TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
Canggung.
Satu kata yang tak kunjung lepas dari mereka. Di dalam mobil bertiga tak menjadi masalah, namun tidak untuk saat ini. Jika tabiatnya Kinara memilih untuk duduk di depan, namun duduk kursi penumpang di belakang menjadi pilihannya saat ini. Bahkan Kinara duduk tepat di belakang kursi Vino yang tengah sibuk mengemudikan mobilnya.
"Hem sepi," gumam Vino dalam hati tanpa sadar.
Sepanjang perjalanan tak ada seorang pun yang mau berbicara. Keheningan tercipta secara nyata. Biasanya Kinara akan membuatnya kesal dengan tingkah Kinara yang begitu antusias meminta Vino untuk memutar radio dan menggantinya dengan lagu yang pas.
Namun tidak untuk sekarang. Kinara memilih sibuk menatap jalanan samping yang ramai lalu lalang oleh pengguna jalan. Vino memilih fokus dengan jalanan di depan matanya, sedangkan Gio, sesekali ia melirik ke arah Kinara.
**********
Hari demi hari telah berlalu. Kinara mulai pulih, mulai beraktivitas seperti biasa, kembali ke bangku sekolah seperti sebelumnya.
Dengan berbalutkan satu set seragam olahraga, Kinara berjalan menuju lapangan bersama dengan teman–teman sekelasnya. Canda tawa menguar jelas di antara mereka.
"Rev … Reva!" panggil seorang pemuda yang tak lain adalah Afkhar. Reva berhenti sejenak. Ia menunggu Afkhar yang tengah berlari menghampirinya.
"Ada Ada?" tanga Reva.
Afkhar memandang Kinara dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berhenti sedetikpun. Manik pemuda itu pun menyipit. Dahunya berkerut.
"Kau mau ikut olahraga Rev?" tanya Afkhar ragu.
"Iya."
"Yakin?"
"Iya dong."
"Hem … Gak usah ya." Pada akhirnya Afkhar melarang Kinara secara halus. Ia tak mau hal buruk menimpa Kinara lantaran Kinara belum lama pulih.
"Loh Kenapa?" Kinara heran dengan sikap Afkhar yang melarangnya ssperti itu.
"Ya gak papa. Kan kamu belum lama pulih dari sakitmu."
Kinara mendengkus kesal "Ck lebay! Aku sudah sembuhlah. Lihat ini."
Kinara mulai menggerakkan badannya, melakukan berbagai macam pemanasan untuk meyakinkan Afkhar.
Afkhar menghela napas berat. Rela tak rela ia membiarkan Kinara ikut dalam pelajaran olahraga kali ini.
"ANAK–ANAK SEGERA MERAPAT KE LAPANGAN!!!" teriak seorang guru olah raga.
Mereka semua berkumpul ke titik tengah lapangan itu. Mereka berdiri di bawah terik mentari yang mulai siang. Sinar yang masih sehat itu menembus kulit, memberikan vitamin penting yang bermanfaat untuk kesehatan tulang. Namun sinar itu cukup terik untuk membakar kulit dan mengurangi pasokan air dalam tubuh.
Satu persatu gerakan pemanasan mulai mereka lakukan dengan seorang murid memberikan komando di depan.
"Satu, dua, tiga …"
Hitungan itu terulang berkali–kali, seiring bergantinya gerakan satu ke gerakan lain.
"Aiss kenapa hari ini panas sekali?" gumam Kinara dalam hati.
Kinara mulai mengusap peluh yang berjatuhan membasahi tubuhnya. Berulang kali Kinara menengadah ke langit sembari menyipitkan matanya yang tak dapat menatap sang cahya secara langsung. Rupanya sinar mentari itu cukup panas untuk ia rasakan.
"Astaga … kenapa semuanya mulai berputar dan kabur," keluh Kinara.
Kepalanya pusing. Pandangannya mulai kabur. Kinara menggerakan kepalanya agar pandangannya itu tetap jelas. Pada akhirnya semuanya gelap.
"Reva!" teriak Afkhar yang sedari tadi tak berhenti mengawasi Kinara. Secepat mungkin ia berusaha menopang Kinara agar Kinara tak terjatuh. Kinara tak sadarkan diri dalam topangan Afkhar. Semua siswa mengerumuni mereka berdua.
"Beri ruang untuk Kinara bernapas. Jangan mengerumuninya!" titah sang pahlawan tanpa tanda jasa.
"Segera bawa ke UKS," lanjutnya kemudian.
********
Petugas kesehatan mulai memberikan pertolongan pertama untuk Kinara, mulai dari melonggarkan yang Kenakan dan memberikan bau–bauan ke dekat hidung Kinara, agar Kinara lekas sadar.
"Reva," panggil Afkhar saat Kinara mulai sadar.
"Baiklah, dia sudah sadar. Beri dia minum teh manis hangat, agar tenaganya pulih," titahnya sebelum ia pergi.
"Aisss kubilang juga apa! Kenapa kamu ngeyel sih dibilangin. Jadinya begini kan?" omel Afkhar sembari mengambil segelas teh manis yang telah di siapkan oleh petugas kesehatan.
Tangannya mulai menyendok teh itu dan menyuapkannya pada Kinara. Kinara menyecapnya sedikit demi sedikit.
"Maaf," ucap Kinara tulus. Ia menatap sendu mata Afkhar. Afkha menghela napas kasar.
"Aku yang pingsan kenapa kamu yang ngomel sih!!" ucap Kinara kemudian, menyelidik alasan Afkhar melakukan hal itu padanya.
"Ck! Masih tanya lagi. Dahlah. Ini habiskan ya, aku mau ke toilet dulu."
Kinara pun mengangguk. Ia meminum sisa teh manis hangat itu sampai dirinya benar–benar merasa pulih kembali.
Tbc
Selamat Siang🤗💜
Semoga kalian sehat selalu ya, jaga diri, tetap tersenyum, semoga kesulitan dan luka akan segera pulih, Aamiin.
Salam cinta dari Muniroh dan rekan🤗