Bagaimana jika jiwamu bertukar dengan orang yang sangat kamu benci, pria yang selalu mengolok-olok mu karena penampilanmu yang culun?!
Denada seorang siswi berkacamata tebal dengan kawat gigi dan buku ditangannya, Si Empat Mata adalah julukan yang sudah melekat dengannya. Habis habisan merasakan Bullying di Sekolah baik dari teman wanita ataupun pria. Seorang pria yang sangat ia benci bernama Rendra juga sering ikut mengerjainya.
Tiba-tiba mendapatkan accident dan bertukar jiwa dengan Rendra, semua kehidupan menjadi berputar sekarang?!
Bagaimana Denada menjalani kehidupan barunya dengan memakai tubuh pria, dan Rendra yang harus merasakan menstruasi untuk pertama kalinya?!
Read More...
Si Empat Mata Reborn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vietha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 | Balas Dendam.
Kelanjutan cerita kemarin...
"Toloong... "
Rendra yang saat ini masih terkunci di kamar mandi terus berusaha menggoyang gagang pintu toilet itu agar terbuka, teriakannya juga terdengar sampai ke luar namun sayang tak ada satupun orang yang lalu lalang depan kamar mandi saat ini.
Terkurung dalam toilet tentu sangat tidak enak, kalian tau baunya yang pengap dan bisa membuat orang kekurangan oksigen jika berlama di sana.
Rendra mulai panik, kini Ia berusaha memanjat pintu toiletnya yang ada ruang dari atas terbuka, namun Ia berfikir lagi kalau sampai terpeleset karena licin nanti ujungnya badan asli Denada pasti akan cidera, jadi Rendra membatalkan niatnya untuk memanjat.
Terus berfikir, akhirnya dengan cepat kini Ia mengambil ponsel dalam tas,
"Halaaah, sial... lagi darurat kok malah ga ada sinyal!"
Rendra terus mencoba mengutak-atik ponselnya agar dapat menghubungi seseorang. Tak lama,
📳📳📳
"Hallo... Halloo, Nada lo bisa dengar gue gak?!"
"Iya Rendra kenapa kok putus-putus suaranya?!"
"Nada lo cepetan ke kamar mandi gue kekunci!"
Tuuut...
Sinyal ponsel hilang sekaligus mati karena kehabisan baterai. Mudah-mudahan Denada mendengarkan semua ucapannya tadi pikirnya.
Rendra masih berusaha mendobrak pintu toiletnya, walaupun sakit terasa karena kekuatan badan mungil Denada tak sebanding dengannya.
Selang beberapa waktu,
Tookk... Tokk... Tokk...
"Rendra... Rendra lo di dalam gak?!"
"Iya Nada, bukain cepetan!"
Cekleek... Cekleek... Cekleek...
"Gak bisa Ndra dikunci, duh tunggu bentar gue cari batu dulu!"
Denada terus berkeliling sekitar sana mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk membobol gagang pintu kamar mandinya. Akhirnya Ia menemukan batu besar tak lama kemudian.
Traak... Traakk... Traakk...
Bunyi suara batu yang beradu dengan besi gagang pintu, Denada masih terus berusaha membobolnya walaupun sangat susah, sampai Ia tak sengaja melukai tangannya.
"Ssshh... aaah... "
Akhirnya setelah bersusah payah Denada berhasil juga membobol kamar mandi itu, dengan segera Ia masuk dan mendobrak pintu toilet yang di dalam.
Denada menemukan Rendra yang sudah lemas terkulai di sana hampir kehabisan oksigen.
"Ndraa... Ndraa... bangun jangan nakutin gue!"
"Haah... Haah... "
Rendra mengatur nafasnya perlahan setelah bisa menghirup udara segar beberapa saat, kini Ia mendapati bercak darah di lantai, ternyata jarinya terluka karena Denada berusaha membobol pintu itu dengan batu tadi.
"Ini jarinya berdarah... "
"Iya sorry Ndra tadi gak sengaja, susah buka pintunya,"
Rendra dengan cepat membuka dasi dan mengikat jari itu kuat-kuat untuk menghentikan perdarahannya. Emosinya jadi naik kini, karena ulah si Lisa mereka berdua jadi kesulitan seperti ini.
"Lisa b*ngsad! Gak capek apa dia ngebully orang terus, gak kapok juga kemarin udah gue bales, maunya apa sih tu anak!" cecar Rendra dengan cepat dengan tatapan matanya yang tajam penuh amarah.
"Jadi tadi Lisa yang ngunci?! Astaga... kebangetan sih!"
"Gak bisa, gue harus kasi pelajaran dia!"
Rendra yang emosi karenanya segera bangkit dari sana hendak bergegas mencari Lisa tanpa berfikir ulang, namun seketika Denada menahan tangannya.
