NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Sangat Terkontrol

Sinar matahari sore menembus jendela kaca lantai dua belas, memantul di atas meja marmer Shanaya. Anastasia berdiri di sana. Mengenakan kemeja sutra krem yang harganya setara motor matic, tapi wajahnya tidak bisa bohong. Lingkaran hitam di bawah matanya terlalu tebal buat ditutupi concealer mahal. Skandal plagiat kemarin benar-benar menguliti reputasinya sampai habis.

"Tumben ke sini. Nggak takut dikejar wartawan di lobi?" Shanaya tidak mendongak. Jemarinya sibuk membalik lembar kain sampel dari Italia.

"Mereka tuh emang rese banget ya, Kak. Nggak tahu apa-apa tapi sotoynya minta ampun." Anastasia menarik kursi tanpa diminta. Ia duduk, menyilangkan kaki, dan menaruh tas branded-nya di atas meja seolah itu benda paling berharga di dunia. "Tapi ya udah sih, aku ke sini bukan mau curhat soal mereka kok."

Shanaya meletakkan potongan kain sutra merah marun itu. Ia menatap sepupunya lurus. "Terus? Mau pinjam uang lagi buat bayar ganti rugi desainer Bandung itu?"

Wajah Anastasia kaku sekejap. Bibirnya bergetar, tapi ia segera memaksakan tawa yang terdengar seperti kaset kusut. "Duh, Kak Naya lucu deh. Masalah itu mah udah diberesin sama tim pengacara Mas Alvian. Beres dong, ya."

"Oh ya? Hebat ya Mas Alvian." Shanaya menyandarkan punggungnya. "Padahal uang perusahaan lagi diputar buat koleksi musim gugur lho."

"Nah! Itu dia yang mau aku omongin!" Anastasia mencondongkan tubuhnya. Matanya berbinar, tapi jenis binar yang haus darah. "Kak, aku punya ide jenius buat nyelamatin nama Kesuma Mode. Publik sekarang lagi sensi banget kan sama aku? Gimana kalau kita bikin kolaborasi?"

Shanaya menaikkan sebelah alisnya. "Kolaborasi?"

"Iya! Family United Series. Kita rilis koleksi musim gugur bareng. Nama kita berdua ada di labelnya. Aku udah nyiapin sepuluh draf desain yang fresh banget." Anastasia mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya, menggeser beberapa gambar sketsa ke arah Shanaya. "Ini bakal jadi bukti kalau kita solid. Publik bakal mikir berita kemarin itu cuma fitnah buat hancurin keluarga kita. Win-win solution kan, Kak?"

Shanaya memindai gambar-gambar itu. Sketsa-sketsa itu indah. Terlalu indah buat dikerjakan oleh Anastasia dalam waktu semalam di tengah depresi skandal.

Shanaya langsung mengenali gaya garis itu. Potongan bahu tajam, siluet memanjang, dan detail lipatan asimetris khas Chae Si-eun. Desainer pemula dari Korea yang baru memenangkan kompetisi fashion Asia bulan lalu.

Anastasia bahkan terlalu malas untuk mencuri dengan rapi.

"Bagus sih." Shanaya mengangguk pelan, pura-pura terpesona. "Tapi apa nggak terlalu berisiko buat kamu, Nas? Kamu kan lagi... ya, tahu sendiri lah, lagi jadi sorotan."

"Justru itu, Kak! Ini kesempatan aku buat cleansing nama baik." Anastasia menggenggam tangan Shanaya di atas meja. Dingin dan licin. "Aku butuh panggung Kakak. Dan Kakak butuh desain aku biar koleksi musim gugur ini nggak kelihatan membosankan. Kita kan keluarga, ya kan?"

Shanaya menarik tangannya perlahan, pura-pura memperbaiki letak jam tangan pintarnya. "Mas Alvian tahu soal ide ini?"

"Dia yang nyaranin malah!" Anastasia keceplosan, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan, berpura-pura batuk kecil. "Maksud aku, Mas Alvian pasti setuju banget kalau ini demi kebaikan perusahaan."

