Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Salah sambung hingga berakhir pacaran. Sepasang kekasih yang sudah siap menikah harus kandas karena sebuah kecelakaan.
Restu terlepas, seorang anak harus berbakti pada orangtuanya dengan menikahi wanita pilihan mereka.
Bertemu kembali dengan status berbeda, dengan harapan ingin kembali dengan cinta lama.
"Aku tidak ingin menikahi bekas orang!" kalimat penegasan keluar dari bibir seorang mantan.
Strategi meraih mantan tercinta hingga berujung pada sebuah pernikahan.
Perjuangan mendapatkan cinta kembali dari sang mantan hingga air mata menjadi saksi bisu.
Inilah kisah Terpaksa Menikahi Mantan yang penuh dengan tawa dan air mata.
Lanjutan novel ini 👉🏻 Sang Penakluk Playboy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candaan Reno
Reno memeluk tubuh Melisa dan membelainya, ia tau Melisa sangat rapuh mendengar kondisinya yang sudah tidak bisa berjalan lagi.
Drrttt...drrrtt.... Ponsel Raka berbunyi, dengan segera ia menjauh dari mereka dan menjawab panggilan dari Talita.
"Assalamualaikum, mom"
"Wa'alaikumussalam warahmatullah"
"Kamu dimana? Kenapa belum sampai ke rumah juga?" tanya Talita khawatir.
"Aku ada urusan genting, Mom. Bentar lagi aku pulang ya. Assalamualaikum"
"Raka! Wa'alaikumussalam warahmatullah" baru saja Talita hendak ingin menyuruh Raka pulang, tapi Raka malah menutup telponnya.
"Dik! Siapa lelaki itu?" tanya Reno menatap Raka dengan penasaran.
"Mas Irsyad, pacarku" sahut Melita menatap Reno.
"Pacarmu?" tanya Reno tersentak kaget.
"Iya" Melisa menganggukkan kepalanya.
"Kamu gak mau kenalkan dia sama kakak?" tanya Reno dengan serius.
"Mas!" panggil Melisa dengan lembut.
"Iya" Raka memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya, kemudian ia berjalan menghampiri Melisa.
"Mas! Ini kak Reno yang sering aku ceritakan ke Mas, dan kak ini Mas Irsyad, pacarku" ucap Melisa menatap mereka bergantian.
"Salam kenal kak" Raka tersenyum sembari mengulur tangannya.
"Iya. Senang bertemu denganmu. Semoga kelak kamu bisa menjadi adik ipar kakak" sahut Reno tersenyum bahagia sembari berjabat tangan dengan Raka.
"Kakak" ucap Melisa tersipu malu sembari memberi kode mata pada Reno membuat Reno tersenyum dan berencana ingin terus menggoda Melisa agar ia tidak lagi bersedih dengan kondisinya yang sekarang.
"Amiin. Rencananya aku mau lamar Melisa kemarin, tapi dia menolak dengan alasan ia harus menyelesaikan kuliahnya, padahal walaupun sudah menikah, aku tetap izinkan dia kuliah kok" jelas Raka dengan serius.
"Kenapa gak bilang sama kakak? Kalau saja kakak tau, sudah dari dulu kakak nikahkan kalian berdua" celetuk Reno menggoda Melisa.
"Kakak! Udah cukup! Jangan bikin aku malu" sahut Melisa dengan wajahnya memerah.
"Ngapain malu? Kakak ini bicara yang sebenarnya. Jadi kalian kapan ni siap biar kakak nikahkan kalian berdua" tanya Reno menatap Reno dan Melisa.
"Gimana kalau sekarang?" tanya Raka menggoda Melisa.
"Ok setuju" sahut Reno dengan spontan.
"Kalian berdua jangan ngawur, ok. Aku sekarang lagi sakit dan kaki aku belum bisa di gerakan, jadi kalian simpan dulu kata nikah-nikahan itu. Ok ok" ucap Melisa menatap Reno dan Raka dengan serius.
"Ok. Aku akan tunggu kamu sampai sembuh, tapi aku gak mau tunggu kamu sampai selesai kuliah, karena aku sudah gak sabar ingin menikahimu" sahut Raka menggoda Melisa.
"Kakak setuju" sahut Reno dengan spontan.
"Iihh kalian ini" lagi-lagi Melisa dibuat malu oleh kedua lelaki yang ada di depannya itu.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum" ucap pak supir sembari masuk
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" ucap mereka semua.
"Bapak ngapain kesini?" tanya Raka menatap pak supir.
"Maaf Den, Tuan menyuruh kita segera pulang, katanya tuan ingin mengetahui hasil project Den selama di Singapore" jelas pak supir.
"Ok. Bapak boleh tunggu saya di mobil. Sebentar lagi saya kesana" tutur Raka dengan lembut.
"Baik den" sahut pak supir beranjak pergi.
