, padahal hari ini adalah kedayangan teman baikknya bersama dengan pasangan barunya. Queena terus meratapi langit abu-abu gelap dalam posisi menyandarkan dagunya ke atas telapak tangan yang menyanggah di atas meja.
Nier berjalan ke arah jendela besar Queena dan segera menutup rapat kedua daun jendela besar itu.
"Yang Mulia mungkin akan ada badai yang datang, aku akan mengitari Istana dengan pelayan lainnya untuk menutup semua aksesbilitas ruangan," Jelas Nier pada Queena yang sedang duduk diam di kursi dekat jendela besar tersebut. "Dan kumohon pada Anda untuk tidak keluar dari Istana."
Queena mengangguk sebagai arti bahwa dia memahami apa yang diucapkan Nier serta memberinya izin. Queena berdiri mendekat ke arah jendela, sehingga dapat melihat seluruh pemandangan luar dari sana. gadis itu melirikkan iris matanya yang merah ke arah ranjang, di mana Yanze belum bangun sampai sekarang.
Kini Queena terduduk kembali di atas kursinya serta merapatkan kedua tangannya seperti dalam posisi meminta pertolongan pada Dewa.
"Kumohon, jangan jadikan hari ini hari yang buruk. Lenier dan Aldone harus sampai di Istana dengan selamat." Ucap Queena dengan merapatkan wajahnya dengan kepalan kedua tangannya.
♤Ruang Utama♤
Ruangan besar yang terletak di lantai dasar telah dihiasi beberapa hiasan yang indah, perjamuan makan masih dalam proses penyelesaian. Ruang itu dinamakan Ruang Tamu. Di mana ruang yang khusus untuk menerima tamu undangn ke Istana Soques.
Pria yang disanjung dengan sebutan 'Yang Mulia Raja' tengah duduk santai di ruangan itu dengan santai serta tidak melakukan apa-apa. Pekerjaannya tidak terlalu menumpuk jadi dia memutuskan untuk merehatkan pikirannya sejenak, dengan berkeliling Istana. Berkeliling ke luar sangat sulit dari jadwalnya yang padat. Vianze memejamkan kedua matanya yang sedikit berdenyut.
"Kakak?"
Vianze menoleh ke belakang, dia mendapati Fenith yang tengah berdiri sambil membawa nampan, refleks, Vianze langsung berdiri dan mengahmpiri Fenith yang masih berdiri diam.
"Kemarilah." Ajak Vianze yang menarik lengan Fenith dengan perlahan. Kini ruang tamu Istana itu hanya dihuni oleh mereka berdua.
"Fenith, apa yang kau lakukan di sini, bukankah aku menyuruhmu untuk tetap istirahat?" Ucap Vianze sambil menatap kedua mata Fenith dengan dalam.
"Ya- yah aku hanya ingin bergerak sedikit, lagipula di kamar sangat membosankan." Jawabnya dengan polos.
Yang Vianze lakukan hanya menghela nafas panjang, Fenith mulai menanyakan perihal Lenier dan Aldone yang ingin berkunjung ke Istana.
"Bulan madu? Di sini?" Tanya Fenith dengan nada yang terkejut, yah dia memang asli sedang terkejut.
"Awalnya aku menolaknya namun, Lenier adalah teman baik Queena, begitulah yang ku dengar, jadi tidak ada salahnya untuk memberi sambutan pada mereka." Jelas Vianze.
Fenith tentu saja terkejut, sesuai dengan apa yang dia dapat, Fenith hanya tahu bahwa Lenier dan Aldone datang mengunjungi Istana hanya untuk melihat keadaan Istana Soques, dan siapa sangka kedatangan pasutri itu memiliki alasan lain, yaitu bulan madu.
Fenith mulai menyunggingkan senyuman liciknya.
"Bagaimana dengan Kakak?" Kini Fenith bertanya lagi tapi Vianze tidak dapat mencernanya dengan baik, sehingga Fenith harus mengulangi kata yang sama namun dengan kalimat yang berbeda. "Kapan di Istana akan memiliki Pangeran mungil?"
