No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan darah digerbang Sunyi
Gemuruh di langit Lembah Sunyi tidak berasal dari guntur, melainkan benturan energi Yang yang dipaksakan masuk ke dalam wilayah Yin yang murni. Di depan gerbang batu Paviliun Lentera Abadi, kabut hitam yang tadinya tenang kini bergulung-gulung seperti naga yang terusik tidurnya. Tiga siluet berjubah kuning emas dari Sekte Pedang Langit berdiri dengan formasi segitiga, memegang pedang pusaka yang memancarkan cahaya suci untuk mengusir kegelapan.
"Menyingkir, Budak Lembah! Kami tidak punya urusan dengan pelayan seperti kau!" teriak Tetua Pertama, suaranya menggetarkan udara yang dingin, mencoba menutupi ketakutan yang mulai merayap di hatinya.
Bian Zhi berdiri tepat di undakan tangga terakhir. Ia tidak bergeming sedikit pun. Tangan kirinya memegang sarung pedang hitam besarnya yang terbuat dari logam meteorit purba, sementara tangan kanannya masih terjuntai santai di samping tubuhnya. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah ketiga pendekar tua itu seolah-olah mereka hanyalah tumpukan debu yang mengganggu pemandangan.
"Langkah kalian telah melewati batas yang diizinkan," ucap Bian Zhi, suaranya rendah namun bergema di seluruh lembah. "Di sini, keadilan kalian tidak berlaku. Hanya ada hukum kesunyian milik Tuan-ku."
"Sombong! Rasakan "Jurus Sembilan Pedang Matahari!"
Ketiga tetua itu melompat serentak. Cahaya emas meledak dari pedang mereka, membentuk ribuan bayangan pedang yang menghujam ke arah Bian Zhi dari segala penjuru. Tekanan energinya begitu kuat hingga bebatuan hitam di bawah kaki Bian Zhi mulai retak dan hancur menjadi serpihan kecil. Hawa panas dari jurus tersebut mencoba membakar kabut Yin yang melindungi paviliun.
Namun, Bian Zhi tidak menghindar.
Ia justru menutup matanya sejenak. Tepat saat ujung pedang pertama hampir menyentuh lehernya, ia menarik pedang hitamnya secepat kilat—sebuah gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang.
SLAASSHH!
Gelombang energi hitam legam menyapu udara dengan suara mendesis yang mengerikan. Gelombang itu tidak memantulkan cahaya; sebaliknya, ia seolah-olah menghisap semua cahaya emas di sekitarnya. Ribuan bayangan pedang matahari itu hancur seketika, terpotong-potong seperti helaian benang di depan badai. Ketiga tetua itu terbelalak, perisai pelindung spiritual mereka pecah berkeping-keping dalam satu tebasan tunggal.
Mereka terpental mundur belasan meter, memuntahkan darah segar yang langsung membeku saat menyentuh tanah lembah yang dingin.
"Hanya segitu kekuatan dari sekte yang kalian banggakan sebagai 'Cahaya Dunia'?" Bian Zhi melangkah maju. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara, namun bagi ketiga tetua itu, detak jantung mereka seolah-olah mengikuti irama langkah kaki pria berjubah abu-abu itu.
Di balkon atas paviliun, He Xueyi duduk dengan tenang di kursi kristalnya. Ia menyesap teh cendana yang aromanya menenangkan, sama sekali tidak terganggu oleh kekacauan di bawahnya. Tangannya yang pucat memegang sebuah lentera perak yang apinya mulai menari kegirangan, seolah-olah lentera itu bisa merasakan aroma kematian yang mendekat.
"Bian Zhi," panggil He Xueyi tanpa meninggikan suaranya, namun suaranya terdengar jernih di telinga Bian Zhi. "Jangan biarkan mereka mati terlalu cepat. Darah para kultivator tingkat tinggi ini sangat murni. Akan sangat disayangkan jika esensi spiritual mereka menguap begitu saja. Gunakan mereka untuk menyiram benih Teratai Hitam di kolam belakang."
"Hamba laksanakan, Tuan," sahut Bian Zhi dengan kepatuhan yang mutlak.
Ia mengangkat pedang hitamnya tegak lurus ke langit. Awan hitam di atas lembah mulai berputar, membentuk pusaran raksasa yang menelan sisa-sisa cahaya bintang. Ini adalah Jurus Pemakan Jiwa :Malam tanpa Akhir.
"Tunggu! Kami menyerah! Kami akan memberikan harta apapun yang kau mau!" raung Tetua Kedua, wajahnya pucat pasi saat melihat bayangan naga hitam mulai terbentuk dari energi pedang Bian Zhi.
"Di Lembah Sunyi, harta kalian tidak berharga," bisik Bian Zhi, suaranya kini terdengar tepat di belakang telinga mereka. "Satu-satunya hal yang berharga dari kalian hanyalah... jiwa kalian."
Tanpa ampun, Bian Zhi mengayunkan pedangnya secara horizontal. Sebuah garis hitam tipis membelah udara, melewati leher ketiga tetua itu dalam sekejap. Tidak ada teriakan. Hanya suara tubuh yang jatuh ke atas tanah yang keras.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Darah yang keluar dari tubuh mereka tidak mengalir ke bawah, melainkan melayang di udara, membentuk butiran-butiran merah yang kemudian tertarik masuk ke dalam lentera yang dipegang He Xueyi. Esensi spiritual mereka, hasil dari latihan keras selama ratusan tahun, kini diserap paksa untuk menjadi bahan bakar abadi di Paviliun Lentera.
