Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.
Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.
Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.
Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.
Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Lagi
“Gue nanti mau ngomong sama lo serius Iz. Gue tunggu di danau setelah sekolah” Ucap Aldi saat berpapasan dengannya di kantin sekolah.
“Kenapa ngga sekarang aja?” Faiz menghentikan langkahnya. Faiz melihat Aldi yang serius. Tak seperti biasanya, mimik mukanya menunjukkan bahwa dia tak sedang main-main.
Aldi tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Faiz, dia hanya berhenti dan melihat Faiz balik dengan tatapan tajam kemudian kembali melangkahkan kakinya menjauh dari Faiz.
Dada Aldi seperti dicabik-cabik melihat tingkah Faiz yang seolah-olah tidak merasa bersalah terhadapnya.
Hari ini Aldi tidak seperti biasanya, batin Nisa. Dia yang biasanya selalu menunjukkan senyuman ke Nisa, tadi untuk berbicara pun tidak. Hanya keheningan Aldi yang didapatkannya.
Aldi melihat gelang yang dipakai Nisa dengan muak. Setelah usaha yang dilakukannya untuk Nisa, apakah ini balasan yang harus diterimanya. Mengapa Nisa seolah-olah memberikannya sebuah sinar harapan untuknya, jika pada akhirnya akan padam juga.
“Kak Aldi, Kakak kenapa?” Nisa menyodorkan helm ke Aldi, namun tak ada respon. Hanya tatapan tajam yang diberikan Aldi.
Helm itu kemudian diambil Aldi segera, menatanya kembali ke tempat semula dan langsung melajukan motornya tanpa basa-basi ucapan perpisahan manis.
Nisa menjadi takut akan sikap Aldi. Pemuda itu berubah dingin padanya, padahal baru tadi malam mereka bercanda-ria dengan lainnya di rumah Faiz.
“Hallo Na, Aku mau cerita.” Kata Nisa kepada Lana dengan perasaan khawatir, “gue habis ini ke rumah lo ya.” Katanya lagi sebelum Lana menjawab.
“Okee Nis, Siap. Gue tunggu ya!!” Jawab Lana yang beberapa saat panggilannya dimatikan oleh Nisa. “Anak itu kenapa dah,” pikir Lana.
Dengan segera Nisa menggantai pakaian seragamnya. Mengambil kunci motornya di nakas kamarnya dan melaju ke rumah Lana, bahkan tak sempat untuk makan siang yang sudah disiapkan oleh Tante Ilaa.
“Eh g*la, lo cepet banget nyampe sini.” Kata Lana yang mengethui Nisa sudah sampai rumahnya, padahal dia baru saja mengganti seragamnya dengan pakaian santai.
“Na, hari ini Kak Aldi beda banget. Ngga kayak biasanya.” Ucap Nisa serius.
“Beda gimana maksudnya?” tanya Lana sambil memberi isyarat untuk membicarakan hal tersebut di kamarnya saja.
“Hari ini dia berubah banget Na, ngga kayak biasanya.” Ucap Nisa mnekankan lagi.
“Kayaknya tadi malam masih baik-baik aja tuh sam lo.” Ingat Lana pada acara ulang tahun tadi malam.
“Gue gatau Na.” bingung Nisa. “Hari ini Kak Aldi dingin banget sama gue, tatapannya tajam banget Na. Apa gue ada salah ya sama Kak Aldi?” tanya Nisa.
“Setahu gue ya, selama gue kenal sama Kak Aldi, dia itu orangnya baik banget. Tapi emang sih, kalo kecewa sama orang dia akan bersikap dingin bahkan sinis ke orang itu. Mungkin Kak Aldi sedang ada masalah kali Nis. Udah lo nggausah mikir yang macem-macem.” Nasehat Lana pada Nisa.
“Lo yakin Na. Gue takut kalo Kak Aldi marah gara-gara gue belum ngasih jawaban ke dia?”
“Emangnya Kak Aldi udah nembak lo?” Tanya Lana penasaran.
Nisa mengangguk “Udah Na. Udah lama,” jawab Nisa.
“Kenapa lo belum kasih jawaban sih Nis, yang kurang dari Kak Aldi apa coba?” Lana kali ini agak kecewa dengan sikap Nisa. “Itu berarti selama ini lo gantung Kak Aldi Nis, lo ngga kasihan sama Kak Aldi?” tanya Lana kembali.
“Gue belum tahu Na, sebenernya perasaan gue ke Kak Aldi itu kayak apa. Gue gak bisa tiba-tiba jawab suka ataupun menolaknya langsung dengan kondisi gue yang waktu itu masih belum pulih. Gue juga gak tahu apakah Kak Aldi bener suka sama gue apa cuma sekedar singgah, gue nggatau Na.” Nisa menjawab dengan perasaan bersalah. Hingga air matanya jatuh begitu saja.
Lana tak tahu kalau pertanyaannya keterlaluan untuk Nisa hingga membuat gadis itu menangis. Ia memeluk Nisa dengan erat “Maaf ya Nisa, tapi menurut gue lo harus segera ngasih jawaban ke Kak Aldi. Gue ngga akan maksa lo buat nerima perasaan dari Kak Aldi, tapi setidaknya ada kepastian buat Kak Aldi.
Gue tanya sama lo ya. Lo sayang ngga sama Kak Aldi?”
“Gue belum tahu Na.” Nisa semakin menangis lagi. Dia ingin menyalahkan pada hatinya, mengapa sampai sekarang hatinya masih begitu bimbang. Padahal sikap Aldi sudah begitu baik padanya.
“Udah ya. Cup cup cup. Coba lo tanya sama hati lo. Adakah cinta untuk Kak Aldi di dalamnya.
