Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak ada maaf bagimu
Alma pamit pulang setelah hatinya terasa jauh lebih lega dan tenang. Seolah beban berat yang terpikul di pundaknya ikut terangkat sebagian, usai ia tumpahkan segalanya pada Danish. Dengan langkah ringan serta pikiran yang lebih jernih, ia melajukan mobilnya menuju tempat tinggalnya, berniat menenangkan diri sejenak sebelum mulai menyusun langkah selanjutnya.
Baru saja kendaraannya melewati gerbang kompleks dan berbelok ke arah rumahnya, napas Alma seketika tercekat. Senyum tipis yang sempat terukir di bibirnya langsung lenyap tanpa jejak. Suasana hatinya yang baru saja membaik seketika ambyar menguap seakan terbawa angin.
Di sana, di jalan depan rumahnya telah terparkir sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal siapa pemiliknya.
Darah Alma serasa mendidih. Rasa benci, muak, dan marah yang baru saja sedikit mereda, kini meluap kembali jauh lebih hebat dari sebelumnya. Pria itu masih punya nyali besar untuk datang menemuinya, seolah tak ada sesuatu yang terjadi, dia antara mereka.
Alma mematikan mesin kendaraannya, duduk terdiam sejenak di balik kemudi sambil menatap tajam ke arah pintu rumahnya yang terbuka lebar. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak emosi yang kembali menggelegak di dadanya. "Berani sekali dia datang kemari. Mau apa kali ini? Atau mungkin dia akan membuat drama?" gumannya kesal.
Alma turun dari mobilnya dengan perlahan seolah sengaja mengukur waktu tak ingin bertemu dengan pria itu. Ia melangkah pelan mendekati pintu rumah dan masuk ke dalam setelah mengucap salam, walaupun tak mengharap jawaban.
Benar saja, Nova yang tengah duduk di sofa ruang tamu langsung menjawab salamnya sembari berdiri menyambutnya.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga."
Wajahnya menampilkan senyum khawatir, lantas berniat menghampiri Alma. Namun, wanita itu langsung berteriak dengan keras. "Stop...! Jangan mendekat!"
Nova tersentak, lalu sepersekian detik kemudian tanpa berkata apa-apa, pria itu langsung menekuk kedua lututnya, bersimpuh tepat di depan Alma. Kedua tangannya tergenggam erat, seraya menatap ke atas dengan pandangan memelas.
Akan tetapi, Alma bisa menilai bahwa raut penyesalan itu terkesan dibuat-buat agar bisa meluluhkan hatinya seperti dulu.
"Hahhh...dia pikir aku akan luluh kali ini? Jangan harap!"
"Maafkan Mas, Sayang. maafkan, Mas..." lirih Nova berulang kali, suaranya bergetar seolah benar-benar menyesal. "Mas bersalah sudah keterlaluan membohongimu selama ini. Tapi percayalah, semua itu mas lakukan karena mas sangat mencintaimu dan takut kehilanganmu. Mas takut kalau kamu tahu kebenarannya, kamu akan pergi meninggalkan, mas."
Nova menundukkan kepalanya sangat rendah, hingga dahinya hampir menyentuh lantai. "Mas tidak akan beranjak sedikit pun dari sini, sampai kamu mau memaafkan, mas. Apa pun yang kamu minta, atau hukuman yang mau kamu berikan, mas akan terima semuanya. Tapi, tolong lupakan kejadian di rumah sakit tadi. Mas melakukannya karena terpaksa. Tapi sungguh, mas benar-benar mencintaimu, hanya kamu."
Alma menatap datar sosok pria yang bersimpuh di depannya itu. Dulu, pemandangan seperti ini pasti sudah membuatnya menangis, luluh, dan langsung memaafkan. Dulu, ia akan berpikir betapa besar rasa cinta Nova hingga mau merendahkan dirinya begini. Tapi sekarang? Melihat itu semua, Alma justru merasa sangat jijik dan muak. Ia sadar betul, apa yang suaminya lakukan hanyalah akting belaka, sebuah intrik licik agar ia luluh dan memaafkannya.
"Bangun!" ucap Alma dingin tanpa sedikit pun rasa iba tersisa di matanya.
"Jangan membuat pertunjukan murahan di depanku. Bersimpuh, menangis, dan meratap... semuanya sudah tak ada gunanya lagi! Aku bukan lagi Alma yang dulu, yang langsung luluh dan memaafkanmu"
Namun, Nova malah semakin mempererat genggamannya di depan dada, kepalanya makin menunduk seolah sedang menangis tersedu. "Nggak, Sayang! Mas, nggak akan bangun sebelum kamu maafkan, Mas. Mas memang pengecut dan pembohong. Tapi semua karena mas sayang kamu, Alma. Kamu lah masa depan, mas, dan yang mas cintai. Mas janji, akan melakukan apapun, asalkan kamu tetap di sisi, mas..."
Alma tertawa terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya dengan elegan. Namun, sejatinya tawa itu terdengar kering dan penuh penghinaan. Ia menunduk menatap Nova yang masih bersimpuh di lantai, seolah sedang menatap serangga kecil yang menjijikkan.
"Lihat, kan? Masih saja kamu membual yang membuat isi perutku mual ingin muntah!Kamu kira dengan merendahkan diri begini, aku akan luluh dan percaya lagi sama omongan manismu?" cibir Alma sinis.
"Karena aku tahu, kamu bersimpuh bukan karena menyesal sudah menyakitiku, tapi karena kamu takut kehilangan kenyamanan. Kamu juga tak ingin aib-mu terbongkar yang bisa membuatmu kehilangan nama baik."
Alma menatap sengit ke arah Nova, tak ada lagi tatapan memuja dari sorot matanya. "Tetaplah berlutut di sana sampai tulangmu keropos, aku sudah nggak peduli. Dan jika kamu mengharap maaf dariku...sampai kapan pun tak akan pernah ada maaf bagimu!"
"Ketahuilah... semakin kamu merendahkan dirimu seperti ini, semakin aku yakin bahwa keputusanku untuk menghancurkanmu adalah yang paling benar. Kalau kamu pikir ini permainan? Maka aku nggak pernah main-main dengan ucapanku!"
Begitulah seorang wanita jika sudah merasakan sakit hati akibat ditipu mentah-mentah. Segala rasa cinta dan kepercayaan yang pernah ada, berubah menjadi rasa benci dan muak yang mendalam. Hal manis pun terasa pahit, kata lembut akan terdengar palsu dan sosok yang dulu ia junjung setinggi langit itu, kini tak ubahnya sekedar sampah yang ingin ia singkirkan jauh-jauh dari hidupnya.
Nova terdiam tak bisa berkata-kata lagi, seolah semua yang ingin dia ucapkan sudah terbantahkan oleh Alma. Pria itu semakin menunduk frustasi. Dan Alma menggunakan kesempatan itu untuk bergegas ke kamarnya di lantai atas.
Nova yang menyadarinya, segera mengejar, tetapi Alma langsung menutup pintu kamarnya rapat dan menguncinya dari dalam.
Tubuh Alma langsung merosot ke bawah bersandar di balik pintu. Ia menepuk-nepuk dadanya berkali-kali dengan tangan gemetar, berusaha mengatur napasnya yang mendadak tersengal, menahan derasnya rasa amarah yang kembali meluap memenuhi rongga dadanya.
Di luar pintu, Nova mengetuk pintu berkali-kali disertai rengekan, yang berusaha merayu Alma. Namun, suara itu justru membuat telinga Alma terasa gatal dan panas.
"Sayang... Tolong, buka pintunya sebentar saja. Mas nggak akan pergi sebelum kamu memaafkan, mas. Karena mas yakin, di dalam hatimu yang terdalam kamu masih sangat mencintai mas, kan? Ayo, kita mulai dari awal lagi, dan mas akan lebih mencintaimu lagi."
Alma bangkit dari duduknya, lalu mengambil koper yang berisi pakaian Nova yang sudah ia kemas sebelumnya. Lalu perlahan membuka pintu. Nova tersenyum cerah begitu Alma berdiri di depannya. Wanita itu langsung mendorong koper ke arah Nova yang membuat senyum di wajahnya luntur dalam sekejap.
"Sayang, ini... maksudnya apa?"
"Jangan berpura-pura bodoh. Pergilah dari rumah ini, karena akting murahanmu itu sudah nggak mempan lagi buatku. Dan... mari kita bercerai!"
Kalimat terakhir itu Alma ucapkan dengan tegas tanpa keraguan di hatinya. Membuat Nova melongo menatap Alma dengan pandangan tak percaya.