Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Tangisan Si Kecil
Musik karawitan mengalun syahdu mengisi seantero ruangan. Kendati musik Sunda, bukan berarti restoran itu menjajakan khusus masakan Sunda. Karena beragam masakan nusantara tertulis di menu di sana.
Restoran yang berdiri dibisingnya Ibu Kota itu, menawarkan gaya arsitektur village. Bangku-bangku dari kayu, begitu pula pondasi bangunan hampir 70 % sama, sisanya bata merah. Di sana, ada taman bermain, air mancur, dan kolam ikan. Karena itu adalah restoran berkonsep keluarga, jadi pengelola menyediakan fasilitas itu bagi pengunjung yang membawa anak-anak mereka. Di sana juga, dihiasi pohon-pohon rindang dan tanaman hias. Biar menambah keteduhan dan keasrian.
(Gambar hanya ilustrasi)
5 sekawan alias ibu-ibu dan bapak-bapak kepo, terus bercekikikan ria ditengah orang-orang yang sedang menyantap hidangan. Mereka nggak peduli banyak mata memandangi mereka. Yang pada mengeluarkan aura keprotesan yang nggak bisa disuarakan. Intinya mereka gak peduli. Yang penting seru, serasa Dunia milik mereka berlima. Pokoknya, sip deh!
“Haha...,” tawa mereka.
“Ada-ada aja! Anakmu manggil Adit, Bapak Om Ken." Arya geleng-geleng kepala.
“Memang aneh-aneh kok dia,” ujar Bimo.
“Berarti anakmu punya gaya bahasanya sendiri loh! Menurutku itu lucu loh! Dan aku sebenarnya nggak keberatan sama sekali," ucap Adit.
“Haha... Iya, iya, iya,” setuju mereka.
“Kalau kataku, anakmu nakalnya masih batas wajar. Manja dan malas saja, bukan seperti kenakalan anak remaja kayak gimana-gimana gitu. Lagian, anakmu hebat loh! Punya peluru yang buat orang nggak bisa marah kalau dia buat masalah,” tambah Adit.
“Apa?” tanya mereka.
“Polosnya itu.”
“Oh ya, benar, benar, benar," balas mereka mengangguk-angguk, kecuali Arya karena belum mengenal Putri.
“Iya sih! Terus terang, kita juga nggak bisa marah lama-lama sama dia,” ujar orang tua Putri.
“Memang sih dia mengikuti trend anak muda zaman sekarang. Tapi kuakui, anakku nakalnya natural sesuai porsinya sebagai anak remaja. Malah kadang kayak bocah!" tambah Bimo.
“Haha... Iya, benar,” setuju orang tua Ken, karena merasakan sendiri.
“Tapi menurutku dia jadi dirinya sendiri loh! Tidak sok didewasa-dewasain. Soalnya anak sekarang kan suka begitu,” sambung Murni.
“Iya, benar,” angguk orang tua Putri.
“Ya, itu semua sebenarnya akibat dampak kita terlalu manjain dia. Jadinya dia kayak gitu sih! " tambah Wati.
“Jadi kayak ketergantungan gitu ya?" tanya Arya.
“Ho oh! Karena biasa dilayani, dan semua dituruti. Jadi ya, begitulah...”
“Iya, iya, iya,” paham Arya.
“Jadi untuk masalah panggilan Putri ke Ken, Om. Gimana? Apa benar, kalian nggak keberatan nih?” lanjutnya, menanyakan hal itu lagi yang sebelumnya sudah dibahas mereka.
“Nggak,” jawab mereka serempak.
“Putri kan masih butuh waktu menerima anakku. Anakku juga sama. Soalnya anakku juga nggak ada meralat omongan Putri untuk panggilannya. Berarti mereka masing-masing masih menelaah perasaan mereka,” tutur Adit.
“Iya sih! Dan juga, baru seminggu mereka dekat," angguk Arya.
“Nah! Ini sekarang gimana nih? Kita harus berperan aktif dalam masa pendekatan mereka loh! Jangan sampai nanti setelah 3 bulan, mereka pulang ke rumah masing-masing tidak ada yang saling kontak," lanjutnya.
“Nah, iya! Apa lagi takutnya nanti sesudah mereka menikah. Mereka berumah tangga tidak ada yang saling cinta lagi,” ujar Wati.
“Tapi selama seminggu ini kan mereka sudah ada perubahan. Anakku sudah nggak begitu dingin kok sama Putri.” Murni mengingatkan.
“Kurasa anakmu begitu, karena nggak tahan sama tingkah dan keceriwisan anakku. Yang tadinya pendiam mau nggak mau jadi buka suara. Istilahnya kayak menyuarakan keprotesannya,” balas Wati.
