Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke mushola itu, sudut bibir Shaka sedikit bergerak tipis dan hampir tidak terlihat. Ustadz Ilyas yang melihat itu diam-diam merasa lega. Setidaknya suasana mulai mencair, lalu dari depan mushola terdengar suara seseorang sedang merapikan mikrofon kecil. Tak lama kemudian suara adzan subuh mulai berkumandang.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”
Suara itu memenuhi seluruh ruangan mushola. Semua langsung perlahan kembali ke saf mereka masing-masing dan membuat suasana mendadak berubah khusyuk. Para santri mulai berdiri rapi. Ada yang merapikan peci dan ada yang meluruskan saf sholatnya.
Sementara Shaka masih berdiri diam beberapa detik. Matanya perlahan menyapu isi mushola.
Suara adzan subuh masih menggema lembut di dalam mushola. Kalimat demi kalimat yang dilantunkan muadzin memenuhi ruangan dengan suasana yang begitu tenang sampai membuat dada siapa pun yang mendengarnya terasa lebih damai. Shaka menelan ludahnya dengan pelan. Di sisi lain, para santri mulai berdiri membentuk saf yang rapi. Semua tampak tahu harus berada di mana. Tidak ada yang bingung, berbeda dengan dirinya.
Saat suara iqamah akhirnya mulai dikumandangkan, Shaka langsung sedikit menegang. Para santri segera berdiri lebih rapat ke saf masing-masing, namun Shaka justru diam. Matanya bergerak pelan melihat ke kanan dan kiri. Ia merasa bingung. Sudah terlalu lama ia tidak sholat berjamaah. Bahkan ia tidak tahu harus berdiri di mana dan arus mengikuti siapa. Rasa canggung kembali naik memenuhi dada Shaka. Ia takut salah, takut terlihat bodoh dan takut semua orang sadar kalau dirinya bahkan sudah terlalu jauh dari agama sampai hal sederhana seperti berdiri dalam saf sholat pun membuatnya kebingungan.
Shaka perlahan mengepalkan tangannya di samping tubuhnya dan saat itulah Ustadz Ilyas yang berdiri tak jauh darinya menyadari kebingungan itu. Lelaki muda itu menoleh pelan ke arah Shaka. Tatapan teduhnya langsung menangkap kecanggungan di wajah pemuda itu. Tanpa membuat suasana jadi memalukan, Ustadz Ilyas melangkah mendekat lalu berkata pelan dengan suara yang hanya bisa didengar Shaka,
“Di sini saja.” Shaka menoleh, sementara ustadz Ilyas menggeser sedikit posisinya lalu menepuk pelan ruang kosong di sebelahnya.
“Berdiri di samping saya.” Nada suaranya tidak terdengar mengasihani ataupun menggurui. Dan entah kenapa hal sederhana itu langsung membuat rasa panik Shaka sedikit mereda.
Shaka terdiam beberapa detik sebelum akhirnya perlahan berjalan mendekat. Ia berdiri di samping Ustadz Ilyas dan mulai merapatkan saf nya, membuat bahu mereka hampir bersentuhan.
“Luruskan dan rapatkan safnya,” terdengar suara Ustadz Haidar dari depan.
Para santri segera merapat. Shaka ikut bergerak sedikit canggung mengikuti mereka.
Lalu beberapa detik kemudian suasana mushola mendadak berubah sangat hening.
“Allahu Akbar.”
Semua jamaah mengangkat tangan dan membuat Shaka ikut melakukannya meski sedikit terlambat, lalu sholat subuh pun dimulai. Suara bacaan Al-Fatihah dari Ustadz Haidar terdengar tenang dan meresap ke dalam hati. Shaka berdiri diam, Matanya menatap lurus ke bawah namun pikirannya terasa kacau. Entah kenapa saat berdiri di dalam saf itu, dadanya terasa semakin berat.
Ia mencoba fokus mengikuti gerakan sholat.
Namun setiap kali dahinya menyentuh sajadah, sesuatu di dalam diri Shaka seperti bergetar keras. Bayangan-bayangan masa lalunya bermunculan begitu saja. Malam-malam penuh dosa yang selama ini ia jalani tanpa peduli apa pun, semuanya berputar di kepalanya dan anehnya, di tengah semua itu, ia malah sedang bersujud di dalam mushola. Shaka memejamkan matanya kuat-kuat saat dahinya menyentuh sajadah.
