Tania yang sudah memiliki kekasih jatuh cinta pada seorang siswanya di saat dia tengah menjalani masa-masa PPL.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reyhan
"I love you," ucap Tania.
Reyhan terpaku saat mendengar ucapan Tania, dia tak menyangka ada wanita yang nekad menyatakan cintanya secara terus terang pada dirinya.
Selama ini, para wanita ragu untuk mendekati dirinya. Kali ini, gadis yang baru saja dilihatnya sudah berani menyatakan cinta pada dirinya.
"Bang, maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Tania terus terang.
"Mhm, boleh juga nih buat iseng. Biar sekampus heboh, sesekali bikin gempar mahasiswi," gumam Reyhan di dalam hati.
Entah apa yang ada di benaknya saat itu. Reyhan mengangguk.
"Aku mau," jawab Reyhan begitu saja.
"Kamu serius, Bang?" tanya Tania memastikan.
Reyhan kembali mengangguk.
"Berarti, aku sekarang sudah jadi kekasihmu," ujar Tania.
Reyhan tersenyum melihat keluguan Tania. Dia juga terpukau melihat wajah ceria sang gadis, seumur hidupnya baru kali ini melihat wanita yang lugu dan polos.
"Kalau gitu ikut aku, Bang!" ajak Tania langsung turun dari tempat tidur.
Tania menggandeng lengan Reyhan dan membawanya melangkah keluar ruang PMR.
Reyhan menautkan kedua alisnya, bingung melihat tingkah Tania. Namun, dia masih tetap mengikuti langkah Tania.
Di luar ruang PMR, Tania celinguk mencari sosok Keke. Sang senior galak yang telah memberi hukuman padanya.
"Ikut aku, Bang!" ajak Tania menarik tangan Reyhan.
Kali ini Reyhan masih diam mengikuti Tania, dia hanya ingin tahu apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh mahasiswi baru yang telah berani mengungkapkan perasaannya.
"Siang, Kak!" sapa Tania pada Keke yang sedang duduk beristirahat di kantin depan lapangan parkir.
Keke menautkan kedua alisnya saat melihat gadis yang tadi pagi dihukumnya datang menghampiri dirinya.
"Kak, kenalin ini kekasihku," ujar Tania to the point.
Keke melongo tak percaya.
"Iya, gue kekasih gadis ini," ujar Reyhan mengiyakan ucapan Tania.
"Loe serius, Rey?" tanya Keke tak percaya.
"Iya, mulai hari ini gue resmi pacaran sama gadis ini." Reyhan tertawa di dalam hati melihat ekspresi tak percaya dari Keke.
"Mampus gue!" pekik Keke di dalam hati.
Semua rencananya gagal sudah, dia tak percaya Reyhan menerima gadis polos itu sebagai kekasihnya.
Awalnya Keke, ingin membantu Rendi untuk menjadi kekasih gadis yang di sukainya yaitu Tania.
Di saat Tania datang terlambat, Keke melancarkan sebuah ide untuk menjodohkan Rendi dan gadis itu.
Sejak itu, mereka resmi pacaran. Awalnya hanya iseng-iseng, akhirnya Reyhan mulai jatuh cinta pada mahasiswi polos yang tengah dijebak oleh sang senior.
"Hei, kamu kenapa?" panggil Reyhan melihat sang kekasih melamun dalam pelukannya.
Reyhan melepaskan pelukannya, dia memegang pundak Tania.
"Ada yang membuatmu bersedih?" tanya Reyhan penuh dengan kelembutan.
Hati Tania semakin merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya bersama siswanya.
"Sudahlah, aku nggak suka lihat kamu sedih." Reyhan mengelus lembut puncak kepala Tania.
"Aku lapar, kita makan mie rebus, yuk!" ajak Reyhan sambil menarik tangan Tania menuju sebuah kedai di taman puncak Angin Berhembus Aripan.
Begitulah sosok Reyhan yang sangat menyayangi Tania, dia tahu ada sesuatu di antara Tania dan Sandy. Namun, dia tak ingin mempermasalahkan hal itu.
Saat ini, Reyhan akan berusaha menarik perhatian Tania dengan sikapnya.
****
Pagi ini, gerimis membasahi bumi. Udara yang dingin membuat Tania kembali menarik. selimutnya. Dia enggan bangun dari tidurnya.
