Takdir mempertemukan Deanda Federer yang hanya seorang gadis miskin dengan seorang Putra Mahkota Alvero Adalvino dari Kerajaan Gracetian. Negara dengan sistem pemerintahan monarki absolut, di mana ucapan Raja adalah hukum mutlak.
Alvero dikenal tampan, cerdas, sekaligus sosok pengusaha hebat, namun juga dikenal keras, arogan, dingin, sekaligus dikenal playboy karena tidak pernah bersama dengan gadis yang sama lebih dari satu bulan. Namun beberapa rumor juga menyebutkan bahwa Alvero seorang gay. Untuk meredam rumor dan mempertahankan posisinya sebagai calon Raja sekaligus untuk dapat membalas dendam, Alvero sengaja menjebak Deanda untuk menikah dengannya.
Bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Kenapa harus Deanda yang dipilih oleh Alvero? Dan apakah Deanda bisa menerima Alvero dan jatuh cinta padanya dengan perbedaan status yang begitu jauh? Ikuti perjalanan cinta mereka yang penuh perjuangan sekaligus romantis.
Cerita ini hanya fiksi semata, maaf jika ada kesamaan tokoh, nama, dll
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JE270608, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMAKIN TERTARIK PADAMU
“Aku sudah mempelajari laporan yang Duke Evan berikan padaku. Sepertinya masalah keamanan di perairan kita tidak bisa lagi dianggap remeh,” Alvero berkata sambil tangan kanannya terkepal dan menempel di mulutnya.
“Benar Yang Mulia, kita harus segera bertindak dan memperbaiki sistem keamanan kita di wilayah perairan sebelum semuanya terlambat,” Evan menanggapi perkataan Alvero dengan matanya terlihat begitu serius melihat lembaran peta di atas meja yang ada di depannya dan Alvero.
“Kalau begitu masalah perbatasan kali ini harap Duke Evan segera menyelesaikannya dengan baik,” Alvero yang duduk berhadapan dengan Evan berkata sambil matanya memandang ke arah Evan yang tampak memandang ke arah meja di depannya yang menunjukkan peta lokasi negara Gracetian dan beberapa bagian telah diberikan tanda bintang bewarna merah oleh Alvero.
“Yang Mulia, di daerah pesisir pantai ini adalah daerah yang paling kritis karena di sana terdapat pertambangan emas dan minyak lepas pantai sekaligus hasil laut kita yang cukup melimpah yang biasanya disusupi oleh para nelayan liar dari negara lain, bahkan beberapa dari mereka sengaja menyamar sebagai nelayan untuk bisa menyusup ke negara kita sebagai penduduk gelap,” Evan mengarahkan jarinya yang sedang memegang pena ke arah salah satu tanda bintang bewarna merah itu, membuat Alvero sedikit menyipitkan matanya.
“Betul sekali, karena itu kita harus segera memperketat pasukan khusus pertahanan kita di kelautan,” Alvero berkata sambil memandang ke arah Evan yang sedang menunjuk sebuah lokasi dengan tanda bintang bewarna merah dengan ujung pena ditangannya.
“Jangan khawatir Yang Mulia, dua hari lagi saya akan segera pergi memeriksa langsung kondisi di sana dan memastikan semuanya baik-baik saja. Dan untuk para penyelundup sekaligus pencuri itu, saya berjanji akan menangkapnya hidup-hidup dan menyerahkan mereka agar diadili sesuai hukum yang berlaku,” Alvero mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan Evan.
“Setelah semuanya diselesaikan dengan baik, aku akan memberikan hadiah untuk Duke Evan. Aku akan mengirimnya langsung ke tempat kediaman Duke Evan,” Evan tertawa kecil mendengar janji dari Alvero.
“Kalau Yang Mulia berkenan, daripada hadiah, saya menginginkan sebuah permintaan kepada Yang Mulia, yang saya harapkan dapat dikabulkan oleh Yang Mulia,” Alvero mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Evan.
“Baiklah, satu permintaan akan aku kabulkan, tapi aku juga memiliki hak untuk menolak sekali jika aku merasa tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Bagaimana? Apakah itu cukup adil bagimu?” Alvero berkata sambil mengulurkan tangannya ke arah Evan yang langsung tersenyum.
“Deal Yang Mulia. Terimakasih untuk kesempatan berharga yang sudah diberikan Yang Mulia kepada saya. Juga kepercayaan Yang Mulia untuk saya dapat membantu menjaga keamanan negeri ini,” Evan langsung menjabat erat tangan Alvero sebagai tanda Evan setuju atas penawaran Alvero.
