Bias Fajar Angkasa
&
Marsya Nanda Pramudita
ORION
Berawal dari sebuah pertengkaran antara seorang ketua geng motor yang bernama Angkasa dengan seorang ratu wacana bernama Marsya. Membuat keduanya saling dekat.
Apakah dihati mereka akan hadir perasaan saling suka ataukah tidak?
Disini juga menceritakan kehidupan suatu club motor di SMA Respati yang benama ORION.
Dengan semboyan mereka yaitu :
Dimana bumi dipijak, disitu kami melangkah.
Jangan lupa vote, like, and komennya ya!
Ini adalah novel kedua yang aku buat.
Semoga kalian suka sama ceritaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUSIMASE TABATI
...Kumpulan Siswa Males Sekolah Tapi Baik Hati~ORION...
..._______________________...
"Ya Alloh, Astaghfirullohaladzim! Ngapain kalian di sini? Bukannya di sekolah ikut pelajaran, malah pada keluyuran di luar sekolah dan kumpul-kumpul di sini. Kenapa kalian bolos?" rentetan pertanyaan terlontar dari mulut bu Bunga sang guru killer Respati.
"Anu bu..itu..anu.." Dul berkata terbata-bata.
"Anu anu apa? Kenapa kalian bolos? Kalian mau ibu hukum?"
"Ya enggak lah bu. Mana ada orang yang ngarep pengin di hukum. Ya kagak ada lah," ucap Maul.
"Angkasa!" panggil bu Bunga.
"Saya bu," Angkasa mengangkat tangannya ketika namanya di panggil.
"Sini kamu!" suruh bu Bunga pada Angkasa. Angkasa pun menurut dan segera berjalan menghampiri bu Bunga.
"Ada apa bu?" tanyanya. "Awwss bu sakit! Jangan jewer telinga saya bu. Sakit!" ringis Angkasa ketika bu Bunga tiba-tiba menjewer telinganya.
"Bu apa salah saya? Kenapa ibu jewer telinga saya?" tanya Angkasa sambil berontak agar jeweran tangan bu Bunga lepas dari telinganya.
"Masih tanya kenapa kamu saya jewer? Kamu kan yang mimpin pembolosan mereka semua? Jawab!"
"Bukan bu! Suwer deh. Bukan saya!" elak Angkasa.
"Alah jangan bohong kamu. Saya tau kamu pimpinan pembolosan mereka. Jadi jangan berani-beraninya kamu bohongin saya, Bias Fajar Angkasa!" ucap bu Bunga dengan intonasi yang sedikit di tinggikan.
"Awwss bu telinga saya ntar copot. Jangan makin di tarik bu. Aduh lepasin bu, saya ngaku saya yang ngajakin mereka ke sini. Udah bu ampun deh lepasin jewerannya bu," mohon Angkasa sambil meringis kesakitan. Teman-teman Angkasa yang lain hanya diam dan sesekali meringis simpati saat Angkasa di jewer bu Bunga.
"Nah dari tadi jujur, jadinya telinga kamu gak jadi sasaran jeweran tangan saya, Angkasa," kata bu Bunga.
"Iya bu. Maaf."
"Cuman kamu yang minta maaf?" bu Bunga mengangkat satu alisnya dan menatap murid-murid bengal yang ada di hadapannya.
Merasa tersindir teman-teman Angkasa yang lainnya pun mengucapkan permintaan maaf kepada bu Bunga.
"Maaf bu, kami juga salah. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya," kata mereka kompak.
"Kompak bener," kata satpam yang berada di samping bu Bunga memuji takjub.
"Ya iyalah mang satpam. Orion gitu loh!" Ajis maju ke depan sembari menepuk-nepuk dadanya, bangga.
"Bolos kompak saja, sombkng kamu Jis," bu Bunga geleng-geleng kepala dengan tingkah anak muridnya yang satu itu. Sedangkan Ajis hanya mencetak cengira khas tanpa dosanya itu.
"Oke ibu akan maafkan kalian. Tapi, kalian akan tetap ibu hukum!"
"Yah! Kok gitu sih bu. Emang gak cukup kalo cuman minta maaf doang?" protes mereka.
"Enak saja. Kalian seenaknya melanggar peraturan yang berlaku di sekolah dan sekarang dengan mudahnya kalian meminta negosiasi untuk tidak menerima hukuman? No! Tidak akan pernah! Kalian akan tetap saya beri hukuman."
"Yah bu, kok gitu. Ibu mah..."
"Udah jangan banyak protes. Aturan ya tetap aturan. Kalian harus patuh dan taat!" omel bu Bunga.
"Bu jangan ngomel-ngomel mulu. Ntar cepet tua loh," kata Dul.
"Apa! Kamu mendo'akan saya cepat tua Dul?" tanya bu Bunga sembari menatap Dul dengan tatapan membunuh.
Asep menengahi tatapan membunuh bu Bunga kepada Dul. "Eh bu...bu bukan gitu maksud di Dul. Maksudnya tuh bu Bunga jangan sering ngomel-ngomel atau emosi bu..."
"Gimana saya gak emosi kalo menghadapi murid bengal macam kalian?"
"Etdah bu selesai juga belom saya ngomongnya, udah di potong aja," gerutu Asep.
"Kamu memang mau ngomong apa? Udah cepet ngomong jangan banyak basa-basi atau bertele-tele!"
"Iya bu. Jadi ibu Itu..."
"Jangan kelamaan ngomongnya, yang cepet bisa kan?"
Asep mendengus kesal. "Gak sabaran amat sih tuh ibu guru," gerutunya.
"Udah Asep kamu mau ngomong apa?" bu Bunga bertanya ulang.
