ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT IV
Angin sepoi berembus dari celah-celah dedaunan pohon, mengantarkan kesejukan yang menenangkan.
“Kembalilah, tidak ada keperluan untuk kau datang kemari.” Riyan menyilangkan kedua tangannya ke dada, menolak duduk di kursi dan lebih memilih berdiri karena pikirnya ia akan segera pergi dari sana.
“Apa katamu?” Kean bangkit dari kursi, mencari sepasang mata yang bicara kepadanya. “Putriku ada di sini. Karinn. Beritahu aku di mana kamarnya.”
“Datanglah besok lagi, kau tidak mendapatkan jawabannya hari ini.”
“Sial, kau! Oi, kau pikir kau siapa? Aku bertanya baik-baik padamu dan kau membalasku dengan kasar? Wah, kau benar-benar membuatku muak.” Kean mengambil dua langkah mendekati Riyan, mendorong beberapa kali bahu kanannya sebagai peringatan untuk berhati-hati atas perkataannya. “Perlukah aku menyingkirkanmu agar kau tidak bertingkah seenaknya lagi?”
“Hmm, silakan. Kurasa putrimu lebih cepat mengangkat teleponku, jadi kupikir itu akan baik-baik saja.”
“Keparat, kau!” Tersulut emosi, Kean tak dapat mengendalikan amarahnya, tahu-tahu saja tangannya bergerak secara impulsif meninju wajah Riyan. “Bicara sekali lagi!” Napasnya memburu, kepalan tangannya bergetar menahan diri.
“Pak Riyan..! Pak Riyan..! Gawat!” Pak John lari tergopoh-gopoh sembari melambaikan tangan dari kejauhan dengan harapan nama yang dipanggilnya langsung cepat merespons.
“Ada apa?” Riyan buru-buru memperbaiki sikap tubuhnya, juga menghindari bekas memerah di pipinya dari pandangan Pak John.
“Gawat, pak! Sesuatu terjadi di salah satu truk..”
Riyan merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dibanding saat ia berdiri berhadapan dengan Kean. Lantas tanpa mengakhiri obrolan, ia pun bergegas pergi bersama Pak John yang mengekor di belakangnya dengan wajah super panik. Kean yang akhirnya ditinggal sendiri, tentunya bertambah kesal. Dia menendang tanah dan memukul dinding, sorot matanya tampak tidak bersahabat saat melihat dari kejauhan punggung seorang pria yang pergi seenaknya.
“Apa yang terjadi? Ada masalah apa?” Kepala Riyan celingukan ke sana kemari, atensinya memeriksa satu per satu truk yang terparkir di lapangan.
“Bu Kaila ... Ada apa? Apa yang gawat?” tanya Pak John, dia menyeka peluh di dahinya dengan napas tersenggal-senggal.
Namun yang ditanya malah bereaksi bingung, ia tak menyangka kalau orang-orang akan langsung cepat berkumpul begitu diumumkan tanda darurat. Bu Kaila menjelaskan, para guru termasuk yang wanita sedang sibuk mengurus hal lain di gedung asrama—diskusi tentang seminar kampus kelas 12—jadi dia menelepon salah satu dari mereka.
“Cepat datang kemari! Gawat! Kita mendapat masalah pada salah satu truk!”
Suaranya terdengar lantang, nyaris tak terdengar sebagai tindakan iseng. Pak John yang mendengar itu tentu dibuat panik setengah mati. Dia yang semula sedang menyusun kerucut pembakaran dengan damainya, buru-buru langsung meloncat dan pergi menghampiri Riyan.
“Ah, itu ... Aku berkata begitu untuk memanggil para guru di gedung sekolah.” Bu Kaila melirik ke rombongan guru-guru yang dimaksud, rekan sesama tim penyelenggara acara seminar.
Tampaklah kebanyakan dari mereka berkacak pinggang sambil menautkan alis—wajah penuh amarah tapi tidak bisa berkomentar apa-apa saking sesaknya berlari menuruni tangga sampai ke sini. Bu Kaila sebagai pelaku atas keriuhan yang terjadi hanya terkekeh, kemudian meminta maaf dengan alasan agar para guru bisa beristirahat sejenak dari urusan seminar.