“Haha... Iya, iya, iya,” angguk mereka.
“Iya sih! Jadi nggak menjamin juga ada perubahan berarti ya," paham Murni.
“Bagaimana kalau kita buat jadwal saja buat mereka?” Arya memberi ide.
“Apaan tuh maksudnya?” tanya yang lain serentak.
“Misalkan, kayak hari ini.”
“Oo... Maksudnya kita buat mereka nempel terus?” tebak Adit.
Mengangguk. “Iya.”
“Haha... Setuju, setuju, setuju,” angguk Adit, diikuti yang lain.
“Setiap Sabtu kan, kita ketemu di sini. Jadi mereka selalu berdua kan tuh di rumah. Nah! Terus kita buat agenda lain lagi. Misalkan, kita ajak mereka liburan, lalu kita tinggalkan mereka berdua. Atau gimana? Coba kalian beri masukan.”
“Suruh saja mereka jaga cucuku di rumah. Biar mereka belajar jadi orang tua.” Murni menyumbang ide.
Maksudnya, anak si Asri alias si Ayu. Keponakan Ken, Gengs...
“Wah... Boleh juga tuh!” angguk mereka.
“Mm... Kalau aku.. Bla bla bla..." Wati turut memberi ide.
Dan terus diikuti yang lain. Kadang pun ditengah pembicaraan diselingin dengan tawa mereka.
“HUAHUAHUA...”
*********
Jenis motor balap dari pelbagai merk terparkir rapih di depan cafe di kawasan elit. Cafe yang biasa disinggahin oleh kawula muda berkocek tebal. Sudah pasti begitu, namanya daerah elit. Pengunjung yang datang pasti bawa motor bukan harga murah. Dan sudah pasti, mesin dan segala atribut yang menempel di motor pun tidak di bawah standar.
Perlu diketahui, geng motor dengan club motor adalah dua hal yang berbeda ya, Gengs... Geng motor ciri-cirinya suka dengan kekerasaan. Tidak menggunakan safety riding dengan benar. Dan juga, biasanya motor digunakan tanpa surat resmi alias bodong. Sedangkan club motor, karena adanya kesamaan pandangan dan hobi terhadap satu jenis kendaraan. Mereka kumpul saling bertukar informasi, atau kadang melakukan touring. Jadi bisa dibilang, meskipun pakai motor balap, Boy anak baik bukanlah anak anarkis. Bisa dilihat juga kan dari prestasinya di sekolah.
Putri melangkah masuk dengan jantung berdegup gak karuan. Sebenarnya dari sebelum tiba dia sudah begitu. Boy menghampiri saat lihat yang ditunggunya lagi jalan sambil celingukan. Lalu pandangan mereka bersirobok saat langkah kaki Boy sudah dekat.
“Akhirnya elo sampai juga Put," sapa Boy.
Tersipu. “Iya...”
“Makasih ya, udah datang.”
“Kan di undang.”
Putri membuka tas lalu mengeluarkan kado, dan menyerahkan.
“Selamat ulang tahun ya Boy," lanjutnya.
“Makasih ya, Put. Yuk! Kita gabung sama yang lain.”
Boy menerima dan mengajak Putri ke meja tempat acaranya. Lalu mereka berjalan, dan saat tiba Putri dibuat terkesima. Karena di meja itu isinya cowok semua.
“Ee... ee... Boy, gimana kalau gue duduk di sana aja." Putri canggung.
“Wah... Jadi ini, Boy?” satu teman Boy menggoda.
“Pantas! Beberapa hari ini elo sering melamun," tambah yang lainnya.
“Cie, cie, cie...," goda mereka serempak.
Apa ini? Jadi Boy suka memikirkannya? Berarti benar kata Mimi, sepertinya dia tamu spesial di acara ini. Pipi Putri jadi ranum.
Boy menarik bangku, dan mempersilahkan Putri duduk. Dia menanggapi ucapan Putri tadi dengan cara begitu.
“Duduk, Put.”
“Iya.” Putri malu-malu duduk.
Setelah Putri duduk, Boy menyusul di sampingnya. Ternyata acara belum dimulai. Boy menunggu tamu pentingnya hadir dulu. Ya, siapa lagi kalau bukan Putri. Acara bukan kayak acara ulang tahun yang seperti kita bayangkan ya. Ada MC, meja dihias dekorasi, ada balon, spanduk terpasang di panggung karena disitu ada live band, atau segala hal yang menunjang bentuk perayaan ulang tahun. Bukan... Bukan itu... Hanya acara makan-makan bersama yang di tengah meja ada kue tart. Terus Boy ada memberi kata sambutan. Mungkin karena dia laki-laki jadi bikin acara gak mau terlihat mencolok.
