"Steiner" panggil Luigi dengan tangan mengepal.
"Setelah apa yang terjadi diantara kita, kau tidak mengenalku? Kita menghabiskan setiap malam bersama di lembah Parnassus, Stein! Kau bahkan telah merenggut mahkotaku! Ada apa denganmu?!"
"Aku tidak mengenalmu! Kau wanita gila! AKU BAHKAN TIDAK MENGENALMU!"
"Apa kau amnesia? Katakan dengan kalung ini! Apakah ini milikmu?" Luigi, mengeluarkan kalung yang tersembunyi dari balik bajunya. Steiner membelalakan matanya, bahkan seluruh keluarga besarnya.
Semua saling melemparkan pandangannya, gadis bak Dewa Apollo itu, tiba tiba menerobos masuk ke dalam sebuah ballroom, mengacaukan acaranya.
Sebuah acara perhelatan akbar yaitu PERTUNANGAN.
Luigi memasukkan kembali kalungnya, lalu ia berjalan kearah pintu keluar. Sesaat ia menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Steiner, "Tidak masalah kau melupakanku, Steiner! Tapi, malam itu adalah malam yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku! Aku selalu memegang janjimu, bahwa kau akan membawaku ke Altar saat aku menyerahkan segalanya untukmu!" Luigi pun berlalu pergi. Meninggalkan keterkejutan yang luar biasa.
"Penjaga! Panggil gadis itu! Dan bawa ke kamarku!" ujar sang Ibu yang meninggalkan acara pertunangan Putranya yang telah kacau balau.
"Shiitt!!" pekik Steiner membanting gelas di tangannya.
"Honey?" tunangannya memanggilnya.
"Aku akan membereskan gadis itu! Pulanglah!" kata Steiner kepada calon tunangannya yang gagal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat Manis...
Luigi Santana Foster, menjadi terkenal di hari kelima ia bekerja di Kingdom Volkgaard. Di sepanjang jalan menuju lantai 18, senyum ramah mengalir kepadanya bahkan saat tiba di laboratorium tempat ia menguji sampel parfum, semua bertepuk tangan mengagumi keberaniannya. Luigi sangat terharu melihat sambutan itu.
"Kau memang hebat Lui. Suaramu sampai ke telinga 'Nyonya Tangan Besi'. Dia penasaran siapa si peracik, peramu dan pencipta yang menyuarakan No Bullying dan mendapatkan apresiasi dari ribuan karyawan pabrik" ujar Professor Anderson dengan bertepuk tangan.
"Nyonya Tangan Besi?" Luigi mengerutkan alisnya.
"Dia adalah wanita dibalik kesuksesan Javier Volkgaard, Ayah Steiner! Wanita itu adalah Ibunya Annete Volkgaard!" jawab Professor Anderson membuat Luigi berdebar, sekeliling tubuhnya serasa dingin hingga bulu kuduknya berdiri meremang mendengar nama itu.
"Dia pasti wanita hebat" ujar Luigi mengatasi debaran yang ia sendiri tidak mengerti.
"Kingdom Volkgaard bukan apa apa tanpanya" kata Jack yang menjadi senior Luigi.
"Wow-- benarkah?" Luigipun duduk dikursinya di hadapannya ada berbagai macam residu bunga kering yang telah diambil sampel untuk aroma parfum. Luigi mengenakan sarung tangan karet dan mengenakan masker yang menutupi setengah wajahnya. Disebelah kanannya ada pulpen yang tergeletak lalu Luigi menggenggamnya.
"Kingdom Volkgaard hanyalah industri rumahan, Lui. Selama tiga generasi mereka membuat kosmetik dan dijual eceran dengan penjualan yang tidak seberapa. Tapi KV terus merangkak naik, dari karyawan puluhan, lalu ratusan hingga ribuan. Di generasi ke empat, KV mengalami keterpurukan, semua produk ditarik dari pasaran. Produk KV akhirnya menghilang dan KV nyaris bangkrut-- Hingga generasi kelima, yaitu generasi Javier dan dibelakangnya adalah Annette mereka menyelamatkan KV dengan membuka kesempatan bagi siapapun yang memiliki uang untuk membuat kosmetik di Pabrik KV. Perusahaan akan membuatkan, logo, kemasan dan desainnya sesuai pesanan" cerita Professor Anderson membuat Luigi terkesima ia meletakan pulpennya lalu menyimak obrolan ringan itu.
Produk KV menghilang? Bagaimana bila aku menghidupkan lagi Stein? kata Luigi dalam hati, dan disaat yang sama tanpa mereka semua sadari pulpen yang tergeletak disebelah tangan kanan Luigi berpindah ke sebelah tangan kiri Luigi.
"Ya dan disinilah kita sekarang" sahut Josh yang datang dari arah pintu keluar. Semua orang melihat kearah kedatangan Josh yang membawa dua kantong plastik yang berisi beberapa dus makanan yang dikemas secara eksklusif. Josh datang beserta dua orang pelayan dari sebuah restauran yang membawa kantong plastik yang sama.
Luigi mengerutkan alisnya melihat kedatangan Josh, ia kemudian meraba meja disebelah kanan mencari pulpennya karena tidak menemukannya Luigi melemparkan pandangannya kearah meja, Luigi terkejut sendiri karena pulpennya telah berada disebelah tangan kirinya.
Kapan aku memindahkannya? Mungkin aku lupa. Luigi segera mengusir keterkejutannya karena kedatangan Josh menyita perhatiannya bahkan semua orang diruang laboratorium.
"Josh? Apakah kau ulang tahun?" tanya Jack saat menyambut kardus makanan yang dibagikan oleh pelayan.
"Ini khusus untuk Divisi kita. Jadi kita tidak perlu keluar untuk makan siang-- Ini dari Bigboss. Katanya kita harus bekerja lembur untuk 5 sampel parfum berikutnya" jawab Josh membuat Luigi tersenyum datar.
"Ayo anak anak kita serbu makanan ini" kelakar Josh membuat ruangan laboratorium di lantai 18 itu riuh.
Luigi menerima satu kardus makanan dari seorang pelayan dan Luigi membukanya setelah ia mengucapkan terima kasih. Ia kemudian menghela nafas panjang melihat isi dus makanan itu.
"Lui kau tidak mau?" tanya seorang wanita mendekatinya dengan dus makanan di tangannya.
"Evelyn, apa Bigboss selalu perhatian seperti ini?"
"Tidak pernah kecuali ke Divisinya dulu, Divisi Marketing" ujar Evelyn menarik kursi dan duduk disebelah Luigi dengan berjarak.
"Lalu angin apa yang membuatnya melakukan hal ini?"
"Mungkin karena kau menciumnya-- Hahaha" sahut Jack dan semua tertawa namun melihat Luigi tetap tenang dan menunduk, tawa mereka menghilang.
"Sorry Lui" kata Jack kembali ke mejanya.
"Tidak apa apa Jack" ujar Lui dan semua orang kembali ke meja mereka masing masing.
"Aku akan ke lantai 17. 'Nyonya Tangan Besi' ingin menemuiku! Aku akan kembali setelah makan siang! Ayo kalian cepat bekerja setelah itu kalian bisa makan siang bersama diruang meeting!" kata Professor Anderson
"Apa yang akan kau lakukan saat Bigboss memberimu makan siang gratis tapi makanan siang ini membuatmu alergi" kata Luigi mencondongkan tubuhnya ke arah Evelyn.
"Aku akan membuangnya" kata Evelyn dengan menggedikan bahunya. Luigi menghela nafas panjang lalu ia menyingkirkan kardus makanan itu di bibir meja. Luigi bangkit berdiri kemudian ia menuju ruang penyulingan sampel. Luigi kembali bekerja.
-
-
-
Lantai 17
"Gadis itu baru bekerja lima hari? Wow! Dan dia berani bertingkah seolah dia pemilik Kingdom Volkgaard?" seorang wanita duduk di kursi Steiner dengan anggun, berwibawa dan terlihat raut ketegasan di wajahnya. Dia adalah Annette Volkgaard, Ibu dari Steiner Volkgaard.
"Dia-- Dia berbakat dan pemberani, Mom" ujar Steiner berdiri dengan bersedekap satu tangannya menggenggam sekantong biji kopi robusta milik Luigi. Steiner menatap lukisan lembah Parnassus, Steiner mengamati apa yang membuat Luigi terpesona hingga menitikan airmata. Namun Steiner tidak menemukan jawabannya.
"Selamat siang" pintu yang terbuka diketuk oleh Professor Anderson, Steiner menoleh dan mempersilahkan Professor masuk kemudian mengajaknya duduk diseberang Annette.
"Anderson, katakan bagaimana kemajuan Divisi Parfum kita-- Aku dengar kau sangat memuji wanita yang dianggap gila oleh Putraku" kata Annette tanpa basa basi dan langsung ke point utama kedatangannya, untuk menilik Divisi baru yang berada dibawah pengawasan Steiner.
"Lima sampel telah lolos aku uji hari ini dan telah sampai ke Divisi Produksi. Tinggal bagaimana mereka mencari bahan baku dan kesiapan Divisi Desain dan Kemasan. Seharusnya sekitar dua minggu parfum bisa di produksi dan Divisi Pemasaran siap merilis parfum parfum dan melemparnya kepasaran" tutur Professor Anderson sambil menaikan kacamatanya yang bertengger dihidungnya.
"Aku akan mengadakan launching besar besaran dan memakai model dari Paris. Aku akan menyiapkannya dalam waktu tiga minggu" kata Steiner seraya mencium aroma kopi lalu mengantonginya.
"Berapa orang yang berhasil meramu dan meracik, kelima sampel parfum itu"
"Hanya sampel Luigi Santana Foster yang lolos uji. Ramuannya sangat pas, kadar minyak yang dihasilkan dari sulingan bunga bunga yang ia uji sangat paten. Sulingannya berkualitas premium. Sangat kental dibanding yang aku suling. Yang paling memukau adalah ketika diuji di kulit leher, bagian belakang telinga, pergelangan tangan dan dada, minyak esensial dari bunga bunga itu-- Wuuuss, memuai! Tidak ada minyak dan yang tersisa hanya aromanya saja! Dia sangat brilian Annete! Parfum kita bisa bersaing di antara, Dolce Gabanna, Dior, Chloe, Prada, Lancome-- Aku sangat yakin gadis yang Steiner anggap gila itu bisa menggebrak produk baru KV!" tutur Professor Anderson dengan bersemangat.
"Aku penasaran seperti apa gadis itu" kata Annette sangat antusias mendengar cerita Professor Anderson.
"Seperti gadis murahan Bibi! Biasa saja tidak ada yang menarik!" sahut seseorang dari pintu di iringi langkah kakinya mendekat kearah Annette. Steiner mengerutkan alisnya, telinganya serasa terbakar mendengarnya.
"Esme-- Kemarilah" Annette merentangkan tangannya kearah Esme yang masuk ke ruang Steiner.
"Apa kabar Bibi Annette. Apa kau sehat? Aku mendengar Bibi datang dan aku sempatkan kesini sebelum waktu makan siangku habis" ujar Esme sambil membungkukan badannya dan memeluk Annette yang masih duduk di kursi Steiner.
"Kau pasti makan dengan cepat" Annette mengusap punggung Esme lalu mengurai pelukannya.
"Aku langsung menelannya, Bibi" kelakar Esme membuat Annete terbahak.
"Hahaha-- Kau selalu lucu. Duduklah, Esme" pinta Annette.
"Tidak Bibi, aku harus bekerja. Aku hanya ingin menyapamu saja"
"Datanglah akhir pekan ke rumah, aku akan mengadakan pesta barbeque" tutur Annette sambil meraih tangan Esme lalu Esme menggenggam tangan Annette.
"Ulang tahunmu masih lama, Bibi" Esme melempar pandangannya ke arah Steiner yang menggedikan bahunya.