Kalo lo udah yakin sama jawabannya maka jangan dipendam, ungkapin, biar kalian sama-sama enak. Walaupun nanti akhirnya lo dan Kak Aldi gak bisa bersama, setidaknya lo ngga bohong sama hati lo sendiri dan kalian kan bisa jadi temen.” Tangan Lana menepuk-nepuk punggung Nisa. “Hapus ah air matanya. Ntar jadi jelek tuh muka.” Pinta Lana.
Sementara itu, Faiz menunggu kedatangan Aldi dengan rebahan di gazebo yang ada pinggir danau.
Membayangkan sosok Nisa yang memakai gelangnya saat ulang tahun mamahnya. Cantik, pikirnya sampai membuatnya senyum-senyum sendiri. Seolah-olah langit tak berwarna yang dilihatnya jelas menggambarkan sosok yang ia bayangkan.
Faiz beranjak duduk saat Aldi ternyata sudah ada di depannya. Aldi tiba-tiba mennarik kerah seragamnya, yang kini tatapan keduanya saling beradu. “Apaan sih lo Al.” Faiz melepas paksa cengkeraman tangan Aldi, kemudian merapikannya kembali.
Aldi yang marah langsung memukul Faiz. Membuat ngilu pipi Faiz, menjadikannya lebam dengan sekali pukulannya, “Lo tega banget sih Iz sama gue” ucapnya dengan nada tinggi.
Faiz masih diam mengelus pipinya, tak mengerti dengan penyebab kemarahan sahabatnya itu.
“Lo kenapa ngga bilang kalo suka sama Nisa” tanya Aldi yang merasa kecewa. “Lo kan tahu kalau gue suka sama Nisa, kenapa lo malah main belakang kayak gini sih Iz,” marah Aldi.
“Apaan sih Al, lo ngaco ya. Gue gak suka sama Nisa.” Jawab Faiz datar.
“Gak suka tapi berduaan aja. Gak suka tapi ngasih hadiah. Lo bilang itu ngga suka?” Aldi semakin meninggikan bicaranya.
“Lo pasti cuma salah paham Al. Gue gak mungkin khianatin lo. Lo tahu itu kan?” sekarang Faiz juga sama seperti Aldi, agak meninggikan ucapannya.
Aldi mengeluarkan Hpnya, menunjuk foto yang ada di galerinya ke Faiz. “Kenapa harus Nisa sih Iz!”
“Gue bisa jelasin ini Al. Lo jangan terpengaruh begitu aja.” Kata Faiz.
Aldi akhirnya bisa sedikit meredam amarah dan perasaan kecewanya ke sahabatnya ini, “kalo lo memang suka sama Nisa, biar gue yang mundur.” Ucap Aldi serius.
“Waktu itu, gue minta tolong sama Nisa untuk bantu gue nyari kado buat mamah. Karena gue nggatau lagi harus minta tolong sama siapa, sedangkan dulu kalau mamah ulang tahun yang bantu nyari kado kan Adel. Lo tahu gue sekarang udah ngga sama Adel lagi. Nah nisa nyaranin beli gelang itu di toko situ” Faiz menunjuk toko yang ada di seberang jalan.
“Karena jadinya lama, gue sama Nisa ke sini. Kalau masalah gelang itu….” Faiz menarik nafas “Itu buat ucapan terima kasih gue,” cerita Faiz pada Aldi.
“Jadi lo ngga suka sama Nisa?” tanya Aldi kembali untuk memastikan.
“Kalo lo suka sama Nisa, lo cinta sama dia, sebaiknya lo perjuangin ya.” Ucap Faiz menepuk bahu Aldi yang sudah duduk di sampingnya.
“Gue udah berjuang selama ini bangsat.” Jawab Aldi.
“Terus?” Faiz menimpali.
“Nisa belum bisa ngasih jawaban ke gue.” Jawab Aldi jujur.
“Yaelah cemen banget jadi laki, pepet terus dong. Jangan kasih celah.” Kata Faiz yang kembali merebahkan badannya, menyilangkan kedua tangannya menumpu kepalanya.
“Ya ini masih berusaha.” Jawab Aldi kesal.
“Kalo nggabisa udah buat gue aja gitu. Hehe” cengir Faiz.
“Anji*.. emang ba****t lo Iz. Gue dapat foto ini dari Adel, tadi pagi dia ngirimnya.”
Faiz kembali duduk “Apa?” jawabnya kaget.
“Iya, dari Adel.” Kata Aldi kembali.
Faiz memegang dan mencengkeram kuat ujung gazebo yang terbuat dari kayu itu, untuk menahan amarahnya, menahan rasa kecewanya.
Mengapa kau masih bersikap seperti ini? Apa semuanya belum cukup? Harus dengan cara apa lagi agar kau bisa berubah Del?, Batin Faiz.
Nisa masih saja merasa jika penyebab Aldi seperti itu adalah karenanya. Lana hanya bisa mendengarkan kekhawatiran dan kebimbangan perasaan Nisa kepada Aldi. Dia tidak bisa jika harus memihak salah satunya. Nisa adalah sahabat baiknya dan Kak Aldi sudah dia anggap kakaknya sendiri.
Ternyata Aldi salam paham dengan Faiz. Dia tak akan percaya lagi dengan orang lain yang ingin mengadu dombanya. Sudah cukup kemarin persahabatannya hampir rusah karena keegoisannya. Sekarang dan selamanya tidak akan pernah terjadi lagi.
Adel lagi-lagi harus menelan pait usahanya yang gagal untuk menjauhkan Aldi dengan Nisa, menjauhkan Faiz dari Nisa. Dan harus menunggu serta menciptakan kesempatan lagi untuk bisa diterima kembali oleh Faiz.