Putri terus dibuat salah tingkah sepanjang di sana. Sudah jantung berdenyut terus, ditambah digodain terus. Lengkap sudah!
Kini acara masuk ke sesi santai. Boy meminta Putri menyingkir dari sana. Lalu mereka duduk di taman. Di cafe itu ada bangku-bangku tersedia di outdoor.
“Ada apa, Boy?” tanya Putri.
“Ah, n-ggak."
Boy mendadak grogi. Sebenarnya ada tujuannya dia mengajak kemari. Namun entah mengapa dia jadi begini padahal tadi gak apa-apa. Mungkin akibat dia bingung cara menyampaikannya.
Putri diam-diam curi-curi mata ke cowok di sampingnya. Yang mengatur nafasnya berkali-kali, juga duduk gelisah. Ada apa ya?
Lalu saat dia mau bicara untuk menanyakan lagi. Momen itu bertepatan dengan Boy yang sudah siap bicara.
“Boy...”
“Mm... Put. Elo sudah punya pacar belum?”
“Hah?" Putri melotot.
“Gue suka sama elo, Put. Ya, elo pasti kaget. Wajar sih! Gue gak minta jawaban sekarang. Tapi gue harap, jangan buat gue menunggu lama ya, Put.”
**********
Ken melajukan kendaraannya ke rumah dinas. Di rumah orang tuanya juga dia ngapain, balitanya kabur. Lebih baik dia ke sana. Lagi pula, sudah seminggu rumahnya tidak ditengoknya.
Setiba di sana, dia keluar dari mobil. Lalu di bukanya pintu rumah, dinyalakan semua lampu, dan di taruhnya kunci mobil. Kemudian dia berjalan ke belakang mengambil peralatan kebersihan.
Debu dan kotoran melekat semua di perabotan rumahnya. Baru ditinggal beberapa hari saja sudah kotor, apa lagi lebih dari itu.
Malam-malam dia beres-beres. Bukan hanya yang di dalam rumah, di luar juga. Kadang dia bertegur sapa dengan tetangganya. Kalau yang pangkatnya sama, dia akan berbicara santai dengan orang itu. Kalau di bawahnya, orang itu yang akan bersikap hormat padanya. Ya, tentu saja di sana semua penghuninya tentara.
“Bersih-bersih, Boss!"
“Haha... Iya, nih!"
"Perlu bantuan, Pak?”
“Nggak. Terima kasih."
Semua sudah dikerjainnya dan sampai jam 9 malam dia baru selesai. Kalau dipikir-pikir hari ini dia 2 kali membersihkan rumah.
Lalu Ken masuk kamar. Diambilnya photo si ‘cinta matinya’, sebelum dia merebahkan tubuhnya ke kasur.
“Apa kabar, Sayang?”
Ken mengusap-usap lembut photo wanita di bingkai tersebut.
"Apa kamu merindukanku? Maafkan aku, meninggalkanmu sendirian di sini. Saat ini aku lagi ada waktu. Namun tenang saja, kalau urusanku selesai. Aku pasti akan di sini lagi.”
“Aku sangat merindukanmu, Sayang... Sangat...” Ken kemudian menatap lekat-lekat photo kesayangannya itu.
Lima tahun rasanya masih belum cukup baginya menerima kenyataan kekasihnya telah tiada. Jadi kekasihnya itu pergi disaat dia mau melamar. Dimana dia merasa ada campur tangannya atas kemalangan yang menimpa kekasihnya. Andai saja... Yahhh... Andai saja... Dia gak menyuruh kekasihnya datang ke tempat itu. Pasti kecelakaan itu tidak terjadi.
Kekasihnya seorang guru TK. Memiliki sifat lembut, dan penyabar, juga memiliki wajah cantik jelita. Wanita itu sangat setia selalu ada untuknya baik susah maupun senang. Dari Ken masuk Akademi Angkatan Udara atau AAU. Hingga Ken Sekolah Penerbang atau SEKBANG. Yang artinya dari keuangan Ken masih belum stabil. Hanya bisa mengajak ke tempat-tempat sederhana, alias makan di warung pinggir jalan. Intinya, yang murah-murah.
Kalau mengenang hal itu juga, itu jadi membuatnya bersedih. Karena saat dia sudah jadi orang begini. Kekasihnya malah nggak merasakan hal yang dia rasakan saat ini. Dulu dia sering berkata...
