NovelToon NovelToon
Pendekar Puncak Keabadian

Pendekar Puncak Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:58.7k
Nilai: 5
Nama Author: Laghrima~

Daratan Xuanwu penuh dengan Pendekar hebat sepanjang sejarahnya, seorang pemuda lugu berna Ling Tian berhasil menjadi salah satu deretan Pendekar hebat yang melegenda selama seribu tahun namun tidak terduga Dewa iri kepadanya dan membuatnya jatuh ke dalam jurang keputus asaan selama lima ratus tahun. Dalam keputus asaan itu Ling Tian mendapat sebuah kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua penyesalannya, Ling Tian kembali dengan menentang takdirnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laghrima~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyergapan Di Bawah Gunung I

Qin Mu berdecak kesal di dalam hatinya karena ketidak setujuan Bai Duan dengan rencananya itu, menurut Qin Mu hal seperti ini tidak perlu banyak di pertimbangan karena memang mereka semua datang untuk membunuh.

"Mereka belum tentu datang untuk membunuh kita, jadi mari amati sebentar lagi..." Bai Duan mengurungkan niatnya untuk langsung bertarung.

'Kau ini bodoh atau apa? Aura membunuh itu jelas di tujukan untuk kita!'

Setidaknya itulah yang ingin di teriakkan Qin Mu pada Bai Duan sangking emosinya dirinya pada kebaikan hati gurunya itu hingga sudah mendekati orang bodoh yang menunggu untuk di bunuh.

Bagaimanapun Qin Mu ingin melihatnya, jelas sepuluh orang itu memang sedang menunggu mereka dan bersiap meledakkan jalan setapak itu dan membunuh mereka berdua.

'Baiklah, aku akan mendengarkan guru Bai..." Qin Mu menghembuskan nafas pelan.

Demi tetap dianggap anak normal oleh Bai Duan, Qin Mu terpaksa harus mengalah dan mengikuti keinginan Bai Duan meski dirinya sudah gatal ingin meledakkan sepuluh orang pembunuh itu.

"Aiyaa... Kakek! Tolong lebih pelan sedikit!"

Bai Duan dan Qin Mu menoleh dalam waktu hampir bersamaan saat mendengar suara teriakan yang datang dari arah utara dan tidak lama kemudian muncul dua orang desa yang membawa keranjang buah di punggungnya.

Seorang bocah kecil yang seumuran dengan Qin Mu berjalan cepat mengikuti langkah kakek tua sesekali berteriak karena takut di tinggal.

"Bao'er, kau tidak bisa kalah dari pak tua sepertiku! Cepatlah..." kakek tua itu berkata dengan nada setengah berteriak.

"Kakek punya sepasang kaki panjang sedangkan aku tidak!" bocah kecil itu terdengar sedikit kesal.

Melihat kedatangan mereka Qin Mu sangat bersyukur karena tahu jika mereka akan melewati jalan setepak itu menuju kota kecil di seberang dan tentu saja Bai Duan akan menghentikannya.

"Kakek tunggu dulu!" Bai Duan muncul tepat di hadapan kakek tua dan menghentikan langkahnya.

Kemunculannya yang tiba-tiba membuat sang kakek kehilangan keseimbangan karena terkejut dan untung saja Bai Duan sempat menangkapnya tepat waktu.

"Kakek, apa kau tidak apa-apa?!" Bocah kecil panik melihat kakeknya hampir terjatuh.

"Aiyaa... Kau mengejutkanku anak muda!" kakek itu mengelus dadanya yang masih berdebar cepat.

Bai Duan sigap meminta maaf lalu menariknya menjauhi tempat itu kemudian menjelaskan jika ada pembunuh yang berbunyi di sekitar jalan setapak itu serta jalan yang di penuhi oleh bubuk mesiu.

"Anak muda, melihat kemampuanmu kau pasti seorang pendekar... Tolonglah lakukan sesuatu!' Sang kakek berakhir memohon pada Bai Duan.

Kekek kemudian menjelaskan jika dua keranjang buah itu merupakan pesanan seorang bangsawan yang akan segera melakukan pernikahan dan karena itulah dia dan cucunya Bao'er harus segera tiba di kota sebelum sore hari.

Bai Duan berpikir sejenak sebelum menyetujuinya, dia lalu meminta sang kakek untuk membawa cucunya menjauh dari lokasi yang akan segera menjadi medan pertempuran.

"Aku akan membatumu guru!" sahut Qin Mu dengan cepat.

"Tidak, kau masih kecil. Sebaiknya kau jaga saja mereka!" Bai Duan menolaknya seraya mengelus kepala Qin Mu.

Menurut Bai Duan, Qin Mu masih sangat kecil untuk terlibat dengan para pembunuh dan mentalnya masih belum cukup matang untuk menerima hal menyeramkan seperti mayat dan darah.

"Kenapa Guru Bai selalu menolakku? Aku juga akan menjadi pendekar di masa depan!"

Qin Mu terus melanjutkan jika seorang pendekar akan lebih bagus menghadapi hal umum seperti itu di dunia persilatan darpada terus menunda sampai waktu tertentu dan barakhir mengurangi pengalamannya kelak.

"Kau yakin?" tanya Bai Duan dengan expresi serius setelah Qin Mu mengatakan pernyataannya.

Qin Mu mengangguk dan menambahkan jika dulu saat masih menemani Tuan Muda klan Qin dia pernah di latih menjadi seorang pengawal untuknya, sayangnya kemampuannya belum sempurna saat klan Qin di bantai sehingga tidak bisa melakukan tugasnya untuk melindungi tuannya.

