NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Langkah Fania membawanya ke sebuah tempat yang tidak ia rencanakan. Sebuah restoran kecil. Tenang, pencahayaannya hangat. Tidak terlalu ramai, namun cukup hidup untuk membuat seseorang tidak merasa sendirian.

Ia masuk, memilih meja di sudut. Tempat yang agak tersembunyi. Ia duduk kemudian memesan minuman. Bukan karena ingin. Namun lebih karena butuh alasan untuk berhenti, untuk diam. Untuk menenangkan sesuatu di dalam dirinya yang sejak tadi tidak berhenti bergerak.

Gelas diletakkan di depannya. Fania menatap cairan itu, terasa kosong. Seolah berharap pikirannya ikut menjadi kosong. Namun tidak.

Justru semakin jelas. Ronald.

Pagi tadi, ucapan sederhana. Tatapan singkat dan perasaan yang belum ia beri nama. Ia menghela napas pelan. Menutup mata sebentar.

Namun pintu restoran terbuka dan suara langkah kaki masuk. Dan entah kenapa tubuhnya merespons lebih dulu. Ia menoleh.

Dan di sana, Ronald bersama wanita itu. Langkah Fania terhenti, matanya membeku. Sejenak. Dadanya langsung terasa sesak.

Tanpa jeda, tanpa persiapan. Mereka terlihat santai. Saling berbicara, dekat, lebih dekat dari kemarin. Seolah lebih terbiasa.

Wanita itu tertawa kecil. Ronald menanggapi dengan singkat namun cukup.

Fania menunduk cepat secara refleks. Seolah ingin menghilang. Namun sudah terlambat, Ronald melihatnya. Tatapan mereka bertemu, beberapa detik dalam keterdiaman.

Wanita di sampingnya ikut menoleh. Melihat Fania, senyum kecil terukir di bibirnya. Terlihat tenang dan percaya diri. Seolah situasi itu biasa.

“Fania,” panggil Ronald. Nada suaranya datar namun jelas.

Fania tidak punya pilihan. Ia berdiri menghadap mereka.

“Kau di sini?” tanya Ronald. Pertanyaan sederhana namun terasa berat.

“Iya,” jawab Fania singkat. Matanya sempat melirik wanita itu sekilas.

Namun cukup untuk membuat perasaannya kembali bergerak.

“Sendiri?” tanya wanita itu.

Fania mengangguk. “Iya.”

Hening beberapa detik. Yang terasa lebih lama dari seharusnya.

“Kami baru mau duduk,” ujar wanita itu lagi. Nada suaranya ringan namun entah kenapa terdengar seperti pernyataan. Bukan sekadar informasi.

Sementara Ronald tidak bicara. Namun matanya tidak lepas dari Fania.

Fania menarik napas pelan. “Silakan,” ujarnya sopan namun dingin. Ia kembali duduk perlahan, berusaha terlihat biasa. Namun tangannya sedikit bergetar.

Ronald dan wanita itu duduk tidak jauh. Cukup dekat untuk terlihat, cukup dekat untuk terdengar. Dan itu membuat semuanya terasa lebih sempit.

Fania mencoba fokus pada minumannya, menyeruput pelan. Menatap gelasnya, namun pikirannya tidak bisa diam. Terlalu banyak yang ia dengar dan terlalu banyak yang ia rasakan.

Tanpa sadar matanya kembali melirik ke arah mereka, sekilas namun berulang. Dan setiap kali itu terjadi perasaannya semakin tidak nyaman. Namun ia tetap menahannya, tetap menolak mengakuinya. Bahwa yang ia rasakan adalah kecemburuan.

Pelayan datang mengantarkan pesanan. Dua gelas dan beberapa makanan kecil. Percakapan mulai terdengar tidak sepenuhnya jelas. Namun cukup jelas.

“Kau masih suka yang ini?” tanya wanita itu.

Ronald mengangguk. “Ya.”

Wanita itu tersenyum. “Kau tak berubah.”

Kalimat itu lagi-lagi mengganggu. Fania menggenggam gelasnya lebih erat. Ia menunduk namun telinganya tetap menangkap.

“Dulu kita sering datang kesini” lanjut wanita itu.

Fania mengangkat pandangannya sedikit, untuk melihat. Ronald tidak langsung menjawab. Namun ia juga tidak menyangkal.

Dan itu cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Fania semakin berat. Ia menghela napas pelan.

“Apa sih” gumamnya sangat pelan. Bahkan ia tidak sadar mengatakannya.

***

Waktu berjalan namun terasa lambat, sangat lambat. Fania membuka ponselnya, scrolling tanpa tujuan. Tanpa fokus, hanya untuk mengalihkan diri. Namun gagal, karena pikirannya tetap di sana. Di meja itu, di dua orang itu. Di setiap tawa kecil yang terdengar, yang entah kenapa terasa seperti menusuk.

“Fan.” Suara itu tiba-tiba lebih dekat.

Fania tersentak kemudian menoleh. Ronald berdiri di samping mejanya sendirian tidak bersama wanita itu.

Fania terdiam. “Iya?”

Ronald menatapnya lebih dalam dari sebelumnya.

“Kau yakin baik-baik saja?” Pertanyaan itu lagi. Namun kali ini lebih pelan dan lebih serius.

Fania menatapnya beberapa detik lalu tersenyum tipis.

“Memangnya aku kenapa?” Menghindar seperti biasa.

Ronald menghela napas pelan. “Kau terlihat berbeda.”

Fania menggeleng kecil. “Tidak.” Cepat, terlalu cepat.

Ronald diam, menatapnya. Menunggu, namun Fania tidak memberinya apa pun. Ia justru mengalihkan pandangan.

“Kembalilah ke mejamu,” ujarnya pelan dengan lembut, namun jelas mendorong.

Ronald tidak langsung bergerak. “Kau ingin pulang?”

Fania menatapnya lagi sebentar. Lalu menggeleng. "Tidak"

Padahal ia ingin. Namun ia tidak ingin terlihat seperti itu.

Ronald mengangguk kecil. “Baiklah.”

Ia berbalik kembali ke mejanya.

Dan saat itu Fania merasakan sesuatu yang aneh. Seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia miliki.

Wanita itu menatap Ronald saat ia kembali.

“Kau menghampirinya?” tanyanya santai.

Ronald mengangguk. Wanita itu tersenyum kecil.

“Masih perhatian ya.” Kalimat itu terdengar jelas.

Dan Fania mendengarnya. Tangannya kembali menegang. Namun wajahnya tetap datar. Ia menatap lurus ke depan seolah tidak peduli.

Padahal ia peduli, sangat.

Beberapa saat kemudian, wanita itu berdiri. “Aku ke toilet sebentar.”

Ronald mengangguk.

Kini Ronald sendirian. Dan Fania masih di sana. Dua meja, dua jarak namun terasa sangat dekat.

Ronald melirik, Fania pun sama. Tatapan mereka bertemu lebih lama. Tanpa gangguan, tanpa orang lain. Hanya mereka, dan sesuatu yang belum selesai.

Ronald berdiri melangkah menuju Fania. Tanpa ragu ia berhenti di depan meja menatapnya.

“Aku antar pulang.” Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Fania hanya terdiam menatapnya. “Aku bisa sendiri.”

Namun suaranya lebih pelan. Tidak setegas biasanya.

Ronald menggeleng. “Sudah mulai gelap.” Sederhana namun tegas.

Fania menggigit bibirnya pelan menahan sesuatu.

“Wanita itu bagaimana?” tanyanya refleks.

Ronald menjawab tanpa jeda. “Bukan masalah.” Kalimat itu singkat namun jelas.

Berbeda dari sebelumnya, Fania menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Halus namun nyata. Ia menghela napas pelan lalu berdiri. Tanpa banyak kata.

Ronald mengambil tasnya, refleks. Seperti dulu, dan kali ini Fania tidak menahannya.

Mereka berjalan keluar bersama berdampingan.

Langkah mereka pelan, sejajar. Tanpa percakapan namun tidak terasa sejauh sebelumnya.

Udara sore menyambut mereka, lebih dingin, ebih tenang. Namun di dalam diri Fania perasaan itu masih ada. Masih mengganggu. Masih belum diakui namun semakin jelas.

Bahwa apa pun yang ia coba tolak selama ini tidak benar-benar hilang.

Dan mungkin ia tidak sedang kehilangan sesuatu. Melainkan mulai menyadari bahwa ia masih menginginkannya.

Namun dalam pikirannya, Fania tetap terus menyangkal segala pikirannya yang menurutnya tak masuk akal.

"Mereka sepupu dan itu wajar. Aku tak cemburu. Aku sudah tak mencintainya, untuk apa aku cemburu. Mungkin aku gila jika itu benar terjadi." Gumam Fania dalam hati menertawakan dirinya yang ia rasa sangat konyol.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!