NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: LAMARAN PAKAI INFUS

Tiga hari Tuan Arga dirawat. Tiga hari juga aku nggak pulang, nggak ngampus, nggak ganti baju. Cuma bolak-balik kantin RS - kamar rawat - toilet. Hoodie hitamnya udah bau apek, tapi males lepas. Wangi parfum kayu dia masih nempel, bikin tenang.

Hari keempat, dia udah bisa duduk. Luka tembaknya udah dijahit, tapi masih nggak boleh banyak gerak. Makan aja disuapin suster. Tapi mulutnya udah mulai pedes lagi.

"Siska, bubur lo kebanyakan air. Ini bubur apa kolam renang?" protesnya pas aku nyuapin bubur ayam.

"Rewel amat jadi pasien! Mau gue cekokin aja?" Aku jutek, tapi tetep nyuapin. Soalnya kalo nggak aku yang suapin, dia mogok makan. Katanya bubur RS nggak enak, kecuali aku yang nyuapin. Gombal.

Tiba-tiba pintu kamar kebuka. Elang masuk bawa kardus gede. Di belakangnya ada 4 orang pake jas hitam, bawa bunga, bawa kotak beludru, bawa... biola?

Aku langsung panik. "Ini apaan? Om Arga mau dijenguk investor?"

Tuan Arga nggak jawab. Dia malah ngode ke Elang. Elang sama 4 orang itu langsung nyebar. Yang satu naruh vas bunga mawar merah segede gaban di meja. Yang satu gelar karpet merah dari pintu sampe ranjang. Yang satu nyalain lilin aromaterapi. Yang bawa biola mulai gesek lagu "Canon in D". Romantis banget, tapi di kamar RS. Absurd.

"Om," bisikku panik. "Ini apaan? Om mau ngusir setan?"

Tuan Arga narik napas, terus neken tombol buat naikin ranjangnya sampe posisi duduk. Wajahnya masih pucet, tapi matanya serius banget. "Siska Putri Lestari," panggilnya, nama lengkapku. Kapan dia tau nama tengahku?

Aku beku. "I-iya, Om?"

"Gue janji di surat, kalo gue selamat, gue bakal ngelamar lo ulang. Yang bener." Dia ngode lagi ke Elang. Elang maju sambil bawa kotak beludru, bukanya pelan-pelan.

Isinya cincin. Cincin berlian, gede banget, mata gue silau. Kayaknya kalo dijual bisa lunasin utang 5 kampung.

"Gue tau ini norak. Ngelamar di RS, gue masih pake baju pasien, infus masih nancep," katanya sambil nunjuk selang infus di tangan kiri. "Tapi gue nggak mau nunggu. Lima tahun gue nunggu Alina, ujung-ujungnya dia pergi. Sekarang gue nemu lo, gue nggak mau ambil risiko kehilangan lagi sedetik pun."

Muka gue panas. Jantung gue kayak drum band. Perawat sama suster pada ngintip dari kaca pintu sambil senyum-senyum. Elang sama anak buahnya pada nunduk, nahan ketawa.

"Om... Om serius? Nggak lagi manfaatin gue kan?" Suaraku lirih, takut ini prank.

Tuan Arga senyum tipis. "Kalo manfaatin, ngapain gue kasih cincin 5 M? Mending gue beli pulau."

ANJIR 5 M. GUE MAU PINGSAN.

"Gue nggak janji bisa jadi suami sempurna," lanjutnya. Suaranya serak tapi mantap. "Gue umur 35, kaku, galak, kerjaan mulu, trauma masa lalu numpuk. Lo masih 21, harusnya main, kuliah, nongkrong. Tapi gue egois. Gue mau lo di samping gue. Gue mau bangun tidur liat muka lo yang nggak pake makeup, denger lo ngorok, denger lo ngomel kalo gue lupa makan."

Aku gigit bibir. Air mata udah di ujung.

"Gue nggak bisa kasih lo dunia, Siska. Dunia udah gue punya. Tapi gue bisa kasih lo seluruh dunia gue. Rumah gue, nama gue, waktu gue, hidup gue. Asal lo mau." Dia narik napas panjang, meringis karena jahitan dadanya ketarik. "Jadi... Siska Putri Lestari... mau nggak lo nikah sama gue? Yang beneran? Bukan kontrak? Jadi Nyonya Arga Pratama selamanya?"

