"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pekerjaan Baru
“Kak, sama aku, dong!”
Kerumunan penggemar di kalangan remaja masih membludak. Suara riuh memenuhi koridor sekolah. Teriakan histeris bercampur dengan langkah kaki yang saling berdesakan.
Meminta foto dan tanda tangan Tristan yang baru saja Mika ketahui bahwa ia seorang model.
Para staf dan pengawal Tristan mulai kewalahan. Mereka berusaha membentuk barikade, menahan para siswi yang terus maju tanpa peduli.
Di tengah kekacauan itu, Mika memilih pergi. Diam-diam, tanpa menarik perhatian, ia keluar dari kelas dan menjauh dari kerumunan.
“Kenapa sih, dunia ini sempit banget?” gerutunya pelan sambil berjalan. “Aku selalu ketemu sama orang-orang yang ada hubungannya sama Arlan.”
Langkahnya melambat. Dadanya terasa sesak. Setiap hal yang berkaitan dengan Arlan selalu berakhir buruk untuknya.
Saat sampai di taman sekolah, suasana jauh lebih tenang. Hanya ada beberapa siswa yang duduk santai di bangku taman, berbincang ringan, atau sekadar menikmati angin sore.
Mika memilih satu bangku di sudut. Ia duduk, lalu memasang earphone di telinganya. Lagu mulai mengalun. Perlahan, ia memejamkan mata dan bersenandung pelan. Suaranya lembut, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Suaramu bagus.” Suara itu datang tiba-tiba.
Seketika tubuh Mika tersentak. Ia membuka mata dengan cepat dan menoleh. Tristan sudah duduk di sampingnya. Jarak mereka terlalu dekat hingga membuat Mika refleks menjauh sedikit.
Senyum tipis muncul di wajah Mika, tapi jelas itu bukan senyum tulus. Lebih seperti terpaksa.
“Ngagetin,” gumamnya pelan.
Tristan hanya tersenyum santai, seolah kehadirannya memang sudah seharusnya di sana.
“Aku antar pulang, ya,” ucapnya ringan.
Mika langsung mengangkat tangannya, menolak.
“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri.”
Namun, Tristan tidak mendengarkan. Ia berdiri lebih dulu, lalu meraih pergelangan tangan Mika. Seakan yang terburu-buru pergi untuk menjauh dari para penggemar. Genggamannya kuat.
“Ayo,” katanya singkat.
Mika terkejut. “Eh, lepasin! Sakit!”
Ia mencoba menarik tangannya, tapi Tristan justru menariknya lebih kuat. Langkahnya dipaksa mengikuti.
Beberapa siswa yang melihat hanya berbisik-bisik, tapi tidak ada yang berani mendekat.
Aura Tristan terlalu dominan. Saat sampai di parkiran, Tristan membuka pintu mobilnya dan hampir mendorong Mika masuk.
Baru setelah Mika duduk, genggaman itu dilepaskan.
“Eh, maaf,” ucap Tristan, seolah baru sadar. “Aku nggak bermaksud kasar.” Alasan itu lumayan konyol.
Mika tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap pergelangan tangannya yang memar. Bekas genggaman itu terlihat jelas di kulitnya yang pucat.
Tatapannya mengeras. “Pada akhirnya ... sama aja,” batinnya dingin. “Nggak ada bedanya sama Arlan.”
Di kursi kemudi, Tristan melirik sekilas. Wajahnya berubah. Ada penyesalan di sana, tapi terlambat. Mika sudah menarik dirinya menjauh, merapat ke pintu, seolah ingin menjaga jarak sejauh mungkin.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil dan napas yang terasa berat.
Di satu sisi, Tristan diliputi rasa bersalah. Di sisi lain, Mika menahan amarah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
Mobil akhirnya berhenti di depan kontrakan Mika.
“Aku antar sampai dalam,” ujar Tristan, mencoba memperbaiki keadaan.
Mika langsung mengangkat tangan, menolak. “Nggak usah,” ketusnya.