Kalau aku sukses, aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih baik dari ini. Kalau aku sukses, aku akan menyenangkanmu dan membahagiakanmu...
Namun yang terjadi tiba-tiba Tuhan mengambilnya darinya. Dimana dia belum sempat membahagiakannya, dan membawanya ke tempat mewah.
Jadi karena itulah dia masih sulit menerima kehadiran orang lain. Karena dia masih terjebak oleh masa lalu. Terbelenggu oleh kisah cintanya yang berakhir tragis.
Malam sudah larut, Ken melajukan mobilnya membelah kota. Sekarang dia lagi di jalan alias sudah keluar rumah. Tadi orang tuanya menelpon. Menanyakan dia dan Putri dimana.
Tentu ya, orang tuanya berpikir pasti dua orang itu jalan. Karena kan mereka tidak ada di rumah.
Ken jadi resah. Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Bagaimana jam segini gadis itu masih belum pulang? Tadi dia sudah menelpon, tapi nggak diangkat-angkat.
Jadi pria itu akhirnya menyimpan nomor gadis itu. Sewaktu gadis itu kemarin menghubunginya.
Sepanjang jalan Ken terus mengamati muda-mudi. Baik itu yang nongkrong di depan tempat makan, atau berdiri di pinggir jalan, dan dia juga mencoba menghubungi lagi. Tapi tetap saja nggak diangkat gadis itu. Lalu dia melihat jam tangan. Waktu sekarang menunjukkan pukul 11 malam. Malam sekali...
Ken akhirnya mengarahkan mobilnya pulang. Mungkin saja anak itu sudah di rumah, dan nggak mau mengangkat teleponnya. Karena takut diomelinnya.
Saat mobil memasuki gang, dia melihat sosok yang dicarinya lagi berjalan sendirian di antara remang. Dimainkannya lampu depan mobil, dan ditekannya klakson. Namun yang diganggunya itu nggak peduli. Karena dicuekin, dia jadi mensejajarkan mobilnya di samping gadis itu, dan menurunkan kaca.
“Putri...”
"....." Tetap saja Putri tidak menggubris.
Karena jadi kesal, Ken jadi menghentikan mobilnya, dan turun dari mobil. Lalu dia berteriak lantang.
“Putri...!"
Putri tersentak lalu menoleh. Alangkah terkejutnya Ken, saat melihat orang yang dipanggilnya wajahnya penuh dengan linangan air mata.
Ternyata gadis itu tadi begitu karena lagi menangis. Jadi membuatnya tidak fokus dengan sekitar.
“Kamu kenapa?” Ken berjalan mendekat.
“Om...," sendu Putri.
Kemudian dia menarik nafasnya dalam-dalam dulu, sebelum melanjutkan lagi bicaranya.
“Putri menyukai cowok. Putri sudah menyukainya dari kelas 1 SMU," lanjutnya
Selagi Ken berjalan, dia berucap di dalam hati.
Oo... Jadi gadis ini ada cowok yang ditaksirnya.
“Hari ini cowok itu menembak Putri. Harusnya Putri langsung menerimanya. Iya kan, Om? Tapi bibir Putri malah membeku tidak menjawab langsung. Karena tiba-tiba Putri teringat Nenek. Nenek selalu sayang dan manjain Putri setulus hati. Meski Putri nakal, tapi Nenek gak pernah sama sekali marahin Putri.”
Putri terus terisak-isak saat Ken sudah berdiri di depannya.
“Karena itulah Putri di sini...," lanjutnya.
Bagaikan orang yang dilempar di atas tebing, seperti itulah perasaan Ken. Bagaimana bisa anak sekecil ini punya pikiran seperti itu? Sedangkan dia? Ya, dia.... Dia selalu mengeluh! Masih belum mau menerima wasiat itu. Parahnya lagi, dia berharap Putri membencinya, dan menggagalkan pernikahan mereka nanti. Sedangkan Putri... Ya, Putri... Berbesar hati atas apa yang terjadi dihidupnya. Diusianya yang masih dini, punya pikiran seperti itu? Sangat pantaskah jika dia berkata, harusnya dia merasa malu?
“Kemarilah...” Ken membentangkan ke dua tangannya.
Putri mendekat, dan melabuhkan kepalanya ke dada. Ken memeluk hangat. Memberi ketenangan yang semestinya memang dia berikan.
(Gambar hanya ilustrasi)
Di depan sorot lampu mobil, dan di bawah sinar rembulan, juga bertaburnya bintang-bintang di langit, serta semilir angin malam. Putri terus menangis sesenggukan. Ken mempererat pelukannya, dan mengusap-usap lembut rambutnya kemudian.
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya