NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:70.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

...Mejikuhibiniu Season 2...

"Molly, mau ke mana sih buru-buru?" tegur Yuna.

"Ada janji," jawab Molly riang, lalu melambaikan tangannya pada mereka semua. "Sampai besok ya!"

Ada yang dengar Getta mendengus.

"Makanya gesit dikit dong!" Jonas menyikut bahunya sambil cengengesan. "Lama-lama Molly bisa suka sama cowok playboy itu. . ."

"Emang Getta beneran suka sama Molly?" Yuna menatap Getta, meyakinkan dirinya bahwa tebakannya benar. "Bener ya?"

"Eh, cebol!" celetuk Jonas, lagi-lagi menarik kucir rambutnya, menjauh dari Getta. "Ikut campur urusan orang aja"

Yuna meronta. "Yeee!" pekiknya, memukul-mukul tangan Jonas hingga terlepas dari rambutnya. "Siapa yang ikut campur! Gue juga lihat kali Getta mulai cemburu sejak pertama kali Richard masuk sini!"

Getta dan Jonas sama-sama diam.

Yuna mencibir Jonas. "Week!" lalu berlari pergi, kegirangan nggak jelas.

****

Meskipun Karina bakalan kesal lagi begitu melihatnya, Molly sudah nggak peduli. Ia harus tetap menghadapinya. Soalnya begitu masalah terakhir benar-benar membuatnya terpukul, ia mulai merasa bahwa ia harus bangkit. Untuk bisa berdiri tegap, menghadapi orang-orang di sekitarnya. Saat Getta, Jonas, Yuna dan Lara datang menjenguknya ke rumah, ia merasa bahwa ia nggak ingin lagi kehilangan teman-temannya.

Dan bersama Richard hari ini adalah kejutan. Selain dari boneka beruangnya yang lucu, Richard mengajaknya ke rumah piano. Tempat di mana ada banyak sekali piano dan pengunjung bisa main sebentar untuk sekedar mencoba.

Molly melihat sebuah piano Pleyel, persis dengan yang pernah ada di rumahnya dulu. Ia memutuskan duduk di sana, setelah Richard memaksa ia harus memainkan sebuah lagu.

Semua pengunjung -yang sebagiannya anak-anak. Berkumpul di sekitarnya, mendengarkan, mengikuti lagu Beauty and the Beast-nya. Molly terlalu menikmatinya sampai nggak sadar dan begitu ia mengakhiri lagunya, ia disambut oleh tepuk tangan dari mereka.

"Pianonya nggak dijual?" tanya Molly pada Richard saat mereka baru meninggalkan rumah piano dan berjalan menuju tempat yang lain.

"Ya, sebagian ada yang bisa dijual dan sebagian lagi cuma barang titipan," jelas Richard. "Pemilik rumah piano biasa perbaikin piano yang rusak."

"Kakak sering perbaiki piano di sana?"

"Nggak sih. Pernah beli piano di sana," jelasnya. "Oh ya, kamu mau es krim nggak?"

Molly mengangguk.

"Nah, di ujung jalan ada yang jual es krim. Kita ke sana ya?, ujarnya.

"Ya!" jawab Molly dengan ceria.

Molly melihat sebuah kedai es krim yang membuatnya takjub. Gimana enggak, dindingnya yang seba pink dengan gambar hello kitty di mana- mana. Masa sih cowok seperti Richard bisa tahu ada tempat seperti ini? Bukannya tempat ini favoritnya cewek-cewek?

Richard menyodorkan buku menu supaya Molly bisa pilih sendiri es krim kesukaannya. Bentuk dan topping-nya macam-macam, Molly jadi bingung. Ia mulai sibuk sendiri dan nggak tahu bahwa di sudut lain di kedai itu, ada Chika yang duduk sendirian. Menikmati es krimnya dengan wajah murung seakan rasa manisnya berubah menjadi pahit saat ia menemukan Molly.

***

Tapi, Molly nggak sendiri. Ia bersama seseorang.

Seorang cowok bertubuh tinggi menemani Molly pergi ke kedai es krim. Cowok itu keren dan tinggi -wajahnya agak kebulean. Nggak nyangka, cowok yang segitu kerennya bisa kepincut sama Molly.

Selera makannya jadi hilang, sebelum Molly melihatnya, Chika memutuskan pergi dari sana. Meninggalkan es krim yang jadi nggak ingin lagi ia habiskan.

Sejak ribut sama Getta seminggu yang lalu, suasana hatinya selalu buruk. Apalagi Getta nggak pernah menghubunginya lagi. Chika sengaja membiarkannya sambil berharap Getta akan mengirim SMS atau menelponnya. Tapi, sampai sekarang, Getta kayaknya memang nggak peduli.

Atau dia memang marah.

Berjalan sendirian seperti ini, rasanya asing. Biasanya, ia dan Getta selalu lewat sini berdua. Menuju kedai es krim di ujung jalan dengan melewati beberapa toko yang merapat satu sama lain dan ramai. Kadang juga singgah di rumah piano, bermain sebentar.

