WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21
“Apakah kalian yang sudah menghabisi Jony?” tanya petugas kepolisian.
“Bukan!” timbal Radit, Ibra, Toni dan Sarah. Sedangkan Farhan menyusul.
“Bu-bu-bukan!” timbal Farhan juga.
Introgasi itu terus berjalan, jawaban Radit dan kawan-kawannya selalu sama. Yaitu bukan dan tidak!
“Saya tanya sekali lagi, apakah kalian yang telah menghabisi saudara Jony?!” bentak petugas polisi yang menginterogasi Radit dan kawan-kawannya.
“BUKAN!”
“Bu-bu-bukan ka-ka-kami! Di-di-dia di ja-ja-jatuhkan ha-ha-hantu!” timbal Farhan dengan ludah yang muncrat-muncrat.
“Jangan mengada-ngada. Tidak ada hantu di dunia ini!” bentak petugas polisi itu pada Farhan.
“Be-be-betul!” jawab Farhan lagi.
“I-i-iya kan te-te-teman-teman?”
Radit, Ibra, Sarah dan Toni mengangguk serempak. Membuat petugas kepolisian itu ingin marah. Karena menurutnya, hantu itu tidak ada.
“Ka-ka-kalo ba-ba-bapak gak percaya. Na-na-nanti sa-sa-saya su-su-suruh te-te-teman saya buat manggilnya,” kata Farhan.
“Coba salah satu dari kalian, gantikan dia berbicara,” kata petugas polisi itu sembari menunjuk Farhan.
“Si-si-sialan! Me-me-mentang-mentang ga-ga-gagap di su-su-suruh diem.”
sumpah, perkataan yang keluar dari bibir Farhan membuat author gagal fokus.
“Kata teman kami, kalau bapak gak percaya. Nanti dia bakal nyuruh salah satu dari kami untuk memanggil hantu itu,” jelas Radit kepada petugas polisi.
“Buktikan kalau memang bukan kalian pelakunya,” kata polisi itu. “Kalian berdua, tahan mereka semua!”
“Pak, kami gak bersalah!” teriak Toni.
“Ton, udah. Bakalan sia-sia doang, suara mu habis dan polisi tidak akan mendengarkan pembelaan kita,” kata Ibra yang berdiri paling pojok di dalam tahanan itu.
Tak lama kemudian, Papa Harun dan Mama Retno tiba lebih dulu dari pada orangtua yang lain.
“Papa, Mama!” pangil Radit pada Papa Harun dan Mama Retno yang mendatangi sel tahanan mereka.
“Radit, kenapa kalian bisa di tahan seperti ini?” Papa Harun bertanya pada putranya.
“Ceritanya panjang, pa. Tapi beneran bukan kami pelakunya,” kata Radit sembari menempelkan kepalanya pada jeruji besi tahanan itu.
“Lalu, kalau bukan kalian pelakunya. Siapa?” tanya Mama Retno. “Kenapa anak pindahan itu bisa terjatuh dari lantai atas gedung universitas itu?”
“Ce-ce-cempaka ya-ya-yang bunuh, tante!” sahut Farhan. Membuat Papa Harun dan Mama Retno menatap ke arah Farhan.
“Betul yang di katakan Farhan, ma, pa,” kata Radit.
“Iya, om, tante. Bener, kami gak bohong,” Tambah Toni dan Sarah. Sedangkan Ibra hanya diam saja. Ia tidak ingin banyak komentar, baginya percuma saja buang-buang suara. Karena di zaman modern seperti saat ini, sudah banyak manusia yang berpikir maju dan tidak percaya pada mahluk astral dan juga sejenisnya.
Jalan kedua setelah sidik jari adalah, memanggil Cempaka ke tempat itu. Dan meminta Cempaka melakukan hal di luar nalar manusia. Agar semua orang percaya, jika bukan mereka pelakunya.
“Cempaka teman kalian itu? Lalu di mana dia?” tanya Papa Harun. Ia lupa, jika Cempaka teman anak dan teman-teman anak nya itu adalah arwah penasaran.