Masalah akhirnya dinyatakan selesai dan perasaan kesal pun terbayarkan dengan traktiran kopi. Riyan yang sebelumnya juga sempat berseteru dalam situasi serius, kini bersyukur bisa bernapas lega karena mendapatkan kesempatan bagus untuk melarikan diri. Namun entah kenapa ... muncul perasaan bahwa sepertinya ia mengerti sesuatu. Sesuatu ... yang mudah ditebak.
...• • • • •...
“Apa yang akan kalian lakukan untuk akhir pekan ini?” Villy membuka topik pembicaraan, mengamati kecanggungan di antara wajah-wajah juniornya. Rupanya setelah ditelisik, ada gulat kaki di bawah meja, dan mata Erica yang melotot pada ke kedua pelaku sudah cukup menjelaskan bagaimana situasinya yang berlanjut dari putaran pertama sebelumnya.
“Sepertinya kami akan menghabiskan akhir pekan di asrama.” Erica memberi jawaban, diikuti dengan acungan jempol Karinn dan Irene bersamaan.
“Yah, itu bagus jika kalian tidak menghabiskannya dengan bergulat sepanjang hari.”
Tahu perkataan Villy bermaksud kepada siapa dan siapa, keduanya yang dibicarakan kompak saling bersitatap kemudian mengangguk sekali tanpa menyangkal.
“Teman-temanku banyak mengatakan kalau suara keributan kalian terdengar sampai ke kamar mereka. Bibi petugas asrama pun sampai memberi saran kepadaku untuk mengikat anjing peliharaanku di penitipan hewan asrama karena khawatir akan mengganggu penghuni yang lain.”
Di malam yang dingin bertepatan dengan wawancara para siswi, salah seorang petugas kebersihan menghampiri Villy. Tanpa berbasa-basi, dia langsung berkata, “Waktu itu aku sedang mengepel di lantai empat, dan kudengar ada suara keributan dari lantai atas. Aku tidak yakin dari mana asalnya tapi yang pasti suaranya cukup kencang dan bersahut-sahut. Apa kau menyimpan anjing peliharaanmu di dalam kamar, nak?”
Villy yang ditanya mendadak jadi gugup, tersedak saat menyeruput habis caramel macchiato-nya. Anjing katanya? Sial, dia langsung mengerti apa yang dimaksudnya. Sambil terkekeh, ia menjawab, “Ah, iya, aku punya empat anak anjing yang lucu dan menggemaskan.”
“Sepertinya kalian sudah berteman layaknya keluarga. Tapi kalau kau kesulitan, titiplah di penitipan hewan. Biaya per bulannya tidak mahal, jadi kau dan anggota kamarmu bisa lebih mendapatkan ketenangan.”
Villy membungkukkan badan. “Terima kasih atas saranmu, bi. Aku akan diskusikan hal ini pada anjing-anjingku dulu. Pasti tidak mudah bagi mereka karena berita yang begitu mendadak.”
“Tentu, aku juga akan dengan senang hati menyambutnya.”
“Uhukk..” Ayaa tersedak, sepertinya sirup yang ditenggaknya masuk sedikit ke saluran yang salah; trakea. Dia menepuk-nepuk dadanya, lalu dengan cepat matanya melotot sinis ke seseorang di kursi sebelahnya. “Kau bilang empat anjing?” Tangannya bergerak menyambar kerah kemeja Villy, mencengkeramnya. Namun sebelum mengumpat di depan wajahnya yang telah cantik oleh riasan, tangan Villy bergerak lebih dulu menoyor kepalanya.
“Kalian sendiri ada rencana apa untuk hari ini, kak?” Erica bertanya pada kedua senior, membalikkan topik obrolan.
“Kami akan pergi dan menghabiskan waktu di mal bersama teman-teman.” Ayaa menunjukkan dua tiket bioskop dari saku kemejanya, mengibaskannya dengan maksud pamer.