Tapi, hari ini hanya dia sendiri. Chika menatap ke dalam rumah piano lewat jendela kaca yang memajang sebuah piano baru berwarna putih. Di rumah ia juga punya yang seperti itu. Suaranya bagus -karena harganya memang mahal dan bahkan diimpor dari Eropa. Dulu Papanya sengaja membelikan yang mahal. Karena menurutnya Chika haruslah mendapatkan semua yang terbaik.

Langkah kakinya membawa ia ke dalam. Di mana ada banyak piano berjejer tampak menunggu untuk dimainkan -dengan berbagai bentuk dan dari berbagai merek terkenal. Tapi, kebanyakan yang ada di sana adalah piano bekas. Tempat itu dipenuhi oleh anak-anak kecil yang melihat-lihat dan orang tua mereka yang sedang konsultasi dengan pemilik tempat ini.

Ya, Chika menemukan piano Pleyel, berada di deretan paling ujung. Tiba-tiba merasa tertarik, dan duduk di sana. Setelah membuka penutupnya, ia memainkan sebuah lagu yang menyihir setiap telinga untuk mendengarnya. Sebuah lagu sedih tentang seorang yang begitu kesepian.

****

Chika menghampiri pria tua yang duduk di belakang meja kerjanya di sudut showroom.

Pria tua itu tampak sibuk dengan kertas-kertas not yang tengah ia susun.

"Pak, piano yang itu harganya berapa?" tanya Chika padanya, menunjuk Pleyel yang baru ia mainkan.

Pria itu sedikit mendongak, melihat piano mana yang membuat gadis ini tertarik. "Maaf, Nak, piano itu nggak dijual," kata bapak itu, tersenyum.

"Lho bukannya semua piano di sini dipajang untuk dijual?" protes Chika.

"Nggak semua yang bisa dijual," kata Bapak itu sambil berdiri dari kursinya. "Sebagian adalah barang titipan yang nggak boleh dijual"

"Tapi, saya mau bayar berapa aja buat piano itu. . .," Chika setengah memohon.

"Kenapa kamu bisa tertarik sama piano jelek itu?" tanya si Bapak. "Ada banyak piano lain yang bisa kamu beli"

"Saya punya yang lebih bagus di rumah, tapi. . .saya juga suka piano yang itu. . .berapa pun pasti saya bayar," ujar Chika yang merasa Papa-nya pasti akan membelikan semahal apa pun itu -karena biasanya begitu.

"Ada banyak hal yang nggak bisa diharbai dengan uang, Nak. . .," kata Bapak itu, lagi-lagi tersenyum. "Piano itu barang titipan. Dulu datang ke sini dalam keadaan rusak, setelah diperbaiki, pemiliknya belum datang menjemput makanya dipajang di sini"

"Kalau begitu saya boleh tau pemiliknya? Saya mau beli sama pemiliknya langsung. . .," pinta Chika dan Bapak itu terdiam.

****

"Kamu sudah punya piano yang bagus, Sayang. Kenapa kamu minta dibelikan lagi?" tanya Papanya yang nggak langsung menyetujui keinginannya.

"Piano itu memang bagus, Pa. tapi, yang ada di rumah piano itu suaranya jauh lebih bagus. . .," Chika setengah merengek. "Memang bukan piano baru, tapi kata Bapak pemilik tempat itu, dulu piano itu dipakai sama pianis wanita terhebat di Indonesia. . ."

"Terus piano kamu yang sekarang mau dikemanain? Nggak mungkin ada dua piano di rumah. . ."

"Pa, rumah kita kan besar. Piano barunya bisa ditaruh di kamar aku kan. . .," Chika mulai merengek, merajuk manja. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah selebaran. "Aku mau ikut kompetisi. . ."

"Kamu akhirnya ikut audisi, Sayang?" tanya Mama yang mendadak senang, mengambil selebarannya dari tangan Papa.

Sebuah festival musik nasional akan digelar dua bulan lagi. Panitia membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengasah bakat musik mereka di sini. Chika sudah membayangkan bahwa ini adalah acara yang besar yang akan membawa namanya bahkan hingga keluar negeri. Dan hanya anak-anak terpilih yang akan ada di dalamnya.

"Please, Pa. . .," pinta Chika semakin memanja. "Aku mau pianonya"

"Udah deh, Pa. Beliin aja," kata Mama di belakangnya. "Kan buat anak kita juga"

"Oke, Papa mau beliin pianonya asal. . .," kata Papa akhirnya. "Kamu bisa menangin lombanya? Gimana?"

"Yah, Papa. . . aku kan mau berlatih sama piano itu. . .," Chika merengut.

"Kamu harus belajar untuk nggak selalu meminta dan manja. Harus ada usaha untuk semua yang kamu mau, Sayang. . .," katanya, tersenyum.

"Oke? Deal?"

Chika masih cemberut.

"Kemenangan kamu nggak ditentukan sama piano yang bagus, tapi bakat dan usaha kamu sendiri," ujar Papa. "Piano yang bagus itu cuma bonus dari usaha keras kamu. . ."

ooOoo

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!