“Papa ini gimana sih! Cempaka itu bukan hanya teman kami, tapi pacar papa yang hilang. Dia Cempaka yang hilang, dia hantu, pa. Setelah membunuh Jony, dia menghilang.” Jelas Radit. Tampak pemuda itu mulai frustasi karena tidak dapat meyakinkan pihak kepolisian dan juga Papa dan Mamanya sendiri.
“Radit, bener kata Farhan. Kita harus panggil Cempaka kesini!” tiba-tiba, Ibra yang diam angkat bicara. Dan lagi-lagi mengalihkan fokus Mama Retno dan Papa Harun.
“Gimana caranya? Mungkin arwah itu udah tidur nyenyak di sarangnya,” kata Toni sembari membenturkan pelan kepalanya pada tembok penjara.
“Kalau emang bisa di panggil, cepet panggil. Biar sekalian, Mama dan Papaku melihat sosok itu,” kata Radit.
“Kalian semua diam, ya. Biar aku coba!” Ibra duduk bersila di pojokan ruangan itu. Ia memejamkan matanya, dan membaca sesuatu untuk memanggil arwah Cempaka.
Di alam bawah sadarnya, ia mendatangi arwah Cempaka. “Cempaka, semua terjadi karena kamu. Sekarang kamu harus bantu kami untuk menyelesaikan semuanya,” kata Ibra kepada sosok Cempaka yang berada di tengah-tengah asap tebal. Tepat di hadapannya.
“Aku harus bagaimana?” tanya Cempaka dengan nada datar.
“Tampakkan wujudmu, keluarkan kami dari penjara!” pinta Ibra.
“Aku tidak bisa, Ibra,” jawab Cempaka.
“Kenapa tidak bisa? Bukankah kamu bisa menghabisi Jony, Lidia dan juga menampakan wujud mu di hadapan manusia pada waktu siang hari?” Ibra terlihat marah kepada Cempaka.
“Kau bukan hanya jahat Cempaka, tapi juga egois. Pantas saja tuhan mengutukmu di dalam universitas itu, mungkin saat kau masih hidup kau adalah manusia yang tidak punya perasaan!” kata-kata yang di lontarkan Ibra begitu pedas. Sehingga membuat sosok Cempaka pergi begitu saja.
Setelah berbicara pedas pada Cempaka, Ibra kembali pada raga nya yang ada di dalam penjara.
.
.
.
Saat ini, Lastri sudah berapa di rumah sakit. Ia begitu histeris setelah melihat keadaan putra semata wayangnya itu.
“Huwa... Anakku! Jangan tinggalkan Mama.” Teriak Lastri sembari memeluk tubuh putranya yang sudah tidak sempurna lagi.
“Siapa yang melakukan ini semua? Mereka harus membayarnya dengan mahal,” kata Lastri. Ia begitu tidak terima dengan kematian putranya.
“Lastri, jangan seperti ini. Kita harus mendoakan anak kita, bukan menangisinya seperti ini,” kata Papa dari Jony. Pria setengah paruh baya itu memeluk tubuh Lastri.
Papa Jony sama sedihnya dengan Lastri, tapi ia tidak mengeluarkan air mata. Baginya, kepergian putranya sudah di takdir kan oleh tuhan. Jadi, lebih baik mendoakan dari pada menangisi.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, mas? Apa kamu gak sedih kehilangan anak kita satu-satunya?”
“Bukannya aku gak sedih dan gak merasa kehilangan. Tapi, dari pada menangis seperti ini, lebih baik kita kirim doa. Agar arwahnya diterima di sisi tuhan dan ia bisa tenang,” kata Papa Jony. “Jangan menghambat jalan nya pulang!”
“Dia bukan hanya anakmu, Lastri tapi juga anakku! Aku menyayangi nya sama seperti kamu. Tapi cobalah untuk mengerti dan menerima, aku tau semua ini berat.”
“Aku gak terima, aku harus mencari pembunuh itu. Nyawa harus di bayar dengan nyawa!” teriak Lastri. Ia tidak menyadari, bahwa semua yang terjadi adalah KARMA tunai hasil dari perbuatannya di masalalu.
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu