Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ia membalaskan dendamnya, namun ia tak pernah menduga akan kembali mengalami kematian dan kehidupan tapi di tubuh orang yang berbeda. penasaran bagaimana alurnya? ikuti terus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima tawaran
Keadaan menjadi kacau saat kedatangan William dengan kabar mengejutkan darinya. Para investor ingin mengambil kembali saham mereka bahkan dua kali lipat. Florin terdiam di tempatnya sambil menatap bimbang ke arah depan.
" William, apa yang kamu katakan?. Jangan bercanda seperti itu!." Stefany masih tidak percaya dengan ucapan William.
Sementara karyawan bernama William itu hanya bisa pasrah karena tidak bisa berbuat apa apa. " Saya berkata jujur Stefany, bahkan dua jam lagi pak Albert akan kemari mengambil sahamnya bersama rekan rekannya. Saya tidak berbohong!." William terlihat menunjukkan dua jarinya membuat tanda sumpah di sana.
Stefany menggeleng cepat, dengan panik ia menuju ke arah Florin yang saat ini hanya diam saja. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.
" Nona, apa yang harus kita lakukan. Saya sudah berusaha untuk mencari cara namun tak ada jalan keluar." terlihat Stefany sedang menangis sekarang. Stefany merasa tidak berguna untuk melindungi Florin dan juga perusahaan Eldes.
" Nona jawab aku, jika nona diam saja aku akan merasa sangat bersalah!." desak Stefany yang panik karena Florin sama sekali tidak menggubris perkataannya. Florin terlihat hanya diam di tempatnya.
" Nona, maafkan saya. Saya gagal melindungi nona. Saya gagal mempertahankan perusahaan ini. Padahal saya sangat dipercaya oleh tuan besar, tapi kenyataannya saya mengecewakan anda." Stefany merasa putus asa dan menyalahkan diri sendiri. Terlihat ia menitikkan air mata penyesalan. Namun perlahan tangan Florin terangkat dan menyentuh bahunya.
" Stefany, hentikan tangisanmu. Aku akan mempertahankan perusahaan ayah. Walau bagaimanapun perusahaan ini adalah hasil kerja keras ayah. Aku akan menyesal seumur hidup kalau sampai menghancurkannya." Ujar Florin tanpa tangisan sedikitpun. Bahkan terlihat bara api menyala dari matanya.
" Bagaimana caranya nona, kita sudah terpojok sekarang dan dua jam lagi para investor itu akan datang ke perusahaan." ungkap Stefany tak berdaya.
" Hanya ada satu cara, aku akan menikah dengan Surender!."
Deg
Stefany spontan berdiri dari duduknya, ia menatap lekat ke arah Florin dengan tatapan tak percaya. " Apa yang anda katakan nona? Jangan melakukan hal bodoh!."
" Ini adalah cara satu satunya Stefany, aku harap kamu mengerti. Kalau perusahaan ini bangkrut, maka aku akan kehilangan kesempatan untuk balas dendam atas kematian ayahku!."
" Nona, saya tidak akan membiarkan anda menikah dengan pria itu! Dia jahat nona. Bahkan pria itu telah terjun ke dunia hitam hanya untuk memperkuat kekuasaan. Saya tidak mau nona hancur di tangannya. Apalagi dia sangat licik bisa saja dia punya rencana jahat pada anda nona." jelas Stefany yang tidak terima dengan Keputusan Florin.
" Stefany, kali ini saja percaya padaku. Aku melakukan semua ini untuk masa depan perusahaan. Hanya dia yang bisa membantuku. Saat ini aku tidak bisa memikirkan apapun selain menerima tawarannya!."
" Tidak nona! Saya tidak akan membiarkan anda menikah dengan pria itu. Kalau nona bersikeras bunuh saja saya nona, baru anda bisa menikah dengan pria itu!." ujar Stefany dengan nada tinggi. Ia sudah berjanji akan melindungi Florin setelah kematian Daniel Eldes, tapi jika Florin menikah dengan musuh ayahnya, ia tidak bisa melindungi Florin. Dan janjinya tidak berguna sama sekali.
" Stefany jangan bicara seperti itu, percayalah padaku. Dia tidak akan berani menyakitiku aku berjanji padamu!." Florin menarik tangan Stefany dan menggenggamnya. Florin mencoba meyakinkan Stefany bahwa ia akan baik baik saja. Florin tidak suka mendengar ucapan Stefany yang berlebihan.
" Tapi nona..."
" Percayalah aku akan baik baik saja. Aku berjanji padamu!." ungkap Florin ia kemudian memeluk Stefany.
Stefany tak bisa membantah lagi, ia tahu bahwa Florin sangat ingin mempertahankan perusahaan ayahnya, dan ia juga tidak punya hak untuk melarang Florin memutuskan jalan apa yang akan diambil olehnya. Walaupun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Florin, tapi kali ini ia akan mengalah. Walaupun begitu ia akan tetap mengawasi Florin.
" Baiklah nona, jika nona sudah memutuskan nya. Saya harap nona tidak gegabah dan memikirkannya dengan baik!. Lalu... bagaimana dengan Wilson nona? Bukankah anda sangat dekat dengannya?." Stefany mulai mengingat Wilson. Pria yang selama ini selalu ada di samping Florin.
Florin terdiam sejenak, kemudian ia berjalan ke arah jendela. Pandangannya menyapu keluar dan melihat bangunan kota yang menjulang tinggi. Terlihat tatapan sedih dari maniknya. " Wilson...aku akan menjelaskan semua padanya saat kami bertemu. Pasti dia akan mengerti!." Terlihat ada kekhawatiran dari hati Florin. Tapi ia tak akan goyah, karena hanya ini satu satunya cara untuk mempertahankan perusahaan dan juga mencari pelaku pembunuh ayahnya.
