Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.
Malam harinya, Zee tidak bisa benar-benar tidur dengan nyenyak. Bayangan foto itu terus terlintas di pikirannya, sebuah pintu transparan yang muncul dan hanya di lihat dalam hasil cetakan kamera analog tua. Dia sudah berulang kali memastikannya, bahkan sampai keluar ke halaman belakang dengan senter di tangannya hanya untuk memastikan ulang.
Namun hasilnya tetap sama, sumur itu tetap kosong, tidak ada pintu, cahaya aneh dan tidak ada apapun disana selain sumur tua kering yang sunyi.
Zee kembali ke kamarnya dengan langkah pelan. Dia meletakkan foto itu di atas meja, menatapnya lama sebelum akhirnya memalingkan wajahnya. "Besok saja, terlalu banyak yang harus di lakukan." gumamnya pelan.
Keesokan paginya, Zee bangun lebih awal dari biasanya. Udara terasa lebih segar setelah semalaman dia hampir tidak benar-benar terlelap. Namun kali ini, Dia mencoba menyingkirkan perasaan ganjil yang menganggu pikirannya.
Ada hal yang lebih masuk akal untuk di lakukan yaitu gudang dan sumur itu.
Setelah menyeduh secangkir teh hangat, Zee mengambil ponselnya. Jemarinya sempat ragu sejenak, lalu dia membuka daftar panggilan terakhir.
Nama itu masih ada disana, Pak Rahman. Zee lalu menekan tombol panggil.
T****UUT... TUT...
"Assalamualaikum, Pak Rahman."
"Wa'alaikum salam," jawab suara yang familiar di seberang sana. "Oh, Nak Zee ya?"
"Iya, Pak. Maaf mengganggu lagi, saya mau minta bantuan lagi, Pak kalau Bapak berkenan." ucap Zee sopan
"Silakan, ada yang bisa dibantu lagi?"
Zee melirik ke arah belakang rumahnya, seolah Dia bisa melihat gudang itu dari tempat berdirinya. "Gudang belakang rumah saya Pak, kondisinya sudah sangat lama tidak di pakai. Banyak bagian kayunya lapuk, atapnya juga sepertinya perlu diperbaiki."
Zee berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada sedikit lebih pelan. "Dan, saya juga ingin memperbaiki sumur di belakang gudang juga Pak. Walaupun sudah kering, tapi saya ingin merapikannya, setidaknya aman dan tidak terlihat terbengkalai"
Pak Rahman terdiam sejenak, seperti sedang membayangkan kondisi yang dimaksud. "Baik Nak, itu memang sebaiknya diperbaiki. Gudang yang lama kalau dibiarkan bisa jadi berbahaya, apalagi kalau kayunya sudah rapuh." jawab Pak Rahman
"Untuk sumur juga bagus kalau dirapikan, minimal ditutup atau diperkuat bagian luar bibirnya." lanjut Pak Rahman.
"Iya Pak, saya juga kepikiran seperti itu, walaupun tidak di tutup permanen setidaknya di tutup pakai papan saja Pak." Ucap Zee
"Kalau begitu, saya bisa datang lagi untuk lihat kondisinya dulu. Mungkin siang ini atau besok pagi ya, Nak Zee." Kata Pak Rahman.
"Hari ini saja, tidak apa-apa Pak. Saya di rumah saja kok," jawab Zee cepat.
"Baik, nanti siang saya ke sana."
"Terima kasih banyak, Pak."
Telepon pun berakhir.
Menjelang siang, suara motor kembali terdengar di depan rumah. Zee yang sudah menunggu sejak tadi langsung keluar menyambut.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Rahman sambil turun dari motor. "Kita langsung lihat kebelakang saja ya, Nak."
Zee mengangguk dan mempersilahkan.
Langkah mereka pelan menyusuri sisi rumah menuju halaman belakang. Semakin mendekat, suasana terasa sedikit berbeda lebih sunyi dan lebih dingin meskipun matahari bersinar cukup terik.
Pak Rahman berhenti di depan gudang. "Hmmm," gumam Pak Rahman sambil mengamati. "kayunya memang sudah banyak yang lapuk. Ini sebaiknya diganti sebagian, tidak cukup hanya diperbaiki."
Zee mengangguk. "Tidak apa-apa, Pak. Yang penting kuat, tahan lama dan bisa di pakai lagi."
