Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Desa Yang Suci
Sore itu bergulir dengan damai di Desa Tura. Alice dan Violet duduk santai di hadapan sekumpulan anak-anak desa yang berusia sekitar tujuh hingga sebelas tahun. Tak jauh dari posisi mereka, sebuah kuil sedang dikerjakan dengan penuh ketelitian oleh para tukang kayu dan batu. Namun, yang paling mencolok adalah sebuah mahakarya di sisi gerbang desa: sebuah patung Alice yang sedang dipahat dengan ukuran pinggul dan... dada yang sengaja dilebih-lebihkan, melampaui proporsi aslinya demi estetika "keilahian".
"Dewi... Jadi, di surga itu enak?" tanya seorang anak lelaki kecil yang duduk bersila di atas tanah, menatap Alice dengan binar mata penuh kekaguman.
Alice, yang duduk di bangku kayu, hanya bisa tersenyum getir di dalam hati. '
"Ahahaha... Xena.. Apa yang kau lakukan? Aku terpaksa mengikuti cerita bodohmu itu!!!"batin Alice meratapi nasibnya yang terjebak dalam sandiwara ini.
"Benar sekali, disana tidak adalagi rasa sakit. Semua makanan... Buah-buahan.. Ada disurga!" jawab Alice dengan senyum yang dipaksakan terlihat tulus, meski nuraninya menjerit karena telah melakukan kebohongan publik.
"Sungai berbentuk darah juga ada disana.. Itu untuk persembahan pada dewa." potong Violet tiba-tiba dengan senyum "mematikan" andalannya. Matanya membelalak memberi kesan dramatis, namun anehnya, anak-anak itu justru menelan mentah-mentah cerita horor tersebut.
"Vi.. Vio?" Alice mencoba memprotes dengan nada selembut mungkin, khawatir Violet merusak citra surgawi yang ia bangun.
Namun, celoteh anak-anak itu lebih cepat memotong aksinya.
"Waaah... Hebat sekali.. Sungai anggur ada, sungai darah ada... Surga hebat sekali ya?"
"Iya, pasti Disana ibu Dewi Alice sangat di puja!" sahut anak yang lain dengan antusias.
"Saat besar nanti aku mau jadi pelindung Dewi seperti paman Arthur dan Kak Xena!" teriak seorang anak dengan tekad membara, membuat para warga yang sedang bekerja di sekitar mereka menggelengkan kepala sembari tersenyum haru.
Seorang ibu rumah tangga yang sedang mencuci tak jauh dari sana bahkan sampai menyeka air mata dengan ujung celemeknya.
"Owh, Dewi benar-benar maha pengasih... Huff... Dia rela turun ke dunia fana ini dan meninggalkan surga demi kami semua.. Hiks..."
Isak tangis haru itu pun menular. Ibu-ibu di dekatnya ikut terhanyut dalam emosi.
"Hiks... Benar sekali.. Kita.. Kita harus melayani dewi lebih baik lagi.." mereka saling berpelukan, menguatkan janji setia pada sosok yang mereka anggap suci.
Alice hanya bisa memberikan senyum ramah kepada anak-anak di depannya. Sangat ramah, namun jika diperhatikan dengan saksama, ada getaran kecil di sudut bibirnya. ia sedang berjuang mati-matian menggigit bibir agar tidak meledak tertawa karena situasi absurd ini.
"Ayah... Ibu.. Apa kalian masih ada di dunia sana? Lihatlah anakmu disini, sudah dipuja menjadi dewi yang agung, Aku begitu bahagia, saking bahagianya aku sampai merasa kelelahan.." Alice kembali meratapi nasib di dalam benaknya.
Ia menarik napas panjang, mencoba tetap tenang di tengah kepungan orang-orang fanatik ini. Ia tahu, satu helaan napas yang salah bisa saja dianggap sebagai manifestasi kemurkaan ilahi.
"Wah, kalian hebat sekali, aku senang mendengar cita-cita kalian yang begitu.. Mulia.." ucap Alice dengan senyum simpul yang tampak anggun.
"Tentu saja Dewi.. Kami akan menjadi pelindungmu di masa depan!!" Sahut anak-anak serempak.
Violet hanya terkekeh senang menyaksikan pemandangan itu.
"Haha.. Hebatkan Alice, sepertinya kita harus melatih mereka bertarung mulai dari sekarang." tambahnya ngasal, yang disambut anggukan mantap dari anak-anak itu.
Suasana di Desa itu sangat hangat, dan anehnya begitu sakral. Penduduk sudah berhasil menata lantai, dan kini fokus pada pembangunan dinding kuil. Namun kehangatan itu tidak berlangsung lama. Dari kejauhan, derap langkah kuda yang riuh mulai terdengar, disusul kepulan asap tebal yang membubung dari arah jalan setapak.
Tap... Tap... Tap..
Sayup-sayup, suara teriakan warga Desa Vhalha yang datang berbondong-bondong mulai memecah kesunyian.
"Dewii...!!"
"Woy tunggu, aku duluan!"
"Hormati orang yang lebih tua, nak!"
Warga Desa Tura yang tadinya bekerja dengan teliti mendadak waspada. Secara refleks, mereka menyambar cangkul, parang, garu, bahkan bongkahan batu. Mereka membentuk barikade, bersiap menghadapi kemungkinan serangan dari luar.
Tap.. Tap... Tap.. Tap..
