Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Penyihir
Irana di hadapan mereka, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Topi runcingnya hampir lepas, karena ia menggelengkan kepala terlalu keras.
"Kau membuatku kesal," ucap Irana dengan suara yang tidak lagi ramah.
Tapi ada nada frustrasi, seperti seseorang yang sudah menyusun rencana rapi, lalu hancur hanya karena satu hal kecil.
"Seharusnya, kau masih berada di masa depan,"
Ia menatap Will dengan tajam.
"Dan... bagaimana caramu kembali ke masa sekarang?" tanya Irana.
"Ya... tinggal bergerak dengan cepat," jawab Will.
Irana tertawa kecil, bukan tawa karena lucu. Tapi tawa sinis.
Suasana tegang.
Clara memegang pisaunya. "Cukup. Kita tidak punya urusan denganmu, biarkan kami pergi,"
Irana menggeleng.
"Tidak akan,"
Suaranya pelan, tapi tegas. Matanya tidak berkedip, ia menatap Will dan Clara seperti pemain catur yang sedang menghitung langkah lawannya.
Will menghela nafas.
"Sudahlah Clara, dia tidak akan membiarkan kita pergi. Lebih baik kita melawannya,"
Clara menoleh ke arah Will. Ada keraguan di matanya. Bukan karena takut, tapi karena ia tidak tahu seberapa kuat Irana sebenarnya.
"Kau yakin?" tanya Clara pelan.
"Tidak ada pilihan lain," balas Will.
Irana tersenyum aneh.
Bibirnya tersenyum, tapi matanya tetap dingin, seperti ular yang sedang mengamati mangsa sebelum menerkam.
"Berani juga kalian melawanku," ucap Irana.
Saat mengatakan itu, Irana melesat menyerang mereka dengan kecepatan tertingginya. Kata-katanya tadi, hanyalah jebakan untuk mengalihkan perhatian.
Will yang menyadari serangan itu, langsung bergerak dengan kecepatan tertingginya dan mencegahnya.
Namun di hadapan Clara, Will dan Irana mendadak menghilang begitu saja.
Clara sempat memeriksa matanya, masih sama, tempat di mana mereka berdiri tadi, masih kosong sampai sekarang.
Lalu ia memeriksanya, kosong. Mereka benar-benar menghilang.
"Will!"
"Irana!"
Seru Clara memanggil mereka.
Suaranya memantul di antara pepohonan, bergema sebentar, lalu ditelan sunyi. Yang tersisa hanya suara angin dan dedaunan yang terkena angin.
Hutan terasa lebih gelap dari sebelumnya, atau mungkin hanya perasaannya.
Tanpa Clara sadari, Will dan Irana punya kecepatan yang melampaui batas. Di mana hal itu, tidak mungkin bisa dicapai makhluk hidup biasa.
Kecepatan yang bisa membuat mereka pergi ke masa lalu atau masa depan, hanya dengan kecepatan murni, tanpa sihir dan teknologi.
Ketika mereka menggunakan kecepatan tertingginya, siapapun yang terikat hukum alam atau batasan, melihat mereka menghilang begitu saja.
Itulah kenapa, Clara melihat mereka menghilang begitu saja.
Yang ia tahu, saat ini ia sendirian di tengah hutan yang semakin sunyi.
"Kalian kemana!" seru Clara, walaupun tidak ada yang menjawab.
Daun-daun bergesekan pelan, terdengar suara gesekan daun di hutan.
Clara menggenggam pisaunya. Satu-satunya benda yang terasa nyata di tengah semua ini.
----------
Di masa lalu. Atau lebih tepatnya, ratusan tahun lalu dari hutan itu.
Will dan Irana muncul di sana.
Rupanya, saat Irana dicegah Will, dia pergi ke masa lalu untuk memastikan Will tidak bisa mengikutinya.
Ternyata, Will bisa mengikuti Irana sampai ke masa lalu, hanya dengan kecepatan murninya.
Tanah di bawah kaki mereka berbeda. Lebih keras dan lebih dingin. Pepohonan di sekeliling mereka masih kecil, masih muda. Ranting-rantingnya menjalar di udara seperti tangan yang meraba-raba dalam gelap.
Udara terasa purba. Ada bau yang tidak biasa, seperti tanah yang belum pernah dijamah makhluk hidup dalam waktu lama.
Irana berdiri di hadapan Will. Wajahnya tidak lagi tenang.