"Ibu jangan keseringan marah-marah atau ngomel-ngomel. Selain cepat tua, ibu juga bisa cepet kena darah tinggi!" kata Asep cepat tanpa ada kesalahan di setiap kata-katanya.
"Jadi kamu pengin saya cepat tua dan kena darah tinggi Asep!" teriak bu Bunga dengan suara lantangnya yang bisa membuat gendang telinga orang bermasalah.
"Bukan itu bu maksud saya. Saya..."
"Maksud kamu yang bener yang mana? Kamu pengin ibu kena darah tinggi betulan?"
"Dah lah. Ngomong sama ibu serba salah. Saya diem aja udah. Pasrah saya mah," kesal Asep yang kehabisan semua kuota kesabarannya menghadapi bu Bunga yang cerewetnya tiada tanding.
Semua ingin tertawa terbahak-bahak, melihat raut wajah kesal dari temannya. Namun mereka tahan sekuat mungkin agar tidak pecah dan memancing kemarahan bu Bunga.
"Sekarang kalian ikut saya menemui pak Feri. Kalian akan dapet hukuman dari beliau, karena saya sudah pusing menghadapi dan memberikan hukuman berkali-kali kepada kalian. Kalian pikir saya gak cape apa?"
"Emang cuman ibu yang cape? Kita juga cape bu di hukum terus-terusan sama ibu," ujar Firda.
"Diam kamu, Daus. Saya tidak menyuruh kamu bicara," omel bu Bunga pada Firdaus atau yang kerap di sapa babang Firda itu. "Kalo kalian tidak mau kena hukum sama saya, harusnya kalian patuhi aturan-aturan sekolah. Jangan membolos saat jam pelajaran dan ya jangan banyak bertingkah!" omel bu Bunga terys-terusan.
Semua murid bengal tersebut tak terkecuali Angkasa hanya diam dan sesekali terlihat Dul menyumpal telinganya dengan jemari tangannya.
Mereka semua di giring oleh bu Bunga di bantu oleh mamang satpam masuk kembali ke lingkungan sekolah.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan di warung itu? Kalian tidak berbuat macam-macam kan?" tanya bu Bunga sambil memincingkan matanya, menyelidik.
"Ya Alloh bu, jangan suudzon sama kita-kita. Kita ini anak baik-baik, yang baik hati dan tidak sombong, serta suka menolong orang. Ibu jangan berpikir yang macam-macam," kata Ojan.
"Mana ada anak baik-baik yang suka langgar peraturan sekolah, Fauzan? Yang kamu maksud anak baik-baik itu seperti apa? Sekolah aja males gitu, ngakunya anak baik hati," kata bu Bunga meremehkan.
"Ibu jangan meremehkan kita, kita emang males sekolah tapi urusan baik hati, kita emang anak-anak baik hati bu," protes Munggar angkat suara juga.
"Betul bu, sampe-sampe kita bikin perkumpulan tau gak. Ibu pengin tau nama perkumpulannya apa?" tanya Oji.
Bu Bunga hanya diam. Sedangkan mamang satpam yang dilanda rasa penasaran. "Emang perkumpulannya namanya apa, Den?" tanya mamang satpam.
"Mamang satpam aja krpo bu, masa ibu Bunga yang terhormat gak pengi tau sih?" goda Dul sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Ya sudah. Memang apa nama perkumpulan kalian?" bu Bunga menyerah dan akhirnya bertanya.
"KUSIMASE TABATI BU!" ucap Angkasa.
"Kusimase Tabati? Apa itu?"
Ajis membusungkan dadanya. "Kumpulan Siswa Males Sekolah Tapi Baik Hati."
"Hah? Perkumpulan macam apa itu. Kalian selain anak geng motor, kalian juga bikin perkumpulan aneh-aneh ternyata," kata bu Bunga. "Apa manfaatnya dengan kalian membentuk perkumpulan semacam itu dan apa manfaatnya kalian menjadi anak geng motor ? Gak ada kan? Pasti kalian suka melanggar keamanan berlalu lintas kan? Ayo ngaku!" desak bu Bunga.
"Kami club motor bukan geng motor bu," kata Nauval ikut serta menyalurkan suaranya setelah sedari tadi diam dan mendengarkan.
"Jangan pandang kami sebelah mata, karena kami mengutamakan safety riding, keselamatan berkendara di manapun kami berada," sambung Angkasa.
"Saat raungan mesin motor kami berbunyi, itulah tanda kehidupan kami di mulai," imbuh Munggar.
"Ya sudah terserah kalian saja. Sekarang kalian ikut saya menghadap pak Feri. Kalian harus di hukum segera, karena ibu sudah pusing tujuh keliling memikirkan cara untuk menghadapi tingkah kalian semua," ucap bu Bunga.
"Siapa suruh mikirin kita, gak ada tuh yang nyuruh. Itu kan kemauan ibu sendiri. Bukan kita yang minta," ucap Munggar.
"Udah diam. Jangan banyak bicara, sekarang jalan cepat. Sebentar lagi kalian akan mendapat hukuman dari pak Feri," ucap bu Bunga. "Dan jangan ada yang berani-beraninya kabur dari hukuman!"
...√...
Bersambung...
Wajib vote, like, dan komen ya!!!
mulai ada konflik nih,,,, kaya nya bakalan ada baku hantam dan pengorbanan dan air mata nih hahahahahaha,,,
aku pembaca baru nih,,,, baru semalem nemu nya novel ini,,,,,
jadi aku bacanya marathon sampe skrg,,,,, semoga kedepannya ga bikin kecewa dengan menunggu up lama
konflik nya sedang aja jangan yg berat2