# # # # # # #
"Rasa black forest ini cukup enak, namun karena ini salah satu kue favorit dari Yang Mulia Putra Mahkota Alvero, beliau sendiri yang akan memeriksa rasa dan penampilan dari kue ini. Nona Deanda silahkan menunggu sebentar lagi Yang Mulia akan datang kemari," Deanda tersenyum lega mendengar pujian dari Avitus, walaupun jika ingin kontrak kerjasama bisa terus berlangsung jika Alvero juga merasa puas dengan kualitas kue itu.
Baru saja Avitus menyelesaikan perkataannya, suara pintu ruang tunggu yang terbuka membuat Avitus dan Deanda langsung berdiri dan membungkukkan tubuh mereka melihat siapa yang baru saja masuk. Baik Avitus maupun Deanda segera mengucapkan salam hormat mereka kepada Alvero.
"Selamat siang Yang Mulia," Alvero langsung tersenyum untuk membalas sapaan dan salam hormat mereka berdua.
Sambil berjalan ke arah meja yang di atasnya terdapat kotak berisi kue black forest yang dibawa oleh Deanda, Alvero melirik ke arah Deanda yang sebagian wajahnya terlihat tertutup oleh topi, membuat Alvero menyungingkan senyum di salah satu sudut bibirnya.
"Apa ini kue yang kita pesan hari ini untuk snack beberapa staff kita siang ini?" Alvero bertanya sambil matanya mengamati penampilan dari kue black forest yang ada di depannya.
Menarik, apa Deanda sendiri yang membuat kue ini? Alvero bertanya dalam hati dengan matanya masih mengamati kue di depannya yang tampak begitu menarik dengan warna coklatnya yang dari warna dan baunya sungguh menunjukkan bahwa kue itu dibuat dari coklat berkualitas tinggi, dan hiasan di bagian atas berupa potongan buah stroberi segar menambah cantiknya penampilan kue black forest itu.
"Benar Yang Mulia," Avitus menjawab pertanyaan Alvero dengan cepat, sedang Deanda memilih untuk diam dan mengawasi tindakan Alvero dengan sudut matanya tanpa berani mengangkat kepalanya sebagai tanda hormat kepada Alvero.
Avitus mengambil sebuah piring bersih dan mengambil sepotong kue black forest dengan penjepit makanan, meletakkan potongan kue itu ke atas piring kecil tersebut dan langsung menyodorkannya ke arah Alvero yang mengamati kue itu dengan teliti.
"Saya sudah mencobanya Yang Mulia, saya pastikan semuanya aman," Alvero menahan sekilas nafasnya sebelum akhirnya mengangguk mendengar perkataan Avitus yang di perusahaan Adalvino bertugas menjadi penanggung jawab atas semua makanan yang disuguhkan kepada Alvero sebagai Putra Mahkota kerajaan, dimana sebelum Alvero memulai memakan makanan apapun yang ada di depannya diharuskan ada orang khusus yang bertugas melakukan tes dan mencicipnya terlebih dahulu dan memastikan semuanya aman.
Wahh, sampai sebegitu rumitnya kehidupan para anggota kerajaan, kadang memang jauh lebih beruntung menjadi rakyat biasa seperti aku. Tidak perlu merasa was-was dengan makanan yang disuguhkan, sungguh kehidupan yang cukup sulit untuk dijalani, Deanda berkata dalam hati dengan ujung matanya masih mengawasi apa yang sedang dilakukan oleh Avitus dan Alvero.
Setelah mengunyah sepotong kecil kue black forest itu Alvero memandang ke arah Avitus sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang langsung disambut oleh sebuah senyuman dari Avitus, karena respon dari Alvero yang menunjukkan bahwa dia cukup puas dengan rasa kue yang baru dicicipnya.
"Apa kue ini kamu sendiri yang membuatnya Nona?" Alvero berkata sambil memandang ke arah Deanda yang baru berani mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Alvero begitu mendengar pertanyaan dari Alvero.
"Bukan Yang Mulia, saya hanya sebagai karyawan yang bertugas untuk melayani para pelanggan di cafe dan mengantarkan pesanan. Teman saya Abella dan Adrian yang membuatnya, bersama rekan-rekan saya yang lain," Deanda berkata sambil tersenyum dan menatap ke arah roti yang ada di atas meja.
"Apa kamu tidak bisa membuat kue? Bukannya kamu merupakan lulusan dari jurusan pengolahan makanan di salah satu Universitas terkemuka di kota ini? Dengan nilai terbaik?" Deanda cukup kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero, sehingga tanpa sadar langsung membuatnya memandang ke arah Alvero.
Bukan karena Alvero mempertanyakan tentang kemampuannya membuat kue, namun bagaimana Alvero bisa tahu tentang latar belakang pendidikannya dengan begitu tepat. Seorang Putra Mahkota yang memiliki kedudukan tinggi sepertinya, bisa-bisanya meluangkan waktu untuk sekedar mencari info tentang dirinya yang hanya seorang pegawai rendahan sebuah toko roti.