"Kau... bagaimana bisa kau mengikuti?" tanya Irana.
Suaranya sedikit bergetar. Matanya tidak berkedip, ia menatap Will seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Will berdiri diam. Napasnya tidak tersengal. Seolah-olah, baru saja berjalan santai.
"Itu tidak penting, yang penting kau akan kalah nanti," jawab Will yang terdengar menantang.
"Kurang ajar,"
Setelah mengucapkan itu, Irana menyerang. Kekuatan penuhnya dipusatkan ke genggaman tangan. Energi gelap membalut jari-jarinya, ia membidik dada Will dengan satu pukulan penuh.
Will sengaja menerima serangan itu.
Seperti ingin membuktikan sesuatu.
Terdengar suara pukulan yang mengenai sesuatu.
Genggaman tangan Irana menempel di dada Will. Tapi Will tidak bergerak, tidak jatuh. Bahkan tidak kesakitan. Serangan penuh Irana ditahan oleh tubuh Will.
Tubuh Will baik-baik saja menerima serangan itu, sehingga daya rusaknya tidak menyebar.
"Tidak mungkin..."
Irana mundur dua langkah. Matanya membesar. Tangannya, yang baru saja menghantamnya gemetar.
"Aku sudah melipatgandakan semua statistikku hingga seratus juta kali. Tapi serangan penuhku tidak mempengaruhinya,"
Ia tidak mengucapkannya keras-keras. Tapi pikirannya berteriak.
"Bagaimana mungkin..." suara Irana keluar pelan.
"Kenapa kau lebih kuat dariku? Padahal sumber kekuatan kita sama,"
"Iya. Emang sumber kekuatan kita sama. Tapi kita menggunakan Imaginary untuk menciptakan kekuatan yang berbeda-beda. Dan semua ras memiliki ciri khas kekuatannya tersendiri," jawab Will.
"Aku tahu soal itu!" bantah Irana. Matanya menyala. Bukan marah, tapi frustrasi.
Mereka kembali bertarung dengan kecepatan tertingginya.
Tapi Irana menyadari perbedaannya, Will belum serius melawannya. Dia dengan mudah menghindari serangan Irana, padahal Irana menggunakan kecepatan tertingginya.
"Berhenti!" teriak Irana, menghentikan serangannya.
Will berhenti.
"Bagaimana caramu bisa sekuat ini?" tanya Irana. Suaranya tidak lagi marah. Mungkin ada kekaguman yang tidak ingin ia akui.
Will menghela napas. Matanya menatap kosong ke arah pepohonan kecil di kejauhan, ke arah bayangan-bayangan yang masih berdiri diam di antara batang pohon.
"Bagaimana, ya... hmm,"
Ia berpikir. Atau berpura-pura berpikir.
Irana tidak menunggu.
Dengan kecepatan tertingginya, ia kabur meninggalkan masa lalu, menuju masa sekarang.
Will tidak mengejar.
Ia sengaja membiarkan Irana kabur.
Entah apa niatnya.
Di masa sekarang.
Irana muncul di hutan yang sama, tapi berbeda. Pepohonan besar. Daun lebat. Udara lembap.
Ia menoleh ke sekitarnya, memastikan posisi.
Lalu ia melihat.
Dan dia terkejut.
Will sudah sampai lebih dulu. Ia berdiri di sebelah Clara dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti baru saja berjalan pulang dari dapur.
"Apa! Bagaimana bisa kau sampai lebih dulu?" tanya Irana. Matanya membesar.
Napasnya tersengal, bukan karena lelah berlari, tapi karena tidak percaya.
Will menatapnya dengan datar.
"Kau terlalu berisik,"
Irana terdiam.
Clara, yang sejak tadi hanya bisa diam, bergantian menatap Will dan Irana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Clara dengan suaranya yang sedikit serak.
"Nanti aku jelaskan," jawab Will. Matanya masih tertuju pada Irana.
Irana mundur selangkah. Topinya hampir lepas.
"Sudahlah, Irana!"
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dewasa dari arah lain.
Will dan Clara menoleh.
Di antara pepohonan yang gelap, sesosok perempuan berdiri. Jubah hitam panjang menutupi seluruh tubuhnya. Sebuah topeng putih menempel di wajahnya, tanpa ekspresi, tanpa lubang mata, tanpa mulut.
Hanya putih kosong.
Bersambung...