"Tania! Tania!" Panggil mama Tania dari luar kamar.
Tania menutup telinganya.
"Ya ampun, anak gadis jam segini belum bangun?" omel mama Tania sambil menarik selimut Tania.
"Huufft, ada apa sih, Ma?" gerutu Tania kesal karena sang mama sudah mengganggu ketenangannya.
"Udah siang, Tan. Masa iya anak gadis jam segini masih asyik melingkar di atas kasur?" omel sang mama menarik tangan Tania untuk bangun darti tidurnya.
"Ma, Tania kan masih libur, hanya di waktu libur Tania bisa menikmati kebebasan." Tania kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Nggak! Sana bantuin mama cuci piring sama beres-beres rumah." Mama Tania kembali menarik tangan putrinya.
Dengan langkah yang berat Tania terpaksa keluar dari kamarnya. Tania langsung melangkah menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang mulai terasa lapar.
Tania membelalakkan matanya saat melihat nasi goreng teri kesukaannya terhidang di atas meja.
Tanpa aba-aba, dia langsung duduk ikut bergabung dengan papa dan abangnya yang sedang menikmati sarapan.
"Eits, no!" teriak Robby, abang Tania menghentikan kegiatan Tania yang hendak mengambil piring.
"Apaan sih?" gerutu Tania kesal.
"Anak gadis itu, kalau bangun tidur mandi dulu baru sarapan. Paling tidak cuci muka!" nasehat Robby pada sang adik.
"Ah, bawel kamu, Bang!" sungut Tania tak suka.
Tania tak menghiraukan perkataan Robby, dia kembali mengambil piring di hadapannya.
"Hem, Tania." Papa Tania melirik ke arah putrinya.
Melihat lirikan sang papa, Tania mengurungkan niatnya. Dia melangkah ke kamar mandi yang ada di samping dapur. Lalu mencuci mukanya.
Tak berapa lama dia kembali masuk ke ruang makan, dia bersiap-siap untuk menikmati nasi goreng kesukaannya.
"Gitu kan, Manis," ledek Robby pada. satu-satunya saudara perempuannya.
"Week" cibir Tania pada saudara satu-satunya itu.
"Dek, gimana hubungan kamu sama Reyhan?" tanya Robby pada adiknya tiba-tiba.
Tania menghentikan kegiatan makannya, dia menatap ke arah sang abang dan papa secara bergantian.
"Kenapa, Bang? Tumben nanyain Bang Reyhan?" tanya Tania heran.
"Ya, pengen tahu aja," ujar Robby.
"Ih, kepo sama urusan orang." Tania enggan menjawab pertanyaan Robby.
"Kalau kamu nggak mau lagi sama Reyhan, temanku ada yang naksir dia." Robby menggoda adiknya.
"Apaan sih, Bang! Di hati Reyhan cuma ada aku," ujar Tania.
"Kalau kamu tahu, Reyhan hanya sayang kamu jangan sia-siakan dia," celetuk mama Tania yang baru saja masuk ke dalam ruang makan.
"Nah, benar kata mama kamu," ujar papa Tania mendukung istrinya.
"Kamu dengerin, tuh! Jangan macem-macem!" Robby menjitak kepala sang adik lalu beranjak dari duduknya menyalami kedua orangtuanya dan berangkat bekerja.
Tania hanya diam mematung, dia seolah tersindir dengan ucapan kedua orang tuanya.
"Tumben, mama sama papa membahas Reyhan? Apakah mereka tahu apa yang terjadi antara aku dan dia?" gumam Tania di dalam hati.
Tania kembali melanjutkan kegiatan makannya sambil memikirkan perkataan keluarganya.
Ada perasaan bersalah pada keluarganya atas perbuatan yang telah dilakukannya dengan Sandy.
Setelah selesai sarapan, Tania merapikan meja makan. Dia mencuci piring lalu membantu mamanya membersihkan rumah.
Saat sedang asyik bersih-bersih, terdengar suara pintu diketuk, dengan gaya yang amburadul, rambut diikat asal, keringat yang bercucuran dan baju kaos yang juga basah oleh keringat. Tania melangkah menuju pintu.
"Kamu?" pekik Tania saat melihat tamu yang datang di pagi hari.
Rambutnya
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
Udh Ry favorite, like dan Komen
3 Cogan dan Ry mampir