NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Suasana di dalam ruang perawatan intensif itu begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh bunyi bip konstan dari monitor jantung yang memantau kondisi fisik Gia. Diandra—yang masih terperangkap di dalam raga remaja tersebut—duduk bersandar pada tumpukan bantal.

Kedua matanya menatap lekat-lekat layar laptop khusus di pangkuannya.

Ia sedang memantau situasi di kantor pusat Pratama Group secara langsung melalui jaringan kamera pengawas rahasia yang sempat ia retas. Namun, beberapa detik lalu, seluruh layar monitor yang menampilkan ruang rapat direksi mendadak mati total, berganti dengan sinyal statis yang bersemut.

Firasat buruk seketika menghantam dada Diandra, membuat napasnya mendadak terasa sesak.

Brak!

Pintu ruang ICU digebrak kasar dari luar. Dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu bahkan belum sempat memberikan peringatan ketika sosok Diko menerobos masuk ke dalam ruangan.

Diandra terkesiap. Laptop di pangkuannya hampir saja merosot jatuh.

Diko berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu hebat, seolah-olah ia baru saja berlari mengejar maut.

Penampilannya benar-benar kacau dan acak-acakan.

Setelan jas rapi yang biasanya ia kenakan kini robek di beberapa bagian, dipenuhi noda abu hitam pekat dan bau hangus yang menyengat udara steril ruangan tersebut.

Di pelipisnya, terdapat luka goresan kecil yang masih mengalirkan darah segar.

Namun, yang paling membuat jantung Diandra mencelos adalah ekspresi wajah Diko.

Pria kepercayaan suaminya itu menunduk dalam, dilingkupi oleh rasa bersalah dan ketakutan yang teramat sangat. Air matanya nyaris luruh saat ia menatap Diandra.

"Nyonya. Maafkan saya..." suara Diko bergetar hebat, serak dan nyaris habis.

Diandra langsung mencengkeram tepi sprei rumah sakit dengan kuat.

"Diko! Apa yang terjadi di kantor?! Kenapa semua kamera pengawas di lantai atas mati? Di mana Mas Pratama?!"

Diko melangkah maju dengan lutut yang terasa lemas, lalu membungkuk penuh penyesalan di samping ranjang Diandra.

"Mita, benar-benar sudah gila, Nyonya. Di tengah-tengah rapat direksi luar biasa, saat Pak Pratama membongkar semua bukti perusahaan cangkangnya, wanita itu meledakkan ruang rapat."

"Ledakan?!" pekik Diandra, matanya membelalak sempurna.

"Benar, Nyonya. Bom asap dan peledak skala kecil yang sengaja ditanam di langit-langit ruangan. Seluruh ruangan seketika hancur dan dipenuhi kabut asap yang sangat pekat. Kami semua terlempar dan tidak bisa melihat apa-apa," lanjut Diko dengan suara yang semakin tercekat.

"Mita memanfaatkan situasi chaos itu. Dia sudah menyiapkan pasukan bayaran bertopeng yang dilengkapi masker gas."

Diko mengepalkan tangannya ke lantai, merutuki ketidakberdayaannya sendiri.

"Pak Pratama yang kondisi fisiknya sedang melemah akibat luka bakar di punggungnya, tidak sempat menghindar. Sebelum tim keamanan kami berhasil menerobos asap untuk melindunginya, Mita dan pasukan bayarannya telah membawa pergi Pak Pratama secara paksa melalui jalur lift barang. Pak Pratama, diculik, Nyonya."

Deg!

Dunia di sekitar Diandra seolah berhenti berputar. Bunyi bip dari monitor jantung di sampingnya mendadak berbunyi semakin cepat dan nyaring, mendeteksi lonjakan emosi yang luar biasa dari raga Gia.

Rasa hangat dari pelukan Pratama dan pemandangan perban yang membungkus punggung suaminya beberapa jam lalu kembali terbayang dengan sangat jelas.

Mita tidak hanya mencoba membunuhnya, tetapi kini wanita ular itu juga berani menyentuh pria yang paling berharga dalam hidupnya.

Perlahan, kepanikan di wajah Gia menyusut, digantikan oleh ekspresi yang begitu dingin dan mematikan.

Matanya yang bulat kini berkilat tajam seperti bilah pisau yang siap menguliti mangsanya. Jiwa Diandra yang paling kelam telah terusik.

"Mita..." desis Diandra, suaranya begitu rendah hingga sanggup membekukan atmosfer di dalam ruang ICU.

Ia mencabut paksa selang infus di punggung tangannya hingga darah segar menetes ke atas sprei putih, lalu melepaskan masker oksigennya tanpa memedulikan rasa perih di dadanya.

Dengan gerakan taktis, ia menarik kembali laptop militer di hadapannya.

"Diko, hapus air matamu dan berdiri tegak," perintah Diandra dengan nada mutlak seorang pemimpin.

"Kumpulkan sisa tim keamanan yang masih hidup. Mita pikir dia bisa lari setelah menyentuh suamiku? Dia salah besar. Aku sendiri yang akan melacak ke mana ular itu membawa Mas Pratama, dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya hidup sampai matahari terbit besok."

