NovelToon NovelToon
Sheilla Abraham

Sheilla Abraham

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:70.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizkook lovers

Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.

Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.

Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Twenty One

Hari sudah semakin malam. Sheilla berpamitan kepada orang tua Ryan, kakaknya sejak tadi sudah menghubungi nya, menanyakan lokasinya sekarang.

"Sheilla pulang dulu, mom, dad."

"Iya sayang, sering-sering main ke sini ya biar mommy ada temennya." Syifa memeluk Sheilla dengan pelukan hangat yang sepertinya akan menjadi tempat ternyata untuk Sheilla setelah ini.

"Pasti mom, Sheilla bakal sering-sering main."

Ryan berlari ke kamarnya untuk mengambil jaket, ia akan mengantarkan Sheilla pulang. Sheilla sempat menolak, namun Ryan memaksa.

Mereka menyusuri jalanan malam kota Jakarta yang selalu padat setiap saat, apalagi besok hari minggu, banyak anak muda yang keluar bersama teman, kekasih atau keluarga untuk menikmati malam minggu bersama.

"Kenapa kamu nganterin aku? nanti kamu pulangnya gimana? kan kita pakai motor aku."

"Tidak masalah, nanti Ander jemput aku kok. Kami sudah janji buat nongkrong bareng di cafe."

Entah perasaan Sheilla saja, atau Ryan memang sengaja mengendarai motor nya dengan pelan?

"Yaudah, kamu jangan pulang terlalu larut, nanti mommy nyariin."

"Siap ibu negara!"

Sheilla terkekeh mendengar nada suara Ryan yang terdengar sangat patuh, ia pun mengencangkan pelukan pada Ryan, menyandarkan kepalanya pada punggung lebar itu. Menikmati angin malam yang menghembus wajahnya, terasa sangat dingin.

"Besok mau jalan gak? biar aku jemput."

"Besok?" Berpikir sesaat, Sheilla pun mengangguk mengiyakan ajakan Ryan. "Boleh deh."

Ryan tersenyum senang, "Baiklah, jangan lupa dandan yang cantik ya, pacar."

Hanya modal kata 'pacar' dari Ryan saja sudah mampu membuat pipi Sheilla merona, entah Ryan sadar atau tidak dengan itu.

Sheilla memasuki kediaman keluarga nya dengan senyuman yang terpatri indah di bibir manisnya. Melihat itu, membuat Alena tidak tahan untuk tidak meledek kakaknya. "Aduh, ada yang lagi kasmaran nih."

Sheilla mengabaikan suara sang adik, namun gadis itu malah meledak nya, "Bang Nathan, keknya besok kita harus cari undangan pernikahan deh. Kak Sheilla udah siap di nikahin tuh. Udah serius banget kayaknya sampai di kenalin ke keluarga nya."

"Bisa diem gak? ngeledek mulu!" Kesal Sheilla.

Alena menjulurkan lidahnya, lalu tertawa sampai guling-guling karena melihat wajah kesal Sheilla.

"HAHAHA, MUKA LO NGAKAK ANJIRR!" Sheilla hanya memutar bola matanya malas, adiknya yang sedang dalam mode receh memang menyebalkan. Dia bisa tertawa seharian penuh karena hal sepele.

Ryan dan Ander baru saja sampai di tempat biasa mereka kumpul, cafe YoungHeart. Cafe itu milik kak Dion, jadi mereka bebas mau pesen apapun di sana, semua gratis!

"Baru dateng? lama amat," Komentar Yudha yang sudah menghabiskan tiga porsi kentang goreng karena terlalu lama menunggu Ryan dan Ander.

"Sorry, tadi nganterin Sheilla pulang dulu."

Alis Yudha terangkat satu, "Jam segini baru nganterin Sheilla pulang? dari mana aja lo. berdua?"

"Dari my home lah, mau mempertemukan my pacar dengan calon mertua."

Yudha membuat muka sinis, "Pd amat kalau Sheilla bakal jadi menantunya mommy lo."

Ryan memasang muka dingin, "Maksud lo?" Nada dingin yang terdengar mengancam, mengundang senyuman canggung dari Yudha. "Enggak, bukan apa-apa, lupain aja."

Takut Yudha tuh kalau Ryan sudah mode kulkas gitu, bisa bikin orang beku soalnya.

Dion meletakkan ponselnya di atas meja, ia langsung arahkan pandangan nya pada Ryan yang baru saja duduk. "Aya ke sini nyariin lo."

Ryan membulatkan mata, "Dimana dia? udah pergi kan?"

"Orangnya pergi ke kam__"

"RYAN~"

"Noh, dah nongol duluan orangnya." Yudha menunjuk Aya yang sedang berjalan cepat mendekati mereka.