“Wah, kalian sudah membeli tiket?” Karinn mengambil kedua tiket itu dari tangan Ayaa, memperhatikannya dengan saksama—jam pembelian tiket menunjukkan pukul 16:25. Itu artinya mereka membelinya sepulang sekolah, lalu kembali ke sini untuk memulai kelas malam dan wawancara polisi. “Jadi karena ini anak-anak kelas 12 pulang cukup larut. Apa kalian tidak terjebak di gedung sekolah?”
Dalam keadaan mulut masih mengunyah, Ayaa menjawab, “Awalnya kupikir juga begitu. Tapi Rebecca berkata Tenang saja, pintu gedung asrama belum terkunci. Aku yakin itu. Dan ternyata benar, saat kita kembali para polisi masih melakukan penyelidikan. Um, mungkin lebih tepatnya mengawasi. Mereka berjaga di pintu penghubung (pintu yang menghubungkan antara gedung sekolah dan gedung asrama).”
Villy menambahkan, “Kami diwawancarai tanpa terkecuali, dan sepertinya kali ini cukup serius dibanding sebelumnya. Mereka bahkan bertanya lebih detail untuk mengukur seberapa jauh kita mengetahui latar belakang sekolah ini.”
Karinn menegak habis sirupnya, mengangguk membenarkan perkataan Ayaa. Anak-anak kelas 11 pun ditanyai perihal itu juga. Tetapi kali ini, para alumni SMP baru mau mengaku bahwa ternyata dulu mereka adalah seorang perundung—setelah sekian lamanya fakta itu disembunyikan demi kepentingan pribadi. Juga sebenarnya, sejak awal tujuan dari penyelidikan yang dilakukan secara mendadak ini adalah untuk mengumpulkan informasi masa lalu mereka, bukan mencari tahu siapa impostor yang bersembunyi—karena bagian itu diurus oleh para pemain Drama.
Erica menopang dagu, pandangannya kosong namun isi kepalanya dipenuhi macam-macam pertanyaan. “Bukankah aneh, ya? Wawancara kita sudah selesai sejak pukul delapan, dan kita diperintahkan untuk segera tidur setelah itu. Tapi kenapa penyelidikannya memakan waktu lebih lama? Padahal kasus itu bukanlah kasus baru, petunjuknya pasti sudah banyak yang hilang, kan? Lagi pula, apa penyelidikan bisa dilakukan di atap dan di malam yang gelap?”
Bodohnya, Karinn menyeletuk tanpa berpikir. “Bisa, mereka menggunakan senter. Aku melihat sorot cahayanya.”
“Kau melihatnya?”
Karinn tertegun, gelas berisikan sirupnya menggantung di udara. Lontaran pertanyaan Ayaa sungguh di luar dugaan, telak membuatnya bungkam seribu bahasa. Sial.. Jelas dia tahu, jelas dia melihatnya, toh, dia terjaga di tengah malam dan sorot cahaya senter yang dimaksudnya menyala terang dari atas sana. “...Omong-omong, Erica, kau bilang tentang petunjuknya yang sudah hilang. Apa maksudnya itu?” Buru-buru ia membalikkan badan ke si pemilik nama, mengalihkan topik pembicaraan.
“...Aku hanya tiba-tiba bicara.” Erica terkekeh, kemudian lanjut menyantap makanannya seolah menunjukkan isyarat ia secara tak sadar telah kelepasan bicara sebelumnya.
“Eiy, jangan begitu. Kau sudah terlanjur membuatku penasaran. Juga, kurasa tidak ada yang hilang. Buktinya masih ada di sana.” Sendoknya berhenti tepat saat menyentuh bibirnya, Karinn terpaku sejenak. Segera ia menyadari sesuatu dari susunan kalimat yang diucapkannya.
Petunjuk... Bukti...
“Erica berkata tentang petunjuk, dan aku berkata tentang bukti. Keduanya jelas berbeda.”
Keduanya ... berbeda.
“Bukti apa yang kau maksud?” tanya Villy, memecahkan semburat kekosongan di wajah Karinn.
“..Oh, itu ... Para polisi menemukan sidik jarinya pada bagian tepi atap bersama dengan bercak darah yang telah mengering.”