"Tidakkah kau melihat Yanze yang selalu membuat orang repot," Jawabnya dengan santai, namun seketika pikirannya tersesat ke arah lain. "A- apa maksudmu? Saat ini kita memiliki Yanze, hanya Yanze yang ku prioritaskan." Tambahnya.
♤Di Sisi Lain, Tepat Di Kamar Queena♤
Queena terus menatapi bocah mungil yang masih tertidur pulas.
"Entah sampai kapan anak ini akan menutup matanya." Tukas Queena yang tengah duduk di pinggir ranjang sambil menemani Yanze.
Queena menatap jam yang terletak di atas pintu kamarnya yang megah, dalam beberapa jam lagi, mungkin Lenier dan Aldone akan sampai di Istana. Queena berfikir untuk mengambil beberapa pakaian Yanze di kamar Vianze, dia berencana untuk membiarkan Yanze mandi di kamarnya. Setelah bangun dari tidurnya Queena ingin Yanze langsung membersihkan tubuhnya sebelum acara perjamuan dimulai.
Saat ini pelayan-pelayan pribadinya sedang tidak berada di kamar, mau tak mau harus Queena yang turun tangan melakukannya. Seperti biasa sebelum dia meninggalkan kamarnya, kedua pengawal yang menjaga kamarnya diperintahkan oleh Queena untuk tidak membukanya untuk siapapun selain dirinya dan Raja.
Gadis dengan gaun hijau bercorak cokelat lukisan bangsawan terlihat indah di tubuh Queena. Queena sedikit berfikir apakah Vianze berada di kamarnya atau di ruang kerjanya, dan bagaimana jika tidak keduanya, Queena menggelengkan kepalanya dan terus kembali fokus dengan apa yang dilakukannya.
...👑👑👑👑...
"Tidak ada."
Beberapa menit yang lalu Queena tidak menemukan Vianze di kamarnya atau di ruang kerjanya. Kini Queena harus mencarinya terlebih dahulu sebelum memasuki kamar orang tanpa permisi. Queena menuruni anak tangga yang lumayan panjang di dalam Istana. Felling Queena mengatakan bahwa pria itu sedang berkeliling Istana untuk memeriksa sesuatu.
Dan tibalah dia di lantai utama atau ruangan utama, membutuhkan setengah jam hanya untuk turun ke ruangan utama. Apa yang diprediksikan Queena benar, Vianze tengah berada di ruang utama, namun bukan sedang memeriksa sesuatu melainkan tengah berbicara dengan seseorang, yaitu.
"Fenith." Batin Queena yang baru tiba di sana. Queena mendekati mereka dengan langkah biasa, karena tatapan Fenith yang berubah arah membuat Vianze ikut memalingkan wajahnya sehingga dapat mempertemukan kedua iris yang sama itu.
"Yang Mulia, aku membutuhkan izinmu untuk memasuki kamarmu, setelah Yanze terbangun aku ingin dia langsung membersihkan dirinya, sehingga dia bisa mengikuti acara penyambutan dengan tepat waktu." Jelas Queena pada Vianze yang masih duduk santai di atas sofa.
"Untuk apa kau meminta izin dariku." Kini Vianze mulai membuka suara.
"Wah~ ada pertunjukkan menarik." Batin Fenith bahagia.
"Kau bebas memasuki kamarku, lagipula posisimu adalah Ratu Soques," Ujar Vianze. "Dan aku adalah Suamimu, Rajamu."
"Kalau begitu, aku permisi." Singkat Queena dengan sedikit tekanan karena ucapan Vianze barusan.
Fenith serasa malu dengan apa yang dia harapkan, namun dia tidak akan menyerah begitu saja. Gadis dengan rambut emas itu berdiri dengan semangat membuat pandangan Vianze tertuju padanya.