Tanpa menoleh, ia membuka pintu dan turun. Langkahnya cepat. Seolah ingin segera menjauh. Namun, belum sempat ia pergi jauh. Sebuah tarikan kuat menghentikannya.
Tubuhnya tertarik ke belakang. Dalam sekejap, Tristan sudah memeluknya dari belakang dengan kuat. Menahan Mika untuk tidak berontak.
“Lepasin aku!” Mika memberontak. “Apa sih, maumu?!”
Tubuh kecilnya berusaha lepas, tapi tenaga mereka jauh berbeda. Tristan menunduk dan tiba-tiba ia mencium Mika dengan paksa.
Mika membeku sepersekian detik. Lalu, amarahnya meledak. Ia mendorong dada Tristan sekuat tenaga.
“Ah—!”
Mika berhasil melepaskan diri. Napasnya terengah. Bibirnya terasa perih. Di ujung bibirnya, darah tipis mulai terlihat.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Tristan.
“Brengsek!” Suara tamparan itu menggema di area sepi itu.
Tristan terdiam. Wajahnya menegang, tapi tidak membalas. Mika sudah siap memaki, meluapkan semua amarahnya.
Prok!
Prok!
Suara tepukan tangan terdengar pelan dan lambat. Tapi justru terasa lebih mengerikan. Mika membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh perlahan. Saat melihat siapa yang berdiri di sana, dunia seakan berhenti.
Itulah Arlan pria berkepribadian seperti iblis menurut Mika. Ia berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan tegap dan tenang. Dengan senyum tipis di ujung bibirnya. Senyum yang tidak membawa kehangatan sama sekali.
Prok!
Prok!
Tepukan itu berhenti. Tatapan Arlan beralih ke Mika. “Menarik,” ucapnya pelan.
Langkahnya mendekat. Tidak terburu-buru. Namun, setiap langkah terasa menekan. “Berakhir lihat kamu jadi cewek murahan.”
Deg!
Kata-kata itu menghantam Mika lebih keras dari tamparan apa pun. Namun, wajah Mika tetap datar. Ia menatap Arlan sekilas. Lalu, mengalihkan pandangan.
Seolah kata-kata itu tidak berarti apa-apa.
Di sampingnya, Tristan sudah mundur. Tanpa berkata apa-apa, ia masuk ke dalam mobil dan pergi.
Mika tidak peduli. Ia hanya berdiri sebentar.
Menahan sesuatu di dadanya. Yang terjadi barusan bukan keinginannya. Tanpa sepatah kata pun, Mika melangkah. Melewati Arlan begitu saja. Langkahnya ringan, tapi tegas. Arlan tidak menahannya. Ia hanya diam.
Menatap punggung Mika yang semakin menjauh. Tatapannya perlahan berubah. Senyumnya menghilang. Digantikan sesuatu yang lebih gelap.
Tangannya mengepal kuat. Urat-urat di tangannya menegang. Napasnya ditarik pelan. Matanya menyipit. “Buat dia hancur,” gumamnya rendah.
Sementara Mika yang berusaha biasa saja, perlahan jantungnya mulai berdetak kencang. Napasnya pun mulai memburu tak karuan. Saat sampai di pertigaan lorong daerah kontrakannya. Mika mempercepat langkah dan menghilang untuk bersembunyi.
“Hah, astaga aku nggak bisa bernapas teratur. akan ada apalagi nanti?” gumamnya sambil bersadar pada tembok dan bersembunyi.
Mika sedikit mengintip untuk sekedar melihat Arlan. Ternyata pria itu telah pergi.
Tiba-tiba ibu kontrakan mengagetkan Mika dengan suaranya. “Ngintip apa?”
“Astaga ibu, ngagetin aja,” ucap Mika dengan suara yang terdengar keras.
Ekspresi Mika berubah tegang. Ia memegang tangan ibu kontrakan dan berkata, “Bu, kalau ada yang cari aku, bilang aja nggak ada yang namanya Mika di sini, ya. Siapa pun bilang begitu.”
