NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Karena seseorang, untuk seseorang

Sinar matahari baru saja naik, menyelinap lembut di antara halaman rumah dan teras depan kediaman keluarga Bramantyo. Di sana, sudah cukup hidup dengan aktivitas kecil.

Anindia berdiri di samping Keanu, tasnya sudah tersampir rapi di bahu. Sementara itu, kedua orang tua Keanu duduk di kursi teras, dengan Shaka berada di pangkuan ayah Keanu. Tubuh kecilnya bersandar nyaman, sementara tangannya sibuk memainkan ujung baju sang Opa.

"Udah siap berangkat?" Tanya ibu Keanu sembari menatap keduanya bergantian.

"Udah, Ma," jawab Keanu santai.

Anindia ikut mengangguk pelan, "Iya, Ma."

Ayah Keanu memperhatikan keduanya, lalu mengangguk kecil. "Hati-hati di jalan," ujarnya.

"Iya, Pa," sahut Keanu.

Anindia melangkah mendekat ke arah Shaka. Ia menunduk sedikit, mengusap pipi putranya dengan lembut. "Shaka sama Opa, ya," ujarnya pelan.

Shaka menoleh, matanya langsung berbinar saat melihat ibunya lebih dekat. Sementara tangannya terangkat sedikit. Anindia tersenyum, lalu mencium kening kecil itu sekilas sebelum akhirnya kembali berdiri.

Keanu ikut mendekat, mengacak pelan rambut tipis Shaka. "Jangan nakal, ya," ujarnya.

Shaka justru tertawa kecil, tidak benar-benar mengerti tapi jelas menikmati perhatian itu.

"Ma, Pa, kami berangkat dulu, ya," ujar Keanu pada kedua orang tuanya, sembari mencium takzim tangan keduanya.

"Iya Ma, Pa... Nindi sama Mas Keanu ke kampus dulu, ya," ujar Anindia menimpali, ikut mencium tangan kedua mertuanya.

Ibu Keanu tersenyum, lalu mengangguk singkat. "Iya nak, semoga berkah ilmu yang didapat."

Anindia tersenyum tipis, lalu melangkah mundur sedikit, bersiap untuk berangkat. "Terima kasih, Ma." Ujarnya.

Setelahnya, Anindia dan Keanu berjalan menjauh dari teras. Namun, baru beberapa langkah, Anindia kembali berhenti. Ia menoleh ke arah Shaka, sembari melambaikan tangannya.

"Dadah sayang," ujar Anindia lembut.

Keanu ikut melambaikan tangan sedikit, "Dadah jagoan. Ayah sama bunda pergi dulu, ya," ujarnya.

Shaka langsung merespon dengan ocehan kecil, tangan mungilnya langsung terangkat seolah ingin ikut membalas lambaian. Beberapa detik kemudian, ia malah tertawa kecil, lalu tiba-tiba membenamkan wajahnya di dada sang Opa, seperti malu sendiri.

Melihat itu, Anindia refleks terkekeh pelan. Tatapannya langsung melembut, penuh rasa gemas. "Ya ampun, gemes banget sih," gumamnya tanpa sadar.

Keanu di sampingnya ikut tersenyum, bahunya sedikit bergetar menahan tawa. "Malu dia," ujarnya santai, tapi penuh kasih sayang.

Anindia menatap Shaka sekali lagi, sebelum akhirnya kembali melangkah, masih dengan senyum yang tersisa di wajahnya. Sementara Keanu menggeleng pelan, seolah belum selesai dibuat gemas oleh tingkah anaknya sendiri. Beberapa saat kemudian, ia mengikuti Anindia.

Keanu lebih dulu menaiki motor, lalu menghidupkan mesinnya. Setelahnya, Anindia ikut naik, tangannya masih bertahan di sisi jok motor.

Keanu melirik sekilas lewat kaca spion, memperhatikan istrinya yang belum juga bergerak. "Pegangan yang bener," ujarnya santai.

Anindia sempat menggerakkan tangannya. Tapi, sebelum benar-benar menyentuh pinggang suaminya, Keanu kembali berujar. "Atau... Mau pegangan helm lagi?"

Nada Keanu berubah sedikit, jelas ada nada menggoda di sana, membuat Anindia langsung terdiam. Tanpa sadar, wajahnya langsung memanas. Ingatan tentang kejadian kemarin terlintas begitu saja di benaknya.

"Jangan gitu dong, Mas," ujar Anindia pelan, setengah malu, setengah kesal.

Keanu justru terkekeh pelan, ia tidak menoleh tapi jelas menikmati reaksi itu. Anindia menghela nafas kecil, lalu tangannya bergerak cepat memeluk pinggang Keanu dari belakang. Sedikit lebih erat dari biasanya, seolah tidak memberi celah untuk digoda lagi.

Keanu tersenyum tipis, lalu membelai lembut tangan Anindia sekilas. "Nah, gitu dong," ujarnya.