"Jangan Ndra, lo mau cari kemana juga sekarang anak-anak udah pada pulang, lagian lo mau apa?! Mau matahin tangan si Lisa, gak mungkin kan! Dia gak bakal jera Ndra, kita kan udah bales dia kemarin, masih aja dia gini!" jelas Nada dengan cepat.
Rendra jadi terdiam kemudian dan berfikir ulang. Mereka kini mulai melangkah keluar dari kamar mandi itu.
[Gak bisa gue tetap harus buat si Lisa ini berhenti gangguin Denada, kalau kami sempat bertukar tubuh lagi, Denada masih belum bebas pasti Lisa makin gampang ngebully dia]
Rendra bergumam bersamaan dengan tatapannya yang dalam melihat Denada di sana.
"Ndraa, heh lo mikirin apa?! Udah biarin aja sekarang yang penting lo udah selamat!" lanjut Denada membangunkan Rendra dari lamunnya.
"Gak bisa Nada, si Lisa memang harus dibuat jera, gue tau caranya, lo tunggu aja!"
Rendra tersenyum setan dengan segala ide yang terlintas dalam benaknya. Denada juga hanya bisa diam tanpa bisa menduga apa yang akan dilakukan Rendra lagi ke depan.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Keesokan harinya.
Hari berganti baru, setelah penat berfikir semalaman Rendra mulai memperhatikan gerak-gerik Lisa hari ini di kelas untuk mencari titik kelemahannya.
Denada juga terus memperhatikan Rendra, Ia takut kalau kali ini Rendra malah akan mencelakai dirinya demi balas dendam kepada Lisa. Bagaimanapun Lisa memiliki latar belakang Orang tua yang punya posisi kuat di Sekolah ini, jangan sampai mereka kena masalah nantinya pikir Denada dalam-dalam.
Namun sepertinya tekad Rendra memang bulat ingin membuat si Lisa ini jera, satu sisi Ia juga memikirkan nasib Denada jika mereka sempat bertukar tubuh kembali.
Tak lama Guru Mata Pelajaran masuk ke kelas,
"Morning Class, hari ini Ibu ada informasi penting, besok hari minggu ada pertemuan antar Komite Sekolah, jadi beberapa perwakilan kelas diharapkan kehadirannya. Kemudian seperti biasa Lisa dan team Dance-nya akan mewakili kelas IPA satu untuk acara opening besok!" jelas Guru di depan kelas.
Setiap Semester ada perkumpulan Komite Sekolah, biasanya tiap kelas mengirim perwakilannya saja, ada yang Solo Song, Baca Puisi, Dancing dan lainnya untuk memeriahkan acara.
Seperti biasa Lisa memang selalu memegang andil team Dance untuk opening acara, kali ini Ia ditunjuk lagi oleh Guru, tentu saja senyuman bangga sangat nampak di wajah Lisa dan gengnya. Popularitasnya akan semakin bersinar lagi kali ini pasti dalam batinnya.
Namun makin memperhatikan raut wajah si Lisa tiba-tiba Rendra menyeringaikan senyumnya,
"Kenak lo besok!" gumamnya dari bangku depan sambil menoleh ke arah Lisa dibelakang.
Denada yang saat ini duduknya disebelah Lisa karena sudah bertukar tempat dengan Rendra tentunya, ikut memperhatikan gelagat Rendra, entah apa lagi kali ini yang akan dilakukan Rendra pikirnya dengan cemas.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Sepulang Sekolah.
"Ndra, jangan ngelakuin hal aneh diluar bates ya, besok Orang tuanya Lisa pasti dateng ke Sekolah!" ucap Denada berbisik kepada Rendra setelah kelasnya sepi.
"Justru karena Orang tuanya dateng itu kesempatan kita Nada!" saut Rendra dengan senyuman.
"Maksudnya?!"
"Udah lo tenang aja, sekarang ikut gue dulu nyiapin beberapa keperluan!"
Rendra kemudian langsung menarik tangan Denada dan membawanya keluar dari Sekolah. Selang beberapa waktu setelah berjalan menaiki Bus mereka turun di pusat perbelanjaan.
Rendra nampak menggandeng tangan Denada masuk ke dalam Mall di sana, sambil menyelam minum air mereka nampak sesekali bersenang-senang melepaskan penatnya pikiran dengan semua problem yang dihadapinya.
"Hahahah... duh capek juga... "
Denada yang jarang-jarang masuk ke dalam Mall tentu ikut senang sekarang walaupun masih belum tau apa sebenarnya rencana Rendra ini.
"Sebenarnya lo mau ngapain sih besok?! Ngapain ngajak gue ke sini?!"
"Ayo... "
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Lanjut di Next Bab.
siapa yg datang...nada kah..??
author memang suka bikin penasaran
trus ciuman lagi tukar lagi
ternyata masih dipertimbangkan ya🤭🤭