Irene mendecak sebal. Tanpa memandang lawan bicaranya, dia menimpali dengan nada sinis, “Bukti itu sudah kita ketahui sejak lama, lalu untuk apa mereka melakukan penyelidikan lagi jika tidak ada perkembangan? Tidak berguna.”
Karinn terenyak, sadar akan dirinya salah memberikan jawaban. “Um, bukan begitu. Aku berkata tentang bukti yang masih ada di atap karena Erica mengira tidak masuk akal melakukan penyelidikan di malam hari.”
“Lalu?”
“Dari pertanyaan yang diajukan polisi, aku berpikir sepertinya tujuan dari penyelidikan semalam adalah untuk mencari motif korban. Mereka mengumpulkan setiap informasi dari berbagai kesaksian para siswi. Dan tentang alasan mereka pergi ke atap ... kurasa itu untuk mencari bukti lain.”
“Apa mereka dapat sesuatu?”
“Ya, mereka mendapatkan senjata yang digunakan untuk menggores pergelangan tangannya. Senjata itu adalah cutter, ditemukan terselip di plafon lantai dua dalam keadaan sudah berkarat.”
Selesai dengan jawaban Karinn, Irene tidak lagi membalas dengan pertanyaan singkat. Ketegangan yang dibuatnya pun berakhir begitu saja.
“Lho, itu artinya senjatanya jatuh ke bawah? Bukan ada di saku jas seragamnya?” Villy mengernyitkan dahi, merasakan ada yang bertentangan dengan yang ia ketahui.
Benar, rumor mengatakannya begitu. Hingga pada akhirnya banyak yang mempercayai bahwa kematiannya adalah murni karena bunuh diri berdasarkan dari temuan luka gores di lengan tangannya. Kala itu, mulut-mulut yang asal bicara tidak mengetahui lebih dalam tentang senjata yang digunakan. Namun setelah kini ditemukannya cutter, pandangan orang-orang perlahan berubah.
“Mungkinkah cutter itu jatuh saat dia menggantung?” Karinn bergumam dengan dirinya sendiri, mengajukan pertanyaan sembari berpikir.
“Eh, mustahil,” sela Erica.
“Kenapa?”
“Lihat ini.” Erica mengeluarkan ponsel, meletakkannya di atas meja. Lantas keempat kepala pun langsung sigap mendekat. “Tiga puluh menit yang lalu Pak Riyan memasang foto hasil penyelidikan semalam, termasuk juga tentang senjata yang digunakan. Di sini dijelaskan bahwa pada cutter itu tidak ditemukan adanya sidik jari. Sama sekali tidak ada. Bahkan darah pun tidak ada. Aneh, bukan? Padahal cutter itu hanya berkarat pada bagian mata bilahnya, sedangkan pada gagangnya tidak.” Artinya, selama tiga tahun terakhir, cutter yang tergeletak di sana mengalami oksidasi oleh kelembaban udara dan suhu. Gagangnya yang terbuat dari bahan non-konduktor seharusnya bisa memberikan hasil lebih baik mengenai DNA yang tertinggal, tapi ternyata nihil. Tidak ditemukan jejak apa pun yang dapat membantu penyelidikan, jadi begitu berita ini tersebar para siswi langsung menyimpulkan teori bermacam-macam.
“Wah, mereka bekerja sangat cepat. Hasil tes sidik jari sudah keluar sepagi ini.” Karinn berkomentar. Kepalanya bergerak gelisah, dia kesulitan menatap layar ponsel Erica lantaran intensitas cahayanya menyala terlalu rendah.
“Maka itu kubilang tidak mungkin. Jika cutter itu jatuh saat dia menggantung, itu artinya dia menyentuhnya saat mengambilnya, kan?” Maksudnya, setidaknya harus ada jejak bahwa korbanlah yang memegang cutter dari ia menggores pergelangan tangannya sampai menggantung di tepi atap. Itu satu-satunya bukti tak terbantahkan bahwa ia sungguhan melakukannya karena ingin mengakhiri hidup.
Ayaa mengangguk setuju, tapi kemudian kembali menyangkal, “Apa mungkin cutter itu jatuh saat dia menggores? Mungkinkah dia sengaja menjatuhkannya?”