Keanu melajukan motornya ke arah jalan, meninggalkan halaman rumah itu di belakang. Angin pagi sesekali berhembus lembut, membawa mereka menuju hari baru.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Beberapa jam berlalu, suasana di kelas Keanu sudah mulai lengang. Beberapa kursi telah kosong, sebagian mahasiswa telah meninggalkan ruangan setelah jam kuliah berakhir.

Namun di salah satu bangku, Keanu masih duduk santai. Tubuhnya sedikit bersandar, satu tangannya memegang buku yang terbuka di hadapannya. Matanya bergerak membaca baris demi baris tulisan, sebuah kebiasaan yang jarang bahkan hampir tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Keanu membalik halaman tanpa terburu-buru, tidak ada keinginan untuk segera pergi. Mungkin karena ia sedang menunggu. Anindia masih memiliki kelas berikutnya, dan menunggu seperti ini sama sekali tidak terasa membosankan untuknya.

Di meja seberang, seorang pemuda duduk dengan posisi setengah bersandar, memperhatikan Keanu sejak beberapa menit yang lalu. Matanya menyipit sedikit, seolah memastikan sesuatu.

Hingga akhirnya, pemuda itu berdiri. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk pundak Keanu singkat. "Bro," ujarnya.

Keanu menoleh saat pundaknya ditepuk. Tatapannya langsung bertemu dengan pemuda itu. Belum mengatakan apa-apa, pemuda di hadapannya kembali bersuara.

"Sorry," ujarnya sedikit merasa tidak enak, mungkin karena telah mengganggu aktivitas Keanu. "Lo dulu bukannya ketua geng?"

Keanu mengangkat sebelah alisnya, lalu mengangguk singkat. "Iya, dulu." Jawabnya santai.

Pemuda yang bernama Vito itu menyunggingkan senyum kecil, matanya masih mengamati Keanu seolah menemukan sesuatu yang menarik. "Sekarang berubah, ya," ujarnya sembari menarik kursi untuk duduk.

Keanu menutup bukunya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya lebih santai di kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Karena ada seseorang yang merubah gue."

Keanu terdiam sejenak setelah ucapannya sendiri. Tatapannya tidak lagi sepenuhnya ke arah Vito, seolah sempat melihat masa lalu yang telah ia tinggalkan.

"Dulu gue gak mikir panjang," lanjut Keanu pelan. "Bolos, tawuran, balapan, semua dilakuin gitu aja. Kayak gak ada alasan buat berhenti."

Vito mendengarkan dengan sabar, tanpa ingin menyela sedikitpun. Tatapannya terfokus pada Keanu, berusaha menangkap apa yang dikatakan olehnya.

Keanu menarik nafas sejenak, lalu menghembusnya perlahan. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, nyaris tak terlihat.

"Tapi sejak kenal dia lebih dekat," ujar Keanu lagi, nada suaranya terdengar lebih tenang. "Gue jadi punya alasan buat berubah." Ia menunduk sejenak, jemarinya mengetuk pelan permukaan buku yang tadi ia baca. "Bukan karena disuruh. Tapi karena gue pengen."

Vito terdiam sejenak setelah mendengar penuturan Keanu. Tatapannya masih tertuju pada Keanu, tapi kini ada ekspresi berbeda, ada rasa kagum yang tidak bisa ia tutupi.

"Wah," gumam Vito pelan, lalu tersenyum tipis. "Berat juga ya."

Keanu hanya menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya tetap santai. Sementara Vito menyandarkan punggungnya ke kursi, melirik ke lain arah sejenak sebelum kembali menatap Keanu.

"Jarang sih gue liat orang berubah segitunya karena satu orang," ujar Vito sembari menganggukkan kepalanya. "Biasanya, ya paling bentar doang."

Keanu terkekeh kecil, tapi tidak membantah. "Ya, gitu."

Vito kembali menatapnya, kali ini lebih serius. "Cewek lo berarti bukan tipe yang biasa, ya?"

Sudut bibir Keanu terangkat sedikit, tapi kali ini tanpa jawaban langsung. Tatapannya justru bergeser ke arah pintu kelas, seolah menunggu seseorang muncul dari sana.

"Dia luar biasa," ujar Keanu pelan, setelah hening beberapa saat. "Badboy kepala batu kayak gue aja bisa luluh," lanjutnya santai.

Vito akhirnya mengikuti arah pandang Keanu sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, menatap Keanu dengan senyum penuh arti.

"Yang mana sih orangnya?" Tanya Vito santai, sedikit penasaran.

Keanu akhirnya menoleh, "Nanti lo liat sendiri," ujarnya tanpa merubah nada suaranya, lalu ia tersenyum miring. "Btw, dia istri gue."

Detik itu juga, ekspresi Vito berhenti. Kedua matanya membulat sedikit, seolah butuh waktu untuk mencerna kalimat barusan. Tangannya yang tadi mengetuk meja, kini kaku tanpa gerakan.

"Hah?" Hanya itu yang keluar dari mulut Vito, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Keanu melirik sekilas ke arah jam tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan waktu yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Ia mengambil bukunya, lalu berdiri santai dari kursinya.

"Lain kali gue ceritain," ujar Keanu ringan, menepuk pelan pundak Vito. "Gue duluan."

Tanpa menunggu jawaban, Keanu langsung melangkah keluar dari kelas. Langkahnya tenang, tapi jelas punya tujuan.

Vito sendiri masih duduk di tempatnya. Tatapannya kosong ke arah pintu yang baru saja dilewati Keanu. Otaknya masih berusaha mengerti satu kalimat yang terasa seperti dilempar begitu saja.

Vito menggeleng singkat, lalu menghembuskan nafas kecil. "Gila," gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

Sementara itu, di sisi lain kampus, Anindia baru saja selesai dengan jam kuliahnya. Koridor masih cukup ramai dengan mahasiswa yang berlalu lalang keluar dari kelas.

Anindia melangkah keluar sembari merapikan tali tas di bahunya, pikirannya masih tertinggal pada materi yang baru saja selesai.

Namun, baru beberapa langkah keluar, hampir saja ia menabrak seseorang yang tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Anindia refleks mundur satu langkah, sedikit terkejut. Tatapannya langsung terangkat, melihat Ardy berdiri di sana.

"Hai," ujar Ardy santai. "Gue ganggu, gak?"

Anindia membalas dengan senyuman ramah, sikapnya tetap sopan, tapi jelas menjaga jarak. "Enggak ganggu, kak," jawab Anindia. "Ada apa, ya?"

Ardy terdiam sepersekian detik. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ekspresinya berubah menjadi canggung, seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat.

"Gue sebenernya..." Ardy berhenti sejenak, lalu menarik nafas kecil. "Mau ngajak makan bareng."

Ucapan itu keluar cepat, lalu Ardy buru-buru mengklarifikasi, seolah tidak ingin membuat Anindia berpikir ke hal lain. "Bukan apa-apa kok," lanjutnya sedikit tergesa. "Cuma, ya... Sebagai teman diskusi aja."

Tatapannya kembali ke arah Anindia, ada harapan tipis yang terselip di sana, meski ia berusaha terlihat santai.

Anindia tetap mempertahankan senyum ramahnya. Nada suaranya lembut, tapi tidak memberi ruang untuk disalahartikan.

"Terima kasih sebelumnya, kak," ujar Anindia sopan. "Tapi mungkin, lain waktu ya... Bareng yang lain."

Anindia memberi jeda sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. "Kalau sekarang, aku udah ada janji dengan seseorang."

Tatapannya tetap santun, namun terlihat tegas. Sikapnya halus, cukup untuk menunjukkan batas tanpa harus melukai.

Ardy terdiam sesaat, ada sedikit perubahan di wajahnya, nyaris tak terlihat. Ada rasa kecewa yang ia tahan. Namun, ia tidak ingin memperpanjang. Ia justru tersenyum, berusaha terlihat biasa saja. "Iya, santai," ujarnya.

Pandangan Anindia tanpa sadar bergeser ke koridor depan. Sosok yang dikenalnya berjalan dengan langkah tenang, seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih ceria.

Anindia kembali menoleh ke arah Ardy, "Aku duluan ya, Kak," ujarnya sopan.

Tanpa menunggu jawaban, Anindia langsung berlari kecil menghampiri Keanu. Setelahnya, ia memperlambat langkahnya begitu sampai di depan Keanu. Tanpa ragu, ia langsung merangkul lengan pria itu dengan akrab. Kini, posisi mereka bersebelahan.

"Maaf ya, lama," ujar Anindia pelan, mendongak sedikit untuk menatap Keanu.

Keanu menatap Anindia sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum hangat. Tangannya terulur, mengacak rambut Anindia sekilas.

"Enggak papa," ujar Keanu lembut. Tatapannya turun sedikit, memastikan Anindia baik-baik saja, lalu kembali menatap wajah istrinya. "Sekarang ke kantin?"

Tangan Keanu yang tadi mengacak rambut Anindia, kini turun perlahan. Sementara langkahnya sudah siap bergerak, menunggu Anindia ikut bersamanya.

Anindia mengangguk pelan, senyumnya masih tersisa. Tanpa melepas rangkulan di lengan Keanu, ia melangkah bersamanya. Keduanya berjalan berdampingan, menuju ke arah kantin.

Dari tempatnya berdiri, Ardy masih memperhatikan. Tatapannya mengikuti hingga sosok keduanya perlahan jauh di koridor.

Ada sesuatu yang terasa menekan di dadanya, halus tapi cukup untuk membuatnya diam lebih lama dari biasanya. Perasaan yang sebenarnya sudah ia pahami sejak awal, tapi tetap saja tidak bisa ia abaikan sepenuhnya.

Ardy menunduk sedikit, menghela nafas pelan. Lalu, tatapannya kembali ke arah yang baru saja dilewati oleh Anindia dan Keanu. Tanpa sadar, tangannya mengepal kecil, hanya sejenak sebelum akhirnya ia lepaskan lagi.

"Kenal lo itu anugerah," ujar Ardy lirih pada dirinya sendiri. "Tapi buat jadi bagian di hidup lo..."

"Gue telat, Anin."

Ardy tersenyum tipis setelahnya, senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. Lalu, ia berbalik, melangkah pergi ke arah yang berlawanan.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!