Kisah Revalina Hamid atau Adiva Briana Elang , selama terpisah dari keluarga kandungnya. Saudara kembar Adila Dyah Elang yang hilang saat usia 8 tahun tumbuh dengan identitas baru.
Keadaan merubah sifat dan watak mereka. Adiva yang lupa akan Siapa dirinya hidup dengan jati diri baru, sebagai Revalina Hamid Putri dari keluarga Hamid dari istri pertama. Putri yang selalu bikin masalah dengan ayahnya, saudara tirinya dan ibu sambungnya.
Adila anak perempuan yang ceria dan ceplas-ceplos dalam bicara , berubah menjadi pribadi yang pendiam dan introvert, mandiri pendiam, tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak setelah kembaran nya menghilang.
Bagaimana cara takdir bekerja untuk menyatukan anak-anak Raihan dan Raihana. Ikuti juga kisah cinta si kembar menemukan cintanya.
Juga kisah si kembar setelah terpisah dan berkumpul lagi. Juga kisah cinta mereka bersama sahabat-sahabatnya dan tidak ketinggalan kakak si kembar Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. S2
Setelah bunda resmi berpisah, Bunda memutuskan untuk mengambil S2 di Surabaya. Hari itu selesai sidang bunda langsung ke rumah sakit menemui ku, awal ada kecanggungan antara bunda dan mama. Dari sana aku tahu kalau mama dan papa pernah ke rumah bunda. Bunda membebaskan aku buat tinggal di mana saja. Meski aku sudah mulai mengingat sedikit masa laluku, tapi sayangnya hanya seujung kuku. Karena itu aku memilih hidup terpisah dengan bunda dan mama. Aku takut keputusan aku yang memilih tinggal bersama salah satu dari mereka, akan membuat mereka sedih.
Aku memutuskan untuk mengambil kuliah yang sesuai hobiku dan berhubungan dengan semi rupa. Karena aku suka hal-hal yang berbau seni, ahkirnya aku masuk Jurusan DKV atau Desain Komunikasi Visual di ITB.
Meski keputusan aku ditentang keras oleh semua orang, tapi aku tetap maju. Dengan sangat terpaksa Mama ,Papa Dan bunda ahkirnya mengizinkanku. Bukan jurusan yang aku pilih yang di tentang mereka, tapi keinginan aku untuk kuliah di Bandung.
Mama dan papa tidak hanya melimpahkan kasih sayang, tapi juga materi yang berlebihan. Karena itu aku tidak mau mengecewakan mereka, karena itu aku hanya belajar dan belajar. Ahkirnya di umurku yang ke 22, aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat dari prediksi. Disaat yang lain membutuhkan 4 tahun atau 8 sementara, aku hanya butuh 3.5 tahun yang berati 7 semester.
"Selamat ahkirnya jadi sarjana juga Lo," ucap Dila. Sudah 6 bulan Dila bertugas di Polda Jabar. Selama 6 bulan pula kami tinggal bersama di Bandung, membuatku mengalami Dejavu akan kebersamaan kami.
"Terima kasih kakakku sayang." Ucapku yang disambut tawa olehnya.
"Sudah ayo kita cari makan, aku sudah lapar datang jauh-jauh dari Jakarta tidak di kasih makan !"
"Kamu bukan kaum duafa ya, bisa beli makan sendiri." Ucapku menjawab Satria .
"Lagian kami semua sibuk mengurus kebutuhan kami," timpal Dila .
"Halah paling sibuk ngurusin penampilan kalian!"
"Sudah gak usah berantem ,ayo kita cari makan !" Ucap Papa merangkul bahuku dan Dila. Sedangkan mama bergandengan tangan dengan Satria.
POV. Adila
Sepuluh tahun kami berpisah, membuat aku hidup tidak pernah tenang. Sejak dari perut kami selalu bersama, sampai ahkirnya takdir memisahkan kita.
Saat pertama aku melihatnya setelah terpisah hampir 10 tahun, dia berjalan dengan di.gandeng mama menemui ku. Ada rasa haru, dia kembarran aku yang telah kembali. Jujur aku masuk Akpol, supaya aku bisa mencarinya dengan mudah. Tapi sayangnya kebahagiaan yang kami rasakan tidak sempurna, Diva melupakan masa-masa kebersamaan kami.
Aku begitu bersyukur saat surat tugasku keluar, setelah menempuh pendidikan 4 tahun di Akpol Semarang. Aku sangat bersyukur karena di tugaskan di Bandung. Mungkin dengan kami tinggal bersama bisa membuat Diva mulai mengingat masa kebersamaan kami.
"Setelah ini apa yang ingin kamu lakukan ?" Tanyaku pada Diva yang sedang tiduran di bahu papa.
"Aku ingi menghabiskan uang papa," ucapnya.
"Habiskan, jika uang papa habis nanti papa minta mama mu." Ucapan papa hanya di sambut gelengan mama, meski ingatan Diva belum pulih 50 % tapi kami sudah mulai akrab.
"Emang kamu mau apa?" Tanyaku penasaran,6 bulan tinggal bersama membuatku mengenal kepribadian baru pada diri Diva. Aku melihat sosokku yang apa adanya saat masih kecil.
"Aku mau langsung ambil S2."
"Kamu yakin ?" Tanya Satria pada Diva.
"Sangat yakin, nanti kalau mikir-mikir dulu keburu papa pensiun ga ada uang. Dan aku harus bekerja ekstra untuk membiayai kuliahku."
"Aku bisa membiayai kuliah mu, lagian uang mama tidak akan ada habisnya. Mama itu punya saham di perusahaan garmen om Randi."
"Kamu tahu tida kalau uang seorang istri itu haknya istri. Seorang suami tidak boleh memintanya, meski dengan alasan apapun itu. Jadi seorang suami harus tetap memenuhi kebutuhan anak istrinya dengan keringatnya sendiri !" Ucap Diva membuatku dan mama tertawa, sedangkan Satria dan papa hanya mencibir.
"Siapa yang bilang kaya begitu, suami istri yang bercerai saja harus membagi harta gono-gini secara adil kok." Ucap Satria tidak terima, Diva yang tadi merebahkan kepalanya di bahu papa langsung duduk tegap.
"Harta istri adalah milik istri, harta suami milik bersama anak, istri dan suami." Ucap Diva membuat kami langsung tertawa kecil.
"Terus kalau bojomu kere giman ?"
"Ya aku ga mau, menikah denganku itu tidak harus kaya yang penting pekerja keras." Jawab Diva membuat kami tertawa kecuali Satria. Pertengkaran Satria dengan Diva sudah bukan hal yang aneh buat kami. Tapi justru pertengkaran itu yang membuat suasana kumpul keluarga kami, menjadi lebih hidup.
"Diva mau ambil S2 dkv(desain komunikasi visual ) atau Seni rupa,?" tanya mama.
"Diva mau ambil Magister Manajemen Teknologi (S2).Tapi di Jakarta ma,Diva sudah ambil persyaratannya."
"Belum juga dapat izin sudah ambil keputusan saja, Kalau kayak begitu kan Mama dan Papa tidak bisa menolak." Ucap Satria mencibir Diva.
"Kalau ke Jakarta tidak apa-apa, papa mendekati masa pensiun di mutasi ke Jakarta mungkin beberapa bulan lagi."
"Papa gak keberatan kan membiayai aku, mengingat Satria dan Dila sudah bisa menghasilkan uang sendiri." Tanya Diva membuat kami tertawa.
"Kamu perlu tahu meski aku sudah kerja,setiap bulan papa dan mama masih memberi aku jatah uang jajan. Ya mungkin tidak sebesar kamu karena kamu untuk biaya kuliah juga,"ucapku membuat Diva mengaguk.
"Biar tidak ada saling iri mama mau jelasin, semua keuangan mama yang pegang dari gaji papa. Hasil saham perusahaan dari kakek Elang, atau perusahaan om Randi. Satria lelaki jadi harus bisa mandiri dengan kakinya sendiri, karena itu harus belajar mengelola keuangan sendiri. Dila selama belum nikah akan tatap menjadi tanggungan kami, maka itu tetep dapat uang jajan. Ya mungkin tidak sebesar Diva karena, Diva masih kuliah dan belum menghasilkan uang sendiri."
"Ma Diva itu sudah menghasilkan uang sendiri ma, dari membuat gambar animasi dan komik. Bahkan penghasilan lebih tinggi dari pada aku."
"Mas kamu itu lelaki yang akan menghidupi anak orang, juga anak-anakmu. Jadi harus punya tanggung jawab, jangan iri sama adiknya." Tegur mama membuat Satria cemberut dan Diva puas tertawa.
"Emang enak week," ucap Diva membuat Satria melempar kue kearah Diva.
"Mas jangan melemparkan makanan, banyak saudara kita di luar sana yang kelaparan !" Tegur papa membuat Diva tertawa diatas angin
"Dila ga iri, Satria saja iri padaku?"
"Diva aku dan Satria tidak iri padamu, ucapan Satria hanya pemberitahuan kalau kamu saudara kami yang hebat. Yang bisa menghasilkan uang sendiri sambil belajar." Mendengar ucapan aku Satria berdiri dan berjalan kearah Diva dan memeluknya, dengan posisi Diva masih duduk di samping papa.
"Yang di katakan Dila bener, jangankan uang segitu. Jika semua kekayaan mama dan papa di berikan kepada mu aku tidak akan marah. Karena saat kita kehilanganmu itu adalah hal paling menyakitkan buat kami semua." Ucap Satria membuat Diva langsung menangis kencang seperti anak kecil.
Inilah kebahagiaan yang aku rindukan dari dulu, kebahagiaan bisa berkumpul dengan seluruh anggota keluargaku. Jangankan harta apapun akan aku berikan untuk saudaraku yang telah kembali.
.