Pak Rahman lalu melangkah sedikit ke arah sumur. Dia berdiri di tepiannya, melihat ke dalam sumur yang gelap dan kering.
"Sumur ini sudah lama tidak dipakai, ya?" tanya Pak Rahman
"Iya Pak, sudah sejak lama," jawab Zee pelan.
Entah kenapa, matanya tanpa sadar melirik ke arah titik yang sama seperti di foto itu. Tepat di atas mulut sumur. Walaupun hasilnya tetap kosong tidak ada pintu transparan.
"Kalau mau diperbaiki, kita rapikan bagian atasnya saja, mungkin juga diberi penutup atau pagar pengaman, dan mungkin bisa buat semacam rumah kecil sehingga sumurnya ada di dalamnya biar tidak berbahaya." lanjut Pak Rahman
Zee mengangguk. "Iya Pak, saya mau seperti begitu."
Pak Rahman menepuk-nepuk bibir sumur, lalu berdiri kembali. "Baik, nanti saya siapkan bahan dan orang-orangnya. Mungkin pengerjaannya dua sampai tiga hari saja."
"Baik, Pak." Namun saat mereka hendak berbalik, Zee tiba-tiba merasa sesuatu, seperti ada angin tipis yang lewat.
Padahal udara siang ini sangat terik. Dia menoleh cepat ke arah sumur. Hening, tak ada apa-apa. Namun entah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Seolah, sesuatu sedang menunggu, dan tanpa Dia sadari, langkahnya berhenti.
Zee masih berdiri beberapa detik lebih lama dari Pak Rahman. Tatapannya belum lepas dari sumur itu. Perasaan aneh tadi, masih tersisa.
"Kenapa, Nak?" suara Pak Rahman membuyarkan lamunannya.
Zee tersentak kecil, lalu menggeleng cepat. "Eh, tidak, Pak."
"Mungkin cuman perasaan saja ku saja."
Pak Rahman tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengangguk pelan, lalu kembali membahas rencana pekerjaan.
"Kalau begitu, besok pagi saya mulai kirim bahan dulu. Siangnya kita langsung kerjakan. Gudang kita perkuat rangka, atapnya diganti. Untuk sumur, kita buatkan saja rumah kecil dan kasih penutup yang aman."
Zee mengangguk. "Baik, Pak. Saya serahkan semuanya ke Bapak saja."
Setelah semuanya disepakati, Pak Rahman pun berpamitan. Suara motornya perlahan menjauh, meninggalkan kembali keheningan di rumah itu.
Siang beranjak sore. Zee kembali ke dalam rumah, mencoba mengalihkan pikirannya dengan merapikan beberapa barang yang baru datang dari pesanannya. Kardus-kardus di buka, peralatan dapur disusun, dan beberapa furnitur kecil mulai ditempatkan.
Namun pikirannya tetap kembali ke satu hal. Foto itu, Zee menghentikan kegiatannya, lalu berjalan menuju meja di kamarnya. Foto hasil kamera analog tua itu masih tergeletak di sana.
Dia mengambilnya perlahan. Menatapnya lagi pintu transparan itu, masih terlihat sama, tidak berubah, tidak memudar, Sama, tapi jelas ada.
Zee menelan ludah. "Kalau ini bukan halusinasi, lalu apa?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas. Dia bergegas mengambil kamera analog itu lagi. Langkahnya cepat menuju halaman belakang rumahnya. Kali ini, tanpa ragu, Dia langsung mengarahkan kamera ke arah sumur yang sama.
KLIK... KLIK...
Satu foto lagi diambil. Zee menunggu, beberapa saat terasa lebih lama dari biasanya.
Hingga akhirnya, hasil cetakan itu perlahan muncul. Tangannya sedikit gemetar saat mengambilnya, dan saat dia melihatnya, nafasnya kembali tertahan.
Pintu transparan itu masih ada, namun tidak sama seperti sebelumnya. Kali ini, bentuknya terlihat lebih jelas seolah-olah semakin nyata.
Zee mundur satu langkah. Matanya tak berkedip menatap foto itu. "I-ini, berubah."
Perlahan, Dia mengangkat wajahnya. Menatap langsung ke arah sumur dan masih tetap kosong tidak ada apapun disana.
Perasaan itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya. Seolah ada sesuatu di sana, yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa, dan entah kenapa Zee merasa pintu itu bukan sekedar hanya muncul di foto, tapi perlahan sedang mencoba muncul ke dunia nyata.
Zee berdiri terpaku beberapa saat. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan ujung rambutnya. Namun dingin yang Dia rasakan bukan berasal dari angin itu.
Matanya masih tetap tertuju pada sumur kosong seakan tidak percaya. Karena foto di tangannya berkata lain.
Perlahan, Zee menunduk kembali, menatap hasil cetakan yang baru saja Dia ambil. Pintu itu kini terlihat semakin jelas. Garis-garis bingkainya lebih tegas, dan pantulan cahayanya tampak lebih nyata, seolah benar-benar ada di sana, hanya saja tersembunyi dari mata biasa.
Jantungnya berdegup lebih cepat. "Apa sebenarnya yang yang di sumur itu..." bisiknya pelan.
Zee tanpa sadar melangkah mendekati sumur. Satu langkah, dua langkah dan semakin dekat.
Udara di sekitar sumur terasa berbeda, lebih dingin, lebih berat, seperti ada sesuatu yang menekan pelan ruang di sekitarnya.
Zee berhenti tepat di bibir sumur. Dia menatap ke bawah, gelap, kosong dan tak ada apa pun selain bayangan hitam yang dalam.
Namun saat Dia mengangkat kembali pandangannya ke arah ruang di atas sumur untuk sesaat, Dia merasa seperti melihat sesuatu yang samar dan sekilas.
Seperti kilatan tipis, menyerupai permukaan kaca yang memantulkan cahaya. Zee tersentak mundur selangkah. "Nggak... ini nggak mungkin."
Nafasnya mulai tidak teratur. Dia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi dengan cepat dan ternyata kosong, tidak ada apa-apa.
Namun perasaan itu tetap ada. Perasaan bahwa Dia tidak sendirian di sana. Malam pun tiba lebih cepat dari yang dia sadari.
Zee memilih masuk ke dalam rumah lebih awal. Dia mengunci pintu belakang, memastikan semuanya sudah tertutup rapat. Lampu-lampu di nyalakan, seolah cahaya bisa mengusir kegelisahan yang mulai tumbuh.
Tapi pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan foto dan pintu itu, dan perubahan yang terjadi.
Zee duduk di ruang tengah, kedua foto itu tergeletak di atas meja di depannya begitu saja. Dia mencoba membandingkan keduanya.
Foto pertama, pintunya tampak samar. Dan foto kedua, semuanya terlihat lebih jelas dan nyata. "Kalau aku foto lagi besok..." gumamnya pelan. Kalimat itu menggantung.
Zee tidak yakin ingin tau jawabannya, namun rasa penasarannya jauh lebih kuat.
Keesokan harinya, suara aktifitas kembali terdengar di halaman belakang. Pak Rahman datang bersama empat pekerjanya, membawa kayu, semen, dan berbagai peralatan.
Renovasi di mulai. Gudang dibongkar sebagian. Kayu-kayu lapuk diganti, atap di perbaiki. Suara palu dan gergaji kembali memenuhi udara.
Zee mencoba fokus membantu seperlunya. Tapi sesekali, pandangannya selalu kembali ke arah sumur.
Dia memperhatikan saat Pak Rahman mendekat ke sana, mengukur, lalu mulai merapikan bagian bibir sumur untuk membangun gazebo seperti rumah.
"Awas, Pak. Bagian itu agak rapuh," ucap Zee mengingatkan.
"Iya, saya lihat," jawab Pak Rahman sambil jongkok di tepinya.
Saat itulah, tiba-tiba Pak Rahman berhenti. Tangannya menggantung di udara, seperti merasakan sesuatu.
Zee langsung menyadarinya. "Kenapa, Pak?"
Pak Rahman tidak langsung menjawab. Dia menoleh perlahan ke arah sekitar sumur, lalu berdiri. "Hmm..." gumamnya pelan.
Zee menegang. "Ada apa, Pak?"
Pak Rahman menggeleng kecil, tapi wajahnya sedikit berubah. "Entah kenapa, di sini terasa agak dingin ya," kata Pak Rahman pelan.
Jantung Zee langsung berdegup keras. Dia menatap sumur itu lagi. Kali ini dengan perasaan yang jauh lebih berbeda, karena sekarang bukan hanya Dia yang merasakannya.