NovelToon NovelToon
Brine Dan Marine Garis Takdir

Brine Dan Marine Garis Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Katedral kebohongan

Katedral Oude Kerk berdiri megah di tengah Amsterdam, namun malam itu auranya terasa mencekam. Ratusan lilin menyala di dalam aula besar, memberikan cahaya kuning yang bergoyang pada deretan kursi kayu yang dipenuhi oleh elit politik dan bisnis Eropa. Di bagian depan, sebuah peti mati kosong yang terbuat dari kayu ek hitam diletakkan di atas podium, dikelilingi oleh bunga tulip putih yang mulai layu karena udara dingin.

Silas Marine berdiri di samping peti itu. Ia mengenakan setelan jas hitam pekat yang sempurna. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang sangat meyakinkan; ia bahkan sempat menyeka air mata palsu saat pendeta membacakan riwayat hidup Clara Marine.

"Adikku adalah jiwa yang bebas," suara Silas bergema melalui pengeras suara katedral. "Dia memilih hidup sederhana karena kerendahan hatinya. Namun, kegelapan dunia luar merenggutnya dari kita. Sebagai kakaknya, aku bersumpah akan meneruskan warisannya melalui yayasan yang hari ini secara resmi akan kuambil alih kendalinya."

Silas mengambil pena emas dari sakunya. Di depannya tergeletak dokumen pengalihan aset mutlak yang selama ini ia incar. Para saksi hukum sudah bersiap. Satu tanda tangan lagi, dan Clara akan benar-benar terhapus dari sejarah kepemilikan keluarga Marine.

Tamu yang Tak Diundang

Tepat saat ujung pena Silas menyentuh kertas, pintu besar katedral terbuka dengan dentuman keras. Angin malam yang dingin menderu masuk, memadamkan beberapa lilin di barisan belakang.

Seluruh hadirin menoleh. Dua sosok berjalan masuk melewati lorong tengah. Seorang pria tinggi besar dengan mantel panjang hitam dan tatapan mata biru yang menusuk, dan seorang wanita di sampingnya yang mengenakan gaun sutra kelabu tua, kepalanya tertutup kerudung yang perlahan ia buka.

Suasana katedral mendadak sunyi senyap, jenis kesunyian yang membuat detak jantung terdengar jelas.

"Kau terlalu cepat membacakan doa pemakaman, Silas," suara wanita itu jernih dan bergetar karena emosi.

Silas terpaku. Pena di tangannya jatuh ke lantai marmer. Wajahnya yang tadinya kemerahan karena akting duka, mendadak pucat seperti mayat. "Clara?"

Nikolai Brine melangkah maju satu tindak di depan Clara, tangannya secara refleks berada di balik mantelnya, siap menarik senjata jika pengawal Silas bergerak. Namun, tatapan Nikolai tetap tertuju pada Silas dengan seringai predator yang puas.

"Kau merindukannya, Silas?" tanya Nikolai dingin. "Atau kau kecewa karena bom di kapal itu tidak cukup kuat untuk membunuh adikmu sendiri?"

Gumam kegemparan pecah di antara para tamu. Kamera-kamera pers mulai menyala, menangkap momen paling skandal dalam sejarah keluarga Marine.

Pilihan Darah

Silas dengan cepat mencoba menguasai keadaan. "Ini gila! Wanita ini adalah penipu yang dibawa oleh mafia Rusia! Pengawal, amankan mereka!"

Namun, tak ada pengawal yang bergerak. Nikolai telah melumpuhkan sistem komunikasi dan menyuap beberapa tim keamanan internal Silas sebelum acara dimulai.

Clara melangkah maju, melewati Nikolai, dan berdiri tepat di depan saudara kembarnya. Mereka berdiri berhadapan—dua wajah yang identik, namun memiliki jiwa yang berbeda. Yang satu penuh dengan ambisi yang membusuk, yang satu penuh dengan luka yang mulai mengeras.

Nikolai memberikan sebuah pistol kecil berkilau kepada Clara. "Selesaikan ini, Clara. Dia mencoba membunuhmu. Dia pantas mati di tanganmu agar kau bisa mengambil kembali semua hakmu."

Clara menerima pistol itu. Ia mengarahkannya tepat ke dada Silas. Tangannya sedikit gemetar. Silas menatap moncong senjata itu dengan mata terbelalak, keringat dingin mengucur di dahinya.

"Lakukan, Clara! Jika kau tidak membunuhnya, dia akan terus memburumu!" seru Nikolai, suaranya penuh dorongan obsesif.

Clara menatap mata Silas. Ia melihat ketakutan di sana, namun ia juga melihat kenangan masa kecil mereka saat masih bermain di taman belakang rumah ini. Mereka berasal dari rahim yang sama. Mereka berbagi darah yang sama.

Perlahan, Clara menurunkan senjatanya.

"Aku tidak bisa, Nikolai," bisik Clara.

"Apa maksudmu?" Nikolai mendekat, wajahnya mengeras. "Dia mencoba menenggelamkanmu!"

Clara menoleh ke arah Nikolai, lalu kembali ke Silas. Ia mengambil dokumen pengalihan aset yang ada di meja. Tanpa ragu, Clara menandatangani dokumen itu—memberikan seluruh hak warisnya secara resmi kepada Silas Marine.

"Ini yang kau inginkan selama ini, Silas?" tanya Clara sambil melempar dokumen itu ke dada kakaknya. "Ambil semuanya. Kapal-kapalnya, uangnya, rumah-rumah ini, dan semua kutukan yang ada di dalamnya. Aku memberikan semuanya padamu."

Silas tertegun, memegang dokumen itu dengan tangan gemetar. "Kau... kau melepaskannya?"

"Aku tidak ingin menjadi sepertimu," ucap Clara tenang. "Aku melepaskan nama Marine. Mulai hari ini, aku bukan lagi adikmu. Aku bukan lagi pemilik perusahaan ini. Aku bebas dari kemewahan yang kau puja."

Clara berbalik dan menatap Nikolai. "Ayo pergi, Nikolai. Bawa aku ke Rusia. Bawa aku ke mana pun kau mau. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi di negeri ini."

Nikolai terdiam sejenak. Ia terkejut dengan keputusan Clara, namun kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menyadari bahwa dengan melepaskan hartanya, Clara kini benar-benar hanya miliknya. Tidak ada lagi keterikatan keluarga atau hukum yang bisa menarik wanita ini kembali.

Nikolai merangkul pinggang Clara dengan sangat posesif, seolah mengukuhkan kemenangan mutlaknya. "Seperti yang kau mau, Clara. Kau sudah membuang duniamu, jadi sekarang kau adalah duniaku sepenuhnya."

Mereka berjalan keluar dari katedral, meninggalkan Silas yang berdiri sendirian di depan peti mati kosong, memegang harta yang ia inginkan namun kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Di luar, salju Amsterdam mulai turun, menutupi jejak langkah mereka saat mereka menuju mobil yang akan membawa mereka kembali ke kegelapan Rusia—tempat di mana Clara tidak akan lagi menjadi pewaris, melainkan ratu di sisi sang iblis.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Mega Maharani
lanjut thor ditunggu update bab selanjutnya
olyv
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!