"Bukan ulang tahunku, tapi Keluarga Carrie akan datang" Senyum Esme menghilang dan Steiner menegakan posisi duduknya dengan mengerutkan alisnya.
"Akan datang? Aku tidak tahu apa apa akan hal ini" ujar Steiner menunjukan wajah tegas dan cendurung tidak tertarik dengan acara itu.
"Mommy menjenguk Carrie sebelum kesini dan Ibunya tadi mengatakannya pada Momny. Kita akan membahas pertunanganmu, Stein" kata Annette melepas tangan Esme lalu menghadap kearah Steiner.
"Ck, aku belum berhasil meraih impianku! Mengapa harus ada pertunangan? Ini terlalu cepat!" kata Steiner mulai menaikan volume suaranya dengan kedua alisnya yang tebal, nyaris bersatu.
"Steiner, mengapa kau berubah pikiran? Kau sendiri telah meminta izin pada Mommy dan Daddy dari awal" tanya Annette menajamkan matanya kearah Steiner yang terlihat resah.
"Itu karena Carrie mendesakku! Dan Daddy membuatku berubah pikiran! Mengapa Daddy tiba tiba mengangkatku sebagai pewaris tunggal di usiaku yang belum pantas! Pak Tua itu malas sekali bekerja!" dengus Steiner dengan kesal dengan mengusap wajahnya. Professor Anderson tersenyum lalu menepuk nepuk pundak Steiner dan bisa diartikan agar Steiner menahan dirinya.
"Aku rasa Steiner benar, Bibi. Ini terlalu cepat dan aku tidak tahu mengapa Carrie buru buru ingin sekali bertunangan" sahut Esme mencoba memprovokasi.
"Esme mengapa kau tadi mengatakan kalau Luigi gadis murahan!" Esme terhenyak dengan membuka mulutnya. Steiner justru menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan situasi yang dihadapinya bersama Annette.
Ternyata Steiner masih menyimpan perkataan Esme, yang menyahut pertanyaan Annette saat menanyakan tentang siapa Luigi kepada Professor Anderson. Perasaannya menjadi gelisah sejak awal mendengar perkataan Esme yang menyudutkan dan merendahkan Luigi.
"Stein? Mengapa kau tiba tiba menanyakan hal itu?" tanya Esme kebingungan.
"Jawab saja Esme" Steiner pun menatap tajam kearah Esme yang terlihat santai kemudian.
"Ya karena dia sedang makan siang bersama Richard di Cafetaria-- Steiner bangkit berdiri dan menyambar ponselnya, Esme tersenyum tipis dan melanjutkan perkataannya --Dia memberikan makan siang yang kau pesan pada Richard! Dia tidak menghargai pemberianmu, mungkin dia menaruh hati padanya, bukankah caranya sangat murahan untuk menarik simpati Richard?" Esme membuat Steiner semakin terbakar, ia mencoba menghubungi ponsel Richard namun tidak ada respon.
"Wanita itu benar benar membuatku tidak sabaran! Apa maunya wanita gila itu!-- Di Cafetaria mana! Mengapa Richard susah di hubungi?!" gerutu Steiner membuat semua menegang.
"Stein? Kau memberinya makan siang? Mommy tidak mengerti" tanya Annette kebingungan dengan sikap Putranya yang mendadak meradang mendengar perkataan Esme.
"Agar wanita gila itu tidak kemana mana dan makan siang sembarangan, Mom! Divisi Parfum harus lembur! Ini fasilitas dariku!" ujar Steiner dengan menegang dan masih berusaha menghubungi Richard.
"Ya Annette, di seluruh lantai 18 di Divisiku dan aku mengucapkan terima kasih untuk itu, Stein-- Richard yang menolong Luigi saat insiden di Pabrik, mungkin Luigi ingin membalas kebaikannya saja" ujar Professor Anderson kedua arah, Annette dan Steiner. Ia mencoba bijaksana agar Steiner tenang walaupun sang Professor terkesan membela Luigi.