“Itu juga tidak mungkin. Karena saat dia menggores, dia harus menyentuh gagangnya.”
Secepat kalimat Erica berakhir, sepintas gelombang suara berdengung di telinga para anggota; Hanya ada satu kemungkinan ... Jawaban terakhir ... Tentang adanya orang lain di atap pada malam itu.
“Hahh, benar-benar kasus yang rumit.” Villy mendesah berat, kemudian menjauhkan dirinya dari kepala-kepala yang berkerumun di dekat ponsel Erica.
Irene juga kemudian mundur dari kerumunan. Dia melipat kedua tangannya ke dada lalu menoleh pada Erica. “Kau menunjukkan ini untuk memperkuat asumsimu tentang kasus itu adalah kasus pembunuhan, ya?”
“Hu?”
Karinn menatap lamat-lamat wajah Irene, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Semalam, gadis garang itu berasumsi demikian. Lantas kenapa saat Erica menunjukkan bukti tak terbantahkan bahwa kasus itu adalah kasus pembunuhan, dia malah bereaksi sebaliknya? Ia pun memberanikan diri membalas, “Sebelumnya, kita tidak dibiarkan tahu tentang kasus itu. Tapi kenapa tiba-tiba Pak Riyan membagikan hasil penyelidikan polisi ke forum resmi sekolah? Apakah ... para guru juga menyimpulkan hal yang sama?”
Bahu Ayaa terenyak, dia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, mengangguk sekali. “Mungkin,”
“Jika begitu, kenapa harus dibagikan? Bukankah semua siswi akan ketakutan dengan adanya berita ini?” Villy mengajukan pertanyaan bagus.
Karinn melipat kedua tangannya ke dada, tersenyum tipis. “Iya, jika pelakunya ada di sekolah ini.”
Sendok Irene jatuh ke lantai, menghasilkan bunyi cukup nyaring di tengah keheningan. Selama beberapa saat, tidak ada lagi suara yang terdengar. Semuanya terpaku, sepasang mata mereka menatap lurus ke arah Karinn.
“Karinn..?”
Secara keseluruhan, tidak ada yang salah dengan ucapannya. Toh, dia cuma menyebutkan ‘pelakunya ada di sekolah ini’ ... tidak lebih spesifik seperti ‘pelakunya ada di sini’. Yang jelas, seandainya tidak benar, seharusnya bukan masalah, kan? Para siswi yang paling ahli dalam bergosip dan menyebarkan berita burung juga seharusnya tidak perlu bereaksi berlebihan. Kecuali ... jika—ada yang sadar—yang dikatakannya itu benar. Yup, mereka adalah para pemain Drama. Terutama yang disinggung dalam kalimatnya.
“Kau melewatkan bagian terakhir, Erica.” Jari telunjuk Karinn membawa sepasang mata anggota kembali ke layar ponsel. “Di sini tertulis bahwa pihak sekolah merasa sangat menyesal telah terburu-buru menyimpulkan bahwa kasus itu adalah kasus bunuh diri. Maka itu mereka mengira pelakunya telah pindah sekolah tepat setelah sistem pembagian tingkat kelas diganti. Jadi kurasa setelah ini pihak sekolah akan melakukan banyak rapat besar untuk mencari nama-nama siswi yang mengajukan surat pindahan tiga tahun lalu.”
“Oh..” Villy dan Ayaa mendesah lega, merasakan jantung mereka bisa berdetak normal kembali.
Namun di kursi lain, wajah Erica mengatakan sebaliknya. Semburat masam jelas membayang di bawah matanya, dia sedang memikirkan hal lain. “Jika benar, maka status kasusnya akan berubah menjadi kasus pembunuhan. Wali korban pasti akan semakin terpukul dengan berita ini.”
“Ah, kurasa tidak,” kata Karinn, nadanya terdengar yakin tanpa keraguan sedikit pun.
Ayaa bertanya, “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Kau lupa, kak? Saat tiga tahun lalu kasus itu dinyatakan sebagai kasus bunuh diri, wali korban bersepakat kepada pihak sekolah untuk menyembunyikan identitas putri mereka demi nama baik sekolah, tetapi dengan satu syarat yang diajukan.”
