NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Jam digital di dinding ruang tunggu rumah sakit menunjukkan pukul 19.48. Setiap detiknya terasa seperti hantaman godam di dada Calista. Ia menatap pintu kaca ICU yang tertutup rapat, di mana di baliknya, detak jantung Ibunya kini sepenuhnya bergantung pada mesin bising yang biayanya tak mampu ia bayar bahkan dengan seluruh tabungan seumur hidupnya. Kartu nama hitam di tangannya terasa panas, seolah-olah benda itu adalah bara api yang siap menghanguskan telapak tangannya yang gemetar.

Dengan napas yang tersengal dan keberanian yang dipaksakan dari sisa-sisa harga diri, Calista menekan nomor yang tertera di sana. Panggilan itu hanya tersambung dua kali sebelum suara bariton yang dingin, yang seakan mampu membekukan udara di sekitarnya, menjawab.

"Keputusanmu?" tanya Denis Satrya tanpa basa-basi, seolah ia sudah tahu pasti jawaban apa yang akan keluar dari bibir gadis itu.

"Aku... aku setuju. Tolong selamatkan Ibu. Lakukan apa pun, asalkan dia tetap hidup," bisik Calista. Suaranya pecah di ujung kalimat, tenggelam dalam kebisingan lorong rumah sakit yang tak peduli.

"Datanglah ke lobi utama. Mobil hitam dengan pelat nomor khusus sudah menunggumu. Jangan membuatku menunggu, Calista. Waktuku lebih mahal dari nyawa yang kau perjuangkan itu."

Hanya itu. Sambungan terputus secara sepihak. Calista merasa dunianya baru saja bergeser dari porosnya, runtuh dan hancur menjadi kepingan tak berbentuk. Ia melangkah keluar dengan kaki yang terasa berat, meninggalkan bau karbol rumah sakit menuju udara malam Jakarta yang lembap dan menyesakkan. Di sana, sebuah sedan mewah berwarna hitam legam telah menunggunya bak peti mati berjalan. Seorang pria berseragam hitam membukakan pintu untuknya dalam diam, tanpa ekspresi, seolah ia hanyalah sebuah paket berharga yang baru saja dibeli oleh tuannya.

Perjanjian Tanpa Ampun

Mobil itu melaju membelah kemacetan, lalu berhenti di depan sebuah kompleks apartemen penthouse yang menjulang tinggi, puncaknya seolah menembus awan gelap yang menggantung di langit. Calista dibawa masuk ke sebuah ruangan luas dengan dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota yang acuh tak acuh. Di sana, Denis Satrya duduk di kursi kulitnya yang megah, menyesap cairan berwarna amber dari gelas kristal yang berkilau di bawah lampu gantung.

"Duduklah," perintah Denis tanpa menoleh. Ia meletakkan selembar dokumen tebal di atas meja marmer yang dingin. "Itu bukti pembayaran penuh rumah sakit Ibumu hingga sembuh total, termasuk biaya operasi bypass dan pemulihan pasca-rawat. Dan di bawahnya... adalah kontrak pernikahan kita."

Calista meraih dokumen pembayaran itu dengan tangan yang gemetar hebat. Air mata haru sempat menggenang saat melihat stempel 'Lunas' dari pihak rumah sakit, namun rasa lega itu segera menguap dan berganti menjadi horor saat ia membaca butir-butir kontrak di bawahnya. Denis tidak hanya menginginkan peran formal di depan keluarganya; ia menginginkan kepemilikan total atas hidup Calista.

Denis berdiri, berjalan perlahan mengitari Calista seperti seekor predator yang sedang menilai setiap inci tubuh mangsanya. "Sebelum kau membubuhkan tanda tanganmu di sana, ada satu hal yang harus kau pahami dengan sangat jelas, Calista. Pernikahan ini bukan hanya sekadar akting sandiwara di depan umum untuk memancing kemarahan keluargaku."

Ia berhenti tepat di belakang Calista, membungkuk hingga napasnya yang beraroma mint dan alkohol mahal terasa panas di ceruk leher gadis itu. Calista bergidik ngeri, jemarinya meremas kuat-kuat rok sekolahnya yang sudah lusuh dan kusam, seolah mencari perlindungan di sana.

"Kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Di depan keluarga Satrya, kau adalah permaisuri arogan yang mereka benci setengah mati. Tapi di balik pintu kamar ini, kau adalah pelayan pribadiku yang patuh. Apapun permintaanku, termasuk... urusan ranjang, kau harus memenuhinya tanpa perlawanan, tanpa bantahan sedikit pun, dan tanpa air mata yang mengganggu pemandanganku."

Darah Calista seolah membeku di dalam pembuluh nadinya. Ia memang polos, namun ia tidak sebodoh itu untuk tidak memahami maksud tersirat dari pria berusia 30 tahun ini. Sebuah pengabdian tubuh yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya dalam mimpi terburuknya sekalipun. Ketakutan itu nyata, membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga ke sumsum tulang. Ia masih 17 tahun, baru saja mengenakan toga kelulusan kemarin sore dengan sejuta harapan tentang masa depan, dan kini ia harus menyerahkan kesucian serta kehormatannya kepada seorang pria asing yang berhati dingin.

"Apakah... benar-benar tidak ada cara lain? Aku bisa bekerja dua puluh jam sehari untuk mencicilnya..." tanya Calista lirih, suaranya hampir hilang ditelan keheningan ruangan itu.

Denis mencengkeram dagu Calista dengan kasar, memaksanya mendongak dan menatap langsung ke dalam mata gelap yang tak memiliki celah belas kasihan. "Cara lain adalah Ibumu akan dinyatakan meninggal besok pagi pukul sembilan karena gagal jantung yang tak tertangani. Pilihannya tetap sama dan sederhana, Calista. Kepolosanmu yang tidak bernilai itu, atau nyawa satu-satunya orang yang kau miliki di dunia ini?"

Bayangan wajah Ibu yang selalu tersenyum meski sedang menahan sakit saat menyuapinya bubur terlintas di benak Calista. Ia membayangkan tangan keriput yang selalu membelai rambutnya setiap kali ia merasa lelah belajar. Demi napas itu, demi detak jantung itu, Calista rela jika dirinya sendiri harus hancur menjadi debu.

"Baik," jawab Calista dengan mata terpejam rapat, membiarkan satu tetes air mata jatuh membasahi jari-jari Denis yang mencengkeramnya. "Aku... aku akan melakukannya. Apapun permintaan Anda. Tapi tolong, pastikan Ibu mendapatkan dokter terbaik dan perawatan yang paling layak."

Denis tersenyum puas sebuah senyum kemenangan yang kejam dan predatoris. Ia melepaskan cengkeramannya dan menyodorkan sebuah pena emas yang berat ke tangan Calista. "Tanda tangani. Mulai malam ini, kau bukan lagi gadis SMA yang malang. Kau adalah Nyonya Satrya, wanita yang akan membuat keluargaku berlutut ketakutan, sekaligus wanita yang menjadi peliharaanku di dalam kegelapan kamar ini."

Dengan tangan yang masih gemetar tak terkendali, Calista menggoreskan tanda tangannya di atas kertas putih yang seakan menjadi surat kematian bagi masa mudanya. Ia tidak hanya menandatangani sebuah kontrak pernikahan; ia baru saja menyerahkan jiwa, raga, dan seluruh masa depannya ke dalam tangan seorang pria yang siap menghancurkannya demi sebuah permainan kekuasaan yang megah. Malam itu, Calista resmi terjebak dalam sangkar emas yang dibangun dari rasa sakit, pengorbanan, dan kenyataan pahit bahwa ia kini telah menjadi milik Denis Satrya, seutuhnya tanpa ada satu pun ruang untuk melarikan diri dari takdir kelam yang menantinya di balik megahnya dinding apartemen ini, di mana setiap napasnya sekarang adalah milik sang penguasa kegelapan.

Penasaran? like dan komen ya 🙏😊❤

1
partini
ngeri ini laki laki macam pesikopat
Sastri Dalila
👍👍👍 seruu juga thor
Sastri Dalila
👍👍👍seru kyknya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!