Ah, pasti karena posisi Putra Mahkota Alvero mengharuskan beliau menjadi begitu berhati-hati terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga posisi sekecil apapun dia akan menyelidiki latar belakang orang tersebut, Deanda berkata dalam hati untuk mencegah dirinya sendiri berpikir bahwa Alvero begitu perduli dengannya.
"Lebih tepatnya mahasiswa dari sana Yang Mulia, karena saya belum mengambil ijazah saya dan melakukan prosesi wisuda. Jadi, saya belum bisa dikatakan lulus dari Universitas itu. Untung saja Tuan Logan dan Nyonya Reyna berbaik hati dengan tetap mau memperkerjakan saya di toko rotinya," Alvero sedikit menaikkan sebelah alisnya mendengar kata-kata Deanda yang diucapkan dengan nada biasa-biasa saja sambil tersenyum, seolah-olah hal itu bukan sesuatu yang membuatnya kecewa ataupun sedih.
Semakin lama kamu membuatku semakin tertarik untuk mengenalmu lebih dalam lagi. Bagaimana bisa kamu tetap terlihat begitu bahagia dengan kondisi menyedihkan yang kamu alami selama ini. Dengan banyaknya perlakuan tidak adil yang kamu alami oleh orang-orang di sekitarmu, tapi kamu tidak mengeluh. Sangat menarik, kuat tapi tidak sembarangan bertindak, ditindas tapi tetap bisa bersyukur dan berbahagia, cantik dan cerdas, tapi tetap rendah hati, dan selalu bersikap apa adanya, Alvero berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya dari Deanda ke Avitus.
"Segera aturkan kontrak kerjasama kita dengan toko roti tempat Nona Deanda bekerja, dengan segala persyaratan yang sudah aku tuliskan kemarin,"
"Baik Yang Mulia, saya akan segera aturkan," Avitus langsung menjawab perintah tegas dari Alvero yang meletakkan kembali piring yang berisi kue ke atas meja di depannya.
"Kalau begitu nanti kami akan hubungi Tuan Logan untuk pembicaraan kontrak kerjasama lebih lanjut. Untuk Nona Deanda bisa meninggalkan tempat. Terimakasih sudah mengantarkan pesanan kami hari ini," Avitus berkata sambil memandang ke arah Deanda yang masih terdiam di tempatnya sedang menunggu perintah selanjutnya.
"Terimakasih Tuan Avitus. Saya permisi dulu Yang Mulia, juga Tuan Avitus," Deanda kembali membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan saling menggenggam di depan perutnya, sedikit memajukan salah satu kakinya di depan kaki lainnya dan membuat gerakan kaki setengah berlutut untuk memberikan hormat kepada Alvero sebagai Putra Mahkota kerajaan Gracetian.
"Selamat siang Nona Deanda," Avitus segera menjawab perkataan Deanda yang langsung menggerakkan tubuhnya untuk berjalan meninggalkan ruang tunggu itu.
"Avitus, pastikan kamu mengirimkan surat perjanjian kontrak dengan toko roti Tuan Logan tanpa masalah. Lakukan semuanya sesuai dengan prosedur yang ada. Aku mau roti yang terbaik untuk semua karyawan yang bekerja di sini,"
"Baik Yang Mulia," Avitus segera menjawab perintah Alvero yang langsung bergerak ke arah pintu keluar.
Alvero baru saja hendak melangkahkan kakinya ke arah lift pribadinya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya ketika dilihatnya sosok Deanda sedang berbicara dengan Evan di dekat meja resepsionis. Tarikan nafas Alvero tiba-tiba saja terasa berat melihat bagaimana senyum Deanda yang sesekali tersungging di bibirnya saat berbicara dengan Evan, bahkan pemandangan di depannya tidak menunjukkan bahwa mereka berdua adalah dua orang yang sebenarnya memiliki status sosial yang begitu jauh, seperti langit dan bumi, seperti bintang laut dan bintang di langit yang jaraknya teramat jauh dan seharusnya begitu sulit untuk bertemu. Dan tanpa sadar pemandangan itu cukup untuk membuat Alvero langsung membalikkan tubuhnya berjalan dengan tergesa-gesa ke arah lift pribadinya dan meraih handphone di saku celananya.
“Ernest, beritahukan kepada Erich aku akan meninggalkan kantor sekarang. Siapkan mobil untukku sekarang juga, lakukan apapun untuk menahan Deanda agar tidak keluar dari gedung ini sebelum mobilku siap di depan pintu keluar masuk gedung ini,” Alvero yang sudah ada di depan pintu lift berkata sambil melepas dasi di lehernya dan bergegas masuk ke lift pribadinya untuk dapat segera pergi ke kantornya untuk mengganti pakaian kantornya.