Tanpa aba-aba, Ryan langsung menyambar kunci mobil Ander dan membawanya kabur dari sana. "AND, GUE PINJEM MOBIL LO BENTAR!"

"Ih, RYAN TUNGGU!" Aya segera mengejar Ryan yang sudah berlari ke setanan menuju parkiran cafe.

Dion, Ander dan Yudha sudah tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Ryan berlari seperti di kejar orang gila.

"Aduh, perut gue anjirr hahaha!"

"Udah, jangan ketawa terus, ayo kita kejar Ryan. Jangan sampai Aya nangkep dia." Dion sudah sigap berdiri.

Jadilah malam ini mereka main kejar-kejaran, Ryan yang kabur dari Aya, Aya yang mengetes Ryan dan teman-teman Ryan yang mengejar mereka hingga mengelilingi setiap sudut kota Jakarta.

S*al, ini adalah malam paling horor yang pernah Ryan lalui, sungguh, gak bohong deh.

Aya berlari cepat memasuki mall yang ia yakini baru saja di masuki oleh Ryan, gadis itu berlari kesana kemari seperti orang kesetanan mencari Ryan.

BRUK...

Tuh kan, lari-lari cuma pake kaki doang sih, matanya cuma jadi pajangan, makannya jadi nabrak orang kan.

"WOY, PUNYA MATA GAK SIH?" Teriak marah sang empu yang di tabrak yang ternyata adalah Alena.

Ya, Alena, gadis itu baru beberapa menit berada di mall bersama sang kekasih, namun kuntilaya malah nabrak dia, bikin emosi di malam minggu yang indah aja.

"Gue gak sengaja kalik, sorry deh," Jawab Aya acuh, gadis itu melihat Alena dan RM bergantian. Sesaat kemudian, gadis itu terkekeh sinis.

"Ck, dunia benar-benar sudah tidak baik-baik saja. Berhubungan dengan sesama jenis huh?"

Mata Alena membulat, ini bukanlah yang pertamakali nya ia dan RM di kira pasangan gay oleh orang lain. Namun tetap saja, Alena kesal, apakah ia terlihat selaki itu? sepertinya tidak. Ia memiliki tubuh layaknya perempuan biasa, hanya saja ia memiliki sedikit lebih banyak otot karena rajin nge-gym sebulan sekali dengan RM.

"WOY! MATA LO TULI ATAU TELINGA LO BUTA HAH?!" Aduh, habis sudah kesabaran Alena yang setebal tisu.

Aya mengernyit tajam, "Lo gobl*k apa bego? Mana ada mata tuli,,, telinga buta? otak lo kebalik ya?!"

"ANJ*NG" Alena hampir saja menghajar Aya jika RM tidak segera menahannya, "Sudah beb, jangan membuat keributan di tempat umum."

"Apaan sih! orang dia duluan yang mulai."

Tidak mau jika Alena sampai lepas kendali, RM pun menyeret Alena untuk pergi saja. Namun gadis itu malah sempat-sempat nya menjambak rambut Aya.

"ANJ*NG LO!"

Aya ingin membalas, namun RM langsung menepis tangannya sebelum sampai menyentuh rambut Alena. Aya bisa melihat tatapan tajam nan dingin dari laki-laki itu, "Jangan berani-beraninya lo sentuh cewek gue!"

Sheilla terus saja mengomel tidak jelas, seharusnya ia memang tidak usah ikut Alena dan RM jika akhirnya ia di tinggal sendiri seperti ini.

Entah kemana perginya dua sejoli itu, meninggalkan Sheilla yang tadi sempat izin ke kamar mandi sebentar. Di telfon juga gak aktif, si*lan banget memang.

Bruk...

Double f*ck untuk Sheilla ketika sebuah tubuh besar menabraknya cukup kuat hingga ia terjatuh.

"WOY, PUNYA MAT_" Mata Sheilla membulat dengan mulut menganga dengan tidak epiknya melihat siapa yang berdiri di hadapan nya dengan nafas memburu.

Keringat membasahi tubuh sosok itu, nafas yang memburu, dan mata hijau zamrud yang membulat, sama terkejutnya dengan Sheilla.

"Kok kamu ada di sini? katanya mau kumpul sama temen-temen kamu," Tanya Sheilla ketika kesadaran nya telah kembali.

Ryan menggeleng pelan, "Nanti aku jelasin, tapi sekarang kita pergi dari sini dulu ya. Ayo." Ryan menarik tangan Sheilla, mengajak kekasihnya berlari keluar dari Mall.

Sheilla tidak tahu kemana Ryan akan membawanya, ia hanya menurut saja ketika kekasih tampan nya itu membawa ia pergi dengan mobilnya.

"Kamu kenapa sih? kayak di kejar hantu aja."

Ryan terkekeh dengan nafas yang mulai tenang, "Emang di kejar hantu, hantunya duduk di belakang tuh."