Ibu kontrakan hanya mengangguk. Setelah itu Mika masuk ke dalam kontrakannya.
Waktu terus berjalan. Ketika langit sudah mulai gelap, Mika bersiap pergi ke tempat pekerjaan barunya sebagai pelayan di salah satu kafe besar. Ia mengenakan seragam kerja berwarna biru dengan rok.
Saat sampai di tempat kerjanya, Mika sudah disuguhkan dengan tatapan intimidatif dari beberapa staf yang ada.
“Anak baru, ya?” kata salah satu staf lama.
Mika mengangguk sopan.
“Eh, ingat, ya. Di kafe ini itu sering banyak bos-bos besar berkunjung jadi jangan buat malu!” katanya sinis.
“Iya, kak.”
Mika pun bergerak untuk bekerja. Untuk sementara semua berjalan dengan lancar dan aman. Pelanggan yang dilayani oleh Mika juga merasa puas.
“Wah, hebat kamu, masih sekolah udah kerja keras!” puji salah satu pelanggan.
Mika menundukkan kepala sejenak dan berkata, “terima kasih banyak. Jika masih ada yang dibutuhkan bisa panggil saya, permisi!” pamitnya.
Duk!
Duk!
Mika langsung pergi ke dapur untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lainnya. Ia diperlakukan seperti budak bagi staf lama. Pekerjaan yang seharusnya tidak ia kerjakan, Mika mengerjakan dengan senang tanpa protes sedikit pun.
“Anak ini pasti akan cari muka sama bos. Aku yakin!” gumam salah satu staf.
“Iya, kayaknya begitu. Aura anak ini kuat banget. Wah, pasti suatu saat dia akan geser posisimu!”
“Hahaha, kalian ini kok takut sama anak bocah begitu. Tinggal senggol aja udah pasti dipecat!” sahut yang lainnya.
Mereka semakin seru bergosip. Sementara Mika mondar-mandir memberi pelayanan dan membersihkan meja.
Tok! Tok!
Terdengar langkah kaki tegas masuk ke kafe tersebut. Itu adalah Kamil, bos besar dari perusahaan batu giok. Namun, kamil termasuk pelanggan yang paling cerewet. Kesalahan sedikit saja ia bisa marah hingga membuat pekerja kehilangan pekerjaannya.
“Aduh, aku malas ngurusin Pak Kamil ... kamu aja, lah!”
“Is, apa lagi aku.”
“Eh-eh, gimana kalau Mika aja suruh layani Pak Kamil. Kalau dia salah pasti akan di gepak dari sini secepatnya ‘kan?”
Beberapa staf itu pun merencanakan sesuatu. Mika diminta ke meja Pak Kamil. Mika yang tidak tahu menahu soal rencana mereka, pun langsung bergegas.
“Permisi Pak, mau pesan apa?” kata Mika.
Kamil seketika memandang Mika dari ujung kaki hingga kepala. “Kamu anak baru?” tanyanya.
“Benar, Pak.”
Kamil hanya menganggukkan kepala. Setelah itu ia membuka buku menu. “Pesan kopi americano dan steak daging medium.” Ucapannya tegas dan berwibawa. “Jangan lama!”
“Baik, Pak. Pesanan segera diantar, permisi!”
Mika langsung memasukkan orderan tersebut. Tak beberapa lama pesanan diantar. Hidangan yang dihidangkan Mika ia letakkan di atas meja dengan rapi, sambil sesekali ia menjelaskan makanan tersebut.
Ketika Mika ingin pergi. Langkahnya dihentikan. “Tunggu sebentar.”
“Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?”
“Diam di sana.”
Deg.
Jantung Mika seperti terhenti. Namun, ia berusaha tetap tenang.
Kamil melahap makanan tersebut. Tiba-tiba pria itu tersedak. Pengawalnya panik dan menyalahkan Mika yang tidak tahu apa-apa.
“Panggil chef ke sini!” kata pengawal tersebut.