Sudut pandang beralih ke sebuah bangunan terbengkalai di pinggiran kota yang sunyi.

Sementara itu di i dalam sebuah gudang logistik tua yang pengap—salah satu aset tersembunyi yang terdaftar atas nama perusahaan cangkang milik Mita—bau besi berkarat dan debu tebal menyengat udara.

Pratama perlahan membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah.

Kesadarannya kembali secara paksa saat rasa sakit yang luar biasa menghantam seluruh tubuhnya.

Ia mendapati dirinya terbaring dalam posisi telungkup, terikat kuat dengan rantai besi tebal yang mengunci pergelangan tangan, pinggang, hingga kakinya di atas sebuah tempat tidur besi tua yang sudah berkarat.

Sebuah kain hitam tebal tersumpal rapat di dalam mulutnya, diikat kuat ke belakang kepala, mencegah pria itu untuk mengeluarkan suara teriakan atau makian.

"Mmmmpphh!!"

Pratama mencoba menyentak tubuhnya, namun rantai besi itu justru bergemerincing nyaring, mengunci pergerakannya dengan kejam.

Setiap kali ia menarik napas atau mencoba bergerak, punggungnya yang melepuh hebat dan diperban total akibat luka bakar semalam tertekan dan bergesekan langsung dengan bilah-bilah besi tempat tidur yang kasar.

Rasa perih yang membakar seolah menguliti tubuhnya hidup-hidup, membuat keringat dingin langsung membanjiri pelipis sang CEO.

Namun, di balik sumpalan kain hitam yang menyiksa itu, tidak ada sedikit pun gurat ketakutan di wajah Pratama.

Sepasang mata elangnya yang memerah justru memancarkan kilat kemarahan mutlak, menatap tajam ke arah ujung ruangan yang temaram.

Di sana, Mita berdiri dengan anggun. Ia telah melepaskan masker gasnya, menyisakan senyum kemenangan yang tampak begitu menjijikkan.

Di tangan kanannya, ia memegang map berisi sisa-sisa dokumen aset Pratama Group yang sempat ia selamatkan dari ruang rapat sebelum ledakan terjadi.

Mita melangkah mendekat, suara tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai semen yang retak dengan ritme yang lambat.

Ia menatap kondisi mengenaskan kakak iparnya dengan pandangan yang sarat akan kepuasan dan obsesi yang menyimpang.

"Oh, lihatlah sang CEO yang agung sekarang," goda Mita dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, namun terdengar sangat beracun.

Ia mengulurkan tangan, dengan berani membelai rahang tegas Pratama yang menegang keras.

"Mas Pratama, andai saja kamu tidak terlalu keras kepala dan tidak membawa anak SMA sialan itu ke dalam rapat, kita tidak perlu berakhir di tempat kotor seperti ini," lanjut Mita, kini beralih mengibas-ngibaskan dokumen aset di depan wajah Pratama.

Mita tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang memperlihatkan betapa jiwanya telah digerogoti kegilaan.

"Kamu tahu, Mas? Menyingkirkan penghalang itu sebenarnya sangat mudah. Seperti beberapa waktu lalu saat aku mendorong Kak Diandra dari balkon lantai delapan korporasi kita."

Mata Pratama seketika membelalak sempurna mendengarnya.

Urat-urat di lehernya menegang hebat, siap meledak.

Mita tersenyum puas melihat reaksi Pratama. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga pria yang disekapnya itu.

"Ya, aku yang mendorongnya, Mas. Kakakku yang malang itu terlalu banyak tahu tentang penggelapan danaku. Dia jatuh begitu mudah. Dan yang membuatku paling sakit hati, kenapa setelah dia koma dan hampir mati, kamu masih saja setia menunggunya? Padahal aku sudah mempersiapkan pernikahan kita sebagai pengganti Kak Diandra! Aku jauh lebih pantas menjadi nyonya di rumahmu daripada wanita penyakitan itu!"

"MMMMPPHH!!"

Raungan kemarahan Pratama teredam habis oleh sumpalan kain di mulutnya.

Rantai besi yang mengikatnya bergetar hebat saat Pratama mengerahkan seluruh tenaganya untuk lepas dan mencabik-cabik wanita di hadapannya.

Rasa sakit di punggungnya tertutupi oleh kobaran amarah yang membakar jiwanya setelah mendengar pengakuan keji mengenai pembunuhan istrinya.

Mita mundur selangkah, menatap amukan Pratama dengan senyum sinis yang semakin melebar.

"Mengamuk lah sesukamu, Mas. Setelah Papa dan kamu menandatangani pengalihan sisa aset ini, aku akan memastikan kamu menyusul Kak Diandra ke alam baka. Dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menemukanmu di gudang terkutuk ini." ucap Mita sambil tertawa terbahak-bahak.

Kemudian Mita meninggalkan tempat itu dan meminta anak buahnya untuk menyiksa Pratama.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!