Shanaya tersenyum. Sangat tipis. Sangat terkontrol. Jadi Alvian yang mengirim ular ini ke mari. Strategi yang bisa ditebak. Kalau koleksi ini sukses, Anastasia akan mengklaim semua kredit desainnya, dan Alvian akan punya alasan kuat buat bilang kalau Shanaya nggak bisa apa-apa tanpa bantuan mereka. Kalau gagal atau ketahuan plagiat lagi, Shanaya yang akan jadi kambing hitam utama karena posisinya sebagai penanggung jawab proyek.

"Ide yang menarik." Shanaya mengetuk-ngetuk dagunya. "Tapi aku perlu jaminan, Nas. Aku nggak mau kejadian kemarin terulang. Kamu bisa jamin kalau desain-desain ini murni punya kamu?"

"Ya ampun, Kak Naya kok gitu sih?" Anastasia memasang wajah terluka. Matanya mulai berkaca-kaca, akting andalannya sejak mereka kecil. "Aku tuh beneran udah tobat. Ini semua hasil keringat aku sendiri lho. Aku begadang tiga hari cuma buat Kakak."

"Tiga hari?" Shanaya memotong. "Cepat banget ya buat sepuluh desain serumit ini."

"Inspirasi emang suka datang mendadak kalau lagi kepepet, Kak." Anastasia mengusap sudut matanya yang kering. "Pokoknya Kakak tenang aja. Aku udah siapin surat pernyataan di bawah materai kalau perlu. Yang penting nama aku masuk di koleksi ini sebagai lead designer."

Nah, itu dia tujuannya. Lead designer. Kursi yang seharusnya milik Shanaya.

"Ya udah deh kalau gitu." Shanaya menghela napas panjang, berakting seolah ia sudah benar-benar lelah dengan tekanan yang ada.

"Aku bakal bawa proposal ini ke rapat direksi besok pagi. Tapi draf aslinya harus kamu tinggal di sini ya? Aku mau pelajari detail bahannya."

"Beneran, Kak?" Anastasia hampir melompat dari kursinya. "Duh, Kak Naya emang yang terbaik deh! Aku sayang banget sama Kakak."

Anastasia berdiri, lalu memutar badannya menuju pintu. Ia berjalan dengan langkah ringan, kepalanya tegak kembali seolah skandal kemarin hanyalah debu yang baru saja ditiup hilang. Ia tidak tahu kalau setiap gerakannya terekam jelas oleh kamera pengawas tersembunyi di sudut langit-langit.

"Nas," panggil Shanaya saat tangan Anastasia sudah memegang gagang pintu.

Gadis itu menoleh. "Ya, Kak?"

"Besok pagi, jangan telat ya. Aku mau kamu presentasi langsung di depan Mama."

"Siap, Kak! Aku bakal dandan cantik biar Tante makin bangga sama kita berdua."

Anastasia memberikan ciuman jauh, lalu menghilang di balik pintu kayu mahoni itu.

Keheningan kembali menguasai ruangan. Shanaya menatap tablet yang ditinggalkan Anastasia. Ia menggeser layarnya, melihat satu per satu sketsa curian itu dengan tatapan jijik.

Ia menyentuh layar jam tangannya. Sebuah bar gelombang suara muncul.

"...aku tuh beneran udah tobat. Ini semua hasil keringat aku sendiri lho. Aku begadang tiga hari cuma buat Kakak..."

Suara Anastasia terdengar sangat jernih dalam rekaman itu. Begitu juga pengakuannya soal Alvian yang menyarankan ide jebakan ini.

Shanaya menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia menutup mata sejenak, membiarkan rasa puas yang dingin menjalar di dadanya. Anastasia pikir dia baru saja mendapatkan tiket emas untuk kembali ke puncak. Padahal, tanpa sadar Anastasia baru saja mengukur sendiri lehernya untuk tali gantungan itu.

Alvian juga sama saja. Pria itu terlalu sombong, mengira Shanaya masih bisa dikendalikan dengan sedikit tekanan psikologis. Mereka memang tidak tahu kalau Shanaya yang sekarang sudah pernah melihat akhir dari semua permainan kotor ini.

Ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat ke Mira.

Siapkan tim investigasi buat cek desainer muda Korea bernama Chae Si-eun. Cari hubungan antara agensinya dengan perusahaan Alvian. Aku mau buktinya ada di mejaku sebelum matahari terbit.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!