Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara pertemuan keluarga yang penuh kejutan
Matahari sore mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga yang hangat ke dalam ruang tamu kediaman Diningrat. Wangi aroma teh melati dan kue-kue tradisional yang baru matang memenuhi udara. Bu Kinan dan Pak Prasetyo tampak sibuk memastikan segala sesuatunya sempurna. Bagi mereka, ini adalah momen penting untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga Dita.
Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di depan gerbang. Elsa, dengan pakaian rapi yang sederhana namun bersahaja, turun bersama Mimi yang menenteng sebuah bingkisan buah.
"Selamat sore, Ibu... Bapak... Maaf jika kami merepotkan," sapa Elsa dengan senyum tulus saat disambut di teras.
"Oh, sama sekali tidak, Jeng Elsa! Mari masuk, kami sudah menunggu dari tadi," sahut Bu Kinan dengan antusias, segera merangkul lengan Elsa seolah sudah kenal lama. Pak Pras pun menjabat tangan Mimi dengan ramah, menghargai kehadiran kakak tiri Dita yang dikenal sangat protektif itu.
Namun, suasana hangat itu mendadak terasa dingin saat mereka melangkah masuk ke ruang tengah. Di sofa sudut, Maudy duduk bersedekap dengan kaki menyilang, sementara Siena berdiri di sampingnya sambil memeluk boneka dengan wajah cemberut.
"Jadi ini keluarga 'Nenek Sihir' itu?" gumam Siena, cukup keras untuk didengar oleh Mimi.
Maudy hanya menyeringai tipis, menatap Elsa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Silakan duduk. Maaf ya kalau rumah ini terlalu besar, semoga kalian tidak merasa canggung," ucap Maudy dengan nada sindiran tajam yang kental.
Mimi mengerutkan kening. Ia bisa merasakan duri dalam setiap kata yang diucapkan wanita itu. Sebagai kakak yang selama ini menjaga Dita, instingnya langsung waspada. Ia melirik Elsa, dan sang ibu tiri pun memberikan kode lewat tatapan mata agar Mimi tetap tenang.
"Terima kasih, Jeng Maudy. Rumah ini memang indah, tapi keramahan tuan rumahnya jauh lebih indah bagi kami," balas Elsa dengan tenang, mencoba mencairkan suasana meski ia tahu ada permusuhan yang tersirat.
Dita turun dari lantai atas bersama Arjuna yang lengannya masih terbalut perban. Melihat keluarganya datang, wajah Dita langsung cerah. Ia berlari kecil memeluk Elsa dan Mimi.
"Tante! Kak Mimi!" seru Dita haru.
"Duh, adik Kakak... sudah jadi istri orang kok masih manja begini," goda Mimi sambil mengelus rambut Dita, namun matanya tetap melirik tajam ke arah Maudy yang masih menatap sinis.
Arjuna mendekat dan menyalami Elsa dengan hormat. "Terima kasih sudah datang, Tante. Maaf tangan saya sedang begini jadi tidak bisa menyambut dengan maksimal."
"Tidak apa-apa, Juna. Yang penting kalian berdua sehat," sahut Elsa tulus.
Di sudut ruangan, Maudy berbisik pada Siena, "Lihat itu, Siena. Mereka berakting seolah-olah keluarga paling bahagia. Padahal kita tahu apa yang sebenarnya terjadi, kan?"
Siena mengangguk mantap. Sementara itu, Pak Prasetyo yang menyadari gelagat tidak enak dari Maudy, berdehem keras. "Ayo, mari kita ke meja makan. Jangan biarkan makanannya dingin. Jeng Elsa, Mimi, silakan."
Meskipun jamuan dimulai dengan obrolan hangat dari Bu Kinan dan Pak Pras, Mimi tidak bisa menghilangkan rasa tidak nyamannya. Ia merasa ada badai yang sedang disiapkan oleh wanita bernama Maudy itu untuk menghancurkan kebahagiaan adiknya.
*
*
Suasana di ruang makan yang awalnya hangat mendadak berubah menjadi medan pertempuran tak kasat mata saat Maudy mulai memperbaiki posisi duduknya. Ia melirik Angga yang baru saja turun dari lantai atas dengan tangan terbalut perban, lalu pandangannya beralih pada Elsa dan Mimi dengan senyum penuh arti.
