Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik tirai putih
Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti. Ghibran tersentak, dengan cepat ia menutup kembali laci rahasia di bawah tempat tidur dan merapikan sprei yang sempat tersingkap. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena jatuh cinta, melainkan karena beban rahasia yang baru saja ia temukan. Foto Azlan dengan wanita bernama Zivanna itu seolah membakar saku jasnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Aira keluar dengan wajah yang masih basah, mengenakan gamis tidur berbahan satin yang longgar namun tetap elegan. Rambutnya yang biasanya tertutup hijab kini tergerai, sedikit lembap di ujungnya. Wangi sabun melati yang lembut seketika memenuhi kamar yang semula terasa apek oleh kecanggungan.
Ghibran tertegun sejenak. Ini pertama kalinya ia melihat Aira tanpa hijab. Ada sisi rapuh yang terpancar dari wajah istrinya, namun juga ada ketegasan yang dingin di matanya yang sembab.
"Kakak belum tidur?" tanya Aira datar. Ia berjalan menuju meja rias, sengaja menghindari kontak mata dengan Ghibran.
"Belum. Masih ada beberapa laporan kantor yang harus kutinjau," jawab Ghibran, berusaha menormalkan suaranya. Ia duduk di kursi kerja, membuka laptopnya hanya sebagai tameng agar tidak perlu menatap Aira terlalu lama.
Aira mulai menyisir rambutnya dengan perlahan. Gerakannya mekanis, seolah pikirannya melayang jauh ke pusara Azlan. "Kak Azlan dulu selalu bilang, dia ingin aku tetap mendesain baju setelah menikah. Dia tidak ingin aku hanya diam di rumah."
Mendengar nama Azlan, rahang Ghibran mengeras. Pesan tentang bayi dan foto nikah siri itu berputar-putar di kepalanya. Azlan, apa yang sebenarnya kamu lakukan? batin Ghibran geram. Ingin rasanya ia berteriak pada Aira bahwa pria yang ia tangisi tidaklah sesempurna yang ia bayangkan, namun ia tahu, kejujuran itu akan menghancurkan kewarasan Aira saat ini.
"Aku tidak akan melarangmu bekerja, Aira," sahut Ghibran tanpa menoleh. "Selama kamu bisa menjaga nama baik keluarga Al-Husayn."
"Nama baik," gumam Aira sinis. "Hanya itu yang Kakak pikirkan, kan? Persis seperti Baba."
Aira berdiri, hendak menuju tempat tidur. Namun, karena lantai yang sedikit licin akibat sisa air dari kakinya, ia terpeleset. "Ah!"
Dengan refleks yang cepat, Ghibran melompat dari kursinya dan menangkap pinggang Aira sebelum wanita itu menghantam lantai. Tubuh mereka bertabrakan. Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka hilang.
Aira mematung, tangannya refleks mencengkeram lengan kekar Ghibran. Ia bisa merasakan hangatnya napas Ghibran di keningnya, dan aroma parfum wood and musk yang maskulin—sangat berbeda dengan aroma parfum jeruk yang biasa dipakai Azlan.
Ghibran menatap mata Aira. Ada kilat ketakutan, duka, dan sesuatu yang asing di sana. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat hening. Keheningan yang membuat detak jantung mereka terdengar saling bersahutan. Ghibran bisa merasakan getaran di tubuh Aira yang kecil.
"Hati-hati," bisik Ghibran. Suaranya yang biasanya berat dan dingin kini terdengar sedikit serak.
Aira segera melepaskan diri begitu ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Pipinya merona merah—campuran antara malu dan perasaan bersalah karena merasa sedikit "gugup" di pelukan pria yang bukan Azlan.
"Terima kasih," ujar Aira cepat-cepat, lalu naik ke tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, membelakangi Ghibran.
Ghibran kembali ke kursinya, namun ia tak lagi bisa fokus pada layar laptop. Ia menyentuh dadanya yang berdegup tak beraturan. Sial, umpatnya dalam hati.
Keesokan Harinya, Kantor Unit Bisnis Al-Husayn.
Azka masuk ke ruangan Ghibran dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. Tidak ada candaan tentang "kanebo kering" hari ini. Ia mengunci pintu ruangan dan duduk di hadapan Ghibran.
"Ghib, gue sudah telusuri nomor yang kirim pesan ke ponsel Azlan," bisik Azka. "Nomor itu terdaftar atas nama Zivanna Azzalea. Dia seorang perawat di klinik dekat perbatasan kota. Dan lo tahu apa yang lebih gila?"
Ghibran menatap Azka tajam. "Apa?"
"Dia bukan orang sembarangan. Dia adalah anak dari salah satu pengurus lama di pesantren kita yang dulu dipecat Baba karena kasus penggelapan dana. Sepertinya Azlan menjalin hubungan dengannya secara sembunyi-sembunyi selama hampir dua tahun."
Ghibran memijat pelipisnya. "Apa keluarga Aira tahu soal ini?"
"Sejauh ini aman. Tapi, Ghib... Abrisam dan Haziq sepertinya menyembunyikan sesuatu yang lebih besar. Tadi pagi gue lihat mereka membawa beberapa tas besar dari apartemen pribadi Azlan. Mereka seperti mau menghilangkan jejak."
Tiba-tiba, ponsel kantor Ghibran berdering. Panggilan dari resepsionis.
"Maaf, Pak Ghibran. Ada seorang wanita bernama Shakira Qiana di lobi. Dia mengaku sebagai teman dekat Pak Azlan dan ingin bertemu Anda. Katanya ini soal 'amanah terakhir' Pak Azlan."
Ghibran dan Azka saling berpandangan.
"Suruh dia naik," perintah Ghibran singkat.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan pakaian dokter masuk ke ruangan. Shakira Qiana. Ia tampak tenang, namun matanya memancarkan kecerdasan yang waspada.
"Langsung saja, Pak Ghibran," ujar Shakira tanpa basa-basi setelah duduk. "Saya tahu Azlan menikahi Aira karena terpaksa oleh tradisi keluarga Syarif. Tapi saya di sini bukan untuk membahas itu. Saya di sini karena Azlan menitipkan dokumen medis aslinya kepada saya."
Shakira meletakkan sebuah amplop kuning di meja. "Azlan tidak meninggal karena serangan jantung biasa. Dia diracun secara perlahan dengan dosis kecil arsenik selama berbulan-bulan. Dan pelakunya... kemungkinan besar adalah seseorang yang sangat dekat dengan lingkaran dalam pesantren."
Happy reading sayang...
Baca cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