'Sepertinya aku memang terlalu khawair...' Batin Bai Duan, jika dipikirkannya memang perkataan Qin Mu memang ada benarnya.

Seorang Pendekar cepat atau lambat akan menghadapi situasi berdarah karena memang begitulah Dunia Persilatan bekerja.

Seperti yang di perintahkan Bai Duan, kakek tua itu membawa cucunya meninggalkan lokasi itu sejauh mungkin dan sebisanya tidak menjadi beban pada dua pendekar baik hati itu.

☆☆☆

Bai Duan menyuruh Qin Mu untuk bersembunyi terlebih dahulu sementara dirinya sendiri akan memancing seluruh pembunuh keluar dan pada saat itu barulah Qin Mu di perbolehkan ikut bergabung.

"Karena sudah datang... Tidak perlu bersembunyi dulu!" Bai Duan menggunakan tenaga dalam untuk mengeraskan suaranya.

Pedang Bai Duan sudah meninggalkan sarungnya dan bersiap menghadapi semua pembunuh yang akan datang, di sisi lain Qin Mu menyelipkan belasan senjata rahasia di pakainnya tanpa sepengetahuan Bai Duan.

Dua menit telah berlalu namun tidak ada pergerakan dari para pembunuh yang bersembunyi sampai ketika sebuah pematik api terlempar dari arah belakang melewati atas kepala Bai Duan.

DHUARRR!!

Ledakan besar langsung tercipta setelah pematik api itu mendarat ke jalan setapak dan pelakunya bukan tidak lain adalah Qin Mu.

Mulut Bai Duan terbuka lebar dan tidak bisa mengatakan apa-apa selain menoleh ke arah Qin Mu dan menatapnya dengan tatapan melebar, tidak habis pikir muridnya itu begitu nekat meledakkan jalan setapak itu.

'Kenapa kau menatapku? Lagipula mereka juga akan tetap meledakkan jalannya...' Batin Qin Mu tanpa rasa bersalah.

Ledakan barusan memaksa para pembunuh melompat keluar dari persembunyiannya dengan tubuh yang luka-luka, tidak ada di antara mereka yang berpikir jika bubuk mesiu yang di pasang sebelumnya akan meledakkan mereka sendiri.

"Guru Bai! Mereka sudah keluar!" Qin Mu meneriaki Bai Duan yang masih terdiam di tempatnya.

Bai Duan mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya dan maju menyerang para pembunuh yang sebagiannya sudah terluka, namun meski demikian seorang pembunuh jelas tidak mudah untuk di kalahkan apa lagi mereka tidak sendiri.

Lima pembunuh menyerang Bai Duan di segala sisi dan menyibukkannya sementara lima dari lainnya terus-menerus melemparkan senjata rahasia berupa pisau kecil untuk memecah perhatiannya.

Semua serangan itu masih mampu di imbangi oleh Bai Duan hanya saja perhatiannya terlalu terpecah sehingga tidak bisa menggunakan kekuatan dengan maksimal, terutama masih ada Qin Mu yang harus di lindunginya.

Namun, tidak butuh waktu lama tingkah Bai Duan untuk di sadari oleh salah satu pembunuh yang langsung melirik ke arah Qin Mu yang mengamati dari jarak yang tidak jauh.

"Serang anak kecil itu!" teriak pembunuh itu dan langsung memisahkan diri dari pertarungan lalu menuju ke Qin Mu.

Bai Duan berdecak pelan kemudian mengubah serangan pedangnya dengan mendorong tiga pedang pembunuh yang menyerangnya lalu bergerak mundur untuk melindungi Qin Mu.

Dua pembunuh yang menggunakan pedang melemparkan satu senjata rahasia dan menargetkan kepala Qin Mu, namun detik berikutnya hal mengejutkan terjadi.

Dua pisau kecil yang melesat dengan kecepatan yang bahkan sulit untuk di lihat oleh mata, salah satunya di hindari oleh Qin Mu dan satunya lagi di tangkap dengan dua jari.

"Apa? Tidak mungkin!" salah satu pembunuh melototkan matanya, tidak yakin dengan yang di lihatnya.

"Ukhh!"

Qin Mu melempar kembali senjata rahasia itu ke pemiliknya setelah melapisinya dengan qi bahkan sebelum dua pembunuh itu bereaksi dan membunuh salah satu dari mereka.

Pembunuh itu jatuh ke tanah dan kehilangan nyawa setelah pisau kecilnya menancap tepat di lehernya, sampai saat dia menghembuskan nafas terakhir dia tidak akan habis pikir jika akan terbunuh di tangan seorang bocah.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
agus yulianto
uppp
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow 🌽🔥
Uswatun Hasanah
lanjut lagi
agus yulianto
upp thor 😍😍😍
agus yulianto
mantappppp qin mu akan semakin kuat👍
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Qin Mu yg kebingungan... 🌽🔥
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
ninggalin jejak 🫆🫆
Uswatun Hasanah
lanjut
kas
next
kas
lanjut 💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Uswatun Hasanah
mantap lanjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Sapu bersih 🔥🌽
Eko Terserah
bagus
Uswatun Hasanah
lanjut
Nurbaya 0102
serius tanya, soalnya gk ngikutin update dj ig, ini kak ron bukan?
Uswatun Hasanah
gas ken
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Berburu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!