NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Dua Puluh Empat Jam di Gubuk Rumbia

Batang kayu bakau lapuk tempat Kala ambruk terasa bergoyang pelan, hampir tenggelam ke dalam pelukan lumpur rawa yang pekat. Di bawah kegelapan total yang menelan kami, napas cowok itu terdengar pendek-pendek dan berat. Aku tahu, jika kami tetap bertahan duduk di atas batang kayu ini hingga fajar, dinginnya malam dan gigitan nyamuk rawa akan menghabisi sisa tenaga Kala sebelum anak buah Baron menemukan kami.

"Kala, berdiri... kita tidak bisa mati konyol di atas kayu busuk ini," bisikku parau, menepuk-nepuk pipinya yang terasa sedingin es.

Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku menyandarkan bahu besarnya ke pundakku.

Sambil menangis tanpa suara mengingat nasib Mbah Jarot, aku memaksanya kembali mengosok lumpur hidup yang licin. Kami merangkak, terseok-seok menembus rimbunnya tanaman liar selama hampir satu jam yang menyiksa, sampai mataku yang sembap menangkap siluet bayangan kotak di antara kepungan pohon bakau raksasa.

Sebuah gubuk rumbia tua peninggalan pencari kayu yang sudah reyot.

Saat aku berhasil mendorong tubuh tinggi Kala melewati pintu lapuknya yang tak lagi berselot, kami berdua jatuh berdebum di atas lantai kayu gubuk yang berderit nyaring. Di luar, suara air rawa yang menghantam akar bakau terdengar seperti gumaman orang yang sedang meratapi kematian.

Gubuk ini sudah lama ditinggalkan, atap rumbianya bolong di sana-sini, membiarkan hawa dingin rawa menyusup masuk dan mencengkeram tulang-tulangku. Namun, di dalam ruangan yang hanya diterangi satu sisa lampu teplok minyak tanah yang kutemukan di sudut lantai dan kunyalakan dengan korek api gas di saku jaket, hawa panas justru menyesakkan dadaku.

Bau jelaga yang menyengat dari sumbu lampu beradu dengan aroma anyir darah yang mulai merembes dari pundak Kala.

"Tahan sebentar," desisku, mencoba menstabilkan tanganku yang gemetar hebat.

Kala terbaring telentang di atas lantai kayu yang beralaskan sisa-sisa jaring tua yang sudah berdebu. Wajahnya yang pucat pasi terlihat semakin menakutkan dengan pupil mata yang sesekali berkedip vertikal, tanda bahwa dia sedang berjuang keras menahan sisi liarnya. Saat aku menekan kain kasa yang sudah kupotong dari baju cadanganku di dalam ransel oranye ke luka tembak di pundaknya, dia tidak mengerang. Dia hanya mendesis, otot-otot lehernya menegang hingga uratnya menonjol.

"Kenapa kau tidak meninggalkanku saja di sana, Lara?"

Suaranya parau, hampir hilang ditelan bunyi derik gubuk. Dia menatap langit-langit gubuk yang gelap, tidak berani menatap mataku.

"Mbah Jarot... dia tidak seharusnya ada di sana. Dia tidak seharusnya berakhir seperti itu hanya karena monster sepertiku," lanjutnya lagi, suaranya sarat dengan kebencian pada diri sendiri. "Aku hanya membawa sial. Semua orang yang mendekatiku hanya akan berakhir hancur. Lihatlah dirimu sekarang, kau seharusnya bisa pulang ke kosan, hidup tenang, dan tidak perlu dikejar-kejar orang bersenjata seperti buronan."

Aku mengabaikannya, tanganku sibuk melilitkan sisa kain sebagai perban darurat pada lukanya.

"Diamlah, atau lukamu makin parah."

"Lara, dengarkan aku!" Kala tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku dengan tangan kirinya yang dingin. Cengkeramannya kuat, namun ada getaran halus di sana. "Pergilah. Masih ada waktu sebelum mereka melacak jejak kita lebih jauh. Biarkan aku di sini. Aku tidak layak diselamatkan."

Aku melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu duduk tegak di sampingnya. Mataku mulai terasa panas, buram oleh air mata yang sedari tadi kutahan mati-matian sejak menyaksikan Mbah Jarot dihantam popor senapan. "Kau pikir ini apa, hah? Kau pikir aku ini relawan yang sedang melakukan pekerjaan amal?"

Kala terdiam, menatapku dengan mata emasnya yang redup.

Aku menyeka wajahku dengan punggung tangan yang kotor oleh lumpur rawa. "Aku ini kurir, Kala. Pekerjaanku sederhana: memastikan barang sampai ke tujuan dengan aman. Kalau aku sudah menerima sebuah paket, aku tidak akan pernah meninggalkannya begitu saja di tengah jalan, tidak peduli seberapa rusak, seberapa bau, atau seberapa merepotkan paket itu."

Dadaku naik turun dengan cepat. "Dan kau... kau adalah paket yang sudah kupilih. Aku yang membawamu dari Gudang Sembilan, aku yang menyembunyikanmu di kamarku, dan aku yang sudah bersumpah untuk mengantarmu keluar dari rawa ini. Jadi, berhenti bicara soal ditinggalkan. Itu tidak ada dalam kamus anak pelabuhan."

Hening merayap di antara kami. Hanya ada suara sumbu lampu teplok yang beradu dengan minyak.

Kala terdiam cukup lama, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan—sesuatu di antara rasa bersalah dan kebingungan yang mendalam.

"Kenapa kau begitu keras kepala?" bisiknya pelan.

"Karena aku tidak punya pilihan lain," jawabku ketus, menyembunyikan rasa takut yang sebenarnya. "Andai kau mati, siapa lagi yang akan membantuku membayar sewa kosan dengan sisik-sisik perakmu itu? Aku tidak mau jatuh miskin lagi."

Kala terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang pecah menjadi batuk kecil. Dia akhirnya menurunkan pandangannya dari langit-langit gubuk, menatapku tepat di mata. "Kau benar-benar tidak punya rasa takut, ya?"

"Aku takut, bodoh," balasku dengan suara yang mulai serak. Aku mendekat, menyampirkan sisa kain selimut kumal yang kutemukan di sudut gubuk ke atas bahunya yang terluka. "Aku sangat takut. Aku takut kehilangan Mbah Jarot, aku takut pada orang-orang Baron itu, dan aku takut kalau kau tiba-tiba berhenti bernapas di sampingku."

Aku menundukkan kepala, membiarkan rambutku

menutupi wajah yang basah. "Tapi aku lebih takut kalau aku harus kembali ke dunia yang tidak ada kau di dalamnya."

Kala terdiam lama. Perlahan, tangan kanannya yang masih bisa bergerak terulur, jemarinya yang dingin menyentuh ujung jariku yang sedang gemetar di atas lantai kayu. Tidak ada kata-kata lagi. Suasana gubuk yang pengap dan berbau minyak tanah itu mendadak terasa begitu sunyi, begitu privat. Di luar, badai rawa masih mengamuk, namun di dalam sini, aku hanya bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan mulai berdetak seirama dengan napasku.

Malam itu, di gubuk rumbia yang akan segera roboh, kami hanya bisa saling bersandar. Tidak ada janji manis, tidak ada harapan muluk tentang masa depan. Hanya ada kami berdua, dua jiwa yang terbuang, bersembunyi dari dunia yang ingin menghancurkan kami, bertahan hidup dengan cara yang paling sederhana: saling menjaga satu sama lain, hingga matahari kembali muncul di ufuk timur Tanjungbalai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!