Dadanya terasa sesak, dan tanpa sadar tenggorokan Shaka terasa panas, membuat Shaka cepat-cepat menarik napas panjang.
"Jangan menangis, jangan." Ujar Shaka di dalam hatinya.
Namun semakin ia menahan, semakin dadanya terasa penuh. Suara bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Ustadz Haidar terus menggema lembut di dalam mushola. Setelah Sholat subuh selesai dilaksanakan, suasana mushola tetap hening selama beberapa saat. Beberapa jamaah langsung menundukkan kepala sambil berzikir pelan. Ada yang membaca istighfar dan ada yang memejamkan mata sambil berdoa. Shaka sendiri masih diam di tempatnya. Tangannya berada di atas paha, tatapannya yang terlihat kosong mengarah ke sajadah. Dadanya masih terasa penuh. Di sampingnya, Ustadz Ilyas melirik sekilas ke arah Shaka.
Dan lelaki muda itu bisa melihat jelas kalau mata Shaka tampak sedikit merah. Namun Ustadz Ilyas tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu ada luka yang sedang bergerak di dalam hati pemuda itu. Dan luka seperti itu tidak bisa dengan mudah hilang begitu saja, perlu waktu untuk membuat luka itu sembuh dan pulih. Tak lama kemudian suara Ustadz Haidar terdengar dari depan mushola.
“Alhamdulillah.”
Semua jamaah perlahan mengangkat wajahnya. Ustadz Haidar duduk di depan dengan wajah teduh. Sorot matanya perlahan menyapu para santri yang memenuhi mushola, lalu pandangannya berhenti pada Ustadz Ilyas.
“Nak Ilyas.” panggil ustadz Haidar yang membuat ustadz Ilyas langsung menoleh dengan hormat.
“Iya, Abi.”
Ustadz Haidar tersenyum kecil.
“Seperti yang Abi bilang tadi… pagi ini tolong isi kajian subuhnya.”
Beberapa santri langsung terlihat antusias mendengar itu. Bahkan ada yang saling melirik sambil tersenyum kecil. Sementara di area jamaah perempuan yang dipisahkan tirai pembatas, Hanindya yang sejak tadi duduk tenang langsung sedikit mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak pelan. Meskipun tadi Ummi Hafizah sudah memberitahu kemungkinan itu, tetap saja mendengarnya langsung dari Abinya membuat perasaannya berbeda. Di sisi laki-laki, Ustadz Ilyas mengangguk sopan.
“InsyaAllah, Abi.”
“Silakan ke depan.”
Ustadz Ilyas pun perlahan berdiri dan entah kenapa saat lelaki itu bangkit lalu berjalan menuju depan mushola, suasana langsung terasa berbeda. Beberapa santri langsung memperhatikan dengan hormat sementara Shaka diam-diam ikut memandang lelaki itu.
Entah kenapa semakin lama ia mengenal Ustadz Ilyas, semakin ia merasa lelaki itu benar-benar berbeda. Di balik ketenangannya, ada sesuatu yang kuat. Sesuatu yang membuat orang lain merasa aman di dekatnya. Sementara itu di balik pembatas jamaah perempuan, Hanindya tidak bisa menyembunyikan perasaan berdebar debar di dadanya saat melihat calon suaminya berdiri di depan jamaah.
Matanya diam-diam memperhatikan sosok Ustadz Ilyas yang kini berdiri di dekat mikrofon kecil mushola. Raut wajah Hanindya perlahan melembut. Ada rasa bangga yang tumbuh diam-diam di hatinya. Lelaki itu adalah calon suaminya, lelaki yang selama ini dikenal para santri karena kelembutan hatinya, karena ilmunya, dan karena caranya berbicara yang selalu menenangkan.
Hanindya menundukkan pandangannya perlahan. Namun senyum kecil tetap tertahan di bibirnya. Ia masih ingat pertama kali mendengar Ustadz Ilyas mengisi kajian beberapa tahun lalu. Cara lelaki itu menjelaskan agama tidak pernah terasa menggurui. Dan mungkin itu sebabnya banyak santri dan santriwati menyukai kajiannya, termasuk dirinya.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.