"Oh iya, Jeng Elsa, Mimi... kenalkan ini adik bungsu Mas Juna, namanya Angga. Dia satu sekolah lho sama Dita," ucap Maudy dengan nada suara yang sengaja dibuat manis namun beracun. "Dunia sempit sekali ya? Masa kalian tidak tahu kalau adik Mas Juna itu teman sekolah Dita?"
Deg!
Elsa dan Mimi hampir saja menjatuhkan sendok mereka. Jantung mereka berdegup kencang saat melihat sosok pemuda yang melangkah mendekat itu. Mereka sangat mengenali wajah itu, pria yang selama ini mengisi hari-hari Dita, kekasih yang sering diceritakan Dita dengan penuh binar mata. Namun, kenyataan bahwa Angga adalah adik kandung Arjuna benar-benar sebuah tamparan keras yang tak terduga.
Angga, yang menyadari situasi genting ini, segera mengatur ekspresi wajahnya. Sebelum rasa syok Elsa dan Mimi terlihat oleh Maudy, Angga melangkah maju dan memberikan kedipan singkat yang hanya bisa ditangkap oleh Mimi. Sebuah kode bisu untuk tetap tenang dan mengikuti alur permainannya.
Mimi, yang memiliki insting tajam, segera menangkap sinyal itu. Ia berdehem kecil, mencoba menetralkan raut wajahnya yang sempat pucat.
"Eh, ada Angga juga di sini? Wah, ternyata benar dugaanku," sahut Mimi dengan nada ramah yang dibuat-buat, seolah ia sudah mengetahui fakta itu sejak lama. "Dita sempat bilang kalau ada temannya yang juga tinggal di daerah sini, ternyata itu kamu ya, Ngga?"
Angga tersenyum tipis, lalu dengan sopan menyalami Elsa dan Mimi. "Iya, Kak Mimi, Tante Elsa. Maaf ya, saya baru bergabung. Tangan saya masih agak kaku soalnya," ucap Angga dengan nada bicara yang sangat formal, seolah-olah hubungan mereka hanyalah sekadar kenalan biasa.
Dita yang duduk di samping Arjuna merasa sesak napas. Ia hanya bisa menunduk, meremas taplak meja di bawah sana. Ia tahu sandiwara ini sangat berbahaya.
Maudy yang melihat reaksi Mimi yang tampak tenang justru merasa kesal. Rencananya untuk membuat keributan lewat pengakuan spontan gagal total. Namun, ia belum menyerah. Ia tahu ada sesuatu yang lebih besar yang ia simpan di dalam ponselnya.
"Wah, kalian akrab sekali ya? Sampai Angga menyalami kalian seperti keluarga sendiri," sindir Maudy sambil merogoh ponsel di saku gaunnya.
"Tapi tahu tidak... terkadang teman sekolah itu bisa lebih dari sekadar teman, kan? Apalagi di zaman sekarang, anak SMA kan suka sekali peluk-pelukan di tempat umum."
Maudy melirik ke arah Arjuna yang sedang menikmati tehnya. Ia mulai membuka galeri foto di ponselnya, mencari foto hasil jepretan orang suruhannya, yakni anak buah Gareng yang belum terdeteksi polisi.
"Mas Juna, aku punya sesuatu yang sangat menarik untuk diperlihatkan. Mungkin Mas Juna harus lihat bagaimana 'kedekatan' istri Mas Juna ini dengan temannya di luar sana sebelum insiden penculikan itu," ucap Maudy dengan nada provokatif, jemarinya siap menggeser layar ponsel ke arah Arjuna.
Suasana meja makan seketika membeku. Elsa dan Mimi saling lirik, mereka tahu Maudy sedang memegang kartu as yang bisa menghancurkan Dita seketika. Sementara Arjuna, ia meletakkan cangkir tehnya perlahan, matanya yang tajam mulai menatap Maudy dengan sorot yang sulit dibaca.
Bersambung...
ini lagi satu ulet bulu blom kapok jg yah ganggu rumah tangga orang tau rasa lu d usir sama.juna huuh 😤😤
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna