Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.
Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bab 20
Sidang terakhir:
Ruang sidang terasa semakin tegang. Alya berdiri di kursi saksi, tangannya menggenggam erat map berisi dokumen. Suaranya sempat bergetar, tapi kemudian ia menatap hakim dengan mata mantap.
“Ibu Alya, apakah ada bukti lain yang ingin Anda sampaikan untuk memperkuat gugatan?"
Alya Menarik napas dalam, lalu membuka sebuah map yang dipegangnya sedari tadi
“Ada, Yang Mulia. Ini bukan hanya soal perbedaan prinsip atau ketidakcocokan. Saya juga menjadi korban kekerasan fisik dari suami saya, Saudara Reza."
Suasana ruang sidang riuh, beberapa orang terperangah. Reza langsung berdiri, menunjuk ke arah Alya.
“Bohong! Itu fitnah! Dia cuma mengada-ada untuk menjatuhkan aku,” bentak Reza.
"Saudara Reza, duduk. Berikan kesempatan penggugat bicara,” ucap Hakim sambil mengetuk palu.
Alya menyerahkan berkas ke hakim, suaranya pelan tapi tegas. “Ini adalah hasil visum dari rumah sakit tempat saya pernah dirawat. Ada catatan luka lebam di lengan dan pipi saya, yang saat itu saya tutupi dengan alasan jatuh. Padahal sebenarnya… itu akibat kemarahan suami saya."
Hakim memeriksa berkas, wajahnya serius. Ruang sidang semakin hening.
“Selain itu, Yang Mulia, kami juga menyerahkan rekaman percakapan dan tangkapan layar pesan yang menunjukkan perselingkuhan Saudara Reza dengan seorang perempuan bernama Nadia. Bukti ini menunjukkan bahwa Tergugat melanggar janji pernikahan," tambah Pak Ardi.
Hakim menerima flashdisk berisi rekaman, sementara pengacara memutar cuplikan singkat di layar kecil. Suara Reza jelas terdengar mesra dengan Nadia. Ruang sidang kembali bergemuruh.
Reza berdiri lagi, wajahnya memerah.
“Itu tidak membuktikan apa-apa! Saya tidak berselingkuh saya sudah menikah secara sah atas izin Alya,” bela Reza.
Hakim mengetuk palu lebih keras.
“Diam, Saudara Reza! Interupsi lagi, dan saya keluarkan Anda dari ruang sidang."
Suara Alya mulai bergetar, menahan tangis.
“Yang Mulia, saya tidak ingin mengungkit aib rumah tangga di depan umum. Tapi saya sudah cukup lama menanggung sakit ini sendirian. Saya ingin bebas dari pernikahan yang penuh kebohongan dan kekerasan."
Air mata jatuh dari mata Alya. Amel di kursi belakang menunduk, ikut terisak. Sementara itu, wajah Reza mengeras, tapi ia tak lagi bisa menyangkal di hadapan bukti yang begitu jelas.
Hakim menutup map dengan ekspresi serius. arah sidang sudah jelas. Bukti perselingkuhan dan KDRT membuat posisi Reza runtuh. Alya berdiri dengan tubuh bergetar, namun tatapannya menunjukkan sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya yaitu keberanian untuk melawan.
"Setelah mempertimbangkan bukti dan kesaksian yang diajukan, majelis hakim memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai yang diajukan oleh Ibu Alya terhadap Saudara Reza. Dengan demikian, pernikahan Saudara Reza dan Ibu Alya secara sah diputuskan."
Suasana ruang sidang bergemuruh, beberapa orang menarik napas panjang. Alya menunduk, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Hatinya lega.
“Terkait harta bersama atau harta gono-gini, setelah menimbang bukti dan kesaksian saksi-saksi, sebagian besar aset dinyatakan jatuh ke tangan Ibu Alya. Yaitu berupa Rumah dan villa Sidang ditutup."
Hakim mengetuk palu. Suara kayu itu seperti petir menyambar Reza. Ia langsung berdiri, kursinya nyaris terbalik. Matanya terbelalak. “Lalu apa yang tersisa untukku hanya mobil butut itu siall!”
Di luar ruang sidang, Reza meledak.Reza berteriak, wajah merah padam
“Semuanya tidak adil! Hakim berpihak! Semua ini permainan kotor Alya!"
Mendengar teriakan Reza. Amel segera menarik Alya menjauh. Alya menutup wajahnya, menangis haru sekaligus lega.
Kemudian Nadia mendekat, mencoba menenangkan suaminya yang penuh amarah.
“Mas, cukup kamu jadi tontonan orang-orang. Jangan bikin dirimu makin malu."
Reza menoleh, melototi Nadia. “Kamu diam! Kamu gak tahu perasaan aku gimana. Ini juga ada andil dari ulab kamu Nadia kalau bukan karena kamu, namaku tidak akan jadi bahan gosip murahan!"
Nadia tersentak, air matanya jatuh.
"Aku cuma… aku cuma ingin kamu tenang, Mas.
Reza menyentak kasar tangan Nadia, penuh kebencian.”Pergi kamu dari hadapanku! Aku butuh waktu sendiri.”
Sementara itu, Alya keluar gedung pengadilan dengan langkah gemetar. Air matanya jatuh deras, bukan karena kalah, tapi karena beban yang lama akhirnya terangkat.
Sedangkan Ibunya dan Amel memeluk Alya
“Akhirnya Aku bebas, Mel… akhirnya aku bebas,” ucap Alya tersedu.
Amel.menahan air mata, menepuk pundaknya. “Lo berhasil, Al. Lo kuat. Semua ini titik awal baru buat lo."
Alya menatap ke langit, membiarkan air mata jatuh, seakan menyambut kebebasan yang selama ini ia perjuangkan.
Malam menjelang, apartemen Reza dipenuhi keheningan. Ia pulang sendirian, tanpa Nadia, tanpa Alya, tanpa siapa pun. Gelas wine di meja tak disentuh, jasnya masih tergeletak di sofa.
Ia duduk di depan kaca besar di ruang tamu
menatap bayangan dirinya yang tampak asing. Seorang pria hancur, kehilangan semuanya.
Reza lirih, hampir seperti berbisik.
“Alya pergi… harta hilang… nama baik rusak. Aku sudah benar-benar kalah…"
Suaranya pecah, matanya memerah. Ia memukul meja sekali, lalu kembali menatap kaca. Hanya pantulan dirinya yang tersisa kosong, rapuh dan kalah.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Reza benar-benar sendirian. Tak ada lagi yang bisa ia salahkan, tak ada lagi yang bisa dikendalikan. Kekalahan bukan sekadar keputusan pengadilan itu adalah kenyataan pahit bahwa semua topengnya runtuh.
Dan Alya, di sisi lain, baru saja membuka lembaran baru meski jalannya masih panjang, ia sudah menapakkan kaki di tanah kebebasan.
Bersambung....
Jangan Lupa Kasih Like.....