" Stefany, hubungi Surender dan katakan padanya aku ingin bertemu sekarang!." ujar Florin dengan mantap. Kali ini ia tak akan gentar, jika jalan satu satunya untuk sampai tujuan adalah jalan berduri, maka ia hanya tinggal mengenakan sepatu untuk bisa melaluinya. Akan ia hadapi segala macam mara bahaya demi tercapainya tujuan yang ia inginkan.
Stefany mengangguk pelan, kemudian ia meraih kartu nama Surender yang masih tergeletak di atas meja kerja Florin.
Setelah selesai menghubungi Surender, Stefany melaporkan nya pada Florin. " nona, dia akan datang dalam lima belas menit!."
Florin menyunggingkan senyum miring " Seperti yang aku duga..." ucapnya pelan. Terlihat tatapan licik dari manik Florin. Stefany yang melihat perubahan pada ekspresi Florin merasa heran karena baru kali ini Florin terlihat jahat di matanya. Auranya benar benar berbeda.
.
.
Wilson baru saja tiba di London, ia akan memberantas penghianat yang lagi lagi mau merusak reputasi perusahannya. Saat tiba di London, Wilson tak langsung pulang ke rumah atau ke apartemennya, tapi ia langsung menuju perusahaan. Tak butuh waktu lama, ia akhirnya tiba di perusahaan. Di sana, ia sudah di sambut oleh beberapa orang yang sudah di tangkap yang di duga telah berkhianat padanya.
PLAK
Lima pria yang saat ini sedang berlutut mendapatkan tamparan keras satu persatu dari Wilson.
" Beraninya kalian mempermainkan aku!. Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?. Katakan padaku?." Wilson menarik kerah baju salah seorang diantara mereka dan berteriak.
Antony yang melihat Wilson terlihat emosi mulai merasa tidak enak. Sepertinya suasana hati Wilson sedang tidak baik. Biasanya ia tak pernah berlaku kasar dengan main tangan pada penghianat, melainkan akan langsung mencebloskan mereka ke dalam penjara tanpa mau melihat wajah mereka. Tapi kali ini Wilson terlihat agresif dan marah.
" Ampun tuan, kami hanya di suruh. Kami tidak berdaya dengan ancaman yang kami terima.!" Pria yang kini sedang di pelototi Wilson terlihat gemetaran. Wilson sangat menyeramkan kalau sedang marah. Bisa bisa pria itu akan habis di tangan Wilson.
BUGGG
Sebuah pukulan mendarat di pipi pria yang kini sedang di tawan oleh Wilson. " Apa ada yang lebih menakutkan dari aku di negara ini hingga kau berani berkhianat padaku?. Katakan saja padaku siapa yang menyuruh kalian Hingga kalian berani mengusik harimau hanya karena takut di makan Kucing?." terlihat Wilson tidak main main dengan kemarahannya.
" Tuan Vincent yang menyuruh kami. Dia mengancam akan membunuh keluarga kami kalau tidak menuruti permintaannya. Kami tidak berdaya tuan."
" Pria tua itu!!!." terlihat Wilson sangat geram. Ia masih ingat pada Vincent, pria yang telah ia blacklist dari daftar rekan kerja sama bisnis dengannya.
Perlahan Wilson melepaskan cengkeramannya pada kerah baju pria yang ia tawan, " Kalian hampir saja mempermalukan nama baikku. Tapi aku tahu kalian berada di bawah kendali orang itu. Aku dapat memahami keadaan kalian. Jika kalian ingin aku maafkan. Lakukan sesuatu untukku. Dan keluarga kalian akan aman, aku akan menjaminnya untuk kalian!." Wilson mulai luluh saat mendengar keluhan dari para karyawan yang berkhianat itu. Walau bagaimanapun ia tak bisa kalau menyangkut tentang kemanusiaan. Seseorang yang di ancam dengan sesuatu yang di cintainya memang akan lemah, termasuk dirinya sendiri.
" Baik tuan akan kami laksanakan. Kami akan mematuhi semua perintah anda asalkan anda mau memaafkan kami. Terimakasih sudah memberikan kesempatan pada kami untuk memperbaiki kesalahan kami tuan." terlihat kelima pria itu sangat bahagia hingga menangis terharu.
" Hmm keluarlah. Sebentar lagi Antony akan memberitahu pekerjaan kalian!." ujar Wilson.
Kemudian para karyawan itu keluar dari ruangan.
" Tuan sepertinya suasana hati Anda sedang tidak baik baik saja. Ada apa?." tanya Antony dengan hati hati.
" Antony, apa yang harus aku lakukan agar aku dipercaya? Lihat! aku sangat mudah mempercayai para karyawan yang berkhianat itu, aku yakin mereka jujur dan aku mau memberikan kesempatan kedua pada mereka walaupun aku sangat marah. Tapi kenapa aku sama sekali tidak dipercayai, bahkan aku tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya?." ujar Wilson dengan kesedihan.
" Apa nona Florin tidak percaya pada anda tuan?."
" Ya, dia tidak percaya padaku. Dia menganggap aku seorang pembohong!." ujar Wilson ke arah Antony dengan frustasi.
Antony mulai mengerti sekarang. " Tuan, anda jangan menyerah, saya yakin suatu hari nanti nona Florin akan mempercayai anda."
Wilson hanya diam, ia kemudian duduk bersandar di kursinya sambil memejamkan kedua matanya. " Ini sangat melelahkan Antony!."