"Stein, memangnya kenapa kalau wanita itu kemana mana?! Apa urusannya denganmu?! Mengapa kau sangat marah? Apa kau mengenalnya?" tanya Annette semakin bingung dan Steiner memilih diam.
Entahlah mengapa aku seperti itu.. Dia tidak boleh makan siang bersama laki laki lain.. Aku tidak menyukainya. Steiner.
"Luigi Santana Foster adalah wanita yang mencium Steiner di lobby, Bibi. Sikapnya sangat murahan sekali dan kini ia mencoba mendekati Richard. Sepertinya wanita itu mencoba mendekati semua Keluarga Volkgaard" imbuh Esme.
Niatnya menjatuhkan nama baik Luigi namun itu menjadi boomerang ketika Steiner justru terbakar hatinya. Ia memasukan ponsel ke dalam saku jasnya dengan kesal setelah berulang kali mencoba menghubungi ponsel Richard dan bersiap pergi.
"Cafetaria mana Esme! Cepat katakan!" sentak Steiner semakin mengejutkan semuanya.
"Tempat biasa kita makan siang" ujar Esme membuat Steiner berlalu pergi dan menyisakan jutaan tanda tanya di kepala Annette.
"Steiner kau tidak mengatakan apapun pada Mommy!" Annette bangkir berdiri dan menumpukan telapak tangannya dibibir meja.
Makan siang saja bersama Pak Tua mu Mom! Jangan menungguku! Sahut Steiner dari luar. Annette kembali menghempaskan bokongnya di kursi dengan menegang.
"Itu bukan Putraku! Steiner sangat lemah lembut, jarang sekali dia bersikap seperti itu! Dia menjadi sangat meledak ledak!-- Hmmphh, apa jabatan ini membebaninya? Mengapa dia sangat berubah? Aku sampai tidak mengenali Putraku sendiri" keluh Annette sambil memijat pelipisnya.
"Mungkin karena wanita gila itu-- Annette memotong perkataan Esme kemudian,
"Esme, itu tidak ada hubungannya, perilakunya berubah setelah Javier menyatakan dirinya mundur dari KV-- Kembalilah bekerja Esme aku akan melanjutkan diskusiku" kata Annette bergantian memijat pangkal hidungnya.
"Baiklah Bibi, sampai bertemu akhir pekan" Esme pun berlalu, Annette hanya mengangguk. Anderson menyodorkan sebotol air mineral yang selalu tersedia diatas meja Steiner. Annette kemudian membuka botol itu lalu meneguknya.
Ada yang aneh pada Steiner.. Mengapa ia seperti itu.. Steiner adalah laki laki yang lemah lembut, manis, sabar, penyayang dan penuh perhatian.. Tapi, mengapa sikapnya kembali seperti 10 tahun yang lalu.. Selalu meledak ledak.. Apa traumanya kambuh?.. Apa dia tidak pernah meminum obatnya? Aku harus mengawasinya..
-
-
-
Cafetaria
Steiner mengedarkan pandangannya ke semua arah, mencari sosok Luigi yang membuat emosinya meledak ledak hingga ia kehilangan akal sehatnya. Steiner tidak bisa berpikir jernih, ia kehilangan logikanya. Matanya menangkap sesosok wanita gila yang ia cari, ia melihatnya sedang tertawa bersama Richard disudut teras Cafetaria yang berada di area gedung KV. Steiner bergegas menghampirinya.
"Hahaha-- Saat itu aku naik ke atas meja dan berorasi didepan para dosenku! Padahal meja itu berkaki tiga karena satu kakinya aku hancurkan. Dan semua teman teman yang mendukungku justru memegangi kaki meja itu! Ahh-- semua hanya tinggal kenangan manis. Akhirnya dosen dosen menyetujui Fakultas Arkheologi pergi ke Yunani. Bukan ke Mesir dimana saat itu sedang terjadi konflik disana. Dan justru disanalah aku menghi--
"Jadi kalian disini?!" ucapan Steiner dengan lantang seketika menghentikan perkataan Luigi yang terkejut dengan kedatangan Steiner. Luigi dan Richard menoleh secara bersamaan.