He Xueyi tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang jarang terjadi. "Koleksi malam ini cukup memuaskan. Bian Zhi, bersihkan sisa-sisa tulang mereka. Aku tidak ingin ada sampah yang merusak estetika gerbang depan saat aku menyambut tamu yang sesungguhnya besok."
"Siapa tamu itu, Tuan?" tanya Bian Zhi sambil menyarungkan kembali pedangnya.
He Xueyi menatap ke arah kejauhan, ke arah perbatasan lembah di mana kabut mulai menipis. "Seseorang yang membawa kunci dari segel yang retak. Seseorang yang sudah lama kunanti dalam kesunyian ini."
Kabut kembali menutup, menyembunyikan Paviliun Lentera Abadi dalam kegelapan. Lembah Sunyi kembali menjadi sunyi, seolah-olah pertumpahan darah barusan hanyalah sebuah mimpi buruk bagi mereka yang berani menantang takdir.
Darah yang membeku di atas tanah hitam Lembah Sunyi seolah menjadi magnet bagi entitas-entitas tak kasat mata yang menghuni sela-sela kabut. Bian Zhi berdiri tegak, membiarkan ujung pedang hitamnya meneteskan cairan merah yang kental, sementara napasnya tetap teratur, seolah-olah ia baru saja melakukan latihan ringan, bukan membantai tiga tetua dari sekte terkemuka.
"Kalian tidak pernah belajar," gumam Bian Zhi sambil menatap tubuh-tubuh yang kini tidak bernyawa itu. "Dunia luar terlalu silau oleh cahaya palsu, sampai kalian lupa bahwa kegelapan adalah tempat asal segala sesuatu bermula."
Di balkon paviliun, He Xueyi berdiri perlahan dari kursi kristalnya. Gerakannya sangat anggun, seolah-olah ia adalah bagian dari angin malam itu sendiri. Ia melangkah menuju tepi balkon, menatap ke bawah ke arah Bian Zhi.
"Seret mereka ke akar Pohon Jiwa Hitam, Bian Zhi," perintah He Xueyi, suaranya kini terdengar lebih dingin dari sebelumnya. "Akar-akar itu sudah terlalu lama kering. Darah para pendekar yang sombong ini akan menjadi nutrisi yang bagus agar bunga-bunganya mekar sebelum gerhana tiba."
Bian Zhi membungkuk hormat. "Hamba mengerti, Tuan. Namun, hamba merasakan ada aura lain yang mengintai di balik kabut tebal di luar gerbang. Seseorang yang jauh lebih kuat dari ketiga serangga ini."
He Xueyi menyipitkan matanya. Ia mengangkat lenteranya tinggi-tinggi, membiarkan pendaran apinya menembus kabut hingga ratusan meter ke depan. "Ah, si pencari keadilan yang lain. Biarkan dia melihat. Biarkan dia membawa kabar ke seluruh daratan kultivasi bahwa Lembah Sunyi bukanlah tempat untuk bermain-main. Siapa pun yang berani menginjakkan kaki di sini tanpa undangan, hanya akan menjadi pupuk bagi tanaman abadi kita."
Tiba-tiba, suara tawa yang parau terdengar dari balik kegelapan kabut. Seorang pria tua dengan rambut putih yang acak-acakkan muncul. Ia tidak mengenakan jubah emas seperti ketiga tetua tadi, melainkan pakaian compang-camping yang penuh dengan tambalan. Namun, energi spiritual yang terpancar darinya begitu masif hingga membuat tanah di sekitarnya bergetar.
"Luar biasa... benar-benar luar biasa," ucap pria tua itu sambil bertepuk tangan pelan. "Asisten seorang penjaga lembah mampu membantai tiga tetua Sekte Pedang Langit dalam satu tebasan. He Xueyi, kau benar-benar menyembunyikan monster di tempat ini."
He Xueyi menatap pria itu dengan tatapan datar. "Tuan Tua Han, aku tidak menyangka kau masih hidup. Kupikir kau sudah mati dalam meditasi tertutupmu seratus tahun yang lalu."
"Aku hampir mati, Xueyi. Tapi rasa penasaranku pada Lentera Segel Langit jauh lebih besar daripada keinginanku untuk beristirahat," sahut Tuan Tua Han dengan seringai licik. "Berikan padaku satu pil saja, dan aku akan pergi dari sini tanpa perlu membuat keributan."
"Kau tahu aturannya, Han," balas He Xueyi sambil memutar lenteranya perlahan. "Di sini tidak ada yang gratis. Jika kau menginginkan keabadian, kau harus menyerahkan nyawamu sendiri sebagai bayarannya. Apakah kau siap untuk itu?"
Tuan Tua Han tertawa terbahak-bahak, namun tangannya diam-diam mulai mengumpulkan energi spiritual yang sangat panas. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah asistenmu ini bisa menghentikanku!"
Bian Zhi segera memasang kuda-kuda, pedang hitamnya mengeluarkan dengungan rendah yang mengerikan, siap untuk pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya. Pertempuran di depan gerbang baru saja memasuki babak yang paling mematikan.