Penduduk Vhalha akhirnya tiba di depan gerbang. Mereka mengerem kuda mereka dengan mendadak, tertegun melihat patung "Dewi" yang terpahat begitu cantik menyerupai dewi-dewi Yunani kuno, berdiri angkuh di dekat pintu masuk desa.
"Kecantikan ini.. " gumam seorang warga Desa Vhalha yang baru saja turun dari kudanya. Ia terpana menatap patung yang lekuk tubuhnya telah "dimodifikasi" oleh sang pemahat, lalu dengan lancang mencoba menyentuhnya.
"Mundur!!" bentak sang pemahat patung asli Desa Tura. "Apa yang kau lakukan? Beraninya kau menyentuh tubuh Dewi Alice tanpa seizin kami?" Ia berdiri di depan karyanya, siap bertaruh nyawa melindungi kehormatan patung tersebut.
Keributan itu memancing Alice untuk bangkit. Ia melangkah perlahan menuju gerbang desa dengan gerakan yang diusahakan tetap tenang, meski di setiap langkahnya, ia merasakan tatapan pemujaan dari seluruh penduduk Tura.
Sesampainya di sana, Alice nyaris kehilangan ketenangannya saat melihat pemandangan aneh di depannya, seorang pemahat yang mengamuk karena patung "dirinya" hendak disentuh.
"Apa-apaan ini? Kalian bermain-main dengan patungku? Hentikan!!!" Alice menjerit dalam hati, wajahnya mulai merona merah karena malu meski ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Alice dengan nada yang dibuat seanggun mungkin kepada warga Desa Vhalha.
Pria yang tadi hendak menyentuh patung menatap Alice dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia tidak menyadari bahwa sosok di depannya adalah Dewi yang mereka cari-cari, 'karena patungnya dimodifikasi'.
"Kami.. Kami datang untuk meminta berkah dari dewi Alice, dimana sang dewi?" tanyanya dengan nada yang agak tidak sabar.
"KAU!!!"
"KURANG AJAR!"
"BERANI-BERANINYA DIA BERTANYA SEPERTI ITU?!"
Teriakan penuh amarah meledak dari warga Desa Tura yang sudah mengacungkan alat-alat pertanian mereka. Bagi mereka, ketidaktahuan pria itu adalah sebuah penistaan.
"Aku cuma bertanya, kenapa kalian marah?" pria Vhalha itu membela diri, kebingungan.
Kepala desa Vhalha, Mumu, tersentak Melihat reaksi warga Tura yang begitu protektif terhadap gadis di depannya, ia segera berpikir cerdas dan langsung menyimpulkan bahwa sosok di depannya saat ini adalah sang Dewi Alice.
Mumu, segera maju dan menarik warganya yang tidak sopan itu ke belakang.
"Ma... Maafkan kami... Pria ini memang sedang tidak normal.. Saya, Saya mumu kepala Desa Vhalha memohon maaf yang sebesar-besarnya.." Mumu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di hadapan Alice dan warga Tura.
Violet yang berdiri di samping Alice memberikan tatapan tajam.
"Nona kelinci, sepertinya kita akan makan enak malam ini." Ia menyeringai nakal, matanya tertuju pada karung-karung besar yang dibawa oleh setiap warga Desa Vhalha.
"Vio tenanglah.." bisik Alice, sebelum berdeham kecil. "uhum... Jadi.. Apa tujuan bapak datang ke sini?" tanyanya kembali dengan anggun.
Dengan gerakan cepat, Mumu meraih karung yang tergantung di pelana kudanya
"De... Dewi... Kami datang membawa persembahan yang berlimpah..." Mumu mulai mengeluarkan buah dan sayuran segar yang tampak ranum.
"Be... Begitu pula dengan anggur kesukaan anda." tambahnya sembari menyodorkan dua botol anggur berkualitas tinggi. Langkahnya segera diikuti oleh warga lainnya yang masing-masing membawa botol anggur sebagai upeti.
"XENAAA!!!" teriak Alice frustrasi dalam hati. Ia benar-benar ingin menghilang dari situasi absurd ini.
"Be.. Begitu ya.. Yah.. Terima kasih.. Kalau begitu.. Bawalah persembahan itu ke Alun-alun desa segera." ucap Alice dengan dahi yang sedikit berkerut, mencoba menahan emosi yang berkecamuk.
"Baik Dewi... Semuanya... Ayo bawa persembahan kita.!!!" perintah Mumu penuh semangat. Rombongan itu pun masuk ke desa dengan tertib, membawa persembahan mereka seolah sedang melakukan prosesi suci.
Tak lama setelah penduduk Desa Vhalha lewat, sebuah kereta dagang yang dikawal sepuluh prajurit bersenjata dari Kota Silph tampak mendekat. Alice memicingkan mata, menatap tajam ke arah sosok yang muncul dari dalam kereta.
Xena, sang penyebab utama segala kekacauan ini, Sedang duduk riang gembira menghitung koin yang ia terima dari prajurit Fredrick. Sebelum akhirnya dia menatap Alice dengan senyum tanpa dosa.
"Alice!! Kami kembali!!" Xena melambaikan tangannya dengan ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Di sampingnya, Arthur tampak mandi keringat dingin, sementara Albertio hanya duduk diam bersedekap, seolah sedang menunggu badai besar yang akan segera menerjang mereka semua.
Apa yang akan terjadi pada Alice setelah ini? Akankah Desa ini baik-baik saja?
cape😅