Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.
Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.
Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?
Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?
Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?
Mari kita ikuti kisahnya!!
NB: Siapkan tissue!
***
Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjuang Bersama Malaikat Kecil
Malam menyambut pagi.
Angin berhembus lembut membawa butiran embun, membagikan kesegaran pada daun-daun, dan memberikan harapan pada kuncup bunga yang sedang menantikan kumbang.
***
Pukul 02.00 pagi waktu setempat
Bahir memeluk erat tubuh Nara yang tertidur dan terkulai lemas dalam dekapannya.
Ia berkali-kali mencium puncak kepalanya, lalu menatap wajah cantik Nara yang meneduhkan.
Perlahan Bahir beranjak lalu mengambil pakaian Nara yang berserakan di lantai.
Hati Bahir merasa sakit saat mengingat semua hal yang terjadi pada Nara.
"Izinkan aku memakaikan bajumu cantik."
Merasakan Bahir memakaikan baju padanya, Nara terbangun.
"Bang biar aku saja, aku takut kamu malah menyiksaku lagi," kata Nara sambil tersenyum, mengambil baju yang dipegang Bahir lalu segera berlari ke kamar mandi.
"Aku mau mandi," lanjut Nara
"Apa aku boleh ikut?"
"Tidak!" jawab Nara singkat.
"Abang tadi sudah mandi, kan?"
"Oh iya cantik, aku lupa." Bahir tersenyum.
Setelah mandi, ia merebahkan tubuhnya di samping Bahir.
Ia menatap lekat wajah tampan itu, ia berharap wajah itu akan menghiasi hari-harinya.
Tuhanku biarkan aku menatapnya lebih lama lagi.
Nara hendak menyentuh wajah Bahir, namun urung karena ada keributan di depan kamarnya.
'Gdor! Gdor! Gdor!'
"Hai anak sialan! Wanita ja*ang! Keluar kalian!"
"Keluaaaaaaarr!" terdengar suara orang yang membuat Nara bergidik ngeri.
Ia berlari ke sudut kamar, bersembunyi ketakutan seperti anak kecil. Bahir terbangun, ia kaget mendengar teriakan ayahnya. Bahir menghampiri Nara dan memeluknya.
"Jangan takut cantik..Aku akan menghadapinya."
'Braaak.'
Pintu kamar terbuka.
Nara semakin ketakutan, ia memeluk Bahir.
Tuan jahat atau panggil saja dia 'Mawar' maksudnya panggil saja dia tuan Haiden.
Pria itu telah berdiri bertolak pinggang. Di belakanganya sudah berdiri beberapa orang pengawal, kali ini jumlahnya lebih banyak, sekitar 10 orang.
Terlihat pula pelayan wanita yang memberikan kunci pada Bahir gemetar ketakutan. Ternyata pelayan pria di dapur telah melaporkan sikap anehnya pada tuan Haiden.
Tuan Haiden masuk ke kamar diikuti beberapa pengawal. Wajahnya murka.
"Hei, anak tak tahu malu! Apa kamu bermain di ranjang lagi bersama dia, haahh?! Apa kau sadar perbuatanmu itu menjijikkan?! Kamu sudah bercerai dengan sampah itu, kaan?! Kenapa kau menidurinya lagi?!"
Tuan Haiden hilang kendali ia segera menarik kasar Nara dari pelukan Bahir. Namun Bahir tidak melepaskannya. Pria itu tetap memeluk tubuh yang rambutnya masih basah itu.
"Ayah, ku mohon ..., Ayah kan sudah berjanji untuk tidak menyakiti dia lagi, kenapa Ayah kasar lagi, kenapaaa?! Dia istriku Ayah, surat cerai itu tidak sah, aku tanda tangan karena Ayah memaksaku!" Bahir berteriak putus asa.
"Pengawal, seret gadis itu keluar! Buang dia dari kota ini! Agar keluarganya tidak mencari, katakan pada orang tuanya kalau anaknya pergi ke luar negeri ikut dengan suaminya."
"Baik, Tuan."
Kini Bahir benar-benar kalah jumlah.
Ia tidak bisa lagi melawan saat beberapa orang pengawal merebut Nara dari pelukkannya. Selain itu, jika ia terus mempertahankan Nara, Bahir juga khawatir tubuh Nara akan terluka.
Nara terlepas dari pelukan Bahir, gadis itu meronta-ronta, menangis, menjerit dan memohon belas kasihan.
"Tolong jangan buang aku Tuaaan, ampuni aku Tuaaan, pulangkan saja aku pada ibu dan ayahku. Aku tidak akan mengganggu keluarga Tuan lagi. Maafkan aku yang lancang mencintai anakmu. Tolong Tuan .... Tolong lepaskan aku, hikks ... hiks ... hiks ...."
Bahir hanya bisa berteriak dalam hati.
Ia tak berdaya. Tangan dan kakinya sudah terikat, mulutnya tertutup lakban. Air matanya berderai merasakan kesedihan.
Hatinya membeku menahan rasa sakit.
Ia menatap tubuh Nara yang diseret paksa semakin menjauh darinya, ia melihat wajah Nara yang sangat ketakutan.
Gadis itu kini menghilang di balik pintu.
Teriakannyapun kini terdengar sayup-sayup.
Hingga akhirnya menghilang, dan sepiiii ....
.
.
Gadis malang itu telah dibuang.
Ia dipisahkan dari orang-orang yang ia cintai. Gadis itu dibuang ke tempat yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
***
Deburan ombak membangunkannya.
Ia tersadar tengah berada di tepi pantai.
Ia melihat sekelilingnya, lalu berjalan menyusuri pantai tanpa alas kaki.
Ia bertemu dengan wajah-wajah ramah yang menebarkan senyum. Ia terpesona saat melihat sang mentari mulai menampakkan diri. Seketika Nara tersenyum.
Ayo kita berjuang untuk hidup wahai malaikat kecilku, kau dan aku berhak untuk bahagia.
Nara mengelus perutnya.
♡♡ Bersambung ....
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
sambil nunggu TBR
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
tanya aja tuh sama s thor
aku juga bingung
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
d jilat ge ngapa aaah