Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 3
Aabid membelokkan langkahnya yang gontai ke sebuah kedai kopi yang terlihat masih buka di waktu yang bahkan sudah menjelang pagi.
"Kopi, satu," pintanya pada pemilik kedai yang sudah berusia sekitar 50 tahun begitu ia mendudukkan diri di kursi.
"Udah mau tutup, Mas."
"Oh." Aabid bangkit hendak melangkah pergi.
Sebagai seorang polisi yang sedang dilanda kesakitan, ia tetap menjaga kesopanan, tak mau memaksa atau menggunakan jabatan untuk mengancam.
"Tapi kalau satu cangkir saja tidak apa-apa. Sepertinya Mas nya capek, baru jalan jauh, ya? Rumahnya mana?Mau kopi susu apa kopi hitam?" Pertanyaan yang terdengar membuat Aabid menghentikan langkah, ia merasa lega akhirnya dahaganya bisa terobati juga.
"Pahit," jawab Aabid kembali menduduki kursi.
"Oh, iya, sebentar."
Melihat raut wajah Aabid yang begitu suram sekaligus tak bersahabat, wanita berkerudung hitam itu cepat-cepat membuat kopi untuk Aabid, sebuah cup diberikan padanya, bukan cangkir.
"Mas bisa minum di sini, karena saya mau tutup jadi saya kasih cup saja, ya, silahkan." Dengan ramah wanita itu menjelaskan, sembari meletakkan cup kopi di hadapan aabid.
"Terimakasih, saya tidak membawa uang. Ambil jam ini sebagai bayaran," kata Aabid setelah melihat seorang anak yang tertidur dan hendak digendong wanita tersebut.
"Oh, nggak usah, itu terlalu mahal, kopi berapa, sih. Saya ikhlas."
"Mungkin Anda tidak butuh, tapi anak Anda."
Wanita itu hanya tersenyum.
"Sebaiknya tidak membawanya untuk berjualan di tengah malam. Udara malam tidak bagus, banyak polusi juga, tempat ini juga tidak bagus untuk anak seusianya," tegur Aabid.
"Cucu, ini cucu saya. Dia yatim piatu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Jadi terpaksa saya bawa."
Aabid tercekat. Ada rasa bersalah menaunginya.
"Ya, maaf, cucu Anda butuh uang untuk pendidikan, misal." Dengan sungkan Aabid kembali berujar.
"Cucu saya tidak sekolah, dia ada keterbatasan."
Aabid kembali terdiam, melihat senyum yang tak pernah memudar dari wanita paruh baya itu dengan keadaan demikian membuatnya sedikit malu.
"Meskipun ada kekurangan, dia harus tetap sekolah, ambil saja, Bu." Lagi, Aabid menyodorkan jam tangan mahal, merk ternama.
Namun, dengan kedua tangannya wanita itu menolaknya.
"Iya, saya mengerti, mungkin tahun depan saya akan mendaftarkan cucu saya sekolah. Tapi, kopi ini, saya tidak menjualnya dengan harga mahal. Anggap saja sedekah. Saya orang biasa dan tidak punya, tapi juga pengen sedekah. Kalau tidak dengan cara ini lalu dengan apa lagi saya sedekah," ujarnya tersenyum ramah.
Ucapan wanita tersebut mampu membuat Aabid yang sebelumnya murung tersenyum tanpa sadar.
"Saya terima ini sebagai sedekah. Terimakasih atas kopinya."
Usai mengangguk dan tersenyum wanita itu pun meninggalkan tempat, dengan menggendong cucu perempuan yang tertidur lelap.
Aabid terus menatap kedua wanita yang tampak baik-baik saja dengan ujian yang menurut Aabid begitu luar biasa.
Bahkan, tak sembarang orang bisa menjalaninya.
Detik selanjutnya ia beralih menatap dirinya sendiri. Rasa malu berkecamuk, melihat dirinya yang bahkan hampir kehilangan kendali dan akal hanya karena wanita tak tahu diri.
***
Sebuah mobil masuk ke halaman rumah Aabid, dua orang turun dari sana dan mbok utun segera menyambut mereka.
"Pak, Bu, syukurlah sudah datang."
"Di mana Aabid, Mbok? Mana anak saya?" tanya arumi begitu turun dan melihat mbok utun.
Tak berbeda jauh dari ibu-ibu pada umumnya yang akan khawatir jika sesuatu menerpa anaknya.
Begitu juga dengan wanita bernama Arumi, ia bahkan tak bisa tidur semalaman memikirkan Aabid yang tak mau bicara dalam kondisi memprihatinkan.
"Itu yang Mbok nggak tau. Semalam Den Aabid nggak pulang sampai sekarang. Mbok juga bingung, Mbok telepon nggak diangkat. Terus hpnya mati sekarang."
"Astaga, Aabid." Arumi sempoyongan, ia hampir tak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri.
