Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 20
Cuaca siang ini mendung, rintik hujan mulai membasahi tanah dan halaman toko. Udara di dalam toko yang semula sejuk karena pendingin ruangan juga jadi berubah dingin. Menggigil membuat tubuh kedinginan.
Aku masih setia menunggu di belakang kasir. Sambil sesekali mengawasi para pembeli. Aku masih menyuap sisa nasi yang kubeli tadi pagi.
Angin semakin berhembus dingin. Cuaca di dalam semakin gelap. Dan rintik hujan mulai turun tanpa jeda.
"Wuih mulai rame nih kalo hujan begini." Celetuk kak Aldi yang datang dari dalam. Rambutnya masih agak basah karena air.
Aku melirik ke halaman toko. "Iya tuh kak. Orang lewat pada berhenti."
Kak aldi mengangguk. "Kamu udah ngecek di rak barang?"
Aku menyengir memperlihatkan gigiku. Lalu menggeleng kikuk. Kadang aku masih belum tau harus mengerjakan apa jika sedang tidak melakukan apapun. Kadang seperti ini, malah bengong dan santai makan. Pada akhirnya kerjaan numpuk pas mau tutup.
Kak aldi menepuk jidatku pelan. "Bengong sih dari tadi. Makanya kalau ada masalah tuh cerita jangan dipendam sendiri." Kak Aldi mengambil kertas berisi daftar stok si gudang. "Biar aku aja yang ngerjain. Kamu ngecek uang masuk aja takut selisih."
Aku mengangguk kepada kak aldi sebelum dia berlalu pergi sambil menyomot polpen didepanku. Sedangkan aku segera membuka layar monitor di depanku. Menghitung menggunakan kalkulator di ponsel dan menghitung uang cash di laci kasir.
"Apa ada kopi hangat?"
Aku terkejut. Saking fokusnya aku tidak melihat ada orang yang sedang berdiri di depan kasir.
"Ohh.. kopi hangat? Ga ada mas." Aku menggaruk rambutku. Orang yang ada di depanku adalah orang yang dari tadi aku curigai sebagai audit kantor itu.
Pria itu mengangguk lalu menyodorkan sebotol minuman kopi kemasan dan keripik.
"Ini saja? Ada tambahan lagi?" Tanyaku berusaha ramah walaupun hatiku deg-degan tak karuan. Tatapan pria itu tajam seperti menohok langsung ke dalam hatiku membuatku menciut dihadapannya.
Laki-laki itu menggeleng. "Itu saja."
Aku mengangguk mengambil plastik untuk menaruh belanjaan itu.
"Ga usah pake plastik."
Aku mengangguk lagi. "Totalnya jadi dua puluh tiga ribu."
Uang pas yang ia keluarkan membuatku tersenyum kecil. Saat menerima uang pas saat sedang mengasiri ada rasa puas tersendiri bagiku.
"Kenapa senyam-senyum begitu?"
Aku terkejut setelah pundakku ditepuk oleh kak Aldi. Kenapa orang ini hari ini jadi suka membuatku terkejut? Apa dia mau aku jadi jantungan?
"Kak Aldi jangan suka ngagetin kaya gitu." Aku menggerutu kesal. Bukannya menjawab pertanyaannya.
---
Badanku rasanya tidak enak. Hujan turun terlalu deras sampai malam ini pun masih turun. Mungkin alam sedang balas dendam karena tiga hari kemarin matahari menyengat panas.
Aku pulang dengan basah kuyup. Padahal tadi kaka Aldi sudah menawarkan diri untuk mengantarku pulang dengan motornya, tapi aku menolak. Karena aku pikir hujan sudah mulai reda karena hanya tertinggal gerimis. Tapi nyatanya saat aku masuk gang rumahku hujan kembali deras. Sampai lubang jalan yang berada di pertigaan seperti kolam air yang dalam.
Badanku menggigil saat aku sampai di teras rumah. Untung tasku tas basah sampai dalam karena aku peluk sambil berlari. Mau meneduh pun rasanya percuma karena tinggal beberapa rumah lagi aku sampai.
Sayup-sayup aku mendengar suara tawa dari dalam rumah. Kakakku pasti sudah pulang pikirku. Kerjaan nya memang hanya sampai sore. Malah kadang kalau jalanan tak terlalu kotor siang hari pun sudah pulang.
Aku membuka pintu rumahku. Mengucapkan salam seadanya karena aku segera berlari karena basah badanku. Aku berlari ke dalam kamar mandi. Ada sarung milik almarhum ayahku disitu, dan pakaianku yang kemarin belum sempat aku masukkan ke dalam kamar.
Setelah melepas semua baju basahku, aku mengenakan baju kering ku. Memanaskan air untuk aku mandi walaupun rasanya air di kamar mandi seperti es batu yang baru keluar dari freezer.
Aku selesai mandi satu jam setelahnya. Hangat air yang aku rebus tadi cukup membuatku merasa nyaman. Sekarang giliran perutku yang tidak nyaman ingin di isi. Diatas meja dapur, tudung saji itu masih tertutup. Teryata benar, masih ada beberapa lauk. Ibu benar-benar baik masih menyisakan lauk untuk ku makan.
Aku masih mendengar suara obrolan di depan. Memang kakakku dan istrinya itu suka sekali duduk di depan televisi. Ibu juga sepertinya sudah mulai suka dengan menantunya itu.
"Kak.. ini ada chat dari pihak bank." Ucapku saat duduk bersama dengan mereka yang masih ayik menonton salah satu acara komedi di televisi.
"Ya.. di balas saja." Acuh kakakku. Kembali tertawa karena lelucon yang dilontarkan salah satu pemain televisi.
Aku mengeluarkan ponselku. "Mereka nagih uang setoran kak. Aku harus jawab apa?" Kakak iparku menatap ku sekilas. Aku memang belum terlalu akrab. Walaupun dulu dia sering memberi pesan padaku ternyata berbanding terbalik saat dia sudah menjadi istri kakakku. Dia terlihat cuek dan tak banyak omong denganku. Dan seakan selalu menghindar jika bertemu denganku.
"Kakak belum punya uangnya. Terserah kamu mau jawab apa?"
Aku jadi tambah bingung. "Terus gimana kak? Apa ga papa kalau terlambat begini?"
Kakaku mendengus dan berdecak. "Cerewet kamu! Tinggal bales akhir bulan atau bulan depan dibayar. Atau... Kamu mau bayar dulu juga ga papa."
Aku heran. Kenapa jadi aku? "Loh... Kan ini urusan kakak. Lagian uangnya kan buat biaya kakak nikah. Masa aku harus ikutan bayar?" Aku menatap ibu berharap ibu membelaku kali ini. Tapi sepertinya ibu tidak peduli, dia masih asyik menonton.
"Emangnya kamu ga ikut makan pas aku nikah? Emang kamu ikut kesana ga pake mobil? Mobil itu nyewa manda. Bukan nyuri."
Kenapa jadi seperti ini? Batinku marah dan kecewa. Perkara makan dihajatan saja sampai diungkit sebegininya. Apalagi dengan kakakku sendiri. "Yaudah kalau kaya gitu kak. Nomor ini aku blok. Terserah kakak mau gimana. Aku ganti biaya pas aku makan di nikahan kakak dan sewa mobil sesuai yang aku makan."
Aku pergi ke dalam kamar mengambil dua lembar uang ratusan ribu tabunganku yang kusimpan diam-diam.
"Ini! Ku kembalikan. Ambil kembaliannya jika ada."
Aku bergegas ke dalam kamar. Membuka ponselku dan menekan tombol blok nomor pihak bank itu sesuai omonganku. Tentu aku kecewa. Kecewa pada kakakku dan ibuku yang memilih diam.
Ingin rasanya aku juga mengungkit hal itu. Dia pikir, dia bisa lulus sekolah atas kerja keras siapa kalau bukan aku? Dia makan pakai uang siapa? Apa ayahku meninggalkan warisan sebanyak itu. Sudah syukur ayah tidak punya hutang besar.
Kenapa ya aku tidak bisa seberani ini mengucapkannya di depan orang yang selalu membuatku marah? Kenapa pikiran-pikiran ini hanya muncul saat aku sudah merasa kalah? Di depan orang aku hanya bisa menunduk takut dan akhirnya hanya bisa menangis.
Aku marah pada diriku sendiri yang tidak bisa membuka suara saat di depan orang. Marah pada diriku sendiri yang terlalu menurut pada orang walaupun aku tau mereka menindasku. Dan aku marah tidak bisa membalasnya.