"Steiner?" gumam Richard.
"Steiner, kau mau bergabung?" tanya Luigi dengan wajah pias. Tawa mereka lenyap dan berubah menjadi situasi yang menegangkan saat Steiner menyambar lengan kiri Luigi hingga Luigi berdiri tegak dihadapan Steiner.
"Bisa bisanya kau memberikan makan siang yang aku berikan, pada orang lain! Apa kau tidak tahu bagaimana caranya menghargai pemberian orang?!" Luigi semakin pias, melihat kemarahan Steiner yang membabi buta.
"Stein-- pelankan suaramu. Kau mengundang perhatian orang-- Ini tidak seperti yang kau bayangkan!" Richardpun bangkit berdiri berusaha menahan dada Steiner agar Steiner tidak berbuat sesuatu yang melewati batas.
"Stein kau salah paham.. Steiner jangan begini.. semua orang melihatmu.. Stein.. aku mohon lepaskan aku" ujar Luigi berusaha menenangkan Steiner yang dikuasai amarah.
"Kau membuatku hilang kendali! Aku mengirim makan siang agar kau tidak kemana mana! Kau wanita gila yang sombong! Baru beberapa hari kau bekerja dan kau ingin mendekati keluarga Volkgaard?!" mata Steiner seakan berpijar, hidungnya mendengus bak banteng yang lepas dari penjagalan. Luigi ciut melihat Steiner yang tidak pernah di lihatnya di Lembah Parnassus.
"Steiner ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Richard pun mendorong tubuh Steiner namun Luigi semakin meringis menahan cengkeraman tangan Steiner.
"Diam kau Richard! Tidak usah ikut campur!" Seru Steiner tidak membuat Richard mundur.
"Apa kau cemburu?" tanya Luigi dengan ketakutan.
"Apaa?! Aku cemburu?! Kau hanya wanita murahan! Wanita gila yang tidak tau diri! Kau menciumku dan sekarang kau merayu Richard karena dia seorang Volkgaard kan?!"
PLAAAKKK! Tak ayal lagi tamparan pun melayang dan mendarat di pipi Steiner. Luigi melelehkan airmatanya seketika, namun Steiner justru mencengkeram kedua lengan Luigi.
"Apa kau tau makanan kesukaanku? Minuman kesukaanku? Kau tidak tahu apapun! Makanan yang kau kirim adalah makanan yang membuatku alergi! Aku alergi tomat, kacang, dan aku tidak bisa terkena pedas sedikitpun! Apa kau ingin membunuhku? Seharusnya kau tau tahu itu! Kau seperti tidak tahu apapun! Tapi tidak masalah, kau mungkin lupa dan aku cukup tahu kau tidak menyukai hidangan laut!" Perlahan cengkeraman Steiner mengendur. Mata Steiner mengerjap saat Luigi mengatakan makanan yang tidak ia sukai.
"Jika aku membuang makanan yang kau berikan itu artinya aku tidak menghargai makanan yang kau berikan! Kakakku datang ke Manchester dan akan mampir kesini, karena makanan yang kau pesan adalah makanan kesukaannya, aku akan memberikan kepadanya! Karena ada panggilan darurat kakakku membatalkannya dan aku terlanjur memesan makan siangku! Richard datang menemaniku dan aku menawarkan padanya! Apa itu salah?!" Steiner mendengus kasar tangannya masih mencengkeram kedua lengan Luigi dan pertengkaran itu memancing orang orang disekitarnya.
Stop bullying.. Stop bullying.. Stop bullying..
Orang orang disekitar mereka tiba tiba berseru bahkan satu isi cafetaria meneriakan stop pembulian. Luigi, Steiner dan Richard mengedarkan pandangannya. Diantara keharuan Luigi berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Steiner.
Stop bullying.. Stop bullying.. Stop bullying..
"Lepaskan Luigi atau kau akan menghadapi karyawanmu sendiri!" kata Richard dengan setengah berbisik penuh penekanan. Steinerpun melepaskan tangan Luigi dengan kasar.