Kelopak mata Erica berhenti berkedip, tubuhnya membeku sejenak. Ucapan Karinn secara otomatis membangkitkan ingatan abstrak di kepalanya, ia teringat akan sesuatu. “Syarat ... Syarat tertulis itu berisikan bahwa jika putri mereka meninggal dunia karena perundungan, mereka (wali siswi) meminta pihak sekolah untuk menemukan motifnya juga pelaku perundungnya. Namun jika ternyata putri mereka meninggal dunia karena dibunuh, mereka meminta untuk membawa pelakunya ke hadapan mereka dan dijatuhi hukuman setimpal.”
“Mengerikan, aku ingat itu.” Ayaa bergidik ngeri.
Karinn melanjutkan, “Wali korban tidak berkata bahwa mereka membenarkan soal pernyataan status kasus itu, juga tidak mempermasalahkan lebih jauh seakan..”
“Mereka tahu bahwa putri mereka tidak bunuh diri,” sambung Erica, lantas Karinn mengangguk membenarkan. Kesimpulannya, tidak penting apa status kasusnya jika...
Mata dibalas mata.
Gigi dibalas gigi.
Patah tulang dibalas patah tulang.
“Hahh, seharusnya polisi sadar lebih awal tentang itu.” Villy mendesah berat sembari menegak habis sirupnya. Pusing, mual, dan perasaan aneh lainnya terasa menjalar di seluruh pembuluh darahnya. Sial, kini dia mengerti mengapa semalam Irene menampakkan wajah masam sepanjang obrolan. Suasana dan atmosfer yang mengelilingi meja ini ... tidak biasa, menyesakkan, seolah gravitasi menarik tubuh ke dasar laut.
“Ah, sudahlah, sudahlah. Sekarang mari bicarakan hal lain.” Ayaa mematikan ponsel Erica, cepat-cepat mengubah topik obrolan. “Aku dapat kabar dari petugas asrama kalau pihak reparasi akan datang untuk memeriksa kebocoran pada saluran pipa. Ada kemungkinan siang nanti air tidak menyala. Jadi sebaiknya kalian mandi setelah ini, oke?”
Erica mengarahkan jempolnya kepada dirinya dan Irene. “Kita sudah mandi sebelum pergi ke Fe-Mart.”
Ayaa ber-oh lirih, mengangguk sekali. Sekarang sorot matanya—juga Villy—beralih ke junior terakhir, Karinn. Yang ditatap bersama malah terkekeh, malu-malu menjawab. “Kalau aku, hehee, tanpa bertanya pun aku yakin kalian sudah tahu jawabannya.”
“Kau terlambat bangun! Bagaimana bisa akan mandi?!” Tiba-tiba Irene menyalak galak, suaranya meledak tepat di dekat telinga Karinn.
“Diam, kau, beruang laser! Beruang gila berbulu! Berkaki dua dan berambut landak! Kau akan terbawa angin jika aku benar-benar memukulmu tepat di tengkuk kepalamu!”
Memukulmu..
Sepintas kata itu berdengung di telinga Irene, membuatnya bungkam tanpa lagi balas menyalak. Di bawah meja, tangan yang disembunyikannya di sana, tangannya yang terkepal kuat, bergetar. Sepasang matanya tersorot lurus, tajam, menatap tangannya yang sulit dikendalikan. Karinn yang baru saja menjadi partner bertengkarnya, jelas menyadari perubahan ganjil pada Irene. Sejak peristiwa kemarin, tanpa perlu melihat tangannya yang bergetar di bawah meja pun, dia sudah tahu bahwa kecemasannya timbul.
Karinn kembali menyelesaikan makanannya, sampai kemudian ekor matanya menangkap pergerakan tangan dari bawah meja. Erica. Dia memberikan satu pergelangan tangan kirinya di atas kepalan tangan Irene. Saat bersentuhan, tangan Irene yang bergetar perlahan-lahan mereda. Bahkan kini ia mulai bisa memejamkan matanya setelah cukup lama terpaku oleh reaksi tubuhnya yang sulit terkontrol.