"Brandal!" gumam pria bertubuh tegap sambil menopang tubuh lemah sang istri.
"Mbok, bawa ibu masuk, biar saya yang cari anak manja itu."
"Mas kamu mau apakan Aabid? dia anak kita satu-satunya," ujar Arumi bertanya pada suaminya, mengingat keduanya tak begitu dekat dan sering bersi tegang Arumi pun mulai cemas kala kemarahan sang suami terlihat jelas.
"Memberi pelajaran, bahwa hidup tak selalu sesuai keinginannya terus!" jawab Pria berbadan tegap pemilik nama Pradipta itu, lalu bergegas menuju mobil.
Namun, saat ia hendak memasuki mobil, mobil lain terlihat masuk dan berhenti tepat di sebelah mobil yang hendak ia tumpangi.
"Dipta...," panggil lelaki yang keluar dari mobil yang baru saja datang itu.
"Lesmana!" gumam pradipta sembari meremas kedua tangannya, geram.
"Kau sudah kembali? Syukurlah kalau begitu," kata Lesmana yang hanya dianggap sebuah basa-basi tak berguna oleh pradipta.
"Untuk apa kamu ke mari? Apa urat malumu sudah putus?!" Kalimat tajam dilontarkan oleh pradipta pada rekan bisnis sekaligus besannya itu.
"Dip, kamu jangan emosi. Aku rasa masih ada yang perlu diluruskan lagi. Mereka masih labil, tidak seharusnya kita sebagai orang tua gegabah. Ini pasti ada kesalahpahaman," jelas Lesmana sembari memegang kedua pundak pradipta, meyakinkan.
"Diam, Lesmana! Aku tahu betul siapa Aabid. Dia tidak akan menuduh tanpa bukti dan fakta yang jelas. Aku kira Radina bisa menjaga diri sebagai penyandang bhayangkari sekaligus menantu keluarga pradipta. Tapi, nyatanya, kelakuannya benar-benar menjatuhkan harga diri kami semua! Memalukan," ujar pradipta sambil menepis kasar tangan yang ada di pundaknya itu.
"Mas dipta, kita bicarakan dulu. Semua masalah pasti ada solusinya. Radina tidak mau bicara sejak Aabid mengusirnya semalam. Dari kesedihan yang dialami, aku yakin, ada yang tidak beres. Maka dari itu, akan lebih baik kalau kita bicarakan dengan kepala dingin."
Kini, wanita dengan dandanan mentereng khas sosialita yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibu dari Radina ikut angkat bicara.
"Ada hal, yang butuh sebuah pembicaraan dalam menyelesaikannya dan ada pula yang dibutuhkan tindakan. Saya rasa apa yang dilakukan Aabid sudah di luar batas. Aabid sudah mengambil keputusan dan itu yang paling tepat." Arumi tak mau kalah, ia pun ikut menimpali.
Kini perdebatan antara kedua orang tua yang mau tidak mau harus turut serta karena pernikahan berawal dari mereka itu pun terjadi, bahkan semakin panas kala emosi pradipta semakin membuncah mendengar kalimat demi kalimat yang seolah berbalik memojokkan pihaknya.
"Aabid tidak bisa dengan mudah meninggalkan Radina. Dia sudah berjanji pada kami kalau dia akan menerima Radina, sepenuhnya. Seharusnya ia mau mendengar penjelasan Radina."
"Penjelasan yang bagaimana lagi, Lesmana? Apa kamu buta, anak kamu berselingkuh dengan pria lain. Di kamar anak saya!" ujar pradipta dengan dada naik turun dan napas memburu, kesabarannya seolah sudah tak ada saat berhadapan dengan orang yang sebelumnya cukup dekat dengannya itu.
"Itu versi Aabid, dia hanya sedang panas dan cemburu. Jadi kita perlu menjadi penengah, bukan malah membakar emosi Aabid, Dip."
Bukan tahu diri namun justru menggurui yang dilakukan Lesmana kali ini.
"Radina itu korban, seharusnya Aabid mendampingi bukan justru mempermalukannya di hadapan atasan seperti semalam. Kita ...."
"Jika hanya membedakan mana korban dan mana lawan saya masih mampu!" seloroh Aabid yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah mobil.
Wajah kusut masih menghiasi lelaki bergelar perwira itu.
Semua menoleh ke arah Aabid.
Melihat kedatangan putranya Arumi pun segera berlari, menghambur, dan memeluk Aabid.
"Aabid, kamu baik-baik saja, Nak?" tanyanya dengan derai air mata, sembari mengusap wajah Aabid, tatapan penuh iba dan keprihatinan diberikan pada anak semata wayang yang kini tampak menyedihkan.
Sungguh hati Arumi tak kalah tercabik melihat luka yang tergambar di wajah putranya, yang sudah pasti begitu perih dirasakan putranya itu.
double up Thor 🙏
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