Sheilla memasang muka datar, "Gak udah sok nakut-nakutin, aku gak takut."

Ryan tersenyum, "Iya deh, gak ada satupun di dunia ini yang di takuti oleh Sheilla pacarnya Ryan."

"Memang," Bukan sombong nih ya, tapi itu real no peak-peak kalau Sheilla itu sangat pemberani.

Ryan tidak menjawab lagi, ia fokus menyentir mobil menuju sebuah tempat yang indah. Tempat itu berada cukup jauh di ke ramaian kota, berada di pinggir pantai yang sejuk. Bukan tempat wisata, hanya tempat biasa Ryan berdiam diri jika sedang sedih atau memiliki masalah.

Lembutnya pasir putih itu menyusahkan halus kaki Sheilla, gadis itu sengaja melepas sepatu nya.

Helaian rambut yang tertiup angin malam bergerak indah kesana kemari, senyuman manis terukir di wajah cantik itu ketika mata indahnya menatap bukan purnama yang nampak indah.

Oh, Ryan tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari sosok ini. Sosok yang telah mengisi hatinya, cinta pertama dan semoga menjadi cinta terakhirnya juga.

"Bulan nya cantik ya."

"Iya, cantik," Pandangan nya masih tidak lepas dari Sheilla.

Sheilla memeluk dirinya sendiri lantaran dinginnya angin malam berhembus kencang. Sayang sekali karena Ryan tidak memakai jaket, ia hanya memakai switer hitam tanpa kaos, tidak mungkin kan jika Ryan memberikan switer nya lakukan ia bertel*njang dada.

Tidak mau Sheilla kedinginan, Ryan mendapatkan cara lain untuk menghangatkan gadis nya. Dengan pelukan, tubuh Sheilla akan sedikit hangat dengan pelukan darinya.

Sheilla yang mendapatkan pelukan tiba-tiba seperti ini tentu saja terkejut, di tambah dengan bisikan Ryan di telinganya. "Apakah sekarang sudah hangat?"

Kalau ini mah, bukan hanya lagi, tapi panas. Lihatlah saja pipi Sheilla yang sudah memanas hingga berwarna merah.

Anggukan kecil Sheilla berikan sebagai jawaban, membuat Ryan mengeratkan pelukan nya.

Ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan tapi kenapa Sheilla masih tetap saja malu ya? Pipi gadis itu selalu memerah, jantung nya berdetak kencang, rasanya ia ingin meledak, sungguh.

Apakah jatuh cinta memang seperti ini? membuat orang ingin gila saja rasanya. Menyenangkan, namun merepotkan.

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

Ander

Yudha

Alena

Fiks! Alena tuh cowok tau!

Hilamalaya

Kuntilaya nih bos, nakutin.

1
arniya
luar biasa kak
arniya
Alex..... mencurigakan??!
arniya
berasa nonton film
Mung Cha
Luar biasa
✧・゚: ✧・゚: Nelly Widiany :・゚✧:・
🥰🥰
Authoraja
Gak kebalik tuh thor🤣🤣
Nopiayya
25 jam berarti satu hari lebih 1 jam
Authoraja
25 jam? 24 jam kali thor
Mrinpur
iyh smoga itu adlah sheilla namun tdak dngan ingatan yg dulu hanya rasa cinta ny ajj,,,
ririn
😭😭😭😭😭kenapa sheilla harus mati padahal belum bahagia
Mrinpur
wahhhh,,,ternyata sad ending yach,,,kasian ryan ku kira bakal bahagia sama sheilla pada hal hidup sheilla slalu sedih,,,,
Mrinpur
wahhhhh,,,,deg deg an nich asli tp stelah ny bersambung jd penasaran,,,,
ririn
happy ending thor
Mrinpur
ohhhhh,,,gthu toh,,,tp ap memang sheilla yg bully kaka ny love,,,bsa ajj kn lw kaka ny love yg duluan jahatin sheilla maka ny sheilla coba bles,,,
Mrinpur
masih misteri ,
Mrinpur
kayak ny laki laki yg td sama cwe ny itu dech dalang dri semua penderitaan sheilla,,,
Mrinpur
sebener ny siapa yg dendam sma sheilla yach trus apa penyebab ny,trus si jack ini siapa yach,,,,semua ny masih misteri,,,,
Mrinpur
si jack dh kayak penguntit dmna ad sheilla lg sndiri pasti d situ si jack muncul bikin curiga ajj,,,,
Mrinpur
semoga lancar selalu kak,,,

ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
Nopiayya: Amin kak,,, semoga kakak juga selalu sehat dan di berikan kelancaran dalam segala urusan.
total 3 replies
Mrinpur
siapa sich yg di mksud sama ketua cobra,penasaran bnget,,,🤔🤔🤔
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!