Hening. Cuma ada suara biola sama suara monitor jantung Tuan Arga yang tit... tit... tit... cepet banget. Jantung gue juga.

Gue liat cincinnya. Liat muka Tuan Arga yang pucet tapi berharap. Liat Elang yang udah siap tepuk tangan. Liat suster-suster yang udah siap gosip.

Terus gue inget 3 minggu lalu. Gue cuma anak kos yang utangnya 500 juta, mau dijual ke rentenir. Sekarang ada om-om konglomerat, ditembak gara-gara lindungin gue, sekarang ngelamar pake cincin 5 M sambil diinfus.

Hidup gue kayak FTV Indosiar.

"Gimana?" Tuan Arga nanya lagi, napasnya mulai ngos-ngosan. "Kalo lo diem terus gue bisa kambuh, Sis."

Aku ngakak kenceng sampe perawat negur. "Sssst, Mbak! Ini RS!"

"Om," kataku akhirnya, udah nggak nahan nangis. "Om yakin? Gue bawel, gue boros, gue nggak bisa masak, gue cuma bisa mie instan. Gue nggak selembut Alina."

"Gue nggak mau Alina," potongnya cepet. "Gue mau lo. Siska yang bawel. Siska yang bikin mie gosong. Siska yang berani nembak Dimas. Siska yang nyelametin gue."

DEG. Oke. Gue kalah.

Aku maju, terus... ngejitak jidatnya. PLETAK!

"ADUH!" Tuan Arga kaget, megang jidat. Elang sama anak buahnya melongo. Suster mau pingsan. Siapa yang jitak pasien kritis?

"Itu," kataku sambil nangis tapi ketawa, "bayaran karena Om udah bikin gue nunggu, bikin gue takut, bikin gue jatuh cinta sama om-om galak!"

Tuan Arga bengong, terus... ngakak. Ngakak kenceng sampe jahitan dadanya sakit. "ADUH... SAKIT, SIS... TAPI... IYA... GUE TERIMA JIWAKANNYA!"

Aku ambil cincin dari kotak, terus pasang sendiri ke jari manis gue. Kegedean, tapi bodo amat. "Iya, Om. Iya. Gue mau. Gue mau nikah beneran sama Om. Gue mau jadi Nyonya Arga Pratama. Tapi dengan syarat!"

"Apa?" tanyanya, mata berbinar.

"Pertama, Om nggak boleh galak lagi sama gue. Kedua, Om harus belajar makan seblak. Ketiga..."

Aku deketin kupingnya, bisik: "Om harus manggil gue 'Sayang' minimal 3x sehari. Kalo nggak, gue jual cincin 5 M ini."

Tuan Arga melot, terus narik kerah hoodie gue sampe muka kita jarak 5 cm. Napasnya anget. "Syarat diterima," bisiknya. "Sekarang gantian. Syarat dari gue: Lo nggak boleh ninggalin gue lagi. Selamanya. Kalo lo ninggalin..."

"Gue bakar saham Om?" potongku, ngeledek.

Dia nyengir. "Nggak. Kalo lo ninggalin gue... gue nyusul. Ke mana pun lo pergi. Di dunia atau di akhirat."

Bulu kuduk gue merinding. Om-om ini kalo bucin serem juga.

Terus, di depan Elang, suster, 4 bodyguard, dan pemain biola, Tuan Arga narik tengkuk gue pelan, terus... nempelin keningnya ke kening gue. Nggak cium. Cuma nempel kening. Tapi rasanya... anjir, lebih panas dari ciuman.

"Sayang," bisiknya. Pas. Lembut. Bikin lutut lemes. "Yang pertama. Kurang dua lagi hari ini."

Suster-suster di luar udah pada tepuk tangan sambil "HiiiYYYY". Elang tepuk jidat. "Tuan, jahitannya, Tuan."

Aku lepasin keningnya, muka merah kayak kepiting rebus. "Om! Malu! Banyak orang!"

"Biarin," katanya santai, senderan lagi ke bantal, tapi tangannya nggak lepasin tanganku. "Biar satu RS tau kalo Arga Pratama udah nggak dingin lagi. Udah ada yang manasin."

Dan sejak hari itu, statusku resmi berubah. Dari istri kontrak jadi istri beneran. Dari anak kos jadi Nyonya Pratama. Dari umpan jadi ratu.

Tapi perang belum selesai, Ma. Karena Clarissa masih di luar sana. Dan dia nggak terima gue ambil tahtanya.

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!