"Mas sebaiknya pulang" tutur Melisa menatap Raka dengan lembut.
"Sayang! Kita sudah seminggu miscommunication dan baru kali ini aku bertemu denganmu, jadi tolong jangan suruh aku pulang dulu" pinta Raka melas.
"Tapi Mas dengar sendirikan, pak supir bilang Mas disuruh pulang karena urusan kantor" sahut Melisa penuh dengan pengertian.
"Kamu tau sayang! Kenapa aku baru hari ini bisa besuk kamu? Itu karena aku di Singapore untuk project daddy aku, tapi sekarang semuanya sudah goal, jadi aku ingin bersamamu dan untuk urusan daddy bisa nanti setelah aku pulang dari sini" jelas Raka memberi pengertian.
"Irsyad! Sebaiknya kamu pulang dulu, nanti kamu juga bisa kesini kok" sahut Reno menatap Raka.
"Tapi, kak" keluh Raka, ia berharap bisa tinggal di samping Melisa lebih lama lagi.
"Sudah Mas pulang aja. Lagian Mas pasti capek banget habis pulang dari Singapore. Jadi Mas pulang dan istirahat ya! Besok kesini lagi. Aku menunggumu" sahut Melisa tersenyum bahagia.
"Ya sudah aku pulang. Tapi kamu harus minum obat dan ikuti saran dokter. Besok aku kesini lagi" ucap Raka penuh harapan.
"Iya bawel" sahut Melisa menyungging bibirnya.
"Kak aku pamit ya" ucap Raka menatap Reno.
"Iya. Hati-hati ya" ucapa Reno.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikussalam warahmatullah"
Raka beranjak pergi dan ia segera pulang ke rumah untuk menemui orangtuanya.
Ting..tong...
Mendengar suara bel rumah, Talita langsung membukakan pintu rumahnya.
"Assalamualaikum, Mom" ucap Raka sembari memeluk tubuh Talita.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" ucap Talita membalas pelukan Raka.
"Daddy dimana?" tanya Raka.
"Di ruang tv. Daddy sudah lama menunggumu. Cepat kamu temui daddymu" sahut Talita sembari tutup pintu.
Raka dengan segera pergi menemui Gunawan.
"Daddy" ucap Raka sembari mencium punggung tangan Gunawan.
"Duduk" Gunawan menepuk sofa di sampingnya.
"Ada apa dad?" tanya Raka penasaran.
"Gimana project di Singapore?" tanya Gunawan penasaran.
"Alhamdulillah semuanya sudah clear, kita berhasil menandatangani kontrak kerja sama dengan mereka dan kita juga telah menyelesaikan project lainnya juga" sahut Raka dengan santai.
"Alhamdulillah. Daddy bangga denganmu. Ini menunjukan kamu pantas dengan jabatan kamu sekarang dan daddy yakin kelak kamu bisa mengambil alih perusahaan daddy" sahut Gunawan merasa salut dengan hasil kerja keras Raka.
"Thanks dad. Pokoknya aku akan berusaha untuk membuat perusahaan daddy semakin maju lagi" ucap Raka tersenyum bahagia.
"Terus nikahnya kapan? Kamu sudah tidak muda lagi loh" sahut Talita sembari duduk di samping Raka.
"Iya sabar dong mom" sahut Raka menatap Talita dengan serius.
"Usia kamu sudah 27 tahun, gak lama lagi sudah kepala tiga, daddy dan mommy sudah tua dan juga sakit-sakitan, sudah pantas untuk kamu menikah, nak" celetuk Talita penuh harapan.
"Iya, sabar dong mom. Kasih waktu aku sedikit lagi" pinta Raka melas.
"Ok. Mommy kasih waktu untuk kamu. Tapi jangan lama-lama. Semua teman-teman mommy sudah punya cucu, tinggal mommy doang yang belum punya cucu" keluh Talita melas.
"Iya mommy, sabar ya. Pokoknya Raka janji setelah Raka nikah, Raka akan berusaha siang malam biar cepat punya anak biar ada yang kawani mommy di rumah" celoteh Raka sembari memegang tangan Talita.
"Harus itu" sahut Talita tersenyum sumringah.
"Iya. Tapi sekarang aku mandi dulu ya. Gerah banget ni" ucap Raka beranjak pergi.
Talita tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Daddy kok gak nyambung sih mommy bahas pernikahan sama anak kita?" tanya Talita menatap Gunawan dengan serius.
"Daddy serahkan semuanya pada Raka. Terserah dia mau ngapain" sahut Gunawan dengan santai.
"Aishh daddy ini. Nanti keburu uzur baru punya cucu" celoteh Talita kesal.
Gunawan menggeleng kepalanya sembari tersenyum mendengar ocehan Talita.
eeeehh..... keturunannya jg sangat menjijik kan. pura2 polos padahal memang berhianat dngn menikah dngn wanita lain