"Yang Mulia Ratu! Biarkan aku menemanimu." Ucap Fenith sambil tersenyum.
"Tidak, aku bisa sendiri." Jawabnya dengan dingin.
"Kenapa tidak boleh?" Vianze seketika mengeluarkan kata skakmat.
Queena langsung melanjutkan langkahnya dan seperti berkata 'terserah' untuk gadis licik itu.
Sekarang mereka berdua berada di kamar Vianze, sebelumnya Queena pernah keluar masuk ke kamar Vianze untuk alasan tertentu sehingga dia tahu di mana tempat pakaian aribut Yanze berada. Fenith juga merasa tidak ingin kalah, dia juga ikut mencari dengan keras. Namun sayang, Queena lah yang mendapatkannya terlebih dahulu.
Fenith merebahkan tubuhnya ke atas ranjang Vianze dengan bebas, serta mulai tertawa pelan.
"Ternyata kau sangat memahami Vianze, orang yang sangat kau benci." Ucap Fenith tanpa menghormati sedikitpun Ratu yang berdiri di hadapannya.
Tetapi, Queena merasa bodoh dengan sekitarnya, sehingga membuatnya terus mendiami gadis yang tiada henti berbicara omong kosong itu.
"Kau seharusnya berterima kasih padaku Queena," Ujar Fenith yang mulai mengambil posisi duduk di pinggir ranjang Vianze. "Hari ini Vianze tidak mendatangi Khallem, dan itu semua adalah berkatku, hei aku hebatkan?"
"………………"
Queena meninggalkan kamar Vianze seusai mengambil apa yang dia perlukan, dan meninggalkan Fenith yang selalu berkata tidak masuk akal terhadap Queena. Tapi, sebelum meninggalkan kamar Vianze, Queena sempat mengatakan hal yang sama seperti yang sebelumnya.
♤Sebelumnya♤
"Apapun yang kau lakukan, selama semua orang baik-baik saja kau akan aman."
♤Sekarang♤
Queena berjalan menuju kamarnya dengan cepat, namun dia bertepatan dengan seseorang yaitu Rajanya, Vianze Fendrich. Queena tidak ingin berbuat apa-apa dan ingin langsung pergi dari sana secepat mungkin, tapi tiba-tiba Vianze menarik pergelangan tangan Queena sehingga membuat gerakkan gadis itu terhenti.
"Di mana antingmu?" Tanya Vianze sambil mengerutkan kedua dahinya menatap daun telinga Queena bagian kiri.
Queena sontak langsung meraba daun telinga bagian kirinya untuk memastikan, dan ternyata benar, anting Queena di sebelah kiri hilang.
"Di kamar Anda." Singkat Queena lalu berlari kambali ke kamar Vianze, namun bukan hanya dirinya saja, Vianze juga ikut serta berlari ke kamarnya.
♤Kamar Vianze♤
Queena menyudutkan pandangannya ke setiap benda yang ada di kamar Vianze, begitupula dengan Vianze, entah apa yang merasuki Vianze, pria itu turut serta membantu Queena mencari antingnya dan sebagai tambahan peserta, Fenith juga berada di kamar yang sama serta melakukan hal yang sama seperti Queena maupun Vianze.
Waktu mereka banyak terbuang hanya karena anting Queena, pada akhirnya Queena menyerah untuk mencari benda itu.
"Itu hanyalan sebuah anting, jadi-"
"Sebuah anting? Hei! Aku yang telah memberikan anting itu padamu, setidaknya kau bisa menjaganya," Tukas Vianze. "Kita akan cari setelah perjamuan selesai, sekarang semuanya harus bersiap dengan kedatangan Nona Leonard dan Pangeran Aldone."
"Baiklah." Jawab Queena dengan sikap sedikit tegas.
kalimat yunze sakti banget bisa bikin raja vianze lsg menghilang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
gemeeeessshhh banget...niat ngerawat kak queena sampe lupa apelnya diabisin sendiri
api emosi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