"Semua yang kau lakukan salah di mataku! Dan aku tidak perduli apa yang kau lakukan! Bersikaplah semaumu! Kau bukan siapa siapa! Aku juga tidak mengenalmu!" seru Steiner membuat lidah Luigi tercekat. Di anggap orang asing membuat hati Luigi teriris sembilu, rasanya sangat sakit.
"Steiner!" mata Luigi yang memerah kini mencair, buliran bening berjatuhan kian menyesakan dadanya.
"Kau hanya wanita murahan!" Tuding Steiner mendorong tubuh Richard menjauh.
"Aku membencimu! Pergilah ke neraka!" hardik Luigi sambil menghempaskan bokongnya ke kursi ia membuang muka dengan mengusap pipinya yang basah karena airmata. Steiner pun berlalu dengan menendang kaki meja dengan penuh kekesalan, hatinya sangat panas, ia benar benar kehilangan kendali.
Bagus sekali jika kau membenciku.. Shittt.. Setelah enam bulan masa percobaanmu.. Aku akan menendangmu wanita gila. Steiner.
"Luigi, maafkan Steiner. Dia sebenarnya laki laki yang baik. Aku tidak mengenalnya belakangan ini. Steiner bukan seperti dirinya. Entahlah, sejak Paman Javier mengangkat Steiner menjadi penerusnya, sikapnya menjadi pemarah. Dia bahkan tidak bicara pada Paman. Di tambah kecelakaan lima hari yang lalu, sikapnya menjadi aneh" tutur Richard kembali duduk.
Namun Luigi justru tersentak dan bangkit berdiri dengan membulatkan matanya, "Steiner kecelakaan? Lima hari yang lalu?" Luigi menyambar ponselnya dan kembali memakai jas putih yang sebelumnya ia lepas.
"Dia kecelakaan di dekat taman Manchester Street bersama--
"Richard! Terima kasih telah menemaniku!" Luigi seketika memotong perkataan Richard sambil berlari meninggalkan cafetaria menyusul langkah Steiner yang menuju cafetaria lain yang berada di seberang gedung KV.
"Lui!" Panggilan Richard tak dihiraukan. Luigi terus berlari mengekor langkah gontai Steiner dari kejauhan.
"Steineerr! Steinerr!" panggil Luigi namun Steiner terus berjalan seakan tak perduli, hingga langkah Steiner seakan terkunci di iringi hembusan angin dari arah samping yang membuatnya meremang, belum sempat berpikir, Steiner tersentak hingga tubuhnya terguncang.
Di saat yang sama Luigi menghempaskan tubuhnya berhamburan memeluk Steiner dari belakang. Memeluk tubuh yang sangat dikenalnya, menghirup aroma tubuh yang sulit Luigi lupakan bahkan Luigi tidak bisa berpaling dari itu semua.
"Steiner.. Kau kecelakaan? Mengapa kau tidak mengatakannya? Apa kau baik baik saja? Apa kau terluka? Steiner, jika sesuatu terjadi padamu aku bisa tiada! Steiner kau membuatku takut, kau membuatku cemas! Aku baru mengetahui bahwa kau kecelakaan! Aku takut kehilanganmu! Steiner, bisakah kau berhati hati! Jangan membuatku sedih!"
Luigi terisak dipunggung Steiner, angin kesejukan berhembus perlahan dan membawa kedamaian dihati Steiner. Tanpa sadar tangan Steiner menggenggam tangan lembut yang melingkar erat diperutnya.
Dia bisa tiada bila sesuatu terjadi padaku? Aku membuatnya cemas? Dia takut kehilangan? Kenapa wanita gila ini.. Sangat manis.. Yayaya aku akan berhati hati..
-
-
-
Bila kamu menyukai Novel ini, Jangan Lupa Dukungan Vote, Like, Komen, Koin, Poin dan Rate bintangku yaa Reader Tersayang.
Biar aku semangat nulis lagu disela - sela waktu jadwal kuliahku yang padat. Terima kasih Reader tersayang 😘😘🥰🥰💕💐
-
-
-